UU Pers gimana ya? DG
On 7/11/07, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > >berita dr hukum online > > > > > > Wartawan Dipecat karena Tulisannya > > > [11/7/07] Pemilik merasa tersinggung atas tulisannya, padahal > > > wartawan itu selama ini diakui tak pernah bikin masalah. Kini, > > > jurnalis tersebut tengah hamil delapan bulan. Ada satu lagi > > > kasus unik yang berujung pemecatan kuli tinta. Peristiwa itu kali ini > > > menimpa Sri Rahayu Arman, redaktur Majalah Paras. Lantaran menulis > > > sebuah artikel yang menyinggung perasaan si pemilik media, wanita > > > yang sedang hamil depalan bulan itu pun menuai buah pemutusan > > > hubungan kerja (PHK). > > > > > > Ayu, panggilan Sri Rahayu, menulis artikel berjudul "Haram > > > Menelantarkan Hak-Hak Pekerja" pada edisi terakhir Majalah Paras. > > > Tulisan itu dimuat dalam rubrik Info Islam terbitan terakhir Nomor 46 > > > Juli 2007 itu, Ayu menulis pentingnya melindungi hak-hak pekerja. > > > Artikel ini menjelaskan hubungan majikan-buruh merupakan pertalian > > > yang seimbang dan sejajar serta saling menguntungkan. Dalam lead > > > tulisannya, Ayu mengisahkan seorang pekerja korban PHK yang masih > > > menggantung nasib pesangonnya. "Itu dari curhat seorang teman, yang > > > mengilhami saya menulis," tutur Ayu, Sabtu siang (7/7). > > > > > > Memang, Ayu minim melakukan kegiatan reportase seperti wawancara. > > > Ia hanya menyitir pendapat beberapa ulama, semacam Abd Wahhab asy > > > Syisani, Ibn Hajar al Asqallani, serta beberapa hadits Nabi Muhammad. > > > "Itu karena tulisan ini bercorak opini, bukan berita," tutur Ayu > > > beralasan. Ia tak sekata pun menuliskan contoh kasus nama perusahaan > > > yang memecat karyawannya dengan sewenang-wenang. > > > > > > Anda mungkin kurang akrab dengan nama Paras. Apalagi nama > > > perusahaan yang menerbitkan majalah bersegmen wanita muslimah itu, PT > > > Variapop Group. Namun, bisa jadi Anda langsung nyantel, jika > > > mendengar Majalah Hidayah. Terbitan ini yang menyuguhkan kisah ajaib > > > bernilai hikmah islami ini, merupakan salah satu produk grup > > > Variapop. > > > > > > Kebetulan juga, akhir-akhir ini, sang pemilik Hj. Wirdaningsih > > > Aminuddin Yunus sedang pusing. Maklum, bisnis medianya sedang > > > goncang. Dari delapan media yang dia kelola, satu per satu gulung > > > tikar. Kini tinggal empat yang tersisa. Yakni Majalah Hidayah, > > > Anggun, serta Paras sendiri. Satu lagi, Tabloid Berita Indonesia, > > > terbit di Kuala Lumpur. > > > > > > "Di tengah kondisi bisnis yang sedang terpuruk, tega-teganya dia > > > menulis itu," ungkap Wirda dari sambungan telepon seluler, Senin > > > siang (9/7). Pitam Wirda memuncak, dengan mengirim surat PHK kepada > > > Ayu. Wirda merasa tindakan Ayu benar-benar menusuk dari belakang. > > > Karena itulah, mulai 9 Juli, perusahaan mengakhiri hubungan kerja > > > ini. > > > > > > Wirda sudah berupaya menyelamatkan biduk usahanya. "Total karyawan > > > saya 150 orang. Saya tak mau tutup langsung semua media. Dengan > > > berbagai sumber dana, saya coba subsidi masing-masing Rp2 triliun > > > setahun," sambungnya. > > > > > > Wirda terpaksa memangkas jumlah karyawan media yang dia tutup. > > > Wirda juga mengakui tak sekaligus melunasi pesangon sejumlah > > > karyawannya. "Tetap saya akan bayar. Meski dengan menyicil. Saya > > > sedih kondisi keuangan sedang buruk." > > > > > > Belum pernah bikin masalah > > > Wirda mengakui selama bekerja lima tahun, Ayu tak pernah bikin > > > ulah. Hanya karena satu tulisan ini, Wirda menutup pintu rapat bagi > > > Ayu. "Kalau dia tulis tiga bulan sebelumnya, saya tidak masalah," > > > ungkap perempuan 56 tahun itu. Namun, dalam artikelnya, Ayu tak > > > menulis sekata pun Variapop adalah contoh perusahaan yang belum > > > memenuhi hak karyawannya. > > > > > > Wirda menceritakan, Ayu sudah seperti anak sendiri. "Dia bekerja > > > mulai dari nol, hingga sekarang dia memperoleh banyak pembelajaran. > > > Saya tak menyangka dia tega," ungkap Wirda, yang mengelola perusahaan > > > keluarga ini. Ayu sendiri tak pernah bermaksud menyinggung > > > pemodalnya. Pun, tak pernah menduga akibatnya seperti ini. "Saya tak > > > pernah mengira sampai begini," tuturnya sambil mengelus perutnya yang > > > membuncit. > > > > > > Kini Wirda tak mau lagi mempekerjakan Ayu. "Saya pemilik di sini. > > > Saya punya hak untuk mengeluarkan dia. Siapapun yang kerja di sini, > > > saya berhak mengeluarkannya," tutur Wirda. Sebelumnya, Wirda menegur > > > Ayu supaya mengundurkan diri. Namun, seperti penuturan Wirda, Ayu > > > menolak. "Bahkan dia berbalik menantang, mengapa harus mengundurkan > > > diri, pecat saja sekalian," imbuh Wirda. > > > > > > Pemimpin Redaksi Paras Eva Deswenti menilai Ayu adalah sosok > > > penting di media ini. "Ayu adalah tulang punggung Paras dan sejauh > > > ini tak pernah berkonflik," ungkap Eva dari sambungan telpon seluler, > > > Senin (9/7). > > > > > > Eva menjelaskan, rubrik Info Islam merupakan halaman tetap yang > > > mengupas tema-tema aktual. "Kita uraikan masalah yang sedang > > > mengemuka di masyarakat, dengan tinjauan dari pendapat para ulama. > > > Toh kami selalu memuat lebih dari satu pandangan tokoh agama," imbuh > > > Eva. > > > > > > Eva merasa Ayu tak pantas dipecat seperti ini. "Bersama 15 awak > > > redaksi lainnya, kami akan menghadap owner supaya meninjau ulang > > > keputusan ini. Ayu tidak layak dikeluarkan lantaran sebuah tulisan," > > > tutur Eva. Menurut Eva, surat PHK tersebut kurang menjelaskan hak > > > Ayu. "Kami menolak PHK ini. Kalaupun memang memecat, perusahaan tidak > > > menjelaskan berapa pesangon yang bakal diterima Ayu," ujar Eva. > > > > > > Senin hari ini (9/7), Ayu tetap masuk kantor seperti biasa. Eva dan > > > koleganya pun bersikap wajar seperti biasa. "Hanya, pemilik sudah tak > > > mau lagi tulisannya dimuat. Pemilik juga tak mau menemui Ayu untuk > > > berunding," tukas Eva. > > > > > > Ayu pun tetap akan masuk kerja seperti biasanya. "Meski pihak > > > pemilik sudah tak mau menemui saya, saya tetap akan masuk kantor. > > > Saya menolak PHK ini," ungkap Ayu. Ayu mengaku sudah mengirimkan > > > surat penolakan pemecatan itu kepada Wirda. Surat tersebut diterima > > > oleh sekretaris Wirda. > > > > > > Tetap bersedia bipartit > > > Wirda memang sudah tak sudi meladeni Ayu. "Kalau mau berembug, > > > silakan dengan pengacara saya. Yang jelas, segala hak dan pesangonnya > > > tetap saya bayar," tutur Wirda. Artinya, Wirda tetap bersedia > > > menyelesaikan persoalan ini, melalui kuasa hukumnya. > > > > > > Sementara itu, Manajer Umum H. Mahjudin Mansur tetap membuka pintu > > > dialog. "Saya selalu terbuka menerima Ayu. Mari kita bipartit," tutur > > > Mahjudin dari sambungan telepon genggam, Senin (9/7). Mahjudin juga > > > menjelaskan, Ayu belum pernah berulah buruk selama ini. > > > > > > Mahjudin, yang juga menangani promosi dan iklan itu menjelaskan, > > > keputusan PHK tetap di tangan pemilik. Mahjudin juga mengakui > > > pemecatan kali ini tak melalui prosedur surat peringatan bertahap. > > > "Sebagai pihak manajemen, saya sadar kebijakan ini tetap di tangan > > > pimpinan," ujarnya. > > > > > > Tulisan harus sesuai kaidah jurnalistik > > > Mengomentari kasus ini, pihak Dewan Pers pun tak bisa turun tangan > > > terlalu jauh. "Kalau ketenagakerjaan bukan kami kompetensinya. > > > Silakan minta pendapat Dinas Tenaga Kerja," ungkap Anggota Dewan Pers > > > Abdullah Alamudi, Senin (9/7). > > > > > > Meskipun demikian, Alamudi tidak membenarkan intervensi pemodal di > > > meja redaksi. "Tapi, pihak redaksi juga harus menjaga kualitas > > > produk jurnalistiknya," sambung Alamudi menggarisbawahi. Alamudi > > > menyatakan, pendapatnya ini pandangan awal, lantaran dia belum > > > meneliti atau membaca sendiri artikel Ayu. > > > > > > Alamudi berpendapat, jika tulisan tersebut adalah berita, si > > > jurnalis harus menghubungi dua belah pihak. Artinya, seharusnya Ayu > > > mewawancarai kaum buruh serta kalangan pemodal. "Supaya cover both > > > side. Dan tak cukup dengan mengutip hadits maupun pendapat ulama," > > > tukasnya. > > > > > > Jika tulisan tersebut bersifat opini, menurut Alamudi, si jurnalis > > > memang boleh mengungkapkan uneg-unegnya dengan leluasa. "Itu tanggung > > > jawab sepenuhnya si penulis opini. Namun, halaman opini harus tegas > > > dan jangan dicampuradukkan dengan halaman berita. Supaya pembaca tahu > > > bahwa itu opini, bukan berita," imbuh Alamudi panjang lebar. > > > > > > Perkembangan ke depan makin menarik, karena seminggu lagi Ayu harus > > > istirahat persiapan kelahiran anak pertamanya. Di satu sisi, Wirda > > > sulit menerima Ayu kembali. "Saya sudah terluka dan hanya Tuhan yang > > > tahu," tutur Wirda. > > > > > > Di kubu seberang, Ayu bersikukuh tak mau diperlakukan seperti ini. > > > Meski dalam keadaan hamil, Ayu ingin menuntaskan masalah ini. "Akan > > > saya namakan si kecil Muhammad Aji," ujar Ayu lirih > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed]

