*http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0707/26/094614.htm

**
Gangguan Batin Hilang, Penyakit Disembuhkan *


Dengan konseling dan doa ia membantu pasien mengupayakan ketenangan jiwa.
Dari situlah kesembuhan penyakit diperoleh. Ongkosnya cukup sebutir apel
atau sebungkus gorengan.

Dalam dunia kedokteran makin disadari bahwa banyak penyakit dan keluhan
fisik tidak terlepas dari keadaan jiwa. "Bila ada bagian tubuh yang sakit,
misalnya jantung, bukan hanya jantung yang diberi obat. Dokter yang
bijaksana juga akan memperhatikan jiwa dan cara berpikir pasiennya," begitu
keyakinan Darmo Rahardjo (81).

Dengan keyakinan itu, banyak yang telah dilakukan kakek 14 cucu itu selama
30 tahun belakangan ini. Banyak orang dengan beragam keluhan kesehatan yang
sudah disembuhkannya. Ini karena sakit yang diderita pasien umumnya
disebabkan rasa gelisah, kecewa, luka batin, putus asa, hingga merasa hidup
tidak punya arti lagi.

Kepada pasien yang berkeluh-kesah, pengusaha roti, air minum dalam kemasan,
katering, dan penulis buku yang tinggal di kawasan Tanah Abang, Jakarta ini
selalu menyarankan tetap menggunakan jasa dokter untuk penyakit fisiknya.
Menurutnya, dokterlah yang paling tahu tindakan apa yang harus dilakukan.

Ia selalu memprekondisikan pasien untuk menerima dengan lebih baik dan
reponsif terhadap pengobatan medis. Namun, menurutnya, seringkali pasien
tertentu menciptakan penyakitnya sendiri dan secara sadar atau tidak, memang
tak ingin sembuh. Dari sisi inilah Pak Darmo berusaha membantu mengupayakan
kesembuhan.

Doa Pasrah
Pada dasarnya, sebut Pak Darmo, ada tiga hal pokok yang dilakukan kepada
pasiennya. Pertama, doa permohonan agar Tuhan membantu usaha penyembuhan.
Tuhan pasti memberi bila permintaan kita sesuai dengan rencana besarnya.

Ia menyarankan doa yang kita panjatkan hendaknya diakhiri dengan kata-kata
kepasrahan: "dan terjadilah kehendak-Mu. Ini bisa disebut sebagai sebagai
faith healing," ujarnya. Kepasrahan sudah dibuktikan sendiri oleh Pak Darmo.
Contohnya, ketika mata kirinya buta sejak berusia 67 tahun. Tak jelas betul
penyebabnya. Kemungkinan besar, saat menderita flu berat, ia batuk terlalu
keras. Akibat tak terduga, retinanya sobek dan terlepas. Tiga kali operasi,
dokter tak mampu memulihkan kondisinya.

Menghadapi situasi itu, ia tidak menjadi panik, kecewa, minder, atau merasa
kasihan pada dirinya sendiri. Pak Darmo malah tenang, bersyukur, pasrah, dan
berdoa agar dapat memperoleh bimbingan-Nya dalam keadaan yang baru. Dengan
sikap seperti itu, ia tetap mampu berbuat banyak meski sebelah matanya buta.


Begitu pula saat dirinya divonis menderita kanker prostat tahun 1999. Ia
juga tak kaget, gelisah, pesimis, ataupun kecil hati. Pak Darmo tetap riang
gembira, optimis, dan tak kehilangan rasa humor hingga penyakit kanker itu
lenyap dengan sendirinya. Tak heran, Pak Darmo selalu mengingatkan penderita
kanker untuk tetap tak mengorbankan haknya dalam hal ketenangan jiwa dan
bahagia. "Bagi Tuhan, tak ada sesuatu yang tidak mungkin, asal kita
percaya," katanya seperti tertulis dalam bukunya Menjadi Hidup Lebih
Bermakna.

Kedua, dalam proses penyembuhan, Pak Darmo selalu meletakkan tangannya pada
si sakit (laying on of hands). Dengan cara ini ia menyiapkan diri sebagai
penyalur dari daya penyembuhan Ilahi. Ketiga, dasar kasih tanpa pamrih.
"Dengan dasar ini, saya mengajak pasien berbincang-bincang. Saya memberi
kesempatan kepadanya untuk menceritakan unek-uneknya, kekecewaannya. Sudah
tentu, apa pun yang dikatakan pasien tetap menjadi rahasia," katanya.

Ia juga tidak membeda-bedakan status pasien, yang berpangkat jenderal atau
tukang sapu sekalipun. Pak Darmo akan melayani mereka semua dengan baik.
Saat konseling, Pak Darmo selalu menekankan kepada pasien untuk selalu
merasa dibutuhkan, berarti, bermakna, dan berguna. Bila hal-hal tersebut
tidak terpenuhi, biasanya orang akan merana dan tak mau bertahan hidup.
Menurutnya, permenungan ini adalah ajaran logoterapi yang dipelajarinya dari
buku karya Viktor Frankl.

Kawat Lengkung
Selain ketiga metode itu, ia memberikan air mineral dan minyak zaitun. Air
dimaksudkan untuk meneruskan kekuatan doanya. "Lewat air, saya teruskan doa
permohonan untuk pasien kepada Tuhan. Meneruskan kasih dan kesembuhan. Air
ini dibawa pulang untuk diminum sedikit demi sedikit. Minyak zaitun
dioleskan di tempat yang dirasa sakit oleh si pasien. Minyak zaitun dipilih
karena tidak lengket dan meninggalkan bau di badan," papar Pak Darmo.

Lebih lanjut, dalam mendeteksi penyakit, Pak Darmo menggunakan media kawat
yang telah dilengkungkan, sehingga membentuk huruf U. Bila ada gangguan
penyakit, kawatnya akan tertarik atau menunjuk arah letak penyakit yang
dirasakan pasiennya. Namun, bisa jadi kawatnya tidak menunjukkan titik yang
sakit.

Menurutnya, bisa saja pada pasien migrain, kawatnya malah menunjuk ke daerah
tangan atau punggung. Hal itu berlangsung begitu saja, kala ia melakukan
diagnosis. Namun, dengan mencermati titik-titik yang ditunjuk kawat
tersebut, sejauh ini ia selalu bisa menemukan sumber sakit pasien.

Kegiatan mengobati, kata Pak Darmo, dilakukan tanpa menuntut atau mengharap
balas jasa. Ia merasa tak ada jasanya yang harus dibalas. "Saya tak memberi
jasa apa pun karena orang yang datang pada saya, hakekatnya bukanlah karena
saya, tetapi karena Tuhan Maha Pencipta, yang telah melakukan pekerjaannya
yang penuh kuasa, sehingga menimbulkan kesembuhan. Sesungguhnya, ketika
mengobati, saya telah mendapat by product-nya, yakni kebahagiaan. Saya
merasa bahagia karena diberi kesempatan untuk membantu," paparnya.

Bila ingin berobat padanya, tak usah pusing dengan ongkos. Pak Darmo tak
menolak apa pun pemberian Anda, meski cuma sebutir apel atau sebungkus
gorengan. Karena masih menjalankan usaha roti, katering, dan air mineral, ia
menyisihkan waktu untuk menolong pasien hanya pada hari Senin, Rabu, dan
Jumat.


Sumber: Gaya Hidup Sehat


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke