Bos Radit koq ya masih saja tidak berani menampilkan komentar orang lain
apa-
adanya..  (geleng" kepala)

Saya mengutip diskusi dari suatu milis, tapi tiba" di milis mediacare, nama
milisnya
secara ajaib muncul.. begitu juga ada beberapa bagian yang
dihapus/disembunyikan..
Padahal saya sudah mengajak (kita semua - termasuk saya sendiri) untuk lebih
jujur
& tidak menutup"i suatu info.. apalagi kalau banyak pihak juga tahu..

Saya yakin, ada beberapa member milis" yang dikirimkan secara massal tadi
yang
ikut di beberapa milis tadi.. termasuk milis mediacare.. Sehingga mereka
bisa tahu
bagian mana yang mengalami pengubahan.. Ya, mirip 'kuis' carilah
perbedaannya
dari dua contoh.. dalam hal ini komentar di milis.. :D

Wassalam,

Irwan.K

-----------
Ini versi yang ada di milis mediacare (binaan Bos Radit)..

"..
Berikut tanggapan dari milis lain.. Siapa tahu bisa menjadi penyeimbang
info..
:-)


Kata-kata Radityo ini tendensius dan bertujuan membentuk opini tentang milis
<nama milis>.

Kenapa Sabili dan Era Muslim yang disebut dari sekian banyak anggota milis?
Ini
yang dinamakan "cherry-picking." Apakah juga relevan menyebut paman Farid
sebagai pengikut Abu Bakar Ba'asyir?
.."

"..
Pengantar semacam ini dalam pikiran saya (mungkin Anda juga), sudah
menggiring untuk melakukan penilaian yang terlalu subjektif. Berbahaya
sekali
kalau semua jurnalis seperti ini.

Mengenai tulisan Liddle, saya khawatir perdebatan di milis <nama milis> yang
dibaca oleh Liddle hanyalah posting Siska yang menanggapi Farid Gaban dan
atau
sebaliknya. Tidak utuh.

Laporan ICG sendiri, menurut saya, lebih banyak membawa agenda dari Bush.

coba lihat di sini:
http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=2959&l=1

Selebihnya, saya pikir Liddle juga punya agenda yang ia bawa sendiri.
.."

Orang-orang Sabili ikutan milis Jurnalisme sejak akhir tahun 2006 atau awal
tahun 2007, tidak sejak mula milis ini didirikan. Alangkah naifnya menyebut
milis <nama milis> sebagai kumpulan orang-orang sabili dan era muslim di
tengah
ribuan anggota lain.

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K
.."

----------------
Ini versi lengkap komentar saya ada di bawah (saya reply to all ke milis
lain juga)..

Berikut tanggapan dari milis lain..  Siapa tahu bisa menjadi penyeimbang
info.. :-)

"..
Kata-kata Radityo ini tendensius dan betujuan membentuk opini tentang milis
yyy.
Kenapa Sabili dan Era Muslim yang disebut dari sekian banyak anggota milis?
Ini yang dinamakan "cherry-picking." Di milis ini ada banyak wartawan media
nasional lain dan juga dari media asing seperti majalah Time, kantor berita
AFP,
Reuters dan Jiji Press Jepang. Apakah juga relevan menyebut paman Farid
sebagai pengikut ABB?
.."

"..
Pengantar semacam ini dalam pikiran saya (mungkin Anda juga), sudah
menggiring
untuk melakukan penilaian yang terlalu subjektif. Berbahaya sekali kalau
semua
jurnalis seperti ini. Kalau kembali melihat jejak milis ini dan juga di
Pantau-Komunitas,
Radityo memang "bermasalah". Tapi bukan tidak ada jurnalis lain terbiasa
membuat
framing demikian dalam laporannya.

Mengenai tulisan Liddle, saya khawatir perdebatan di milis yyy yang dibaca
oleh Liddle
hanyalah posting Siska yang menanggapi Farid Gaban dan atau sebaliknya.
Tidak utuh.

Laporan ICG sendiri, menurut saya, lebih banyak membawa agenda dari Bush.
coba lihat di sini:
http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=2959&l=1
Selebihnya, saya pikir Liddle juga punya agenda yang ia bawa sendiri.
.."

"..
Ya begitulah Radityo, dari dulu kerjaannya emang menjelek-jelekkan media
Islam.
Entah apa maunya.. Kita juga tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti
itu.
Reporter Sabili itu cuma 4 orang, tidak semuanya menjadi anggota milis yyy,
lagi pula
mereka anggota pasif. Redaktur sabili (cuma 2 orang) juga ikutan milis,
namun hampir
semuanya pasif. Bisa dilihat dari postingan-postingan yang ada.

Orang-orang Sabili ikutan milis jurnalisme sejak akhir tahun 2006 atau awal
tahun 2007,
tidak sejak mula milis ini didirikan. Alangkah naifnya menyebut yyy sebagai
kumpulan
orang-orang sabili dan era muslim di tengah ribuan anggota lain dari
berbagai media
dengan bermacam corak, lokal, nasional hingga internasional. Untuk orang
seperti
Radityo, kami hanya berprinsip, "tarkul jawab alal jahil jawabun".
Tidak perlu membalas omongannya....
.."

Kalau gak salah, Bos Radit ini 'tidak sedang berbohong, cuma tidak
jujur/menyampaikan
secara utuh saja'..  Kita bisa kan tidak seperti itu? Fair enough, minimal..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 7/12/07, Don Manurung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   *Bagus sekali dapat ikut mengikuti silang pendapat antara Pak Farid
> Gaban *
> *dan Pak Bill **Liddle. Interaksi antara Barat yang dipimpin oleh AS
> dengan Dunia Islam memang sangat ruwet, dengan dampak-dampak  yang terkadang
> sangat berdarah sehingga orang awam yang peduli juga ingin tahu **kemana
> kira-kira *
> *arah perkembangan kedepan. *
> **
> *Pasalnya sengketa tiada akhir ini juga berakibat pada banyak sekali
> collateral damages diantara mereka yang sebetulnya secara langsung tidak
> ikut berseteru. Mudah-mudahan dua sosok penting ini (FG dan WL) akan
> meneruskan bertukar pikiran sehingga kita semua bisa banyak belajar.*
> **
> *Apa Pak Farid punya website, blog atau boleh minta alamat mailing listnya
> untuk*
> *dapat melihat-lihat saja? Terimakasih.*
> **
> *DM*
>
>
> *radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Maaf terlambat diposting. Berikut opini Pak Bill Liddle yang menanggapi
> komentar mantan wartawan Republika Farid Gaban (FG) terhadap ulasan tentang
> Abu Dujana yang ditulis oleh Lutfi Syaukani dari Paramadina.
>
> Saat ini FG menggawangi sebuah milis yang beberapa anggotanya adalah para
> reporter Sabili, Era Muslim, dan lainnya. Sebagai catatan, paman FG pernah
> menjadi pengikut setia Abu Bakar Ba'asyir. Ia terus terang mengakui itu di
> milisnya.
>
> *Posted by: Kuskridho Ambardi*
> *E-mail: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>*
> *
> Meneruskan tanggapan dari Pak Bill Liddle:
>
>
> Farid Gaban sudah lama saya kenal sebagai wartawan dan editor yang  cerdas
> dan bertanggungjawab, jadi tentu saya membaca dengan seksama,  meskipun
> terheran-heran, korespondensinya dengan Siska. Lalu saya  membaca kembali
> beberapa laporan International Crisis Group tentang  Jemaah Islamiyah dan
> laporan utama di Tempo minggu lalu tentang  penangkapan Abu Dujana. Di
> website ICG, yang saya temukan adalah
> beberapa analisis yang dalam dan canggih, berdasarkan wawancara  langsung,
> dokumen-dokumen JI, pengamatan di lapangan dan kesaksian di  pengadilan,
> bukan hanya informasi sepihak dari polisi. Lagipula, tidak  ada claim yang
> berlebihan, misalnya bahwa JI adalah omnipotent dan  omnipresent. Seandainya
> ada Pulitzer Prize (hadiah jurnalisme yang
> sangat berprestise di Amerika) internasional untuk investigative
> reporting, ICG pasti sudah lama mendapatkan anugerah itu. Di Tempo,  yang
> saya temukan antara lain adalah pengakuan langsung Abu Dujana,  dalam
> wawancaranya dengan wartawan Tempo, tentang kehadiran organisasi  JI dan
> peran dia sebagai salah satu pemimpinnya. Berbeda dengan
> angkatan paman Farid, ternyata para aktivis masa kini tidak segan
> mengakui partisipasi mereka.
>
> Kenapa Farid mau membantah sesuatu yang begitu kasat mata? Kesan saya
> adalah bahwa dia melihat Islam sebagai sesuatu keseluruhan yang sedang
> diserang. "Siska benar," tulisnya, "rangkaian teror bom di Indonesia,
> bahkan di dunia, yang dituduhkan kepada kelompok Islam, adalah semacam
> puzzle." Yang saya perhatikan dalam kalimat itu adalah frasa  "dituduhkan
> kepada kelompok Islam." Kesan saya diperkuat ketika dia
> menulis bahwa Baasyir dan Sungkar diprosekusi oleh karena pandangan
> politiknya (yang mungkin benar pada masa Orde Baru tetapi tidak  sesudahnya)
> dan ketika dia memperkenalkan istilah pivot, seakan-akan  polisi dan
> pemerintah Indonesia serta John Howard dan George Bush  menyamakan "Al
> Qaedah, JI, teror, Afghanistan, Irak, Moro, Poso, Ambon,  dan syariah" dan
> tentu Islam sendiri. Dalam konteks itu, Farid merasa
> terpanggil untuk membela kaumnya, meskipun sebetulnya yang ditangkap  atau
> dikejar oleh polisi Indonesia bukanlah "umat Islam," termasuk yang  bersikap
> pro-syariah, melainkan orang-orang yang menggunakan kekerasan  untuk
> mencapai tujuan religio-politiknya.
>
> Saya sependapat dengan pesan terakhir Farid, agar kita jangan memberi
> peluang kepada orang yang ingin "memperuncing ketegangan antar agama,
> menjustifikasi penindasan hak asasi manusia, dan menjustifikasi  manipulasi
> dan penyalahgunaan kekuasaan." Taruhannya memang besar, bagi bangsa saya
> juga, apalagi menjelang pemilu presiden 2008. Tetapi untuk  mencapai tujuan
> itu, kita harus mulai dengan sebuah pengertian faktual
> yang akurat.
>
> Salam,
>
> Bill
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke