http://www.kompas.com/



*Bebas Sakit dengan Bius Cabai*


Metode anestesi memasuki babak baru. Para ahli telah berhasil menemukan cara
terbaru untuk meminimalkan rasa sakit saat operasi dengan menggunakan
senyawa kimia yang terdapat dalam cabai.

Capsaicin, inilah nama senyawa kimia yang memberikan rasa "hot" pada cabai.
Beberapa tahun terakhir ini capsaisin tersebut begitu gencar diteliti oleh
para peneliti dari Massachusetts General Hospital, AS, karena potensinya
sebagai obat bius yang hanya bekerja di target spesifik, yakni sel saraf
yang bertugas menerima dan mengirim rasa sakit.

Selama ini dunia kedokteran banyak memakai senyawa haloetana, asetoan, atau
eter, sebagai anestesi yang efektif karena mudah menguap dan larut dengan
baik di dalam lemak. Namun kekurangan senyawa tersebut adalah mematikan
seluruh sel saraf, sehingga setelah operasi pasien biasanya mengalami mati
rasa untuk sementara. Misalnya saja pasien cabut gigi akan merasakan otot di
bagian mulutnya lumpuh dan mati rasa sementara setelah dibius.

Nah, dengan anetesi terbaru ini hal tersebut tak akan terjadi. Senyawa
capsaicin hanya memblok saraf target tanpa menutup pengiriman sinyal dari
saraf yang yang bertanggung jawab dalam hal pergerakan otot atau saraf
perasa. Ujicoba yang dilakukan para ahli terhadap tikus percobaan
membuktikan hal tersebut dan diyakini akan memberikan hasil yang sama pada
manusia.

"Saraf-saraf perasa sakit pada manusia dan tikus memiliki kemiripan,
sehingga strateginya hampir sama. Dalam dua atau tiga tahun lagi kami
optimis bius ini bisa dicoba pada manusia, " kata Bruce Bean, salah seorang
tim peneliti dari Harvard Medical School. seperti dikutip reuters health.
Para ahli juga menambahkan kelak anestesi ini akan sangat berguna dalam
penanganan operasi gigi, lutut, operasi persalinan, dan masih banyak lagi.

Dunia kedokteran baru mengenal obat bius pada tahun 1846 yang pertama kali
diperkenalkan oleh dokter William Morton di Amerika Serikat. Ia dengan
demonstratif menunjukkan cabut gigi bebas rasa sakit di depan umum,
menggunakan zat kimia oksida nitrogen. Setelah itu berbagai senyawa terus
dikembangkan untuk mencari anestesi yang paling efektif.

Agar anestesi bekerja, senyawa anestesi akan dibawa dalam darah ke saraf di
otak kita. Akibatnya, sel-sel saraf akan berhenti menerima dan mengirim
sinyal. Karena saraf tidak menerima sinyal, kita tidak merasa sakit.
Demikian juga karena berhenti mengirim sinyal, maka pasien operasi akan
"anteng dan pasrah" ketika dokter mulai bekerja dengan pisau bedahnya.

Penulis: An


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke