Dear Bapak Ikranagara,
  Dengan membaca judul diatas, dan uraian tulisan Bapak dibawah yang terkesan 
wah buat saya. Saya perlu waktu lama untuk memahaminya. saya surprise juga, 
Bapak bisa menganalisa hal ini walau maaf Bapak tak se-agama dengan saya. 
Sebagai wacana saja dan sharing.
   
    Saya berharap  Bapak pun memahami tentang sejarah dan keberadaan tiga 
kekuatan Ideologi dunia. Marxisme (yang melahirkan komunisme, sosialisme dll), 
Kapitalisme dan Islam. Punten ya Pak, mungkin Bapak kurang setuju dengan 
penyebutan ideologi terakhir. ^_^ Namun demikian izinkan saya menguraikan apa 
yang saya pahami.
   
   
   Ketiga Ideologi ini dalam sejarah mempunyai kurun waktu tertentu menjelma 
menjadi kekuatan adidaya. Kekuatan ideologi Islam runtuh tahun 1924, yaitu 
bertepatan Khilafah usmaniyah. Bapak tentu juga memahami sejak tahun 1991 
(yaitu runtuhnya Uni Soviet) hanya ada satu kekuatan Ideologi yang akhirnya 
berkuasa dan adidaya  saat ini yaitu Kapitalisme dibawah pimpinan AS. 
   
   
  Dari Kapitalisme muncul paham derivat  yaitu demokrasi, liberalisme, 
pluralisme, materialisme, neoliberalisme. Sudah merupakan kesepakatan para 
negarawan dan rahasia umum  bahwa ideologi akan menjelma  kekuatan yang real 
jika di emban sebuah negara.
   
   
  Jika Bapak menulis kegagalan marxisme & kapitalisme maka masih ada satu 
peluang lagi ideologi. Tentu Bapak dan orang-orang ahli politik  berideologi 
kapitalisme dan marxisme pun memahami ideologi apakah itu? 
   
  Sepahaman saya, bagi penganut ideologi kapitalisme/sosialisme sendiri 
selamanya tidak akan rela memberi kesempatan ideologi lainnya tumbuh, muncul 
dan berkembang sehingga mengurangi dominasi dan kekuatannya. RRC, Korut, 
Vietnam, Cuba hingga kini menjadi duri-duri bagi dominasi AS. Sebagian Umat 
ISlam yang berusaha menganut ideologi Islam sepenuh hati pun demkian.
   
  Steorotipe buruk dan negative pun ditempelkan pada siapa saja yang 
berkeinginan ideologi lain  tumbuh. Hal itu dimaksudkan  agar orang lain 
membenci, menjauhi, menentang dan mungkin menghujat upaya pertumbuhannya. Walau 
kadang tanpa disadari oleh orang yang membenci, menghujat dan menolaknya, 
ideologi alternatif lain itu (Islam) berasal dari asas akidah murni yang ia 
pilih. 
   
  Menurut hemat saya, Ideologi bukanlah agama. Namun bisa jadi sebuah agama 
sekaligus ideologi. Sebab, ideologi mencakup dua subtansi: asas/akidah dan 
aturan kehidupan(syariat). Masing-masing ideologi memiliki  asas/akidah dan 
aturan.
   
  Agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta, a= tidak, gama= kekacauan. 
Agama sendiri sering disandingkan dengan akidah spiritual tanpa aturan 
kehidupan atau syariat.
   
  Orang muslim yang bisa saja ia berakidah Islam namun berideologi kapitalisme 
( plus derivatnya liberalisme, demokrasi) atau bisa juga berakidah Islam namun 
berideologi marxisme (sosialisme komunisme). 
   
  Bagi seorang muslim untuk menjadi kaffah seharusnya ia berakidah Islam dan 
berideologi Islam. Jadi Islam sebenarnya adalah merupakan satu-satunya agama 
berideologi.
   
   Lalu bagi pemeluk agama lain, mereka memiliki akidah agama-agamanya 
masing-masing dan kemungkinan memilih satu dari tiga pilihan yaitu kapitalisme, 
sosialisme dan Islam. 
   
  Non muslim tetap dengan memeluk bebas agamanya dengan aturan kehidupan bisa 
jadi berasal dari buah kapitalisme, sosialisme atau Islam. 
   
  Yang saya pahami, karena saya muslim, untuk  Negara yang seluruhnya 
menerapkan asas dan syariat Islam (khilafah atau daulah Islam) ada pengkhususan 
mengenai bagi penganut non muslim. 
   
  Khusus untuk wilayah komunitas non muslim yang seluruh penduduknya non muslim 
dan menjadi warga negara khilafah, mereka diperbolehkan tetap menganut agamanya 
masing-masing. Selain itu dalam wilayah komunitas non muslim tersebut, aturan 
sehari-harinya sudah seharusnya memakai aturan agamanya masing-masing di 
wilayah tersebut. 
   
  Di wilayah tersebut mereka diperbolehkan minum, makan, berpakaian, 
menyelenggarakan upacara keagamaan,  menikah, memasang simbol2 agama, berbuat 
dll sesuka hatinya sesuai agamanya. Baru ketika pada aturan berinteraksi 
(muamalah) memakai aturan Islam. Misalnya ekonomi memakai bagi hasil 
(mudharabah), non riba, tidak boleh mengurangi timbangan dll. Dari sisi hak dan 
kewajiban sebagai warga negara baik non muslim dan muslim adalah sama.
   
   Kondisinya sekarang bila khilafah tidak ada, siapa pun tak bisa menuntut 
untuk diperlakukan seperti ketika  khilafah ada. 
   
  Jadi, jika kita sekarang bisa membaca kegagalan MARXISME DAN KAPITALISME ada 
baiknya kita mempertimbangkan  alternatif lainnya. 
   
  Wallahu'alambishawab
   
   
   
  CMIIW
   
  salam,
  aris
.....
Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          MEMBACA KEGAGALAN REZIM MARXISME & KAPITALISME
Catatan singkat Ikranagara

Dalam blog internet "IndoProgress" saya dapatkan artikel yang ditulis 
oleh Coen Husein Pontoh berjudul "Depolitisasi Pasca Mao". Di sana 
dipaparkan depolitisasi yang terjadi di RRC-Deng yang dimaknai dengan 
kaca mata gerakan Kiri Baru oleh Hui dan tampaknya diadopsi dalam 
artikel Coen ini, yang menurut pendapat saya mereka masih tetap dalam 
paradigma berfikir/menganalisis dengan pendekatan yang Marxistis 
juga. Padahal sudah jelas kegagalan RRC-Mao dan Uni Soviet dalam cita-
cita dan usaha mereka membangun "sorga di muka bumi" yang disebut 
Masyarakat Komunis yang cetakbirunya adalah sistem ekonomi Marxis. 

Marxisme itu tidak pernah terbukti berhasil memberikan pertumbuhan 
ekonomi dan demokrasi politik, karenanya yang dilahirkan di Uni 
Soviet (almarhim) dan RRC-Mao (almarhum) adalah, pada strata 
ekoniminya berupa pemerataan kemiskinan alias "neraka di dunia" dan 
bukan "sorga di dunia"; dan pada strata politiknya kediktatoran atas 
nama "diktator proletariat" yang jelas-jelas anti demokrasi. Deng 
membuang system akonomi Marxis yang hanya melahirkan pemerataan 
kemiskinan alias "neraka di dunia" itu, tetapi tetap mempertahankan 
system politik kediktatoran yang mengandalkan kepada okol intel, 
polisi dan militer.

Seorang pemudi menulis memoirnya, yaitu pengalamannya sebagai pemudi 
di zaman Mao dan Revolusi Kebudayaan, dalam bukunya berjudul "Red 
Azelea" dengan jitu mengungkpkan dua hal tersebut. Dia adalah Ancee 
Min. Buku yang bahasanya sederhana tanpa bunga-bunga kata, secara 
langsung dan polos mengungkpakan semuanya dari sudut pandang 
kemanusiaannya, sehingga kita bisa merasakan suka-dukanya hidup di 
zaman serba melarat dan dikuasai oleh politik pengekangan yang 
dilakukan penguasa atas nama ideology negara, pada tingkat rakyat 
kecil seperti Ancee Min dan tetangga-tetangganya, serta lingkungan 
pergaulannya sehari-hari. Kemelaratan zaman itu pun sekarang ini 
masih juga tampak di kalangan kaum urbanis di kota-kota besar seperti 
Beijing dan Shanghai di RRC, sebagai akibat pemiskinan struktural 
dari masa lampau (Mao) dan masa sekarang (Deng), terungkapkan dalam 
film dokumenter yang dibuat oleh PBS.

Dari 7 bekas negara jajahan Uni Soviet di Asia tengah ada 7 film 
dokumrnter yang menggambarkan tentang nasib wanita di sana, sebagai 
warisan dari zaman Uni Soviet masih hidup. Dalam film produksi Open 
Society itu terungkapkan kemiskinan di tingkat rakyat yang sampai 
sekarang belum tertalangi, ditambah lagi bagaimana rendahnya 
pandangan masyarakat terhadap gender wanita di sana. Film itu dengan 
jitu menggambarkan bagaimana terbelakangnya kehidupan di bekas-bekas 
jajahan Uni Soviet di Asia Tengah itu.

DUA TEMPURUNG
Itulah yang bisa kita baca pada domenta kehidupan rakyat-rakyat di 
alam Uni Soviet dan RRC-Mao yang menunjukkan kegagalan sistem 
Marxisme di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Padahal 
sekian puluh tahun waktu telah dihabiskan oleh kedua rezim tersebut, 
juga sekian juta nyawa dipersempahkan sebagai korban sesajen untuk 
sabda-sabda sosial, politik, ekonomi, budaya, filsafat, dll yang 
tercatat dalam kitab suci "Das Kapital" karya Dewa Marx (Penganut 
Materialisme yang Hegelian) itu. 

Karenanya, usaha Wang Hui, dan tampaknya seperti diamini oleh Coen, 
adalah tak lebih dari usaha menegakkan benang basah belaka, karena 
jelas membutakan diri terhadap hubungan genealogis antara kegagalan 
sebagai realitas di hilirnya dan Marxisme sebagai pangkal 
berangkatnya pergerakan di hulunya.

Ketidakmampuan membaca genealogi permasalahannya itulah, maka 
akibatnya pemikir-pemikir Marxis seperti Wang Hui dan Coen Husain 
Pontoh dan kameradnya akan selalu terjebak untuk tetap berkutat di 
dalam kubangan di bawah tempurung Marxisme terus sampai akhir 
zaman. "No exit!" (pinjam judul drama Sartre) itulah yang terjadi 
pada para pemikir Marxis ini.

Deng sudah benar dengan berani keluar dari tempurung Marxisme itu, 
tetapi sayangnya dia terjebak oleh Berkeley Mafia, seakan-akan 
mengamini pernyataan Margareth Tatcher yang menyatakan tidak ada 
system ekonomi yang lain di luar Kapitalisme Neo-liberal. Padahal 
jelas terbukti di mana-mana sistem ini hanya mampu memberikan 
pertumbuhan ekonomi tapi tidak punya sistem pemerataan kecuali apa 
yang diharapkan dari teori trickle down effect itu saja, maka 
akibatnya akan selalu ada kesenjangan sosial-ekonomi antara yang 
diperkaya dengan yang dimiskinkan oleh struktur yang ada di dalam 
sistemnya itu. 

Pertumbuhan ekonomi yang dibawa oleh Kapitalisme Neo-liberal itu 
adalah berupa lahirnya para konglomerat yang kuat dalam jumlah 
segelintir manusia saja, dan kelas menengah yang lumyan jumlahnya 
tapi tetap tak berdaya bagaikan busa yang mudah dihempaskan oleh 
gelombang "boom and bust" yang juga tak terhindarkan di dalam sistem 
ini, dan akhirnya selebihnya adalah yang tergolong tidak kaya, miskin 
atau di bawah garis kemiskinan. Inilah kubangan lain lagi, yaitu yang 
berada di bawah tempurung system Kapitalisme Neo-Liberal. 

Harusnya Deng jangan keburu begitu dalam mencari jalan keluar dari 
realitas kegagalan Marxisme itu. Bahwa perlakuannya terhadap Marxisme 
sudah benar, yakni harus diperlakukan dengan "forget it!" dan juga 
seharusnya menolak Kapitalisme Neo-Liberal yang diajarkan oleh 
Berkeley Mafia. Tapi natanya RRC mengundang profesor Berkeley Mafia 
untuk mengajarkan ilmu ekonomi kapitalis di Nanjing University 
sebagai awal usaha memasuki era ekonomi Kapitalisme untuk RRC. 
Sementara system ekonominya sudah berobah, sistem politiknya tetap 
otoriterian "diktator proletariat" warisan dari Marxisme.

ALTERNATIF DI LUAR TEMPURUNG
Kelompok pemikir dan peneliti yang bergabung di dalam Forum on 
Globalization (IFG) telah melakukan telaah terhadap dampak 
globalisasi Kapitalsime Neo-Liberal ini, sebagaimana bisa dibaca 
hasilnya berupa kumpulan tulisan para ahli berbagai bidang dalam "The 
Case Against the Global Economy" (1996) itu. Kelompok ini juga 
menawarkan jalan keluarnya, yang jelas bukan Marxisme, melainkan 
mereka rumuskan dalam kumpulan tulisan dalam buku "Alternatives to 
Economic Globalization" (2002). Seperti juga diungkapkan dalam dua 
buku David C. Korten "When Corporations Rule the World" (1995) 
dan "The Post-Corporate World" (1999).

Buku-buku semacam itu, yang memuat pandangan-pandangan alternatif di 
luar Kapitalisme Neo-Liberal dan Marxisme sudah banyak beredar, dan 
pengaruhnya besar sekarang, baik di AS maupun di Amerika Latin dan 
Eropah. Jadi, Tatcher tidak benar, karena masih banyak alternatif 
lain di luar yang dua itu. Yang pertama harus dilakukan adalah 
menempatkan yang dua warisan masa lampau itu sebagai model yang sudah 
kedaluwarsa. Ucapkanlah "forget them!" dan mulailah dengan 
mempertimbangkan sejumlah tawaran alternatif, mana yang pas untuk 
lokal masing-masing. Kalau tidak ada yang pas, maka carilah dari 
menelaah lokal sendiri untuk mendapatkan diagnose yang pas untuk 
lokalnya itu. Forget IMF dan lain-lain itu!

Di Amerika Latin, yang menonjol adalah pengaruh pemikiran para 
pencari alternatif ini pada Presiden Brazil yang terkenal dengan nama 
panggilan "Mr Lula" dalam praktiknya sebagai pemimpin --- dan dia 
sukses, antara lain telah menghilangkan kemiskinan struktural di 
daerah urban perkotaan yang kemudian melahirkan ladang enerji etanol 
sebagai alternatif terhadap oil. Etanol dibuat dari tebu. Dulunya 
ladang-ladang ini ditinggalkan akibat urbanisasi dan industrialisasi 
akibatnya daerah agraria berubah menjadi ladang penanaman bahan 
narkotik. Tapi sekarang ladang-ladang itu menjadi sumber cikalbakal 
ethanol! Dan pemerintah Lula melindungi petani tebu dari himpitan 
pasar bebas (free market) yang bisa saja menjatuhkan harga pasar ke 
titik rendah yang bisa merugikan petani tebu itu, dengan menerapkan 
system pasar-adil (fair market).

Ini salah satu contoh bagaimana politik ekonomi bisa dicari di luar 
Kapitalisme dan Marxisme/Komunisme. Bahwa Tatcher ternyata tidak 
benar, sebab masih banyak alternatif di luar dua tempurung produk 
para pemikir masa lampau itu.

==========

Tulisan Ikranagara ini merupakan respon setelah membaca 
tulisan "Depolitisisasi Politik Pasca Mao"
Coen Husain Pontoh yang dapat dibaca di blog internet ini:
http://indoprogress.blogspot.com/2007/03/depolitisisasi-politik-pasca-
mao.html



         


Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah 
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
pustaka tani
 prohumasi
 nuraulia

 
---------------------------------
Don't get soaked.  Take a quick peek at the forecast 
 with theYahoo! Search weather shortcut.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke