*
http://www.antara.co.id/arc/2007/7/31/indonesia-potensial-jadi-pemasok-material-nano/


Indonesia Potensial Jadi Pemasok Material Nano

Jakarta (ANTARA News)*- *Indonesia* sangat potensial dan perlu mengambil
peluang menjadi* pemasok material nano di pasar global* berkaitan dengan
dimulainya era revolusi nanoteknologi.

"Sekarang ini dunia sedang mengarah pada revolusi nanoteknologi di mana
dalam periode 2010 sampai 2020 akan tejadi percepatan luar biasa dalam
penerapan nanoteknologi di dunia industri," kata Pakar Nanoteknologi
dari *Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia* (LIPI) Dr Nurul Taufiqu Rochman M Eng di sela
Konferensi Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) di Jakarta, Selasa.

Nurul menyebutkan ada tiga isu penting dalam pengembangan nanomaterial yakni
bagaimana membuat partikel berukuran nano sebagai bahan baku produk nano,
bagaimana mengkarakterisasi partikel nano yang telah dibuat dan bagaimana
menyusun partikel nano menjadi produk akhir yang diinginkan.

Dalam Seminar "Nano Teknologi Penentu Daya Saing Bangsa" itu ia mengatakan,
nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana mengatur material, sruktur dan
fungsi zat pada skala nano (satu nano meter (nm) sama dengan satu meter
dibagi satu milyar -red) sehingga menghasilkan fungsi materi baru yang belum
pernah ada sebelumnya.

Sedangkan nanomaterial merupakan landasan utama dalam rantai pengembangan
produk nano yang kebutuhannya di pasar global meningkat drastis, kata Ketua
Masyarakat Nanoteknologi Indonesia itu.

Dalam pembuatan material nano ada dua proses pendekatan yang perlu dilakukan
Indonesia yaitu top-down di mana material misalnya pasir besi dihaluskan
sedemikian rupa sampai menjadi seukuran nano meter (sebagai perbandingan,
besar atom sama dengan 1 nm -red).

Partikel baru yang sangat halus itu akan mempunyai sifat-sifat dan performan
yang jauh lebih baik dan berbeda dengan material aslinya, misalnya teknik
pembuatan peralatan elektronik dari semikonduktor silikon yang dibentuk
sesuai pola tertentu.

"Dengan pendekatan ini misalnya dapat dibuat IC berukuran 1 cm2 berisikan
bermilyar-milyar transistor untuk komponen hardisk berkapasitas penyimpanan
terabyte, atau nano baja berstruktur sangat halus mencapai puluhan nm dengan
kekuatan dan umur dua kali lipat," kata Nurul.

Berhubung Indonesia sangat kaya dengan berbagai material, teknologi
penghalusan materi menjadi seukuran nano ini harus dikuasai, ia mencontohkan
pasir besi yang harganya hanya Rp250 per kg akan melonjak menjadi Rp1 juta
per kg jika dijual dalam ukuran nano.

"Harganya jadi 4.000 kali lipat. Itulah mengapa teknologi dan industri
pembuatan material nano ini harus dikuasai karena memiliki nilai tambah
sangat besar. Indonesia harus menjadi salah satu pemasok terbesar material
nano di pasar global," katanya.

Teknologi ini, ujarnya, saat ini sedang dikembangkan di LIPI, dengan
menggunakan sumber-sumber mineral pasir besi yang diseparasi menjadi silika
dan alumina yang ketika di-nano-kan dapat diaplikasikan menjadi beton
berkekuatan tinggi, menjadi bahan sensor, membran dan lain-lain, sementara
yang telah dipurifikasi menghasilkan oksida besi untuk toner printer.

Pendekatan kedua yang juga harus dikuasai adalah bottom-up yakni dengan
menyusun atom demi atom atau molekul menjadi bahan yang memenuhi suatu
fungsi tertentu yang diinginkan seperti misalnya menyusun atom grafit
menjadi intan, ujarnya.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke