*http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0707/11/104835.htm
PLTN Penting untuk Jangka Panjang Laporan Wartawan Kompas Nawa Tunggal JAKARTA, KOMPAS*- Kepala Balai Besar Teknologi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), M Oktaufik, mengemukakan meskipun aktif dalam kepengurusan Masyarakat Energi Terbarukan yang giat mengampanyekan penggunaan sumber energi alternatif ramah lingkungan, dia juga melihat besarnya peluang manfaat atas keberadaan sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. Alasannya, jaminan suplai listrik dengan kapasitas besar dari PLTN untuk jangka panjang bisa diperoleh lebih pasti daripada peningkatan suplai listrik jangka panjang dengan sumber energi terbarukan dan bahan bakar fosil. "PLTN satu saja di Jawa sangat penting untuk menjaga ketersediaan pasokan listrik jangka panjang. Tetapi, memang dibutuhkan kedisiplinan tinggi dalam mengelolanya," kata Oktaufik, Rabu (11/7). Oktaufik menuturkan, masyarakat harus mampu melihat berbagai kemungkinan gangguan dalam memproduksi listrik jangka panjang dengan sumber energi terbarukan dan bahan bakar fosil. Pasokan sumber energi terbarukan seperti bahan bakar nabati akan memiliki persoalan pada ketergantungan tinggi pada alam dan peran manusia. Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu saat akan menguji alat pemeras biji jarak di Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, ternyata masih kesulitan dalam mengumpulkan satu ton biji jarak kering. Padahal, uji alat pemeras itu untuk satu unit secara maksimum membutuhkan enam ton biji jarak kering per hari. Jumlah alat pemerasnya pun di wilayah tersebut hingga sekarang ada tiga unit, yang berarti setiap hari akan membutuhkan pasokan biji jarak kering 18 ton untuk diloah menjadi minyak jarak murni sebagai bahan bakar biodiesel. Begitu pula, dalam memproduksi listrik dengan bahan bakar fosil atau bahan bakar tak terbarukan ini, untuk jangka panjang akan menghadapi kendala keterbatasan pasokan dari alam. "Masyarakat agar memahami, PLTN harus dilihat untuk kepentingan pada kelangsungan pasokan listrik jangka panjang. Saat ini langkah yang terpenting adalah mendorong pada penggunaan teknologi dan kedisiplinan operasional PLTN yang mampu menjamin keselamatan lingkungannya ," kata Oktaufik. PLTN yang direncanakan akan dibangun di Semenanjung Muria ini dijadwalkan bisa beroperasi pada 2016-2017 nanti dengan kapasitas 4.000-6.000 megawatt. Tetapi, sampai sekarang belum diperoleh kepastian pemilik proyek tersebut. Pemerintah tahun 2007 ini mengharapkan PT PLN (Persero) mau menjadi pemilik proyek PLTN tersebut, sehingga pada 2008 nanti bisa dilangsungkan tender pelaksanaan proyek. [Non-text portions of this message have been removed]

