Dari awal sudah jelas bahwa, pemutusan kontrak pembelian Nike Inc. cuma 
dijadikan alasan untuk tidak membayar pesangon 14,000 buruh, dengan kerja 
rata-rata 15 th.



http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/07/26/brk,20070726-104394,id.html

Nike Tetap Tinggalkan Murdaya
Kamis, 26 Juli 2007 | 00:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen perusahaan sepatu asal Amerika Serikat 
Nike Inc. bersikukuh untuk tidak memperpanjang kontrak jual beli dengan PT 
Naga Sakti Pharama Shoes Indonesia (Nasa) dan PT Hardaya Aneka Shoes 
Indonesia (HASI) milik Siti Hartati Murdaya. Alasannya, tawaran untuk 
memperpanjang kontrak dan menambah order ditolak pihak Hartati, maka Nike 
memilih untuk tidak melanjutkan negosiasi.

"Sejauh ini belum ada kesepakatan apa pun. Jadi sampai sekarang posisi Nike 
belum berubah, bahwa order hingga Desember ini," ujar Nike Coorporate 
Responsibility Communications Director Erin Dobson kepada Tempo, Rabu (25/7) 
di Jakarta.

Sebelumnya, Nike telah memutuskan kontrak order pembuatan sepatu pada 6 Juli 
2007. Hartati mengumumkan perihal itu kepada pekerjanya pada 10 Juli. Nike 
memberikan tenggang waktu selama sembilan bulan dan hanya memberikan order 
300 pasang.

Ketika dikonfirmasi tentang hasil pertemuan Nike dan Hartati kemarin, Erin 
membenarkan tidak ada jalan keluar. "Sebetulnya Nike sudah menawarkan 
perpanjangan kontrak 12 bulan untuk HASI dan 24 bulan untuk Nasa, tapi 
ditolak PT Central Cipta Murdaya (induk perusahaan HASI dan Nasa). Jadi 
sebenarnya sudah ada good will dari Nike," katanya.

Namun begitu, ke depan, Nike memastikan tetap memiliki niat baik dan 
berkomitmen dengan Indonesia. "Tapi further step (negosiasi lanjutan) belum 
tahu. Tergantung bagaimana pembicaraan ke depan," kata Erin. Dia membenarkan 
kantor Nike di Bursa Efek Jakarta sudah tutup sejak didemo puluhan ribu 
buruh Hartati beberapa waktu lalu.

Pemilik Central Cipta Murdaya, Hartati Murdaya membantah negosiasi dengan 
Nike menemui jalan buntu. Dia mengaku, pertemuan kemarin dengan Nike 
membuahkan hasil. Nike sepakat perpanjangan kontrak untuk ke dua pabrik. 
"Nike setuju untuk memperpanjang kontrak 12 bulan untuk HASI dan 24 bulan 
untuk Nasa," ujarnya kepada Tempo Rabu (25/7).

Menurut dia, Nike bersedia menambah pesanan (order). Namun, kata Hartati, 
kedua kesepakatan (menambah order dan memperpanjang kontrak) belum berupa 
kesepakatan detail. "Pihak Nike pergi ke Amerika, dan anak buahnya yang akan 
melanjutkan (folow up)," tuturnya. Detail negosiasi, katanya akan dirumuskan 
dalam waktu empat hari.

Sumber Tempo mengatakan, negosiasi dilakukan di salah satu ruang di Hotel 
Ritz Carlton sejak pukul 10.00-16.00 pada Selasa (24/7). Namun, negosiasi 
tidak menghasilkan kesepakatan. Menurut dia, pada saat konsep perjanjian 
akan diteken pada pukul 15.00 perwakilan Nike dan Hartati Murdaya bertemu 
dengan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi.

Menjelang penandatangan draf perjanjian, kata sumber itu, tiba-tiba Nike 
menolak menekannya. Alasannya, Nike tetap dipaksa membayar pesangon 14.000 
buruh. "Padahal Nike sudah banyak mengalah, dengan menyampaikan pihaknya 
akan memperpanjang kontrak pembelian dengan dua perusahaan masing-masinng 
menjadi 12 dan 24 bulan," ujarnya kemarin. Pukul 16.00 rombongan Nike 
langsung balik badan dan pulang ke Amerika Serikat.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Investasi Chris 
Kanter menilai permintaan bos Central Cipta Murdaya kepada Nike Inc. untuk 
membayar pesangon buruhnya sangat tidak masuk akal. Sebab dalam kontrak 
kedua perusahaan ini adalah jual beli, dan dalam praktek bisnisnya, pembeli 
tidak wajib untuk membayar pesangon. "Hartati mestinya tidak bisa lepas 
tangan dari kewajiban membayar pesangon dan melimpahkannya ke Nike," 
ujarnya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi membenarkan negosiasi 
kedua pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan. "Tidak sepakat kemarin, 
tapi tidak tertutup kemungkinan besok atau masa yang akan datang didapat 
kesepakatan," ujarnya kepada Tempo Rabu (26/7).

Ditanya alasan penolakan Nike menandatangani perjanjian itu, Lutfi mengaku 
tidak tahu. "Kami (pemerintah) inginnya masalah ini cepat selesai, tapi 
ternyata tidak langsung selesai. Tentunya saya tidak berhenti di sini," 
katanya.

RR ARIYANI | YULIAWATI 

Kirim email ke