http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0709/05/083837.htm


*Antibiotik untuk Anak Bisa Jadi Bumerang*

Setiap orangtua pastilah khawatir manakala si kecil rewel karena flu dan
pilek, apalagi ditambah demam tinggi. Karenanya tak sedikit orangtua yang
meminta diresepkan antibiotik yang dipercaya sebagai "obat sakti" karena
mampu menghilangkan penyakit dengan cepat. Padahal pemakaian antibiotik yang
tidak sesuai indikasi bisa menjadi bumerang.

Penggunaan antibiotik yang irasional tidak hanya mengganggu fungsi organ
tubuh, apalagi sistem tubuh dan fungsi organ bayi dan anak-anak masih belum
sempurna, tetapi juga akan membunuh kuman baik yang berguna bagi tubuh.
Selain itu kuman-kuman yang belum terbunuh akan bermutasi dan berubah
menjadi kuman yang resisten (kebal) terhadap antibiotik.

"Meski berukuran mikro, kuman adalah mahluk yang sangat pintar. Jika tubuh
kita sudah sering terpapar antibiotik, lama-lama kuman akan mengenali dan
menjadi kebal," papar dr.Latre Buntaran, Sp.MK, spesialis mikrobiologi
klinik dari RS Jantung Harapan Kita. Kuman-kuman yang resisten tadi biasa
disebut sebagai superbugs.

Menurut Latre antibiotik sering diterjemahkan salah, yakni untuk membunuh
semua yang hidup. Padahal penggunaan antibiotik hanya disarankan untuk
infeksi yang disebabkan oleh bakteri. "Kalau penyebabnya virus ya diberi
antivirus, kalau bakteri diberi antibiotik, kalau tidak ada bukti infeksi
pemberian antibiotik justru akan menimbulkan alergi bahkan kematian," kata
dokter yang juga menjadi Wakil Ketua Pengendalian Infeksi (Indonesia Society
of Infection Control) wilayah Jakarta ini.

Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak penyebabnya adalah virus.
Penyakit yang disebabkan oleh virus termasuk dalam penyakit yang sembuh
sendiri dalam waktu 5-7 hari tergantung sistem imun tubuh. Infeksi yang
disebabkan oleh virus antara lain diare, batuk, pilek, dan panas. Jika
dokter tetap memberikan antibiotik dengan alasan untuk meningkatkan
kekebalan tubuh, para orangtua harus bersikap kritis dengan bertanya kepada
dokter apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik.

"Dokter harus lebih jeli dalam mendiagnosis penyebab penyakit, apakah karena
bakteri atau virus," saran Latre. Menurut dia, infeksi yang disebabkan oleh
virus biasanya demamnya mendadak naik dan mendadak turun, sedangkan infeksi
akibat bakteri biasanya memiliki ciri panas yang tidak turun dalam jangka
waktu beberapa hari. "Anak yang menderita batuk pilek disertai demam
sebaiknya cukup diberi obat penurun panas, jika dua hari tidak turun baru
dipertimbangkan untuk memberikan antibiotik," tambahnya.

Sementara itu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri di antaranya
infeksi telinga, sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi
streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, TBC, radang otak (meningitis),
dan radang paru (pneumonia). Jika anak memang memerlukan antibiotik karena
terkena infeksi bakteri, Latre menyarankan agar orangtua meminta dokter
meresepkan antibiotik yang memiliki spektrum sempit, yakni yang hanya
bekerja pada satu jenis bakteri yang dituju.

Lebih lanjut Latre menjelaskan bahwa pemberian antibiotik sebaiknya
dievaluasi setiap tiga hari sekali. "Jika dalam 2-3 hari tidak ada
perbaikan, sebaiknya jenis antibiotiknya diganti," jelasnya. Menurutnya ada
tiga faktor yang menyebabkan antibiotik tidak efektif, yakni karena obatnya
salah, kumannya sudah resisten, atau pasien yang tidak patuh meminum
antibiotik sesuai dosis anjuran.

Untuk anak-anak, dosis antibiotik yang tepat tergantung pada berat badan dan
pertimbangan apakah fungsi organ tubuhnya sudah berkembang sempurna. "Jangan
takut memberikan antibiotik pada anak, asalkan dosisnya sesuai dan indikasi
penyakitnya jelas," kata Latre.

Selain itu Latre juga mengingatkan para orangtua agar tidak membeli sendiri
antibiotik yang dijual bebas tanpa pertimbangan dokter. Beberapa keadaan
yang perlu dicermati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan
saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, hingga pembengkakan bibir atau
mata dan gangguan napas. "Ada antibiotik jenis tertentu yang bisa merusak
gigi dan menghambat pertumbuhan tulang pada anak," demikian Latre.

Penulis: An


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke