http://wikan.multiply.com/journal/item/51
Takut membela muslimah di Jerman <http://wikan.multiply.com/journal/item/51> http://service.spiegel.de/cache/international/spiegel/0,1518,436820,00.html Problem muslim di Jerman, begitu kompleks, manakala berhadapan dengan hukum di Jerman yang berbeda dengan kondisi di negara asalnya. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di negara-negara muslim, biasanya tidak menjadi porsi perhatian yang besar dari pemerintah, kadang cenderung abai dan bahkan menjadi urusan rumah tangga masing-masing. Di Jerman, wanita mendapat hak yang sama dalam hukum. Namun pengacara para wanita muslim tersebut tidak selamanya beruntung. Kecaman, ancaman datang silih berganti, dan ancaman pembunuhan bukanlah hal yang main-main. Inilah yang menyebabkan Seyran Ates, seorang pengacara muslimah di Jerman mengundurkan diri dari membela para muslimah. Dia dianggap mengompori para muslimah untuk melawan suami atau keluarganya. Sementara suami dari kliennya ada yang secara demonstratif memukuli istrinya di depan matanya. Oke, mungkin orang Islam bisa mengatakan aah, ini kan dari media massa barat non-muslim yang punya tujuan menjelekkan citra Islam. Tetapi apakah persoalan KDRT itu sendiri tidak dianggap sebagai suatu masalah yang serius? Bagaimana muslim bisa mengikuti hukum dan aturan di suatu negara lain, dan bagaimana juga muslim bisa memperlakukan keluarganya dengan baik. Ini hal yang sangat serius, dan kadang muslim cenderung abai terhadap citranya sendiri, dan tidak berusaha untuk menyelesaikan permasalahan dengan baik, melihat ke akar permasalahannya. On 10/3/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Promosi nih ye, tapi lumayan juga buat referensi versi Tempo. thax alot > mas. Ayaan Hirsi pernah diulas panjang lebar dan menjadi bahan diskusi di > milis Jurnalisme..dia di kontrakan dengan Yvonne Ridley yang masuk Islam > setelah ditangkap tentara Taliban yang katanya melakukan subordinasi > perempuan. Ridley giat mengkampanyekankan pada dunia tentang Islam.. > > salam, > aris > > > > > > Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED] <ndewanto%40mail.tempo.co.id>> > wrote: > > Ayaan > > Ayaan, anak gadis yang kelak membuat heboh Eropa > itu, memulai pemberontakannya di sebuah gedung > bioskop. Itu terjadi ketika ia, asal Somalia, > bersama ibu, kakak, dan adiknya tinggal sebagai > keluarga pengungsi di Kenya pada akhir tahun 1980-an. > > Pada umur belasan tahun itu ia jatuh cinta kepada > seorang pemuda yang ia beri nama rahasia > "Yussuf". Bagi keluarga Ayaan, hubungan itu > salah. Pemuda itu orang Kenya. Tapi seandainya > pun bukan, pacaran adalah perbuatan cela bagi gadis muslimah seperti dia. > > Maka di dalam gelap di depan layar putih itulah > Ayaan menemukan jalan bagaimana bisa duduk > berdampingan dengan "Yussuf". Mereka bersentuhan > tangan. Tapi hatinya berdebar keras oleh gairah > dan juga rasa bersalah. Di depan mereka > adegan-adegan A Secret Admirer--sebuah film > komedi Hollywood buat remaja--diputar, dan mereka > melihat bagaimana anak-anak muda nun di "Barat" > itu berciuman di bibir, tanpa ketakutan, dan akhirnya bahagia. > > Ayaan bukannya tak datang dari sebuah keluarga > terpelajar. Ayahnya, Hirsi Magan Isse, seorang > pakar bahasa dan bahkan pernah belajar di AS. > Lelaki ini percaya bahwa demokrasi penting, > begitu juga pendidikan untuk perempuan. Ia jadi > seorang aktivis. Somalia berada di bawah > kediktatoran Mohammad Said Barre, dan Hirsi > melawan. Ia dipenjarakan. Ketika itu Ayaan lahir. > Keluarga itu meninggalkan tanah kelahiran mereka. > > Anak gadis itu kemudian bersekolah di Nairobi, di > sebuah sekolah buat muslimah kecil. Ia menutup > tubuhnya brukut dari ubun sampai ke jempol kaki > dan dengan bersemangat ikut demonstrasi mengutuk Salman Rushdie. > > Tapi perubahan dalam dirinya terjadi, secara > radikal, yang kemudian membawanya ke Belanda, > menjadikannya seorang yang menuding Islam sebagai > asal penindasan perempuan dan ketidakbebasan > manusia untuk berpikir. Dari sinilah berkobar > konfrontasi yang sengit yang berakhir (mungkin > juga tak berakhir) pada pembunuhan Theo van Gogh > di sebuah jalan Amsterdam pada suatu pagi awal > November 2004. Dalam Murder in Amsterdam > (terbitan The Penguin Press, New York, 2006), Ian > Buruma dengan sensitif, cerah, dan memukau > menampilkan sosok Ayaan serta problem yang > dihadapi hampir siapa pun di Belanda dan Eropa > kini: dilema, ketakutan, rasa curiga dan benci, > juga hipokrisi, ketika di negeri yang pernah > bangga akan Pencerahan itu harus menghadapi > kenyataan, bahwa ide-ide tentang kebhinekaan, > toleransi, dan ke-universal-an terbentur dengan realitas yang baru. > > Kita tentu masih ingat peristiwa pembantaian itu. > Pembuat film, penyelenggara acara debat talk-show > yang terkenal dengan ucapannya yang kasar itu, > Theo van Gogh, ditembak, disembelih, dan ditikam > Mohammad Bouyeri di tepi jalan. Di pisau kecil > yang tertancap di dada korbannya itu, sang pemuda > Belanda keturunan Maroko menyematkan selembar > surat. Isinya dialamatkan Ayaan Hirsi--yang telah > meninggalkan agamanya, memilih jadi atheis, dan > kemudian bersama Van Gogh membuat film 12 menit > berjudul Submission yang memang dimaksudkan untuk > menunjukkan buruknya Islam--akan jadi sasaran pembantaian berikutnya. > > Apa gerangan yang terjadi pada Ayaan? > > Dalam kisah yang dicatat Buruma, perjalanan itu > cukup berliku. Dari Somalia, anak tapol itu > bersama keluarganya hidup sebagai pelarian di > seberang pelbagai perbatasan. Sebelum di Kenya, > mereka tinggal di Arab Saudi, di mana Ayaan > bertemu ayahnya yang menghilang dari negerinya. > Di sana, di lingkungan ajaran Wahabi, ia, seperti > tiap perempuan, praktis tidak bisa berada di luar > rumah. Tapi tak serta-merta Ayaan membangkang. > Malah sesampai di Kenya, setelah Sudan, ia > tertarik ke dalam ide-ide Ikhwanul Muslimin yang > baginya memberi idealisme. Tapi ia juga telah > menyaksikan dari dekat, dari hidupnya sendiri, > betapa perempuan ditampik sebagai sesama yang > berhak. Pada usia 22, Ayaan diperintah jadi istri > seorang sepupu yang hidup di Kanada. Ia dikirim > ke sana. Tapi melarikan diri ke Belanda. > > Ia bekerja di pabrik, dan bersua dengan seorang > pacar yang memberinya buku "Manifesto Atheis". > Mulai tumbuh sikap berontak terhadap imannya yang > lama, dan ia jadi aktivis, masuk politik, jadi > anggota parlemen--dan jadi seorang penantang. > > "Yang dibutuhkan kebudayaan Islam," begitu > tulisnya, "adalah buku, lakon, puisi dan lagu > yangÂ…mengejek aturan agama." Ia ingin berperan > sebagai Voltaire yang menghajar Gereja Katolik > dan dengan demikian membuka pintu Pencerahan. > Eropa bisa bangkit karena meninggalkan imannya > dan masuk ke pemikiran yang universal, terbuka, dan merangkum. > > Ayaan melihat, Islam terus-menerus menampik untuk > menjabat dunia yang diciptakan beraneka, dan ia > tak sendirian menyaksikan itu. Yang tak dilihat > segera ialah Eropa sendiri--dengan prestasi > Pencerahan--belum juga memecahkan soal itu. Para > imigran, seperti Ayaan, mengalami Eropa yang tertutup. > > Goenawan Mohamad > (Catatan Pinggir Majalah Tempo, 2 Oktober 2006) > > At 09:57 PM 10/2/2006, you wrote: > > >Lalu, dimanakah gerangan posisi gerakan wanita yang tepat? Posisi > >Hizbut Tahir yang menginginkan wanita selalu men-subordinate diri, > >atau posisi, yang memperjuangkan kepentingan wanita agar mendapat > >perlakuan yang setara? > > > >Dimanakah posisi wanita Indonesia yang benar? seperti di Afganistan > >dizaman Taliban (sampai kini) atau seperti di Mesir atau Jordania, > >atau Jerman, Canada atau Australia? > > > >Salam > > > >Danardono > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > > *************************************************************************** > __________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]<ppiindia-digest%40yahoogroups.com> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]<ppiindia-nomail%40yahoogroups.com> > 6. kembali menerima email: [EMAIL > PROTECTED]<ppiindia-normal%40yahoogroups.com> > > Yahoo! Groups Links > > The great job makes a great man > pustaka tani > nuraulia > > > --------------------------------- > All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done > faster. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

