Apakah tajuk Kompas ini menunjukkan "nasionalisme",
atau justru sekadar selubung dari rasa "ewuh pakewuh"
yang sudah begitu berurat berakar terhadap Bapak
Pembangunan Soeharto?

Betul, secara hukum (legal), memang suatu tuduhan
harus ada buktinya. Tetapi, faktanya sekarang, sesudah
sekian tahun Soeharto tak lagi jadi Presiden, apakah
hukum Indonesia memang sanggup menyentuh selembar saja
rambut Soeharto? Saya pikir, Kompas terlalu "naif"
(atau berlagak lugu).

Entahlah.....

>  KOMPAS
> 
> 
> *Sabtu, 22 September 2007*
> 
> * *
> 
> TAJUK RENCANA
> 
> *Harga Diri Bangsa*
> 
> Bank Dunia mengeluarkan daftar nama mantan pemimpin
> negara yang dianggap
> melakukan korupsi besar ketika memegang kekuasaan.
> Salah satunya Soeharto.
> 
> Mantan presiden kedua Indonesia itu bahkan berada
> pada peringkat pertama.
> Soeharto diduga melakukan korupsi sebesar 15
> miliar-35 miliar dollar AS.
> 
> Terhadap laporan tersebut, Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono berencana
> menemui Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick saat
> menghadiri Sidang Umum
> PBB di New York pekan depan.
> 
> Tuduhan bahwa Soeharto melakukan korupsi sudah
> muncul sejak ia masih
> berkuasa. Kedekatannya dengan kalangan pengusaha dan
> hak istimewa yang
> diberikan kepada putra-putrinya memperkuat kesan,
> Soeharto mendapat
> keuntungan untuk memperkaya diri sendiri.
> 
> Terhadap tuduhan itu sudah dilakukan langkah hukum.
> Bahkan pada masa
> pemerintahan BJ Habibie dibentuk tim khusus untuk
> melacak harta Soeharto
> yang diduga disimpan di luar negeri. Hasilnya
> ternyata nihil. Harta Soeharto
> itu tidak pernah ditemukan. Mantan presiden itu
> sendiri tetap tinggal di
> kediaman lama, di Jalan Cendana, yang semakin redup
> pamornya.
> 
> Hanya saja, kesan Soeharto yang korup dan
> bergelimang harta telanjur lekat
> dalam pemahaman kita. Karena kita tinggal di negara
> hukum, tidak mungkin
> kita menghukum seseorang atas dasar kesan atau
> persepsi.
> 
> Inilah yang kita harapkan dari laporan Bank Dunia.
> Bahwa itu bukan hanya
> sekadar kompilasi dari laporan media. Bank Dunia
> melengkapi dengan data yang
> kuat akan adanya tindak korupsi tersebut sehingga
> bisa ditindaklanjuti
> dengan langkah hukum formal.
> 
> Reputasi besar Bank Dunia ikut dipertaruhkan dengan
> laporan tersebut. Orang
> akan mencibir kalau itu hanya sekadar dugaan tanpa
> fakta. Bahkan
> bangsa-bangsa yang pemimpinnya dituduh melakukan
> korupsi akan terusik
> martabatnya apabila tuduhan itu tidak bisa
> dibuktikan.
> 
> Memang martabat bangsa ini sering dipertanyakan.
> Terlalu sering kita
> membiarkan anak-anak bangsanya diperlakukan tidak
> adil oleh bangsa lain
> tanpa kita berbuat apa-apa. Bukan kita harus menjadi
> bangsa pemarah dan lalu
> harus mengangkat senjata ketika ada ketidakadilan
> yang dialami anak bangsa,
> tetapi sepantasnya apabila kita menunjukkan harga
> diri kita sebagai bangsa
> yang tidak sepantasnya untuk diinjak-injak.
> 
> Bangsa Amerika dan bangsa Australia juga selalu
> melakukan hal seperti itu.
> Ketika ada warga Amerika yang dihukum mati karena
> kasus narkoba di Singapura
> atau warga Australia yang menjalani hukuman di
> Indonesia karena kasus yang
> sama, pemerintah dan bangsa itu bangkit untuk
> membela dulu warganya. Bahwa
> kemudian orang itu harus dihukum, mereka berharap
> bangsanya sendirilah yang
> berhak menghukumnya.
> Begitulah juga seharusnya kita. Bukan berarti kita
> harus membela Soeharto,
> tetapi janganlah masalah bangsa ini menjadi isu
> internasional. Mari kita
> selesaikan masalah Soeharto dan juga pemimpin
> lainnya oleh kita sendiri.
> Sejelek-jelek pemimpin kita, ia bagian dari sejarah
> bangsa ini. Jangan
> biarkan sejarah kita penuh dengan hal buruk sampai
> kita lalu kehilangan
> martabat.***
> 
> 
> Miris juga membaca Tajuk Kompas. Apakah ini yang
> dinamakan nasionalisme
> sempit?
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Tonight's top picks. What will you watch tonight? Preview the hottest shows on 
Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/ 

Kirim email ke