Berikut tanggapan dari milis lain..  Siapa tahu bisa menjadi penyeimbang
info.. :-)

"..
Kata-kata Radityo ini tendensius dan betujuan membentuk opini tentang milis
yyy.
Kenapa Sabili dan Era Muslim yang disebut dari sekian banyak anggota milis?
Ini yang dinamakan "cherry-picking." Di milis ini ada banyak wartawan media
nasional lain dan juga dari media asing seperti majalah Time, kantor berita
AFP,
Reuters dan Jiji Press Jepang. Apakah juga relevan menyebut paman Farid
sebagai pengikut ABB?
.."

"..
Pengantar semacam ini dalam pikiran saya (mungkin Anda juga), sudah
menggiring
untuk melakukan penilaian yang terlalu subjektif. Berbahaya sekali kalau
semua
jurnalis seperti ini. Kalau kembali melihat jejak milis ini dan juga di
Pantau-Komunitas,
Radityo memang "bermasalah". Tapi bukan tidak ada jurnalis lain terbiasa
membuat
framing demikian dalam laporannya.

Mengenai tulisan Liddle, saya khawatir perdebatan di milis yyy yang dibaca
oleh Liddle
hanyalah posting Siska yang menanggapi Farid Gaban dan atau sebaliknya.
Tidak utuh.

Laporan ICG sendiri, menurut saya, lebih banyak membawa agenda dari Bush.
coba lihat di sini:
http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=2959&l=1
Selebihnya, saya pikir Liddle juga punya agenda yang ia bawa sendiri.
.."

"..
Ya begitulah Radityo, dari dulu kerjaannya emang menjelek-jelekkan media
Islam.
Entah apa maunya.. Kita juga tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti
itu.
Reporter Sabili itu cuma 4 orang, tidak semuanya menjadi anggota milis yyy,
lagi pula
mereka anggota pasif. Redaktur sabili (cuma 2 orang) juga ikutan milis,
namun hampir
semuanya pasif. Bisa dilihat dari postingan-postingan yang ada.

Orang-orang Sabili ikutan milis jurnalisme sejak akhir tahun 2006 atau awal
tahun 2007,
tidak sejak mula milis ini didirikan. Alangkah naifnya menyebut yyy sebagai
kumpulan
orang-orang sabili dan era muslim di tengah ribuan anggota lain dari
berbagai media
dengan bermacam corak, lokal, nasional hingga internasional. Untuk orang
seperti
Radityo, kami hanya berprinsip, "tarkul jawab alal jahil jawabun".
Tidak perlu membalas omongannya....
.."

Kalau gak salah, Bos Radit ini 'tidak sedang berbohong, cuma tidak
jujur/menyampaikan
secara utuh saja'..  Kita bisa kan tidak seperti itu? Fair enough, minimal..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 7/12/07, radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Maaf terlambat diposting. Berikut opini Pak Bill Liddle yang menanggapi
> komentar mantan wartawan Republika Farid Gaban (FG) terhadap ulasan tentang
> Abu Dujana yang ditulis oleh Lutfi Syaukani dari Paramadina.
>
> Saat ini FG menggawangi sebuah milis yang beberapa anggotanya adalah para
> reporter Sabili, Era Muslim, dan lainnya. Sebagai catatan, paman FG pernah
> menjadi pengikut setia Abu Bakar Ba'asyir. Ia terus terang mengakui itu di
> milisnya.
>
> Posted by: Kuskridho Ambardi
> E-mail: [EMAIL PROTECTED] <ambardi.1%40osu.edu>
>
> Meneruskan tanggapan dari Pak Bill Liddle:
>
>
> Farid Gaban sudah lama saya kenal sebagai wartawan dan editor yang cerdas
> dan bertanggungjawab, jadi tentu saya membaca dengan seksama, meskipun
> terheran-heran, korespondensinya dengan Siska. Lalu saya membaca kembali
> beberapa laporan International Crisis Group tentang Jemaah Islamiyah dan
> laporan utama di Tempo minggu lalu tentang penangkapan Abu Dujana. Di
> website ICG, yang saya temukan adalah
> beberapa analisis yang dalam dan canggih, berdasarkan wawancara langsung,
> dokumen-dokumen JI, pengamatan di lapangan dan kesaksian di pengadilan,
> bukan hanya informasi sepihak dari polisi. Lagipula, tidak ada claim yang
> berlebihan, misalnya bahwa JI adalah omnipotent dan omnipresent. Seandainya
> ada Pulitzer Prize (hadiah jurnalisme yang
> sangat berprestise di Amerika) internasional untuk investigative
> reporting, ICG pasti sudah lama mendapatkan anugerah itu. Di Tempo, yang
> saya temukan antara lain adalah pengakuan langsung Abu Dujana, dalam
> wawancaranya dengan wartawan Tempo, tentang kehadiran organisasi JI dan
> peran dia sebagai salah satu pemimpinnya. Berbeda dengan
> angkatan paman Farid, ternyata para aktivis masa kini tidak segan mengakui
> partisipasi mereka.
>
> Kenapa Farid mau membantah sesuatu yang begitu kasat mata? Kesan saya
> adalah bahwa dia melihat Islam sebagai sesuatu keseluruhan yang sedang
> diserang. "Siska benar," tulisnya, "rangkaian teror bom di Indonesia, bahkan
> di dunia, yang dituduhkan kepada kelompok Islam, adalah semacam puzzle."
> Yang saya perhatikan dalam kalimat itu adalah frasa "dituduhkan kepada
> kelompok Islam." Kesan saya diperkuat ketika dia
> menulis bahwa Baasyir dan Sungkar diprosekusi oleh karena pandangan
> politiknya (yang mungkin benar pada masa Orde Baru tetapi tidak sesudahnya)
> dan ketika dia memperkenalkan istilah pivot, seakan-akan polisi dan
> pemerintah Indonesia serta John Howard dan George Bush menyamakan "Al
> Qaedah, JI, teror, Afghanistan, Irak, Moro, Poso, Ambon, dan syariah" dan
> tentu Islam sendiri. Dalam konteks itu, Farid merasa
> terpanggil untuk membela kaumnya, meskipun sebetulnya yang ditangkap atau
> dikejar oleh polisi Indonesia bukanlah "umat Islam," termasuk yang bersikap
> pro-syariah, melainkan orang-orang yang menggunakan kekerasan untuk mencapai
> tujuan religio-politiknya.
>
> Saya sependapat dengan pesan terakhir Farid, agar kita jangan memberi
> peluang kepada orang yang ingin "memperuncing ketegangan antar agama,
> menjustifikasi penindasan hak asasi manusia, dan menjustifikasi manipulasi
> dan penyalahgunaan kekuasaan." Taruhannya memang besar, bagi bangsa saya
> juga, apalagi menjelang pemilu presiden 2008. Tetapi untuk mencapai tujuan
> itu, kita harus mulai dengan sebuah pengertian faktual
> yang akurat.
>
> Salam,
>
> Bill
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke