Wah, enak juga nih dapet info banyak. Ngoreksi pa Rektor? Apa nggak kebalik, 
kita yang sering dikoreksi dan didikte he he he. Maklum saat ini jadi bawahan 
mbak.   Saya menulis semua ini lepas dari apa tugas saya ^_^. Sekali-kali boleh 
kan. Paling resiko dipecat. :(( 

Saya hanya merasa nggak rela, benar-benar nggak rela nasib almamater dan dunia 
pendidikan Indonesia jadi begini, sedangkan saya sendiri ndak tahu harus 
berbuat apa selain ikut arus. Maybe someday.

Orang luar lebih enak cuap-cuap dibanding orang dalam. (seperti wartawan) 
Birokrasinya itu lho mbak. 

Nah.. tim penyusunnya itu mbak yang masih buram. Siapa? Rektor sendiri, saya 
sangsi. Apa MWA (majelis Wali Amanat)? saya ndak tahu siapa yang dulu memulai 
memasukkan konsep BHP ini ke IPB. Bagaimana dengan UI, ITB, UGM, UPI? Siapa 
yang memasukkan ide ini? mohon pencerahan..

salam,
aris





ndah maldiniwati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: koreksi:
Kalau mbak adalah salah satu orang yang mengcreate kualifikasi itu, 
saya jamin mbak sangat paham kemana tujuan akhir dari UU BHP ini, 
bukan?
==>qt nyusun kualifikasi untuk self evaluation PT, tujuannya membantu 
end user (calon mahasiswa) untuk mendapatkan informasi ttg kualitas PT 
di Indonesia dan membangun database PT berbasis SIM.  Jd ga ada hubg 
dg akan keluarnya UU BHP

Gosip dr pk matjikk harusnya di clear-kan sekalian mba, kenapa Jepang 
bisa lebih murah (ada datanya ga? hehe ga brani nanya ya).  Dalam 
membandingkan biaya kuliah bukan murni ngliat nominalnya saja, karena 
itu bukanlah indikator yg bisa menilai performa PT, tp biaya kuliah 
biasanya qt bandingkan dengan IPK.  Mungkin Jepank bisa lebih murah 
SPP-nya karena dana yg diperoleh dari research grant, public research 
funding, industry funding 4 research, penerbitan buku & jurnal sudah 
besar.  Jadi SPP bukan menjadi tumpuan pendapatan, bahkan Australian 
National University yg menjadi ranking 1 dlm asiaweek dlm indikator 
finance resource, SPPnya hanya menyetor 6%an dr total pemasukan.  
Kalopun IPB belum bisa masuk 100 top ranking di asiaweek silahkan ber-
self evaluation indikator mana aja yg nilainya memprihatinkan hehehe 
(jgn2 gara2 laporn keuangannya yg ga transparan:))

Karena ketidakmampuan & kemalasan PT di Indonesia dalam menggalang 
income dr research, industri, dll (non SPP) inilah yg menjadi dugaan 
saya menjadi biang kerok mahalnya SPP.  Dosen cari obyekan menurut 
saya sih tidak masalah asal masih bisa bertanggungjawab thd kegiatan 
akademiknya, kalo researchnya banyak tentunya dosennya ga perlu nyari 
obyekan diluar kan?? 

informasi RUU BHP yg saya trima masih simpang siur, tp kalo melihat 
tujuannya dimana BHP sbg badan hukum satuan pendidikan yang 
diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat yang 
mempunyai fungsi memberikan pelayanan pendidikan, berprinsip nirlaba 
dan dapat mengelola dana untuk memajukan satuan pendidikan sepertinya 
tim penyusunnya punya redaksional yg bagus:) tp implementasinya pasti 
bakal menyipang jauh dr tujuan itu kalo ga didukung aturan pelaksanaan 
yg jelas.  Monggo mba aris ngubungin tim penyusunnya mungkin ada org 
IPB yg ikut tim ini  

--- In [email protected], aris solikhah  wrote:
>
> Terima kasih mbak. Saya dapet gosipannya dari pak rektor sendiri 
mbakyu. ^_^ mungkin untuk tambahan justifikasi. Pa Rektor bahkan 
mengatakan di IPB adalah seperseratus biaya pendidikan mahasiswa di 
Jepang. Sehingga wajar kualitas pendidikan Indonesia agak rendah.
> 
> Beberapa kualifikasi yang mbakyu cantumkan tentang BHMN tepat sekali 
demikian adanya. Teori keluarnya sangat indah dibandingkan 
kenyataannya.  IKalau PT mikirin juga mencari sumber penghasilan lain 
misalnya dengan pembuatan mall dll bukankah pendidikan kita akan 
tersibukkan. Dosen cari objekkan, dll.
> 
> Kenyataan lain mau tidak mau, SPP memang naik meski dibumbui dengan 
kata-kata yang cantik.
> 
> Sejak dimanapun biaya pendidikan adalah tanggungjawab negara. Kalau 
sekolah dikomersialkan, lalu apa gunanya negara? saya iri dengan India 
yang memurahkan pendidikan. Dunia pendidikan kita mendidik kita untuk 
jadi buruh professional ahli yang murah dibandingkan diajak berpikir 
untuk mandiri. 
> 
> Kalau mbak adalah salah satu orang yang mengcreate kualifikasi itu, 
saya jamin mbak sangat paham kemana tujuan akhir dari UU BHP ini, 
bukan?
> 
> Saya mohon, bisakah kebijakan RUU BHP ini dievaluasi kembali sebelum 
semuanya terlambat? Saya tak bisa membayangkan mahalnya pendidikan 
kita,  siapa yang bisa kuliah nantinya, orang miskin makin miskin dan 
bodoh, makin terpuruknya Indonesia, serta makin terbudakkan SDM kita, 
plis. 
> 
> 
> 
> salam,
> aris
> 
> 
> 
> 
> 
> ndah maldiniwati  wrote: Kemunculan BHMN tidak lepas 
dr escape strategy pemerintah yg ingin 
> mengurangi beban APBN.  Seharusnya PT sebagai sebuah perusahaan 
> bukannya memebebankan biaya oprasionalnya kapada konsumennya 
> (mahasiswa) seharusnya dengan BHMN justru menjadi ajang kompetisi 
> berebut riset dgn bekerjasama dengan institusi luar shg menggenjot 
> pemasukan.  Kalo PT mensolusikan peningkatan pemasukan dengan 
> gencar2nya menaikkan tarif kuliah & mendirikan mall saya melihatnya 
> sebagai kebodohan kaum intelektual yg berjiwa kapitalis.
> 
> untuk penentuan ranking: wah denger gosip darimana mba?? saat saya 
> ikut tim untuk merumuskan indikator penilaian kompetensi PT di 
> Indonesia (bukan untuk meranking PT) yang akn digunakan sekjend 
DIKTI 
> & DPPKPM DIKTI kami mengambil acuan antara lain asiaweek dan 
guardian 
> uk.  kualitas PT dinilai dr proses input (kualitas mahasiswa yg 
> diterima)-proses-output(kualitas lulusan), dan dalam proses ada 
banyak 
> komponen penunjang proses (proses belajar, kualitas dosen, performa 
> keuangan, fasilitas kuliah, performa research).  BAN PT juga 
melakukan 
> penilaian untuk akreditasi dengan indikator2 yg kurang lebih sama.
> 
> Silahkan browsing sendiri kriteria2 yg digunakan untuk meranking PT 
di 
> diknasnya canada, amerika or ausy:
> BAN PT: http://dikti.go.id/ (masuk ke Badan Akreditasi Nasional)
> sekjend dikti: http://si.dikti.go.id/kinerja_rincipt/dirpt.php
> guardian: http://education.guardian.co.uk/universityguide2005/0,,
> 1455246,00.html
> asiaweek: http://www.asiaweek.com/asiaweek/features/
universities2000/
> schools/multi.overall.html
> (lihat kriterianya dibawah list PT) 
> 
> Semoga bermanfaat
> 
> --- In [email protected], aris solikhah  wrote:
> >
> >   Dear All,
> >  HAri ini saya membaca sekilas Humaniora Kompas, mendebarkan 
rasanya 
> membayangkan nasib masa depan Perguruan Tinggi (PT) Indonesia. 
Akankah 
> pendidikan tinggi makin sulit diraih oleh putra-putri  kita?  
> >  
> >  
> >  Dalih internasionalisasi atau dalih mutu perguruan tinggi 
Indonesia 
> yang tidak masuk dalam 100 besar terbaik dunia, kita perlu 
> memprivatisasi? ataukah saya salah menyimpulkan apa yang dimaksud 
> dengan privatisasi PT?  CMIIW
> >  
> >  Saya pernah mendengar, salah satu kriteria penilaian 100 PT 
terbaik 
> dunia diantaranya adalah jumlah mahasiswa luar negeri yang kuliah di 
> sebuah PT minimal 30 persen dan kriteria lain adalah nominal SPP 
> (biaya kuliah) yang sangat mahal. Bila ini benar maka, kapan pun 
sulit 
> PT Indonesia masuk dalam 100 terbaik dunia. Bukan karena kualitasnya 
> kurang bermutu, tapi kriterianya yang mungkin sulit terjangkau. 
Apakah 
> ini disengaja atau tidak?
> >  
> >  Adakah kaitannya BHP dengan proyek World Bank- IMHERE-DIKTI?
> >  
> >  
> >  Salam prihatin Masa depan Pendidikan Indonesia,
> >  
> >  Dari orang yang Sayang Ama almamaternya.
> >  ____________________________________
> >  
> >  http://www.kompas.com/
> >  
> >  Baca: 
> >              
> >              BHP Identik Kapitalisme 
> >    Privatisasi Pendidikan   Cenderung Abaikan Keadilan Sosial
> >    Jakarta, Kompas - Sama halnya dengan   layanan kesehatan, 
sektor 
> pendidikan pun hendaknya dianggap sebagai hak dasar   bagi setiap 
> warga negara di mana pemerintah wajib memenuhinya. Jika model   
> pelayanan di sektor tersebut sudah terjerumus pada privatisasi, 
> taruhannya   adalah pada generasi penerus bangsa. 
> >    "Privatisasi itu   memang berangkat dari konsep liberalisme dan 
> kapitalisme, di mana model   pelayanan sudah membidik segmen 
tertentu 
> demi perputaran modal," kata   Eko Prasojo, guru besar administrasi 
> publik dari Universitas Indonesia,   Kamis (5/10) di Jakarta. 
> >    Oleh karena itu, dia   menyarankan agar model pelayanan publik 
> untuk hak-hak dasar warga negara   lebih pantas dibenahi dengan 
> modernisasi ketimbang privatisasi. Ini   dimungkinkan karena 
> modernisasi lebih mementingkan layanan yang efisien tanpa   
> mengabaikan kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakat. Adapun 
  
> privatisasi lebih berorientasi pada penghasilan tanpa 
mempertimbangkan 
>   kondisi sosial ekonomi masyarakat. 
> >    Ia mengingatkan, jika   pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-
> Jusuf Kalla serius menargetkan   perbaikan indeks pembangunan 
manusia 
> (human development index/HDI), Rancangan   Undang-Undang Badan Hukum 
> Pendidikan (RUU BHP) hendaknya jangan sampai   terjerumus ke 
> liberalisasi dan kapitalisasi. 
> >    Sebagai alternatif untuk   model BHP, Eko menawarkan konsep 
badan 
> layanan umum (BLU), seperti tertera   dalam Undang-Undang Nomor 1 
> Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pasal   67 UU tersebut 
> menyebutkan bahwa BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan   dalam 
> rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan 
bangsa. 
> >    Secara terpisah, Direktur   Lembaga Swadaya Masyarakat untuk 
> Peningkatan Pendidikan Indonesia Ading   Sutisna berpendapat, untuk 
> menumbuhkan partisipasi masyarakat yang transparan   dan akuntabel 
di 
> tingkat satuan pendidikan, yang lebih dibutuhkan adalah BHP   
berpola 
> public private partnership (PPP/kemitraan antara pemerintah dan   
> masyarakat), bukan privatisasi atau penswastaan. 
> >    "Pola ini lebih   sesuai dengan UU Sistem Pendidikan Nasional. 
> Pemerintah harus menuangkan dan   menjabarkan apa yang telah 
> diamanatkan pasal-pasal tersebut dalam RUU   BHP," katanya. 
> >    Agar pengelolaan satuan   pendidikan tidak terjerumus praktik 
> free fight liberalism (semena-mena),   khusus untuk satuan 
pendidikan 
> yang modal dasarnya berasal dari pemerintah,   Ading menyarankan 
> pemerintah menetapkan biaya pendidikan (unit cost)   berdasarkan 
hasil 
> akreditasi atau wilayah di mana satuan pendidikan berada. 
> >    Ading menegaskan,   pemerintah harus membangun sistem 
pembiayaan 
> pendidikan yang berkeadilan   sosial. Bagi yang mampu harus 
membayar. 
> Bagi yang tidak mampu, pemerintah   wajib memberinya beasiswa. Jika 
> keuangan negara memungkinkan, beasiswa bisa   saja diberikan untuk 
> seluruh peserta didik. 
> >    "Besarnya   disesuaikan dengan unit cost yang telah dipatok," 
> tutur Ading. (NAR)
> >    RUU BHP: Kebijakan   Positif untuk Pacu Daya Saing 
> >    
> >    
> >    BANDUNG,   KOMPAS- Kebijakan otonomi kampus yang diatur dalam 
> Rancangan   Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan dipandang oleh 
> kalangan perguruan tinggi   swasta sebagai sebagai kebijakan 
positif. 
> Selain meningkatkan efisiensi   dan kinerja lembaga, otonomi kampus 
> yang dikelola secara kolegial di PTS   justru bisa meningkatkan daya 
> saing PTS dengan PTN.
> >    "Saya pikir, RUU BHP itu bagus adanya. Dalam rangka otonomi 
> kampus, sebuah   perguruan tinggi tentunya harus punya pengelolaan 
dan 
> manajemen yang efisien.   Melalui otonomis kampus, PT dikondisikan 
> untuk merubah manajemen pengambilan   keputusannya sehingga bisa 
lebih 
> cepat tetapi tetap akurat," ujar Pius   Suratman Kartasamita, mantan 
> Rektor Universitas Katolik Parahyangan, Senin   (2/10).
> >    Diakui Pius, dari kacamata kebijakan universitas, keberadaan 
> yayasan selaku   pengelola perguruan tinggi swasta selama ini 
> sangatlah dilematis. Di satu   sisi, yayasan menjadi penyokong utama 
> pendanaan termasuk manajemen sumber   daya manusia. Namun, di sisi 
> lain, keberadaannya secara tidak langsung dirasa   kerap membatasi 
> ruang lingkup kebijakan kampus.
> >     "Saya berpendapat, rektor semestinya perlu diberi wewenang 
lebih 
>   untuk menjalankan tugas yang diembannya. Jadi, tidak sebatas 
> akademik. Meski   demikian, wewenangnya bukanlah asal besar. 
> Melainkan, birokrasinya saja yang   dipermudah. Untuk itu, hubungan 
> kerja internal baik antara pengurus yayasan,   senat dan pimpinan 
> universitas haruslah dipermudah," ujarnya.
> >    Dikonfrimasi dalam kesempatan yang sama, Rektor Unpar yang baru 
> Cecilia   Lauw Giok Swan mengatakan, Unpar masih memiliki waktu yang 
> cukup banyak untuk   mengantisipasi disahkannya RUU BHP dengan 
> melakukan perubahan struktur   organisasi. Namun, perubahan struktur 
> organisasi itu diharapkannya hanya   terjadi di tubuh senat 
> universitas dan pengurus yayasan agar tidak mengganggu   kinerja 
> akademik.
> >    Diminat pendapatnya mengenai opsi-opsi yang akan dipilih pihak 
> yayasan   apakah akan meleburkan diri atau menunjuk lembaga teknis 
> baru, Ketua Umum   Pengurus Yayasan Unpar Prof Kusbiantoro menjawab, 
> "Secara prinsip, kami siap   dan tidak ada masalah dengan opsi 
> manapun. Itu sudah kami antisipasi dari   awal. Namun, secara 
> kelembagaan, karena masyarakat kampus ini sifatnya   kolegial, 
putusan 
> akhir harus dibahas bersama," ujarnya.
> >    Dorong daya saing
> >    Terkait persoalan ini, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta 
> wilayah Jawa   Barat Didi Turmudzi menegaskan, keberadaan RUU BHP 
> sebetulnya tidak akan   menjadi masalah bagi yayasan maupun 
> eksistensinya. Selama, itu dilandasi   prinsip kolegialitas dan 
tidak 
> didasari kepentingan individu pengelola   yayasan.
> >    "Kalau yayasannya milik indivindu, itu bisa jadi persoalan. Ada 
> baiknya, opsi-opsi   itu dirundingkan secara bersama dengan 
menurunkan 
> ego masing-masing. Untuk   memilih opsi, ada baiknya jika 
disesuaikan 
> dengan AD/RT (statuta)   masing-masing PT. Jadi, dipilih yang paling 
> relevan dan memungkinkan," ucap   Rektor Universitas Pasundan ini.
> >    Keberadaan RUU BHP, tambahnya, justru bisa memberi keuntungan 
> bagi PTS.   Dicabutnya subsidi khusus pendidikan bisa mendorong daya 
> saing PTS terhadap   PT Negeri. Apalagi, PTS, terutama yang besar, 
> sudah terbiasa mandiri untuk   mencari sumber-sumber keuangan.(jon)  
 
> >             
> >         
> >   
> >  Baca Juga Proyek IMHERE DIKTI:
> >  
> >  http://www.imhere-dikti.net/imhere_files/downloads/BAB-II.
> pdf#search=%22imhere%20dikti%2
> > 
> > The great job makes a great man
> >   pustaka tani 
> >   nuraulia
> > 
> >    
> > ---------------------------------
> > Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com.  Check it out. 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://
groups.yahoo.com/group/ppiindia
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>  
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> The great job makes a great man
>   pustaka tani 
>   nuraulia
> 
>    
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links






 





The great job makes a great man
  pustaka tani 
  nuraulia

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke