Yéeee, milis ini bagaikan sebuah taman penuh bunga, atau bianglala, 
yang mencakup semua aspekt komunikasi, dari yang super serious, ke 
yang pinggir pinggir, ngeledek, nyindir, nyumpah, ke personal sampai 
yang impersonal, dari yang tua, ke yang hampir muda sampai 
ABG...biasa wae lahh.. gak usah terlalu cengeng ehh sorry sen-si-
tifff.

Salam dunia maya

Danardono



--- In [email protected], IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Quote:
> "..
> Hal ini cukup menjadi bukti bahwa agama, sejatinya untuk menjaga
> nilai dan memenuhi kepentingan kemanusiaan, bukan (hanya) untuk
> memapankan kekuasaan Tuhan. Dalam kaidah usul fikih pun disebutkan
> bahwa "amal perbuatan yang dapat dirasakan mamfaatnya oleh orang
> banyak lebih utama daripada amalan yang manfaatnya hanya dirasakan
> diri sendiri" (al-muta'addî afdlal minal qâshir). Itulah penjelasan
> cukup valid yang mudah ditemukan, ketika kita membaca beberapa
> literatur sejarah agama dan sumber doktrinal-normatif agama secara
> utuh.
> .."
> 
> Nah, kalau diskusinya kaya begini kan enak.. poinnya jelas.. gak 
mengarah
> ke personal.. siapa yang ngomong.. topik pinggiran.. bukan intinya..
> Coba kalau artikel ini juga sampe ke milis lain, yang sedang 
membahas
> soal agama & kekeliruan pemahaman/perilaku umatnya.. :-)
> 
> Pasti bacanya juga nyaman.. dan damai.. gak perlu ada ledek"an..
> apalagi dari yang lebih tua.. yang seharusnya memberi 
contoh/teladan..
> 
> Again, pis atuh..
> CMIIW..
> 
> Wassalam,
> 
> Irwan.K
> 
> On 7/13/07, RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, 
IrwanK
> > <irwank2k6@> wrote:
> > >
> > > Yee.. si Eayang nih.. samanya.. Udah tua bukannya ngasih contoh
> > yang bener..
> > > malah heureuy wae.. :-p Geus kolot oge..
> > >
> > > Wassalam,
> > >
> > > Irwan.K
> > >
> >
> > Yang betiiil...Na, silakan baca pemikiran bijak ini:
> >
> > Mengukuhkan Aspek Kemanusiaan Agama
> > 02/07/2007
> >
> > Pola keberagamaan seseorang sejatinya baru dapat dinilai ideal dan
> > utuh (kaffah) apabila dibarengi upaya serius bagi pemihakan 
terhadap
> > orang-orang yang tesisihkan (mustad'afin). Dengan kata lain, 
tingkat
> > kesalehan ritual-formal-individual haruslah bersinergi dengan
> > kesalehan sosial dan perhatian terhadap aspek kemanusiaan.
> >
> > Oleh: M. Abdul Hady JM **
> >
> > Pada hakikatnya, semua agama diturunkan untuk kepentingan manusia,
> > bukan untuk kepentingan Tuhan. Dalam rumusan Imam al-Syathibi, 
agama
> > disebut sesuatu yang "bersumber dari Tuhan tapi diperuntukkan bagi
> > manusia" (Ilâhiyatul masdhar wa insâniyyatul maudhû').
> >
> > Rumusan ini mengandaikan bahwa pola keberagamaan yang ideal adalah
> > terjadinya pergulatan antara pemenuhan kepentingan Tuhan dan 
manusia.
> > Ini juga berarti bahwa pelaksanaan ritual-formal-individual agama
> > harus bersinergi dengan upaya pembelaan atas nilai-nilai 
kemanusiaan.
> > Karena itu, Moeslim Abdurrahman (2005) menandaskan 
bahwa "kemungkaran
> > sosial lebih berbahaya secara kemanusiaan daripada kelalaian 
ritual
> > normatif".
> >
> > Kini, fenomena religiusitas masyarakat Indonesia mengalami
> > peningkatan yang cukup pesat. Gairah religiusitas masyarakat
> > mengalami eskalasi yang sangat menggembirakan. Namun, tingkat 
korupsi
> > juga semakin mengharu-biru. Ini kenyataan yang ironis, karena
> > kenyataan itu terjadi di negara berpenduduk Muslim terbesar di 
dunia.
> >
> > Penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN 
Jakarta
> > beberapa tahun lalu menunjukkan fakta keberagamaan yang
> > memperihatinkan. Ternyata, kini korupsi yang merajalela justru
> > terjadi tatkala masyarakat semakin santri. Masyarakat Indonesia 
kini
> > semakin taat secara ritual-formal keagamaan. Korupsi tak 
terbendung
> > meski masjid makin penuh-sesak, dan jamaah yang menunaikan haji
> > semakin membludak.
> >
> > Selama ini ada asumsi umum cukup kuat di tengah masyarakat bahwa
> > substansi agama terletak pada ritual-formal-individual setiap 
pemeluk
> > agama. Amalan-amalan ritualistik ini diyakini sebagai kunci 
penting
> > menuju surga. Ia akan membawa pada keselamatan dan kebahagiaan
> > eskatologis yang abadi. Akibat pola pemahaman agama semacam ini,
> > seseorang yang makin saleh secara ritual keagamaan justru semakin 
tak
> > peduli dan apatis terhadap persoalan kemanusiaan.
> >
> > Karena itu, menumbuhkan semangat pembaruan dan penyegaran 
pemahaman
> > keagamaan cukup mendesak untuk dilakukan. Pola keberagamaan 
seseorang
> > sejatinya baru dapat dinilai ideal dan utuh (kaffah) apabila
> > dibarengi upaya serius bagi pemihakan terhadap orang-orang yang
> > tesisihkan (mustad'afin). Dengan kata lain, tingkat kesalehan 
ritual-
> > formal-individual haruslah bersinergi dengan kesalehan sosial dan
> > perhatian terhadap aspek kemanusiaan.
> >
> > Dua Langkah Rekonstruksi
> >
> > Untuk merekonstruksi model pemahaman agama, langkah pertama dan
> > terpenting adalah melakukan telaah kritis-analitis yang menyeluruh
> > terhadap agama, baik dari sisi kesejarahan habitat awal munculnya
> > suatu agama maupun dari sisi doktrinal-normatifnya.
> >
> > Pertama, dari sisi historis awal mula kelahiran agama, kita akan 
tahu
> > bahwa sebuah agama muncul untuk merespons penderitaan dan
> > kesengsaraan yang mencekam kehidupan umat manusia akibat 
penindasan
> > dan eksploitasi yang dilakukan komunitas sosial maupun individul 
yang
> > dominan. Agama lahir sebagai bentuk keprihatinan atas realitas 
sosial
> > yang timpang. Untuk itu, kehadiran agama merupakan upaya kritik 
dan
> > pembelaan atas upaya-upaya dehumanisasi, penistaan terhadap harkat
> > dan nilai-nilai kemanusiaan.
> >
> > Dalam catatan sejarah, sejumlah pendiri agama (Nabi) justru datang
> > dari komunitas sosial yang mengalami penindasan dan eksploitasi 
cukup
> > lama. Musa tampil karena prihatin atas penderitaan Bani Israil 
yang
> > dalam rentang waktu cukup lama ditindas Fir'aun. Isa al-Masih 
(Yesus)
> > juga datang kerena prihatin atas penderitaan rakyat banyak pada
> > zamannya.
> >
> > Nabi Muhammad kurang lebih juga mempunyai peranan dan misi yang 
sama.
> > Pada awal masa kelahirannya, Islam melontarkan kritik cukup 
mendasar
> > pada sistem sosial-ekonomi dan budaya Quraisy Mekkah. Sistem 
sosial-
> > ekonomi yang menindas dan diskriminatif serta ketiadaan tanggung
> > jawab sosial (sense of social responsibility) itu cukup mengakar
> > dalam kehidupan mereka sehari-hari.
> >
> > Melihat kondisi sosial yang amat timpang ini, Nabi mengambil peran
> > sebagai pemimpin kaum tertindas dan lebih memilih gaya hidup 
mereka.
> > Kemudian beliau melakukan upaya pembelaan terhadap mereka. Itulah
> > uraian ringkas yang cukup mudah kita temukan dalam beberapa 
literatur
> > sejarah agama-agama dan pendirinya.
> >
> > Kedua, dari sisi doktrinal-normatif agama, teks-teks suci agama 
yang
> > bersifat normatif sangat perlu dipahami secara utuh, sehingga 
nilai-
> > nilai substansial agama dapat ditangkap secara keseluruhan. Dalam
> > banyak ayat Alqur'an, misalnya, kita dapat menemukan penjelasan 
bahwa
> > agama mengandaikan keseimbangan antara dua kepentingan, Tuhan dan
> > manusia. Bahkan problem kemanusiaan terkadang lebih penting untuk
> > dikedepankan.
> >
> > Surat-surat awal Alqur'an seperti al-Ma'un, al-Kautsar, al-
Humazah,
> > al-Fajr, al-Lail dan al-Balad, menunjukkan indikasi ke arah itu.
> > Surat-surat tersebut sangat mengecam praktik akumulasi kekayaan 
yang
> > diperoleh melalui cara eksploitasi sosial ekonomi dalam bentuk
> > ketidakpedulian atas penderitaan orang-orang tertindas dan lemah
> > (anak yatim, miskin, dll.).
> >
> > Dalam surat al-Ma'un juga ditegaskan bahwa para pendusta agama 
adalah
> > mereka-mereka yang hanya menikmati sembahyang (juga ritual-ritual
> > formal lainnya), tapi lupa akan nasib orang-orang yang 
tereliminasi
> > dan menderita secara sosial-ekonomi. Bahkan, dari sekian banyak 
ayat
> > Alquran, jumlah ayat-ayat yang berkaitan dengan kehidupan sosial 
jauh
> > lebih banyak ketimbang ayat-ayat ibadah ritual-formal-individual.
> > Bahkan, perbandingannya hampir satu berbanding seratus.
> >
> > Hal ini cukup menjadi bukti bahwa agama, sejatinya untuk menjaga
> > nilai dan memenuhi kepentingan kemanusiaan, bukan (hanya) untuk
> > memapankan kekuasaan Tuhan. Dalam kaidah usul fikih pun disebutkan
> > bahwa "amal perbuatan yang dapat dirasakan mamfaatnya oleh orang
> > banyak lebih utama daripada amalan yang manfaatnya hanya dirasakan
> > diri sendiri" (al-muta'addî afdlal minal qâshir). Itulah 
penjelasan
> > cukup valid yang mudah ditemukan, ketika kita membaca beberapa
> > literatur sejarah agama dan sumber doktrinal-normatif agama secara
> > utuh.
> >
> > Karena itu, masuk akal bila "manusia tercerahkan" menurut Ali
> > Syari'ati tak lain adalah "mereka-mereka yang tak hanya memiliki
> > tanggung jawab ibadah-ritual kepada Allah, tapi sekaligus orang 
yang
> > punya tanggung jawab sosial kemanusiaan pada sesama saudara
> > manusianya". Tanpa adanya komitmen sosial (ibadah sosial) 
seseorang
> > belum dapat dikatakan sebagai manusia yang tercerahkan dan pola
> > keberagamaannya tidak dapat dianggap utuh dan ideal.
> >
> > * M. Abdul Hady JM, Alumnus PP. Al-Jalaly Ambunten Sumenep Madura
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke