*http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0707/07/084735.htm
Obat Serba Seribu Mulai Masuk Palangkaraya* Warga kelas menengah ke bawah di kota Palangkaraya kini bisa menikmati keberadaan obat murah yang dibandrol dengan harga seribu rupiah (Rp 1000), terutama saat kelangkaan obat-obatan generik masih berlangsung. "Harga yang serba seribu itu termasuk murah, dibanding obat generik lebih mahal sedikit. Saat ini obat serba seribu telah didistribusikan ke berbagai apotik dan toko obat dengan jumlah item yang masih terbatas untuk 10 macam penyakit umum," kata Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Djono Koesanto, di Palangka Raya. Menurut Djono, meski harga obat produksi Indofarma itu murah namun kualitasnya tetap terjamin setara dengan obat bermerk. Harga murah lebih disebabkan karena biaya promosi tidak dibebankan pada harga obat. Sepuluh jenis obat serba seribu yang telah masuk Palangka Raya itu adalah obat penurun panas, penurun panas anak, asma, batuk berdahak, tambah darah, sakit kepala, batuk dan flu, flu, maag, dan batuk cair. Tiap strip obat yang dijual seharga Rp1.000 itu terdiri enam kaplet, kecuali yang berbentuk cair yang terdiri dari tiga strip kemasan. Obat-obatan itu, kata Djono, dijual dengan logo hijau dan biru artinya bebas dijual di pasaran tanpa harus memakai resep dokter dan bukan jenis obat daftar G, meski tetap harus memperhatikan dosis pakai. Sayangnya, sosialisasi obat murah tersebut belum optimal. "Bagi masyarakat keberadaan obat ini memang masih awam, tapi kami harap obat ini bisa lebih dikenal sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya bertambah item ataupun tambah produsennya," jelasnya. Selain sosialisasi yang kurang, distribusi obat itu sendiri belum merata. Sejumlah apotik di Palangkaraya mengaku belum menerima stok obat murah itu dari pihak distributor. "Kami belum memperolehnya dari Indofarma, nampaknya stok yang ada masih terbatas dan baru apotik tertentu saja, mungkin karena baru saja diluncurkan. Dalam satu-dua minggu ini kemungkinan akan datang lagi," kata HB Gazali, pemilik apotik Sari Mulia. Terkait kelangkaan obat-obatan generik terutama jenis obat antibiotik itu, Dinas Kesehatan Kalteng juga mengaku, cukup was-was bila tidak segera diatasi oleh produsen maupun Departemen Kesehatan karena persediaan di unit pelayanan medis milik pemerintah juga kian menipis. "Kami memang punya stok cadangan atau bufferstock untuk Puskesmas atau rumah sakit yang telah kehabisan obat generik. Tapi kelangkaan ini baru benar-benar terasa setelah stok tahun ini habis nanti, sedangkan tahun depan juga belum ada kepastian suplainya," kata Djono. Sumber: Antara Penulis: An [Non-text portions of this message have been removed]

