*http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0705/31/232948.htm
* * Waspadai Pembesaran Prostat Jinak ** * Selama dua tahun, bapak R.Zaenal (65) harus hidup dengan "siksaan" akibat gangguan prostat. Dalam sehari ia harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, terutama di malam hari. Padahal saat itu kondisi fisiknya terganggu akibat serangan stroke di tahun 2000. Keluhan lain yang dialaminya adalah terasa tidak tuntas saat pipis, hingga air seninya tidak lagi keluar meski ia sudah kebelet pipis. Setelah memeriksakan diri ke dokter, akhirnya diketahui ia telah mengalami pembesaran prostat jinak. Kala itu ia disarankan untuk melakukan operasi, namun ia merasa takut karena mendengar berbagai cerita tentang efek samping operasi prostat. "Banyak yang bilang operasi prostat akan menyebabkan impoten dan prostat bisa membesar lagi," katanya. Kemudian, di tahun 2004, ia memeriksakan diri ke RS Omni Medical Center, Jakarta dan ditangani dengan terapi TUNA (Trans Urethal Needle Ablation), yakni pengobatan tanpa operasi. "Sejak terapi TUNA, sampai hari ini saya tidak mengalami gangguan lagi," ujar pria yang kini terpaksa hidup di kursi roda paska serangan stroke. Masalah Pembesaran Protat Jinak (PPJ) seperti yang dihadapi Zaenal banyak dialami pria berusia lanjut. Menurut data di Amerika, lebih dari 50 persen pria berusia di atas 51-60 tahun dan 90 persen pria berusia 80 tahun mengalami masalah berkaitan dengan prostat. Ilmu kedokteran menyebutkan, selama seorang pria masih memiliki buah zakar yang mengandung hormon laki-laki, pria tersebut tidak bisa terhindar dari kecenderungan pembesaran prostat jinak, meskipun angka persentasenya masih kecil. Faktor penuaan Penyebab pembesaran dan faktor risiko PPJ sampai saat ini memang belum diketahui dengan pasti. Secara umum, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan hal tersebut, yakni bertambahnya usia dan berfungsinya sel leydig pada testis sebagai penghasil hormon androgen utama, yaitu testoteron. "PPJ adalah bagian dari proses penuaan, seperti halnya rambut yang memutih. Ini tidak ada kaitannya dengan aktivitas seksual," papar dr.Johan Wibowo, Sp.U dari RS.Omni Medical Center dalam acara "Waspadai Pembesaran Prostat Jinak", di Jakarta (31/5). Gejala klinis dari PPJ dapat dibedakan menjadi gejala sumbatan (obstruksi) dan iritasi. Obstruksi antara lain berupa pancaran air kencing melemah hingga tidak dapat pipis sama sekali, buang air kecil yang harus mengejan, air kencing yang menetes atau tidak tuntas, dan sebagainya. Sedangkan iritasi, biasanya berupa sering pipis, sering pipis di malam hari (lebih dari 2 kali). Untuk menentukan diagnosa PPJ, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan yang terpenting adalah pemeriksaan colok dubur (rectal toucher) untuk menilai pembesaran atau penonjolan prostat. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan laboratorium yang meliputi fungsi ginjal, elektrolit darah dan PSA (prostate specific antigen). Cara lain untuk memeriksa penyakit ini adalah dengan uroflowmetry, untuk mengetahui pancaran dan jumlah air seni yang dikeluarkan. Yang terakhir adalah pemeriksaan USG untuk mengetahui ukuran prostat. Pilihan pengobatan Dengan majunya ilmu kedokteran, kini para penderita PPJ memiliki tiga pilihan pengobatan yang dapat dilakukan. Pertama adalah pengobatan dengan obat-obatan dan observasi secara berkala (watchfull waiting). Biasanya pilihan pengobatan ini dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan. Kedua adalah dengan cara operasi terbuka (open prostatectomy) untuk menghilangkan atau mengurangi jaringan prostat. "Efek samping tindakan ini adalah ada beberapa saraf yang ikut terpotong sehingga bisa saja mengalami difsungsi ereksi," ujar dokter Johan. Saat ini cara operasi sudah berkembang dengan menggunakan sinar laser untuk mengurangi efek perdarahan. Terakhir adalah pengobatan tanpa operasi yang memiliki efek jangka panjang, yakni TUNA. Terapi yang mulai diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 2004 ini dilakukan dengan menusuk prostat dengan jarum yang diberi energi gelombang radio yang menghasilkan energi panas langsung ke prostat. Tak sedikit pasien yang merasa khawatir dan cemas akan keefektifan terapi PPJ. Menurut dokter Johan, jika PPJ tidak segera ditangani, efeknya bisa mengenai organ ginjal. "Air kencing yang tergenang terus di dalam kantung kemih akan membuat otot-otot di dalam kantung membesar dan membentuk kantung-kantung," ujarnya. Urin yang mengendap di kantung tersebut lama kelamaan menjadi batu dan menimbulkan infeksi sehingga merusak ginjal. "Akibatnya ginjal membesar, menjadi tipis dan lama-lama rusak, dampak lanjutannya adalah gagal ginjal," tambahnya. Jika dibandingkan dengan terapi lain, terapi TUNA memang efek sampingnya lebih kecil dan pengerjaannya lebih cepat, selain itu relatif lebih murah dibanding pemakaian obat-obatan. Hanya saja terapi ini tidak bisa dilakukan pada pasien yang sudah menderita kanker prostat atau retensi urin total (tidak bisa buang air kecil). Selain itu setelah dilakukannya TUNA, pasien masih mungkin mengalami perdarahan lanjutan. "Satu bulan pertama setelah terapi TUNA, pembuluh darah masih rapuh, jika ada tekanan di perut seperti batuk, bersin atau mengejan, bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah yang rapuh itu," jelas dokter Johan. Pengobatan lain yang bisa dipilih oleh pasien adalah dengan pancaran sinar laser untuk mengikis jaringan yang menghalangi saluran kencing. Hanya saja terapi ini belum bisa dilakukan di Indonesia dalam waktu dekat. Kendati teknologi pengobatan PPJ terus berkembang, sebaiknya pria berusia lanjut bisa melakukan deteksi dini pembesaran kanker prostat. "Jika kencing mulai tidak lancar, sebaiknya langsung diperiksakan, juga pada pria yang sudah memasuki usia 40 tahun," saran dokter yang pernah melakukan prosedur TUNA lebih dari 250 kali itu. Penulis: Anna [Non-text portions of this message have been removed]

