*Penelitian asal mula Tata Surya*

Asal mula Tata Surya sejak lama menjadi topik penelitian para ahli astronomi
dan astro-fisika.

Dengan misi luar angkasa terbaru dari badan antariksa AS-NASA yang disebut
Dawn atau terjemahan bebasnya misi fajar, hendak diteliti bagaimana formasi
benda langit di Tata Surya pada awal pembentukannya, sekitar 4,5 milyar
tahun yang lalu. Penelitian terutama diarahkan pada dua asteroid cukup besar
Vesta dan Ceres, yang berada di sabuk asteroid Kuyper yang membentang
diantara Yupiter dan Mars. Hendak diteliti komposisi asteroid bersangkutan
dan mengapa asteroid semacam itu tidak memiliki energi yang cukup, untuk
membentuk diri menjadi planet yang sebenarnya.

Banyak benda langit yang berada di sabuk asteroid antara planet Yupiter dan
planet Mars, diyakini merupakan materi awal pembentuk planet. Penyebabnya,
asteroid di kawasan itu relatif tidak banyak mengalami perubahan dari
kondisi saat terbentuknya Tata Surya. Ibaratnya waktu fajar dari munculnya
Tata Surya dan rangkaian planetnya masih dipertahankan di kawasan langit
tsb. Karena itu, penelitian asteroid cukup besar, seperti Vesta dan Ceres di
kawasan sabuk asteroid tsb diharapkan mampu membuka rahasia asal mula
kondisi Tata Surya.

Demikian diungkapkan Chris Russel dari Universitas California yang memimpin
para ilmuwan dalam misi Dawn tsb. Russel mengatakan :

"Di kawasan ini terdapat benda langit dari masa awal pembentukan sistem Tata
Surya. Banyak benda langit di sana yang relatif tidak mengalami gangguan.
Beberapa diantaranya berukuran cukup besar. Sekarang kita memiliki
kesempatan dengan misi Dawn mengunjungi sejumlah benda langit tsb, untuk
belajar lebih banyak mengenai zaman awal dari sistem Tata Surya."

Asteroid misterius

Vesta dan Ceres dipilih sebagai target wahana penelitian tidak berawak Dawn,
sebab kedua asteroid itu memiliki karakteristik yang bertolak belakang.
Namun keduanya diyakini merupakan relik dari saat awal terbentuknya tata
Surya dan planet di sekitarnya. Diharapkan pada tahun akhir 2011 mendatang,
Dawn sudah mencapai asteroid Vesta. Setengah tahun lamanya, Dawn akan
mengorbit di asteroid tsb. Vesta diduga asteroid yang kering dan sudah
mengalami perubahan serta perkembangan, ditandai dengan kenampakan permukaan
yang berbeda-beda. Mulai dari struktur batuan basalt yang berasal dari lava
yang mengalir, hingga kawah yang cukup dalam di dekat kutub selatannya.

Setelah meneliti Vesta, Dawn akan melanjutkan missinya ke asteroid Ceres.
Diharapkan awal tahun 2015 wahana penelitian tidak berawak itu sudah tiba di
asteroid yang kebalikannya dari Vesta, memiliki permukaan yang masih
primitiv. Para ahli menduga Ceres mengandung air dan memiliki selubung es di
kawasan kutubnya.

Dawn merupakan wahana penelitian tidak berawak pertama yang diluncurkan dari
Bumi dengan sasaran meneliti dua asteroid sekaligus. Dengan peralatan yang
dibawanya akan diteliti sifat dan komposisi kedua asteroid tsb. Dan dengan
demikian, data yang dikumpulkan dari Vesta serta Ceres dapat langsung
dibandingkan. Instrumen penelitian terpenting adalah dua jenis kamera di
dalam wahana penelitian, yakni kamera konvesional yang akan merekam gambaran
real permukaannya, serta kamera infra merah, untuk meneliti kandungan
mineral di permukaan asteroid. Dengan spektrometer sinar gamma dan neutron,
juga diteliti elemen di bawah permukaan kedua asteroid tsb.

Pengaruh Gravitasi

Dawn juga akan melakukan pengukuran medan gravitasi, yang mencerminkan
komposisi inti asteroid. Dengan mengumpulkan data di permukaan maupun inti
kedua asteroid itu, para peneliti hendak membuat asumsi mengenai faktor
penentu pembentukan planet. Hendak diketahui, bagaimana peranan ukuran
asteroid dalam pembentukan planet di tata surya?  Apakah keberadaan air juga
mempengaruhi proses pembentukan planet?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan itu, misi penelitian wahana tidak berawak
Dawn menjadi amat penting. Yang juga mendesak adalah peluncurannya harus
tepat, yakni tahun ini. Jika tidak sasaran penelitian dua asteroid sekaligus
akan sulit diwujudkan.

Penyebabnya diungkapkan pimpinan ilmiah misi Dawn, Chris Russel :

 "Vesta dan Ceres memiliki orbit yang berbeda. Karena itu Vesta memerlukan
waktu 17 tahun untuk mengorbit sejajar Ceres. Jadi posisi yang relativ ideal
untuk terbang dari satu asteroid ke yang lainnya, hanya terjadi 17 tahun
sekali. Tapi saya cukup beruntung, karena berada pada posisi yang tepat dan
dapat mengajukan proposalnya."

Idealnya peluncuran Dawn harus dilakukan sebelum tanggal 15 Oktober tahun
ini. Jika tidak, dikhawatirkan bahan bakar di wahana penelitian itu tidak
akan mencukupi untuk menempuh jarak lebih dari lima milyar kilometer di luar
angkasa.

Data yang dapat dikumpulkan dari Vesta dan Ceres amat berguna, untuk membuat
analisis awal mula pembentukan Tata Surya. Jejaknya di Bumi sudah lama
terhapus. Aktivitas di planet Biru ini, berupa angin, iklim, letusan gunung
berapi maupun pergerakan lempeng tektonik, telah menghilangkan hampir
seluruh jejak dari masa kelahirannya.

Pimpinan ilmuwan misi Dawn, Chris Russel juga mengungkapkan, asteroid Vesta
tergolong misterius dan amat menarik perhatian. Pengamatan selama ini
menunjukan adanya bekas aliran lava, yang menunjukkan adanya aktivitas
magmatis. Diduga intinya juga mengandung elemen berat seperti besi. Berbagai
fenomena itu membutuhkan panas, yang biasanya diproduksi oleh gaya gravitasi
pembentuk asteroid. Tapi ukuran Vesta relatif terlalu kecil untuk
menciptakan panas. Dugaan para ahli, bersamaan dengan saat Tata Surya
terbentuk, juga terjadi dua ledakan Supernova, yang juga memancarkan radiasi
unsur besi 60 ke permukaan Vesta.

Ceres juga amat menarik, karena asteroid ini diduga mengandung air.
Pengamatan selama ini menyimpulkan, di bawah lapisan es yang menyelimuti
permukaanya, terdapat air dalam bentuk cair. Jika memang terdapat air,
berarti terbuka kemungkinan adanya makhluk hidup atau paling tidak dapat
menunjang munculnya kehidupan. Semua data dari kedua asteroid tsb diharapkan
dapat dikumpulkan menggunakan spektrografi sinar gamma dan neutron yang
dipasang di wahana penelitian Dawn.

Russel menegaskan, penelitian tsb terutama hendak menelusuri asal mula
planet kita dan Tata Surya. Jadi bukannya mencari kemungkinan melakukan
ekspansi manusia ke planet yang dapat dihuni. Hasil penelitian akan
menunjukkan, bagamana evolusi Bumi atau bagaimana makhluk hidup pertama
dapat muncul. Manusia hendak terus memperluas horison berfikirnya, dan
eksplorasi alam semesta adalah semcam kewajiban bagi manusia.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke