http://layar.suaramerdeka.com/index.php?id=84
".. Resonansi 05-12-2006Surat untuk Aa Gym Maaf Jika Saya Kecewa .." Satu hal yang tidak fair adalah pada saat ada kritikan terhadap seseorang (mis: si x), seringkali disanggah hanya dengan 'ancaman' hadits soal makan daging saudara sendiri atau yang paling seram adalah ' pahala diambil oleh si x (dari tukang cerita), dan dosa diberikan dari si x kepada yang menceritakannya'.. Dengan tujuan untuk meredam, tanpa sedikitpun menyentuh substansi pembicaraan.. Sementara saat 'membela', kalau perlu terjadi peng-kultus-an terhadap individu.. si x selalu benar dan tidak pernah salah.. dan puja-puji lainnya.. Saya kira kita harus belajar dewasa memandang diskusi/debat.. seringkali banyak kalangan (termasuk saya.. :D) tidak mampu memberikan argumen yang tepat dalam mendukung sesuatu.. Yang terjadi adalah 'pokoknya ikut/dukung anu'.. Hal ini sangat bergantung pada latar belakang dan lingkungan masing" kita.. Apakah kita akan terus mengikuti pola 'telan saja' atau berpikir logis dan kritis dalam mempercayai dan mendukung sesuatu.. Khususnya di ranah publik (di luar kelompok).. Kalau dalam pemahaman pribadi/kelompok sih, siapa yang bisa larang.. Bisa" anda dicap 'futur' kalau berani" beda atau menyanggah ajaran guru.. :-p CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 12/12/06, imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > bagus, mas Irvany, apa yang anda sampaikan > di susun dengan narasi yang bagus. > > apa yang anda tulis di alinea p.e.r.t.a.m.a > bagaimanapun masih merupakan opini - penilaian > subjective anda terhadap isi surat * Ida Arimurti * > - yang bisa saja benar bisa saja salah, yang memang > akan sulit di-verifikasi. > > tetapi pokok isi/pesan di alinea yang k.e.d.u.a > rasanya sulit di bantah oleh siapa pun yg. > cukup mengerti isi syariat islam secara > komprehensif. > > Hati saya merasa terbuka dan merasa bisa > menerima apa yang anda tulis di bawah ini. > > wassalamu'alaikum wr. wb. > > ---( IM )------- > > --- In Irvany Ikhsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dear All,. > > > > Surat itu mencoba mengajak kita beramai-ramai, dgn kalimat > > muter2, spy bersimpati kepada Teh Ninih dan beramai-ramai > > secara halus dan menyetuh hati menghukum Aa Gym.... Jgn mau > > kita diadu domba. Baik Teh Ninih Vs AGym or Masyarakat > > Muslim Vs Aa Gym. Ini momen yg digunakan oleh orang2 yg > > mmg tidak suka kita damai, rukun. Dan mempunyai pemimpin > > yg penuh dgn suri tauladan. Momen ini jg yg digunakan > > untuk mengkudeta Aa Gym dr pengikutnya. Ngak akan berhasil. > > Kami msh setia ke Aa Gym dan saudara2 muslim lainnya. > > > > Hati2.. mrk menghalakan berbagai cara. Sedangkan Aa Gym > > cuma jalan yg HALAL yg beliau pilih. Coba tanya kpd mrk, > > masih suka dugem? minum-minum? ketawa-ketiwi di cafe? Pulang > > pagi dugem? nyeder sana, nyerder sini dgn yg bukan muhrim, > > kalo masih (mudah2an sdh enggak) ya sdh itu salah, tdk halal, > > mbok diperbaiiki. Kalo AA gym gak ada yg salah, beliau > > menempuh jalan HALAL. Baik aturan negara dan agama. > > > > Surat itu bagus buat kalian tdk buat kami. > > > > wasalam.... > > > > > > > > adejahja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Surat Untuk Aa' Gym > > > > Aa Gym yang baik, ketika mendapat kabar kalau Aa menikah lagi, > > saya tertawa. Geli sekali rasanya mendengar kabar itu. Setelah > > Dhani Dewa, kini Aa yang dikatakan beristri dua. Gosip memang > > makin aneh saja ya, Aa... Saya tidak percaya. Saya tahu, Aa > > begitu mencintai Teh Ninih. Di mata Aa, Teh Ninih begitu sempurna. > > > > Setiap melihat foto keluarga Aa, dengan tujuh anak dan Teh Ninih > > yang tersenyum bahagia, selalu ada airmata yang bergulir di sudut > > mata saya. Aa membuat saya begitu bangga. Teh Ninih memberikan > > saya ilham tentang bagaimana mencinta. Melahirkan tujuh anak di > > zaman ketika memiliki banyak anak telah menjadi semacam "aib", > > tak ada kata lain untuk menjelaskannya, kecuali pengabdian cinta. > > > > Maka, saya tidak percaya gosip itu. Tidak mungkin Aa akan begitu. > > Aa itu kiai saya, guru saya, kakak, ayah, dan teladan saya. > > Aa pasti tidak akan mengecewakan saya. > > > > Ketika Aa menggelar jumpa pers di kantor Daarut Tauhid, di Jakarta, > > Sabtu lalu, saya bersorak gembira. Akan terjawab semuanya, batin > > saya. Akan terang betapa bodohnya pembuat gosip itu. Saya bayangkan, > > Aa akan tertawa, Teh Ninih akan terkikik manja, dan memeluk Aa. > > Ketika melihat Aa dan Teh Ninih muncul, dengan busana satu warna, > > wajah yang bercahaya, hati saya makin bahagia. Sungguh Aa, tiap > > kali melihat Aa dan Teh Ninih tampil bersama, saling mengerling > > dan tersenyum, selalu ada haru dan tangis di mata saya. Aa > > membuat saya begitu bersyukur dan bahagia. Saya tidak percaya, > > kerling dan senyum itu akan Aa berikan juga untuk Teteh yang > > lain.... > > > > Aa terlihat lebih muda. Apa karena tanpa sorban ya, Aa? Dan Teh > > Ninih, kenapa jadi tampak lebih tua. Mata Teh Ninih berkerjapan, > > tapi dia menyunggingkan senyuman. Aa tahu, saya mulai was-was > > saat itu. Melihat sorban yang lepas, hati saya cemas. Melihat > > banyaknya senyum Teh Ninih, dada saya berbuih. Saya mulai menduga, > > ya Tuhan... apakah kabar itu benar? Apakah benar Aa telah menduakan > > Teh Ninih, Mbak dan Ibu saya? Tolong Tuhan, tulikan > > aku sementara... Aku tak sanggup mendengarnya... > > > > Dan airmata saya berloncatan. Saya sesenggukan. Wajah Aa yang > > cerah di teve dikaburkan airmata saya. Sungguh Aa, saya tidak > > bisa menerima. Saya sakit, sakit... Setiap melihat Teh Ninih, > > airmata saya langsung berloncatan. Saya tajamkan pendengaran, > > saya ingin tahu, apa alasan Aa, apa kekurangan Teh Ninih? Tapi > > sampai akhir jumpa pers itu, tak ada satu pun dalih yang bisa > > mengeringkan airmata saya. Aa menyebutkan TTM, teman tapi mesum, > > dan seks bebas, yang kini jadi dianggap biasa. Aa, saya kaget. > > Dari Aa-lah saya tahu TTM itu teman tapi mesum. Sebelumnya saya > > kira hanya teman tapi mesra. > > > > Apakah Aa menilai kemesraan sama dengan kemesuman? Aa juga menyebut, > > keputusan itu lahir dari keprihatinan karena poligami dianggap > > sebagai perbuatan tidak benar, sering dicemooh, bahkan diperlakukan > > tidak sebagaimana mestinya. Istri kedua dianggap sebagai perebut > > suami orang. Aa tampaknya ingin mendudukkan posisi poligami, ingin > > menunjukkan bahwa istri kedua tidak selamanya buruk. Maaf Aa, saya > > tidak terharu dengan penjelasan itu. > > > > Aa yang baik, saya lalu mencari tahu siapa Rini, Alfarini Eridani > > itu. Maaf Aa, saya tidak bisa menyebut Rini dengan panggilan Teteh. > > Bagi saya, hanya ada satu Teteh untuk Aa, Teh Ninih. Saya lalu > > tercengang. Bukan Aa, bukan karena dia mantan model. Bagi saya, > > tidak penting latar belakang seseorang. > > > > Bukankah Aa dulu juga bukan seorang kiai? Bukankah pernikahan > > Aa dengan Teh Ninihlah, yang merupakan anak kiai pondok, yang > > mengubah hidup Aa? Saya hanya takjub pada kesaksian banyak pihak > > bahwa sudah sejak awal Rini itu Aa istimewakan. Rini bebas di MQ, > > dengan status tidak jelas. Bisa jadi marketing, sekretaris, atau > > kerja serabutan. Pengistimewaan Rini oleh Aa dan adik Aa, > > Abdurrahman Yuri (Aa Deda) itu terbaca sesama pengurus MQ, dan > > mereka mengira Aa dekat karena ingin mencarikan jodoh untuk Rini. > > > > Mereka juga tidak merasa aneh, ketika Juli lalu, Aa pun meminta > > Rini jadi "pejabat" saat membentuk unit pelayanan terpadu bank > > syariah di ponpes Daarut Tauhiid. > > > > Tapi, sebagaimana terungkap di banyak media, akhirnya semua kaget, > > ketika Aa memilihkan diri Aa sendiri sebagai jodoh untuk Rini. > > > > Aa yang baik, maaf jika saya berburuk sangka. Ketika Aa mengatakan > > telah lima tahun mempersiapkan dan mendiskusikan dengan Teh Ninih > > untuk berpoligamami, apakah Rini yang Aa persiapkan? Apakah masuknya > > Rini ke MQ beberapa tahun lalu bagian dari persiapan itu? KH Miftah > > Farid mengatakan, Aa menikahi Rini untuk menyelamatkannya dari > > rerebutan pengurus Daarut Tauhiid. Kenapa harus diselamatkan, > > Aa? Apakah kalau Rini dinikahi karyawan Aa, hidupnya berada dalam > > bahaya? Atau, apakah Aa merasa dapat berlaku lebih adil daripada > > mereka yang memperebutkan Rini? > > > > Aa yang baik, maaf jika saya masih bertanya-tanya. Benarkah Teh > > Ninih sudah memberi izin dan ikhlas? Kalau begitu, mengapa sewaktu > > menikahinya Aa tidak mengikutkan Teh Ninih? Mengapa tidak ada satu > > pun keluarga Aa yang datang? > > > > Juga adik Aa, Abdurahman Yuri (Aa Deda) yang dekat dengan Rini, > > kemana? Kata KH Miftah, setelah ijab itulah baru Aa memberitahu > > Teh Ninih, benarkah? KH Miftah juga mengatakan, saat itu Aa hanya > > nikah agama, dan perlu waktu untuk dicatatkan ke KUA, menunggu izin > > tertulis dari Teh Ninih, begitukah Aa? Jadi Aa, benarkah Teh Ninih > > memberi izin dan ikhlas karena pernikahan itu telah terjadi? Izin > > dan keikhlasan yang datang karena tak lagi dapat berbuat > > apa-apa? > > > > Aa yang baik, benarkah ketika Senin (4/12) di saat Aa memberikan > > tausyiah untuk pengurus MQ Coorporation, Teh Ninih dan Rini duduk > > berdampingan, dan keduanya tidak bercakapan juga bersalam? Juga, > > kenapa ketika acara usai, Rini ingin segera berlalu, sampai Aa > > memanggilnya, "Ibu Rini..." agar dia mau bergabung? Sungguhkah > > Teh Ninih belum dapat menerima Rini, Aa? Sekali lagi maaf jika > > saya berburuk sangka. Saya hanya ingin menumpahkan isi hati > > saya, jutaan pertanyaan yang membebani, biar saya dapat menerima > > Aa, dengan ringan, dengan enteng, seperti Aa yang ringan, riang, > > ketika menjelaskan pernikahan itu. > > > > Aa yang dirahmati Allah, di telinga saya saat ini, masih terdengar > > pengakuan Teh Ninih, Minggu, usai tausyiah itu. Teteh mengaku > > klenger saat tahu Aa telah menikah. Tiga bulan setelah pernikahan > > itu, Teteh juga mengaku belum kenal Rini ... > > > > Aa, entah kenapa, saya selalu menangis melihat ketabahan Teh Ninih. > > Teteh saya itu, yang juga saya anggap Mbak dan Ibu saya, demikian > > kuat menahan perasaannya. Ia hanya tersenyum, dan menjawab dengan > > persetujuan Aa. Teteh mengajarkan kepada saya, tentang cinta > > seorang wanita, yang tak terbagi, tak berpamrih. Dan saya kian > > menangis, saat melihat Aa acap sekali memeluknya, menciumnya, > > merangkulnya, lebih sering dari apa yang biasa Aa tunjukkan. > > > > Pikiran naif saya selalu berkata, "kenapa bisa lelaki yang > > demikian sayang dan cintanya, tapi memadu istrinya..." Maaf Aa, > > sekali lagi maaf, saya tidak bisa berbicara halus seperti Aa, > > tidak bisa sesabar seperti Aa. Itulah sebabnya, ketika Teh Ninih > > berkata, "Saya berkeyakinan, apa yang tampaknya menyakitkan belum > > tentu seburuk yang terlihat." saya tambah menangis. Saya > > membaca, Teh Ninih telah mengatakan isi hatinya kepada saya. > > Karena apa yang dikatakan Teh Ninih bisa dibaca sebaliknya, > > "apa yang tampak menyenangkan, mengikhlaskan, berpelukan, > > bahagia, belum tentu seindah yang terlihat...." > > > > Aa yang baik, maaf kalau saya tampak kecewa. Maaf kalau saya > > tidak bisa mengerti, saya hanya tahu, betapa kian kuat cinta > > saya kepada Teh Ninih... > > > > Best Regards, > > > > - Ida Arimurti - > [Non-text portions of this message have been removed]

