yg diributin bukan masalah beli 32 panser nya bos.... tapi CARA belinya...

kalau CARAnya dah bener, mau beli seribu juga monggo... githu lo...


On 9/25/06, Mas Bagong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Baru mau beli 32 panser aja udah diributin dari Sabang sampai Merauke...
> Korupsi besar-besaran nggak ada yang protes...
> Besok tentara kita suruh pakai bambu runcing aja... ngikutin nenek
> moyangnya...
> DG
>
>
> On 9/23/06, Sandy Dwiyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Tarik Ulur Sistem Pertahanan Indonesia
> >
> > Oleh: Peter Phillipp dari Berlin
> >
> > Angkatan Laut adalah bagian terpenting dalam konsep pertahanan laut
> > Indonesia. Namun TNI AL sendiri ibarat kehabisan nafas dalam menjaga
> wilayah
> > perairan. Anggaran yang Minim atau lemahnya industri pertahanan
> Indonesia?
> >
> > Sistem pertahanan yang tangguh adalah salah satu bagian terpenting dari
> > stabilitas demokrasi di Indonesia, terutama jika melihat kondisi
> geografis
> > Indonesia yang merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia.
> >
> > Minimnya Anggaran
> >
> > Tak pelak angkatan laut menjadi salah satu bagian yang sangat penting
> > dalam sistem pertahanan nasional. Pembelian empat kapal Korvett dari
> Belanda
> > baru-baru ini, merupakan salah satu usaha pemerintah untuk menciptakan
> > stabilitas keamanan di perairan Indonesia. Meskipun demikian, Tentara
> > Nasional Indonesia (TNI) ibarat kehabisan nafas dalam menyokong konsep
> > pertahanan Indonesia.
> >
> > Anggaran yang minim, kurangnya profesionalitas di tubuh TNI, dan
> berbagai
> > masalah lain membuat kata keamanan di wilayah perairan ibarat hantu yang
> > merongrong keamanan di Indonesia.
> >
> > Sulit untuk Menjaga Perairan Indonesia
> >
> > Bicara masalah pertahanan di Indonesia tak dapat dilepaskan dari sistem
> > keamanan kawasan perairan Indonesia. Dengan wilayah laut yang luasnya
> empat
> > sampai lima kali dari luas wilayah daratan, sudah sepantasnya jika
> Indonesia
> > memiliki angkatan laut yang handal. Namun kenyataan berbicara lain.
> >
> > TNI Angkatan Laut cukup keteteran dalam mengamankan seluruh wilayah
> > perairan Indonesia. Berita tentang pencurian sumber daya alam,
> penyeludupan,
> > perompakan kapal, hingga hilangnya pulau-pulau terluar pun, kerap
> mengisi
> > halaman-halaman surat kabar di Indonesia. Mulai dari pembajakan laut di
> > Selat Malaka, pencurian ikan di Perairan Natuna dan Arafuru.
> >
> > Persenjataan Tidak Memadai
> >
> > Belum lagi  pelanggaran perbatasan di wilayah pulau terluar Indonesia,
> > seperti kawasan utara Papua, Pulau Miangas di Sangihe Talaud Sulawesi
> Utara,
> > Pulau Nipah di perbatasan dengan Singapura, dan masih banyak lagi. Andi
> > Wijayanto, pengamat militer dari Universitas Indonesia mengungkapkan
> > kelemahan TNI AL:
> >
> > "Peralatan persenjataannya masih di bawah yang diinginkan, karena 60
> > persen dari kapal perang Indonesia masih tergolong kepada kapal pendarat
> > tank dan pasukan. Jadi bukan kapal tempur atau kapal pratoli. Sementara
> > kesiapan kapal tempur atau pratoli hanya 40 persen. Dan sebagian besar
> juga
> > tidak dilengkapi dengan peralatan sonar dan amunisi yang memadai.
> Jadinya
> > dari sisi kesiapannya memang masih berada jauh dari yang diharapkan."
> >
> > Menurut data yang dikeluarkan Kompas, dari sekitar 113 kapal yang
> dimiliki
> > TNI saat ini, rata-rata sudah berusia uzur. Tercatat 39 kapal berusia di
> > atas 30 tahun, 42 kapal berusia antara 21 sampai 30 tahun, dan sisanya
> 24
> > kapal berusia antara 11 sampai 20 tahun.
> >
> > Rencatan Strategis TNI AL
> >
> > Pemerintah Indonesia bukannya tinggal diam dalam menghadapi masalah
> > keamanan di wilayah perairannya. Tahun depan, TNI AL akan kedatangan dua
> > kapal Korvett baru jenis Sigma dari Belanda. Kedua kapal baru ini
> dinamakan
> > Diponegoro dan Hassanudin.
> >
> > Seluruhnya terdapat empat kapal Krovett yang dipesan Indonesia.
> Pembelian
> > empat kapal patroli seharga sekitar 1,1 Miliar Dollar Amerika tersebut
> > merupakan bagian dari rencana strategis TNI AL sampai tahun 2024. Kepala
> > Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Slamet Soebijanto mengatakan di
> sela-sela
> > acara pemberian nama untuk dua kapal korvett Indonesia:
> >
> > "Karena kita sangat menyadari bahwa negara kita sangat besar. Jadi kita
> > perlu kapal banyak. Kapal-kapal yang punya kemampuan yang meyakinkan
> itulah
> > yang diharapkan mampu menjaga wilayah negara kita. Kekayaan laut kita
> sangat
> > besar. Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaganya. Dengan kedatangan
> kapal
> > baru ini, saya kira sebagian bisa membantu memecahkan persoalan
> tersebut.
> > Tapi belum cukup. Kita masih butuh banyak."
> >
> > Anggaran Persenjataan
> >
> > Alokasi anggaran pertahanan memang menjadi momok tersendiri bagi
> angkatan
> > laut. Tahun ini pemerintah telah menetapkan anggaran pertahanan sebesar
> 28,2
> > triliyun Rupiah. Dari jumlah tersebut, sekitar 10,9 triliyun mengalir ke
> > kantong angkatan darat. Sementara angkatan udara dan laut masing-masing
> > mendapat anggaran dalam jumlah sama, yaitu hanya 4,3 triliyun rupiah.
> > Padahal idealnya, Indonesia setidaknya memiliki 800 hingga 1000 kapal
> perang
> > dan 50 sampai 60 Skuadron pesawat tempur untuk menjaga teritorial yang
> > demikian luas.
> >
> > Sebagian besar dari anggaran pertahanan itu digunakan untuk menggaji
> > prajurit. Hanya 3 triliyun rupiah saja yang dialokasikan untuk pembelian
> > atau perawatan senjata. Pengamat militer dari Universitas Indonesia,
> Andy
> > Wijayanto, menjelaskan prioritas alokasi anggaran senjata TNI:
> >
> > "Kalau dilihat dari alokasi anggaran untuk pembelian persenjataan sampai
> > tahun 2007 depan, itu masih didominasi oleh pembelian untuk angkatan
> udara.
> > Baru tahun 2008 dan seterusnya prioritas diberikan kepada angkatan laut.
> > Sebetulnya sejak reformasi, angkatan laut juga telah membeli beberapa
> > peralatan, tapi dalam jumlah kecil."
> >
> > Menjaga Stabilitas Perairan
> >
> > Dengan anggaran yang sedikit dan persenjataan yang mulai dimakan usia,
> > angkatan laut tetap musti berlayar dan menciptakan stabilitas keamanan
> di
> > lautan. Kasus-kasus yang ditangani angkatan laut memang umumnya berkisar
> > antara penyelundupan dan pencurian kekayaan alam.
> >
> > Saat ini angkatan laut dibagi menjadi dua wilayah satuan, yakni komando
> > armada barat dan armada timur. Di bagian barat, angkatan laut lebih
> > berkonsentrasi dalam menangani kasus perompakan. Sementara di wilayah
> timur
> > perairan Indonesia, angkatan laut lebih banyak berurusan dengan kasus
> > penucurian kekayaan alam, seperti penangkapan ikan ilegal atau
> penyeludupan
> > kayu ilegal.
> >
> > Prioritas
> >
> > Kurangnya dana dan persenjataan untuk menumpas kejahatan di laut bukan
> > tidak disadari oleh Kepala Staf Angkatan Laut, Slamet Soebijanto.
> Soebijanto
> > menjelaskan kiat-kiatnya dalam menghadapi minimnya anggaran:
> >
> > "Saya mencoba mencari prioritas yang tepat. Apa yang harus kita beli
> dulu.
> > Karena mau tak mau kita harus membangun penangkalan. Jangan sampai
> kekayaan
> > kita dicuri orang lagi."
> >
> > Sampai saat ini, kapal-kapal dan persenjataan untuk angkatan laut memang
> > lebih banyak yang didatangkan atau dibeli dari luar negeri. Namun
> > perdagangan senjata antar negara sangat bergantung kepada situasi
> politik
> > internasional. Indonesia misalnya beberapa kali dikenakan embargo
> senjata
> > oleh Amerika Serikat lantaran dituduh telah melakukan pelanggaran HAM.
> >
> > Industri Pertahanan Dalam Negeri
> >
> > Pemerintah berusaha menutup celah dalam program pengadaan senjata dengan
> > mengandalkan industri pertahanan di dalam negeri. Yang termasuk ke dalam
> > industri pertahanan adalah PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, Pindad, dan
> PT
> > Dahana yang memproduksi bahan peledak. Namun menurut pengamat militer,
> Andy
> > Wijayanto, komitmen pemerintah untuk kemajuan Industri Pertahanan belum
> > dapat dirasakan.
> >
> > "Masih sangat kecil, karena anggaran yang dialokasikan, terutama untuk
> > penelitian dan pengembangan itu kurang dari 1 persen dari anggaran
> > pertahanan. Alokasi atau pembelian untuk industri pertahanan tidak
> sampai
> > lima persen dari anggaran pertahanan. Sebagian besar memang masih
> > mengandalkan pembelian ke luar. Tapi ini wajar, karena kapasitas
> industri
> > pertahanan terutama untuk senjata yang dibutuhkan oleh angkatan udara
> atau
> > angkatan laut masih sangat lemah."
> >
> > Belum Mampu
> >
> > Memang harus diakui, kemampuan industri pertahanan Indonesia, khususnya
> PT
> > PAL belum sepenuhnya bisa diandalkan. Sejauh ini PT PAL hanya mampu
> > menawarkan kapal patroli kecil kelas Pandrong dan Todak dengan bobot
> sekitar
> > 500 ton dalam daftar produk unggulannya. Usaha untuk memperkuat
> kapasitas PT
> > PAL sudah sering dilakukan. Misalnya saja program alih tekhnologi yang
> > biasanya dimasukkan ke dalam paket pembelian kapal dari luar negeri.
> >
> > Selain itu pemerintah juga mengajak PT PAL untuk mengadakan program
> > pembangunan Korvett nasional. Menurut rencana, PT PAL akan bekerja sama
> > dengan perusahaan Italia, Orizzonte Sistem navali SPA, dalam pembuatan
> kapal
> > tersebut. Meskipun demikian, ada faktor lain yang juga menghambat
> program
> > pengembangan teknologi pertahanan. Seperti yang dijelaskan Menteri
> > Pertahanan Juwono Sudarsono.
> >
> > "Ada faktor-faktor persaingan. Seperti Singapura tidak akan tinggal diam
> > jika kita mengembangkan kemampuan itu. Demikian juga Thailand. Jadi
> sangat
> > ketat dan buas persaingan industri pertahanan itu. Seperti anjing makan
> > anjing begitulah. Dog eats dog."
> >
> > Masih jauh dari harapan, itulah kondisi  industri pertahanan nasional
> saat
> > ini. Masih jauh dari harapan pula untuk bisa menyangga sistem pertahanan
> > dalam negeri. Untuk itu  Indonesia masih harus "berlayar bernahkoda,
> > berjalan bernan tua", Indonesia masih harus banyak menyerap ilmu dan
> > teknologi negara-negara lain,  untuk memajukan sistem pertahanan
> > nasionalnya. Dengan demikian percepatan modernisasi sistem persenjataan,
> > sudah selayaknya didahulukan.
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+
> > countries) for 2ยข/min or less.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> ***************************************************************************
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> >
> >
> ***************************************************************************
> >
> __________________________________________________________________________
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke