http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=303862
*Berpuasa demi Kesalehan Instan* Oleh Abd A'la Seperti tahun-tahun sebelumnya, puasa tahun ini menampakkan kesemarakan dan kegairahan keberagamaan umat Islam Indonesia. Mereka (umat muslim) tampak "berlomba-lomba" melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang dapat memberi nilai tambah bagi keberpuasaan mereka. Secara simbolis, geliat keberagamaan menguat di mana-mana. Masjid dan musala ramai dikunjungi para jamaah, alunan Alquran terdengar di ujung-ujung kampung, dan orang-orang berduit ramai-ramai melakukan umrah ke Makkah untuk menghabiskan Ramadan di sana. Ritualitas itu nanti dilanjutkan dengan aktivitas para muzaki yang nyaris dipastikan akan menaburkan karitas zakatnya ke badan-badan amil zakat dan selanjutnya dibagikan kepada mereka yang berhak. Namun sejauh ini, berdasar fenomena-fenomena yang berkembang pada puasa-puasa yang lalu, rutinitas ibadah formal tersebut masih perlu diragukan signifikansi dampaknya terhadap penguatan moralitas individual dan sosial. Buktinya, sebagian (besar) umat, termasuk elite yang umumnya muslim, dan juga tokoh-tokoh agamanya belum memiliki kepekaan memadai untuk menyikapi persoalan bangsa, negara, dan masyarakat. Padahal, hal ini sejatinya merupakan bagian intrinsik dari nilai-nilai puasa yang harus dibumikan dalam realitas kehidupan. Nilai-nilai puasa substantif yang bersifat moral, tampaknya, belum terinternalisasi dalam sikap dan perilaku umat serta tidak berlabuh kukuh dalam kehidupan sosial. Kalaupun terangkat ke ruang publik, nilai-nilai itu tak lebih dari sebatas retorika para penceramah yang hanya bergaung di masjid, musala, dan sejenisnya. Selebihnya, hal itu memudar dalam arus pragmatisme, dari menguatnya kepentingan subjektif pribadi dan kelompok hingga hiruk pikuknya pola hidup konsumtif di supermall, hypermarket, dan sejenisnya. Sisa yang lain terjebak pada formalisme yang kering dari nilai-nilai moral keagamaan universal. Lebih dari itu, selepas bulan Ramadan, dialog intens dengan Tuhan pun ditinggalkan. Kehidupan lalu kembali seperti sedia kala, degradasi moral menyebar di mana-mana. Puasa kemudian tak lebih dari sekadar tradisi rutin yang nyaris tidak memiliki makna signifikan bagi kemaslahatan bangsa ke depan. *** Kurang membekasnya puasa dalam kehidupan konkret umat secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum berpulang, salah satunya, kepada paradigma keberagamaan mereka. Mereka menyikapi dan melaksanakan ajaran agama sekadar sebagai upaya perolehan reward, memperoleh kenikmatan eskatologis. Paradigma itu membuat umat Islam terbuai dengan sekadar mimpi-mimpi indah transendental yang sering terlepas dari imanensi kehidupan nyata yang dialami mereka. Dalam kondisi ini, mereka bersegera untuk meraih kebahagiaan surgawi melalui loncatan logika dan pengabaian proses yang dikemas dalam bingkai "kesalehan instan", berupa ritual formal dari menahan diri untuk tidak makan-minum dan sejenisnya di siang hari, beribadah sepanjang malam, hingga membaca Alquran sesering-seringnya dan sebanyak-banyaknya. Tentu tidak ada yang salah dengan menahan diri, qiyamul layl (salat malam), dan memperbanyak baca Alquran. Namun persoalannya, mereka dalam melaksanakan semua itu sering terperangkap dalam loncatan logika. Mereka melakukan hal itu sekadar sebagai alat untuk pencapaian tujuan, bukan sebagai bagian intrinsik dan sebagai dasar untuk mengasah kecerdasan spiritual yang seutuhnya nyaris bersifat moral. Dengan loncotan logika itu, mereka meyakini bahwa dengan menjalankan ritual formal puasa dan ibadah formal lain yang berkaitan, mereka akan memperoleh janji-janji Tuhan. Mereka lupa, janji eskatologis Tuhan sejatinya bukan tujuan pencapaian, melainkan lebih merupakan implikasi logis dari serangkai proses yang dasarnya dimulai dari puasa. Puasa tak lebih dari sekadar dasar pijakan yang harus terus dikembangkan melalui proses panjang yang harus dilalui setiap umat Islam. Akibatnya, puasa nyaris tidak membwa perubahan apa pun dalam kehidupan ini. Pada sisi ini, rekonstruksi paradigmatis keberagamaan perlu dilakukan. *** Melalui puasa, umat muslim senyatanya dituntut untuk menjadikannya momen meta historis yang dapat mengantarkan mereka kepada dialog intens dengan Sang Pencipta. Kondisi ini menuntut mereka melakukan penelanjangan diri mengenai kebobrokan perilaku, kelemahan diri, dan sebagainya, yang kemudian diiringi dengan tekad untuk melakukan perbaikan diri secara berkesinambungan. Niat tulus itu yang kemudian mengharuskan mereka untuk membumikannya dalam hidup keseharian mereka, baik di ruang privat, apalagi di ranah publik, sepanjang kehidupan mereka. Bulan puasa atau bukan, mereka dimotivasi untuk selalu mewujudkan nilai moralitas perenial. Ramadan hanya sebulan, tetapi puasa -dalam pengertian pengendalian dari dari segala hal yang buruk- adalah sepanjang hidup. Kemampuan mengimplementasikan hal ini -yang dalam Islam disebut takwa- akan berimplikasi kepada pemenuhan janji Tuhan. Melalui proses panjang ini, yang muncul dari logika yang runtun dan lurus, mereka akan menikmati janji eskatologis bukan hanya yang bersifat transendental nanti, tapi sekaligus dalam imenensi kehidupan saat ini. Sebuah kehidupan yang lebih baik, bukan hanya bagi umat Islam Indonesia, tapi juga bagi bangsa dan umat manusia, akan hadir dalam realitas saat ini ke depan. Dr Abd A'la, komisioner pada Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan di Jakarta. Juga staf pengajar pada program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya [Non-text portions of this message have been removed]

