--- In [email protected], "A. Marconi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>> 
> Hemat saya kita belum keluar dari jalur thread. "Sudahkah ini 
terjadi sejak republik ini berdiri?" adalah suatu note yang kurang 
relevan. Masalahnya adalah diskrepansi antara teori dan praktek yang 
merupakan lahan usaha dan kreativitas manusia. Hal ini tidak mungkin 
kita tandai dengan yang kita sebut "waktu". Alasannya adalah hingga 
kini kita sebagai manusia masih belum mampu mendefinisikan arti kata 
yang biasa kita "fahami" sebagai HIDUP. Bacalah semua buku biologi 
dan filosofi dan temukan definisi "hidup" yang tepat dan final. Yang 
sudah ada dan akan terus masih meng"ada" adalah pendekatan secara 
tambal-sulam. Sehingga "kapan mulai adanya hidup pada yang hidup?" 
masih menjadi perdebatan akademik. Dengan demikian "waktu" bukan 
sesuatu yang mutlak harus ada. *****
> 


*** Ini lho contoh dilapangan. Antara ibadah (sholat, doa, meditasi) 
dan perilaku manusia yang manusiawi terdapat jurang yang menganga. 
Kita baca kisah ini. Yang mati orang Muslim, yang membunuh warga 
sebuah negara Muslim yang tanahnya disucikan umat Muslim. Mampukah 
sholat menghindari kekejian? Artikel ini menjawab pertanyaan itu...


Pekerja Tewas di Luar Negeri Asal Ngawi Bertambah
Kamis, 06 September 2007 | 20:58 WIB 

TEMPO Interaktif, Ngawi: Setelah tiga pekerja asal Ngawi, Jawa Timur 
tewas di luar negeri, kini seorang pembantu rumah tangga bernama 
Suparmi dari Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Ngawi tewas di Arab 
Saudi. 

Keluarga menerima kabar tewasnya perempuan 45 tahun itu melalui 
telepon dari Kantor Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi 
pada Kamis (6/9). "Kami kaget
mendengar Suparmi tewas karena serangan jantung," kata paman korban, 
Mujiono.

Mujiono tidak percaya Suparmi yang meninggal pada Ahad (2/9) itu 
karena serangan jantung. Sejak kecil, almarhum tidak mempunyai 
riwayat jantung. "Sakit paling parah hanya bengkak pada kaki," 
ujarnya. Ia meminta agar jenazah korban segera dikirim pulang dan 
hak-hak korban diberikan sebagaimana mestinya.

Ketidakpercayaan keluarga diperkuat pernyataan korban yang 
menerangkan jika majikannya cerewet. "Ia juga minta bantuan keluarga 
agar dicarikan majikan lainnya," ujarnya.

Korban diberangkatkan ke Arab Saudi melalui PT.Amri Margatama pada 
Maret 2007. Sebelumnya korban juga pernah bekerja di Arab Saudi dan 
Kuwait pada 1996. Dia kembali bekerja di luar negeri setelah 
suaminya tergelatak karena serangan diabetes sejak tiga tahun lalu. 
DINI MAWUNTYAS

--------------

PS: kebetulan eyang saya memiliki puluhan hektar sawah dan kebun 
tebu di sekitar Ngawi, yang sering saya kunjungi sebagai anak anak. 
Ikatan emosional dengan tanah ini..






Kirim email ke