Lydia kawanku yang hilang..... (5) Entah sudah berapa lama waktu perjalanan kami yang terlewati untuk mengunjungi ke beberapa tetangga lamaku. Waktu yang telah menyita kunjungan kami ke para bekas tetanggaku ternyata pada umumnya mendapat sambutan baik. Mereka itu nyatanya masih terkesan ada keramahannya biarpun kurasakan kehadiranku bukanlah seperti aku yang dahulu. Aku pun menyadarinya bahwa situasi terdahulu ternyata bisa memberi makna yang tergali melalui cerita kunjungan-kunjungan kami. Karena memang ketika itu aku masih terlalu kecil untuk mampu merekam semua ingatan peristiwa yang pernah terjadi pada keluarga kami. Jadi dengan usiaku yang masih cilik itu tak mungkin pula aku bisa mengetahui hubungan keluargaku dengan lingkungan sekampungnya. Yang sempat ku ingat dan alami hanyalah kesan momen-momen peristiwa di dalam rumah, yang pernah memberi kebahagiaan kehidupan di keluarga kami. Masih kuingat betul bahwa kedua orang tuaku waktu itu setiap harinya selalu pergi bekerja. Yang kuketahui ayahku setiap paginya selalu pergi kerja dengan memakai sepeda kumbangnya. Dan, Ibuku setiap paginya di jemput dengan mobil dinasnya untuk pergi ke tempat kerja. Tapi disetiap pagi hari sebelum mereka berangkat kerja, Bapakku selalu kulihat punya kesibukan rutin membangunkan anak-anaknya, yang satu persatu anaknya diangkat dari tempat tidurnya lalu di gendongnya untuk dibawa ke kemejamakan. Sementara itu di mejamakan sudah tersedia sarapan pagi berupa nasigoreng lengkap dengan telor matasapi. Dengan kesibukan rutin tersebut berarti kuketahui Bapakku akan pulang kembali kerumah sekitar jam 5 sore. Tapi ada pula kesibukan rutin lainnya, yang kadang di pagi hari sebelum saƔtnya waktu Sholat subuh ayahku membangunkan anak-anaknya dan memberi uang kertas ke anak-anaknya. Dan itu berarti menandakan bahwa ayahku untuk beberapa hari tidak pulang kerumah dan kemudian baru kembali ke rumah dengan membawa oleh-oleh. Sempat aku mengalami bersama-sama dengan anak-anak sekampung pergi dengan mobil tentara. Setahuku mobil tersebut besar dan bisa memuat penumpang banyak yang kira-kira untuk 20 penumpang dewasa dan supirnya waktu itu juga tentara, yang rumahnya mungil dan tempatnya persis di belakang rumah kami. Waktu itu kutahu persis pangkatnya sersan karena ketika itu aku tanya maksud dari tanda yang ada di lengan bajunya. Tapi karena kali itu penumpangnya hanya anak-anak dan ada beberapa orang dewasanya kemudian kami beramai-ramai dengan lebih dari 20 orang diajak berkeliling kota jakarta melewati daerah Hotel Indonesia, Tugu Mas dan ke tugu Pak Tani di waktu malam. Kuanggap Bapak sersan tersebut sangat baik hati karena ketika awal tahun 1968 juga ikut serta membantu kami yang musti berpindah rumah ke daerah Tebet kompleks Wartawan. Dengan mobilnya yang sama barang-barang kami diangkutnya dari tempat tinggal lama ke rumah baru kami. Waktu itu orang tua kami sudah tidak lagi bersama kami. Aku tak pernah menyangka bahwa Bapakku masih banyak waktu untuk berkontak sosial dengan warga penghuni sekampung. Ternyata sosok Bapakku itu sangat disukai dan dihormati oleh para tetangga kami. Mereka menceritakan tentang perhatian Bapakku kepada keluarga para warga penghuni di kampungnya. Lalu di perhatikannya keadaan kehidupan ekonomi keluarga para warga penduduk kampung tersebut, yang ketika itu memang mayoritas kondisi ekonomi para keluarga di kampung sekitar rumah kami sangat minimal. Di katakannya ada beberapa keluarga yang kondisi ekonominya agak lumayan baik tapi memiliki jiwa sosial tinggi untuk pula bersedia ikut serta saling membantu antar warga tetangganya. Tradisi gotong royong yang dilakukan setiap bulan selalu diadakan acara kerja bakti di warga penduduk setempat untuk bersama-sama membersihkan lingkungan kebersihan di kampung. Sementara ibu-ibunya selain turut membantu acara kerjabakti, juga menyibukan diri memasak menyediakan makanan buat para pekerja bakti. Dinyatakannya bahwa semua anggota warga penduduknya ikut serta dalam acara kerjabakti, yang bekerja saling bahumembahu karena dilakukan secara sukarela tanpa pemaksaan apa pun maupun tanpa membedakan antar si kaya dan si miskin. Terkesan rasa kebersamaan dalam lingkungan warga kampung masih tersirat dalam kenangan rekaman ingatan mereka bersama keluarga kami. Selama kunjungan kami dari satu tempat ke tempat lainnya, temanku kelihatannya bersikap lain. Dia lebih sering mendengarkan dan menyimak cerita-cerita para tetangga lamaku. Entah kenapa dia bersikap agak mengambil jarak tapi menyambut hangat suasana kekeluargaan para tetanggaku itu. Dia pun tidak lagi banyak mengajukan pertanyaan yang macam-macam tentang orang tuaku. Juga, sepertinya spontanitas sikap keceriaannya tercermin sirna dan raut wajahnya pun seakan-akan menandakan adanya keprihatinan. Padahal para tetanggaku selalu mengutarakan kesan cerita-cerita yang positip dan menyenangkan. Dengan sikap kehati-hatian dari temanku itulah, yang membuatku menjadi tak berani menanyakan tentang wajah murung dan keprihatinannya. Yang jelas dia selalu menunjukan keherananannya bilamana hubungan keakraban antar aku dan para tetangga itu bagaikan keakraban dalam suasana kekeluargaan yang bersahaja. Padahal para tetanggaku itu bermacam ragam status pekerjaannya, ada yang Ayahnya bekerja di Unilever, ada juga ayahnya yang bekerja sebagai supir mobil dinas dari Departemen Keuangan. Tapi juga ada yang bekerja menjadi tukang becak, supir oplet, supir bus atau bekerja sebagai knek bus. Namun begitu, suasana sahaja kekeluargaannya itu memang berbeda dengan keakraban yang kami alami bersama Mbok Rah. Yang jelas waktu kunjungan kami ke rumah lamaku dan ke para tetangganya itu berlangsung sampai jam setengah enam sore. Lalu kami pulang kerumah masing-masing dengan memakan waktu di perjalanan hampir satu jam. Bersambung.... MiRa, Amsterdam, 20 Oktober 2006
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ --------------------------------- Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail shows you when there are new messages. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

