Salut pak Abd A'la. Kalimat berikut: 

"Bulan puasa atau bukan, mereka dimotivasi untuk selalu mewujudkan 
nilai moralitas perenial. Ramadan hanya sebulan, tetapi puasa -dalam 
pengertian pengendalian dari dari segala hal yang buruk- adalah 
sepanjang hidup.   Kemampuan mengimplementasikan hal ini -yang dalam 
Islam disebut takwaakan berimplikasi kepada pemenuhan janji Tuhan" 

menunjukkan makna yang sangat dalam.

Jalan pintas langsung ke surga, dengan segala rewardnya, membuat 
umat beragama didunia ini, selain meningkatkan kesalehan yang di 
expose, tak menunjukkan peningkatan kualitas kehidupan 
bermasyarakat. 62 tahun setelah merdeka, tetaplah bangsa yang agamis 
ini ter-seok seok. Solidaritas dan kerukunan bermasyarakat, ketaatan 
pada tatanan moral publik, ketaatan hukum, disiplin tinggi dalam 
bekerja dan menjauhkan diri dari korupsi dan perilaku mengungtungkan 
diri sendiri (lihat Sidoardjo), boleh dikata = 0.

Salam

Danardono




--- In [email protected], "Sandy Dwiyono" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=303862
> 
> 
> *Berpuasa demi Kesalehan Instan*
> 
> Oleh Abd A'la
> 
> Seperti tahun-tahun sebelumnya, puasa tahun ini menampakkan 
kesemarakan dan
> kegairahan keberagamaan umat Islam Indonesia. Mereka (umat muslim) 
tampak
> "berlomba-lomba" melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain 
yang dapat
> memberi nilai tambah bagi keberpuasaan mereka.
> 
> Secara simbolis, geliat keberagamaan menguat di mana-mana. Masjid 
dan musala
> ramai dikunjungi para jamaah, alunan Alquran terdengar di ujung-
ujung
> kampung, dan orang-orang berduit ramai-ramai melakukan umrah ke 
Makkah untuk
> menghabiskan Ramadan di sana.
> 
> Ritualitas itu nanti dilanjutkan dengan aktivitas para muzaki yang 
nyaris
> dipastikan akan menaburkan karitas zakatnya ke badan-badan amil 
zakat dan
> selanjutnya dibagikan kepada mereka yang berhak.
> 
> Namun sejauh ini, berdasar fenomena-fenomena yang berkembang pada
> puasa-puasa yang lalu, rutinitas ibadah formal tersebut masih perlu
> diragukan signifikansi dampaknya terhadap penguatan moralitas 
individual dan
> sosial.
> 
> Buktinya, sebagian (besar) umat, termasuk elite yang umumnya 
muslim, dan
> juga tokoh-tokoh agamanya belum memiliki kepekaan memadai untuk 
menyikapi
> persoalan bangsa, negara, dan masyarakat. Padahal, hal ini 
sejatinya
> merupakan bagian intrinsik dari nilai-nilai puasa yang harus 
dibumikan dalam
> realitas kehidupan.
> 
> Nilai-nilai puasa substantif yang bersifat moral, tampaknya, belum
> terinternalisasi dalam sikap dan perilaku umat serta tidak 
berlabuh kukuh
> dalam kehidupan sosial. Kalaupun terangkat ke ruang publik, nilai-
nilai itu
> tak lebih dari sebatas retorika para penceramah yang hanya 
bergaung di
> masjid, musala, dan sejenisnya.
> 
> Selebihnya, hal itu memudar dalam arus pragmatisme, dari menguatnya
> kepentingan subjektif pribadi dan kelompok hingga hiruk pikuknya 
pola hidup
> konsumtif di supermall, hypermarket, dan sejenisnya. Sisa yang 
lain terjebak
> pada formalisme yang kering dari nilai-nilai moral keagamaan 
universal.
> 
> Lebih dari itu, selepas bulan Ramadan, dialog intens dengan Tuhan 
pun
> ditinggalkan. Kehidupan lalu kembali seperti sedia kala, degradasi 
moral
> menyebar di mana-mana. Puasa kemudian tak lebih dari sekadar 
tradisi rutin
> yang nyaris tidak memiliki makna signifikan bagi kemaslahatan 
bangsa ke
> depan.
> 
> ***
> 
> Kurang membekasnya puasa dalam kehidupan konkret umat secara 
khusus dan
> bangsa Indonesia secara umum berpulang, salah satunya, kepada 
paradigma
> keberagamaan mereka. Mereka menyikapi dan melaksanakan ajaran 
agama sekadar
> sebagai upaya perolehan reward, memperoleh kenikmatan eskatologis.
> 
> Paradigma itu membuat umat Islam terbuai dengan sekadar mimpi-
mimpi indah
> transendental yang sering terlepas dari imanensi kehidupan nyata 
yang
> dialami mereka.
> 
> Dalam kondisi ini, mereka bersegera untuk meraih kebahagiaan 
surgawi melalui
> loncatan logika dan pengabaian proses yang dikemas dalam 
bingkai "kesalehan
> instan", berupa ritual formal dari menahan diri untuk tidak makan-
minum dan
> sejenisnya di siang hari, beribadah sepanjang malam, hingga 
membaca Alquran
> sesering-seringnya dan sebanyak-banyaknya.
> 
> Tentu tidak ada yang salah dengan menahan diri, qiyamul layl 
(salat malam),
> dan memperbanyak baca Alquran. Namun persoalannya, mereka dalam 
melaksanakan
> semua itu sering terperangkap dalam loncatan logika. Mereka 
melakukan hal
> itu sekadar sebagai alat untuk pencapaian tujuan, bukan sebagai 
bagian
> intrinsik dan sebagai dasar untuk mengasah kecerdasan spiritual 
yang
> seutuhnya nyaris bersifat moral.
> 
> Dengan loncotan logika itu, mereka meyakini bahwa dengan 
menjalankan ritual
> formal puasa dan ibadah formal lain yang berkaitan, mereka akan 
memperoleh
> janji-janji Tuhan. Mereka lupa, janji eskatologis Tuhan sejatinya 
bukan
> tujuan pencapaian, melainkan lebih merupakan implikasi logis dari 
serangkai
> proses yang dasarnya dimulai dari puasa. Puasa tak lebih dari 
sekadar dasar
> pijakan yang harus terus dikembangkan melalui proses panjang yang 
harus
> dilalui setiap umat Islam.
> 
> Akibatnya, puasa nyaris tidak membwa perubahan apa pun dalam 
kehidupan ini.
> Pada sisi ini, rekonstruksi paradigmatis keberagamaan perlu 
dilakukan.
> 
> ***
> 
> Melalui puasa, umat muslim senyatanya dituntut untuk menjadikannya 
momen
> meta historis yang dapat mengantarkan mereka kepada dialog intens 
dengan
> Sang Pencipta. Kondisi ini menuntut mereka melakukan penelanjangan 
diri
> mengenai kebobrokan perilaku, kelemahan diri, dan sebagainya, yang 
kemudian
> diiringi dengan tekad untuk melakukan perbaikan diri secara
> berkesinambungan.
> 
> Niat tulus itu yang kemudian mengharuskan mereka untuk 
membumikannya dalam
> hidup keseharian mereka, baik di ruang privat, apalagi di ranah 
publik,
> sepanjang kehidupan mereka.
> 
> Bulan puasa atau bukan, mereka dimotivasi untuk selalu mewujudkan 
nilai
> moralitas perenial. Ramadan hanya sebulan, tetapi puasa -dalam 
pengertian
> pengendalian dari dari segala hal yang buruk- adalah sepanjang 
hidup.
> Kemampuan mengimplementasikan hal ini -yang dalam Islam disebut 
takwa- akan
> berimplikasi kepada pemenuhan janji Tuhan.
> 
> Melalui proses panjang ini, yang muncul dari logika yang runtun 
dan lurus,
> mereka akan menikmati janji eskatologis bukan hanya yang bersifat
> transendental nanti, tapi sekaligus dalam imenensi kehidupan saat 
ini.
> Sebuah kehidupan yang lebih baik, bukan hanya bagi umat Islam 
Indonesia,
> tapi juga bagi bangsa dan umat manusia, akan hadir dalam realitas 
saat ini
> ke depan.
> 
> 
> Dr Abd A'la, komisioner pada Komisi Nasional Anti-Kekerasan 
terhadap
> Perempuan di Jakarta. Juga staf pengajar pada program Pascasarjana 
IAIN
> Sunan Ampel Surabaya
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke