sistem pendidikan sekolah unggulan yg paling bagus di kalangan pondok pesantren, darul ulum tambak beras tuh .... kerjasamanya ama BPPT, di tangerang dia bikin MA/smu cendekia ... di jombangnya darul ulum itu.
dan peringkat danem lulusannya masuk 10 besar terus (cendekia nya). sayang, yg akhwat dari darul ulum, ketika msuk sekolah umum (mereka tembus UMPTN) di berbagai universitas umum, banyak yg melepas jilbab ketika kuliah. angkatan pertama darul ulum, adik kelasku di unibraw, anak lsme juga, lulus cumlaude, dan sudah hajjah sejak dia sma, pengetahuan agamanya bagus, sekolah umumnya juga bagus, anaknya sangat kritis, malah memilih tidak berjilbab ketika masuk kuliah. di waktu itu, aku merasa ini sangat aneh. awalnya dulu neliti ttg akhwat ya salah satunya gara gara si SAYUR ini .. panggilannya sayur - sungeng ayu ratri utami ... sekarang kerja di bni, nerusin bokapnya yg juga orang bank. apa karena latar belakang yg ndak santri santri amat, sehingga dia enjoi saja memilih tidak berjilbab ? adik angkatannya, angkatan kedua lulusan darul ulum ada dua orang di fakultas aya. yg satu masuk D3, dan satu lagi S1. dua duanya aktifis yang oke punya. yg d3 aktif di kadiksuh, yg s1 aktif di lsme juga, sekarang yg anak lsme di luwuk, nerusin rame ame ekonomi islam jaman kuliah dulu, akhirnya doi di bank syariah mandiri ... lagi lagi di bank hehehhehe. mmh, yg dua ini secara akademik ndak secanggih kakak kelasnya sih, ndak sampai cumlaude. oh ya, dua duanya dari kalangan yg rada rada santri. belum bisa dibilang santri betulan. waktu ikut acara temu alumni mereka di malang selatan, baru menyadari, ternyata anak pondok ada yg aneh aneh juga. malah yg jebule asli pondokan dari awal, aku lihat gedenya malah lebih "bebas" dibanding yg baru ngeributin masalah agama di waktu gede. berjilbab, cantik, dan pacaran. waktu itu aku baru ngeliat sendiri dari dekat. oooh, gitu yah ..... sebelumnya cuman bisa ngomel ngomel, kalau liat anak IAIN, yg kampusnya dekat sama Unibraw, yg pacaran di depan kost kostan, atau pacaran sambil cari makan di warung ... orang banyak gitu lho yg ngeliatin... anak IAIN ... dan ndak sedikit yg anak kyai di tempat asalnya. hmm, dunia memang menarik untuk diamati. saat ini saya jadi ngerti bener makna, jangan terlalu sayang, dan jangan terlalu benci, tengah tengah aja, biasa biasa aja .... :D salam, Ari Condro On 8/22/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Program Pra-Universitas > > Dua Santri Ponpes Ngruki, Lima Terbaik di IPB > > Bogor, 18 Agustus 2006 16:38 > Dari lima calon mahasiswa terbaik jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Depag > dari ponpes yang telah menyelesaikan pra-universitas di IPB, dua diantaranya > adalah santri Ponpes "Al-Mukmin" Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng). > > Rektor IPB Prof Dr Ir Ahmad Ansori Matjjik, MSc di Bogor, Jumat, > mengatakan, sehubungan dengan hal itu membenarkan bahwa dua dari lima calon > mahasiswa jalur BUD Depag dari Ponpes, memang berasal dari Ponpes > "Al-Mukmin" Ngruki. > > Ponpes itu, salah satu pendirinya adalah ustadz Abu Bakar Ba`asyir, yang > oleh Amerika Serikat (AS) dan Australia, selalu dituding sebagai sosok yang > bertanggung jawab atas sejumlah aksi terorisme. > > Pada penutupan kegiatan pra-universitas pekan lalu, Ketua Tim BUD yang > juga Direktur Kerjasama IPB, Dr Ir Hardinsyah, MS menjelaskan bahwa lima > peserta pra-universitas yang memiliki nilai baik selama kegiatan berlangsung > telah berhasil dipilih. > > Kelima peserta terbaik itu adalah Saidatul Husnah (Ponpes Darul Ulum, > Jombang, Jawa Timur), Hamka Surya Nugraha (Ponpes Cipasung, Tasikmalaya, > Jawa Barat), Eko Zulkaryanto (Ponpes Nurul Huda, Lampung), Khoirun Ibnu > Farid dan Anna Amania Kusnayaini (Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa > Tengah). > > Menurut Rektor IPB, pihaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan > pandangan sinisme mengenai Ponpes, sehingga dalam kaitan dengan program > mahasiswa BUD dari Ponpes, yang merupakan kerjasama dengan Depag, tidak ada > pengecualian bagi siapa saja yang memenuhi kualifikasi standar untuk dapat > belajar di perguruan tinggi ilmu pertanian terbesar di Asia Tenggara itu. > > "Pondok pesantren adalah basis pendidikan di Indonesia sebelum pendidikan > yang katanya modern itu masuk, dan di daerah sudah mendarah daging dan tetap > eksis hingga kini, yang justru perlu di-`recognized`," katanya. > > Selain itu, kata dia, sistem pendidikan yang ada di Ponpes, sejauh > pengalamannya mendatangi kebeberapa pesantren tidak jelek, bahkan ada yang > sangat bagus. > > Ia memberi contoh saat dirinya ke Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara > (Sultra) ternyata di sana sana Ponpes Gontor V, ternyata dalam sehari-hari > percakapan yang dipakai selama proses belajar mengajar, selain bahasa > Indonesia juga menggunakan bahasa Inggris dan Arab yang bagus. "Setelah > melihat itu, mungkin bahasa Inggris saya kalah dengan santri di sana," > katanya. > > Kondisi yang sama juga ditemuinya pada sejumlah Ponpes di Kabupaten Garut, > Jawa Barat. "Apalagi umumnya basis di Ponpes memang suasananya identik > dengan pertanian sehingga harapan kita, para mahasiswa dari Ponpes ini, > setelah menyelesaikan studinya di IPB kembali ke daerah dan membangun > pertanian dengan sentuhan keilmuan yang telah mereka pelajari," katanya. > > Berkaitan dengan itu, maka untuk lebih mempercepat proses adaptasi di > lingkungan perguruan tinggi umum --dari semula suasana belajar khas di > Ponpes--maka untuk dilakukan program pra-universitas bagi mahasiswa baru > BUD, termasuk yang berasal dari Ponpes. > > "Setelah kita buat pra-universiti hasilnya (ternyata) bagus, mahasiswanya > ada yang mampu mendapat nilai 4 untuk semua mata kuliah dasar di Tingkat > Persiapan Bersama (TPB), dan itu berarti nilainya A semua. Jadi, mereka > memiliki kemampuan, dan itu berarti pendidikan (di Ponpes) tidak jelek, > sehingga kenapa harus dipermaslahkan?," katanya. > > Diakuinya bahwa selama ini, para mahasiswa yang berasal dari Ponpes > semuanya dapat mengikuti sistem yang ada, dan mengenai pandangan miring soal > ekstrimitas dan sejenisnya itu ternyata tertepis dengan sendirinya. > > "Karena itu, mestinya jangan terlalu berlebihan (memandang Ponpes). Saya > juga tidak menjamin semuanya menjadi bagus, karena di tempat kita (IPB) > saja, yang katanya bagus, ada juga jeleknya. Apa yang ada sekarang ini > menunjukkan bahwa mereka (mahasiswa dari Ponpes) juga mampu," kata pakar > ilmu statistik IPB itu. > > Ponpes Al-Mukmin yang didirikan 10 Maret 1972 di Jl Gading Kidul No.72Solo di > bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Asuhan Yatim Al-Mukmin (YPIA) > dalam perjalanannya telah berkembang pesat. > > Pondok pesantren yang belakangan cukup terkenal itu didirikan oleh Ustadz > Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba`asyir, Abdullah Baraja, Yoyok Rosywadi, > H.Abdul Qohar Daeng Matase dan Ustadz Hasan Basri yang waktu itu baru > memiliki 30 santri. > > Mengingat perkembangan santri yang pesat, sementara sarana dan prasarana > waktu itu terbatas, maka dua tahun berikutnya yaitu 1974 pondok pesantren > itu dipindah ke lokasi baru di dukuh Ngruki Kelurahan Cemani, Kecamatan > Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. > > Di lokasi baru ini Ponpes Al-Mukmin lebih pesat berkembang, bahkan luas > areal yang ditempati sekarang hampir tiga hektare, dengan jumlah santri > 1.800, sedangkan tenaga edukatif maupun karyawan 250 orang di bawah > pimpinan direkturnya KH Wahyuddin. > > Jenjang pendidikan yang ditawarkan Ponpes Al-Mukmin Ngruki pun cukup > lengkap dari SLTP Pondok Pesantren, Takhosus (Pra SLTA), Kulliyatul > Mu`allimin/Mu`allimat, Madrasah Aliyah dan Ma`had Aly (Sekolah Tinggi) > dengan jurusan Fakultas Tarbiyah dan Syari`ah. > > Ponpes Islam Al-Mukmin Ngruki keberadaannya terus menjadi pembicaraan > karena salah satu pendirinya Ustadz Abu Bakar Ba`asyir --yang sempat > mendekam di LP Cipinang Jakarta--dan bahkan ada beberapa alumni pondok ini > menjadi pelaku peristiwa peledakan bom Bali pertama tahun 2002. > > Sementara itu, seperti dikutip dari "Suara Merdeka Cyber", Guru Besar Ilmu > Politik Universitas Melbourne, Prof Dr Arief Budiman, MA --dalam acara > dialog bertema "Islam Fobia Barat dan Radikalisme Islam di Indonesia" di > kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, Jawa Tengah--pada > awal Juli 2006-- mengakui pandangan Australia tentang Ponpes Ngruki sebagai > sarang teroris tidak benar. > > Bahkan dirinya telah menyampaikan kepada Australia tentang kondisi Ponpes > itu sebenarnya, tetapi mereka masih belum dapat menerimanya. "Mereka masih > belum percaya karena pendapat umum masyarakat Australia masih terpengaruh > gambaran dunia tentang Islam. Yakni pandangan Presiden Amerika Serikat > George W Bush bahwa Islam identik dengan kelompok teroris," kata Arief > Budiman, yang pernah mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) > Salatiga itu. > > Arief juga menjelaskan dirinya telah mendatangi Ponpes Ngruki Solo, yang > disebut-sebut sebagai sarang teroris. Ternyata apa yang menjadi pandangan > Australia itu sangat berbeda, setelah diketahui di Kampung Ngruki di Solo > itu ada warga Kristen yang mendiaminya. > > Meski demikian, Arief mengungkapkan banyak pula orang Australia yang tidak > yakin jika Indonesia terutama kelompok Islamnya merupakan bagian dari > teroris. Menurutnya orang yang beranggapan seperti itu umumnya pernah > tinggal di Indonesia. > > Diakuinya pula, ada beberapa mahasiswa dari Melbourne terganjal "travel > warning" jika pergi ke Indonesia. Namun jika nekad mereka tidak akan > mendapat tanggungan asuransi apabila terjadi musibah. > > "Saya katakan kepada mahasiswa, tida benar anggapan di Indonesia > berbahaya. Terbukti setelah mereka ke Indonesia dan kembali memang tidak ada > apa-apa. Dari kondisi itu memunculkan ide upaya menghilangkan image bahwa > Islam di Indonesia merupakan bagian dari teroris,". > > Sedangkan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menilai, ajaran-ajaran > Islam yang disampaikan pengasuh Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Ustadz Abubakar > Ba`asyir, sebenarnya tidak ada yang berlebihan, sehingga tak perlu dilabeli > "garis keras" dan semacamnya. > > "Islam yang disampaikan Ustadz Ba`asyir juga `sejuk` kok! Seperti halnya > ulama lainnya," kata Cak Nun kepada wartawan, usai menjadi pembicara pada > bedah buku Dari Kandang Memandang Dunia di Kampus IPB Darmaga, beberapa > waktu lalu. > > Kala itu, kepada Cak Nun wartawan menanyakan mengapa pelabelan berbeda > seperti dengan terminologi "garis keras", "fundamentalis", "militan", > "radikal" dan sejenisya diberikan kepada Baasyir, sedangkan kepada ulama > atau tokoh Islam lainnya di Indonesia kemudian muncul istilah "sejuk" dan > semacamnya. > > "Ini (berkaitan) dengan politik. Ini `kan karena pernah berurusan dengan > Amerika Serikat (AS), kebetulan pejuang di Afghanistan itu banyak alumni > Ponpes Ngruki," katanya. > > Selain itu, ustadz Baasyir, katanya, secara kebetulan ketika pemerintahan > Orde Baru-- banyak "melawan" pemerintah. "Terus dalam `kedurjanaan` Amerika > (Serikat) dia juga harus hilang. Itu seperti mafia atau Narkoba, jadi tidak > bisa keluar karena yang melatih Amerika," katanya. > > "Kalau sudah dilatih Amerika maka anda harus tunduk pada Amerika, kalau > tidak ya...cari perkara," tambahnya. > > Karena itu, menurut Cak Nun, tujuan pengadilan atas ustadz Baasyir > sebenarnya adalah pembubaran Pesantren Ngruki. "Karena itu tadi, banyak > sekali orang-orang mujahidin di Afghanistan dan di negara-negara lain adalah > alumni sana," katanya. > > "Jadi tujuannya membubarkan pesantren dengan cara menjelek-jelekkan > Abubakar Basyir, supaya ada keabsahan untuk membubarkan pesantrennya. Kalau > pesantrennya itu tidak ada masalah," tambahnya. > > Saat ditanya jika seperti itu, apakah sebegitu takutnya AS terhadap > keberadaan Ponpes Ngruki asuhan Abubakar Baasyri, Cak Nun kembali menegaskan > tentang konteks karena dari Ponpes itu lahir banyak orang yang dilatih di AS > di Afghanistan, sewaktu terjadi invasi Uni Sovyet, dan AS dengan lembaga > intelijennya CIA mendukung mujahidin Afghanistan saat itu. > > "Kalau pesantrennya (Ngruki) biasa-biasa saja, cuman alirannya beda yaitu > salafiyah Mekah," kata Can Nun sambil memberi permisalan seperti musik atau > gamelan memang tidak diakomodir di Ponpes tersebut. [TMA, Ant] > http://www.gatra.com/artikel.php?id=97169 > > The great job makes a great man > pustaka tani > nuraulia > > > --------------------------------- > Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small > Business. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

