From: Ratih Ganda Saputra E-mail: [EMAIL PROTECTED] SAUT DAN "SASTRAWANGI" Essay Sdr. Saut Situmorang yang untuk Kongres Cerpen ke-5 di Banjarmasin (Kalimantan) telah "nggebyah-uyah" karya sejumlah penulis perempuan Indonesia mutakhir. Sepertinya mereka semua dapat dimasukkan ke dalam satu keranjang yang bobrok. Julukan "sastrawangi" kepada mereka sebetulnya mencerminkan sikap mencemooh para penulis laki-laki terhadap hasil karya Ayu Utami, Dee (Dewi Lestari), Nukila Amal dan lain-lain. Mencemoohm, sebab sepertinya mereka hanya berurusan dengan parfum dan penampilan. Menurutku "satrawangi" itu sebuah stigma. Maka jika Saut berbicara menentang politik kanonisasi, saya hendak berbicara tentang politik stigmanisasi. Sebab julukan gampangan khas media massa itu diterima dan disebar luaskan oleh Saut Situmorang. Malah dia menulis: "bagi para Sastrawangi tidak ada hal lain di luar Tritunggal Tubuh-Seksualitas-Perempuan. Tidak ada persoalan kemiskinan, tidak ada persoalan pendidikan yang rendah, tidak ada persoalan jumlah anggota keluarga yang terlalu besar, bahkan tidak ada persoalan tubuh yang jelek gembrot berjerawat bagi para Sastrawangi yang konon cantik menurut media-massa ini." Mana contoh yang dikemukakan Saut? Tidak ada. Sama seperti kalau dulu seorang pejabat militer Orde Baru berpidato di depan masyarakat: "Hai rakyat Tanjung Balai, orang komunis menyusup di kota ini!". Karena tidak contoh yang ditunjuk hidung, maka siapa saja dapat diciduk. Sebab itu kita harus waspada dengan stigmanisasi. Marilah kita baca baik-baik Saman dan Larung Ayu Utami, Supernova Dee, dan Cala Ibi Nukila Amal. Dapatkah mereka dikenai tuduhan Saut yang saya kutip tadi? Pasti tidak. Saman jelas-jelas mengandung sifat novel politik, sebab inti ceritanya adalah perjalanan hidup seorang mantan pastur yang berpihak kepada petani miskin yang digusur oleh modal. Larung mengisahkan seorang laki-laki aneh yang akhirnya berpihak kepada para pemuda PRD yang dikejar-kejar rezim militer, bahkan novel ini ditutup dengan adegan pembunuhan oleh aparat militer Suharto. Supernova Dee atau Dewi Lestari praktis tidak mengisahkan persetubuhan, dan Cala Ibi hampir sepenuhnya gambaran imajinatif yang bertolak dari mitos lokal di Indonesia Timur. Saya ingin tahu apakah karya-karya itulah yang dimaksudkan Saut Situmorang sebagai "sastrawangi" yang mencerminkan "sempitnya dunia 'perempuan'".
Jangan-jangan hal itu oleh Saut tidak perlu untuk dijelaskan. Dalam hal ini Saut Situmorang (yang sajak-sajaknya sendiri menyebut "jembut" dan "mani"), sepertinya mau memperkeras paranoia kebudayaan yang sedang disebar-luaskan Taufik Ismail. Makanya saya merasa senang sekali membaca pikiran dan sikap M. Fadjroel Rachman, yang dalam salah satu essaynya justru mempertanyakan tuduhan-tuduhan gampangan seperti itu. Kata Fadjroel: "Apakah para sastrawati generasi abad XXI di Indonesia, sebagian seperti Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, Nova Riyanti Yusuf (Noriyu), Mariana Amiruddin, dan Fira Basuki, mengungkapkan persoalan seksualitas untuk eksploitasi seksual semata? Samakah karya mereka dengan karya pornografi jalanan, cetak maupun elektronik di kaki lima di seluruh penjuru Tanah Air, dan pantas dicap menganut eksploitasi seksual sebagai standar estetika?" Mari kita tolak pelecehan dan stigmanisasi terhadap sastrawan perempuan Indonesia. Mari kita tolak paranoia kebudayaan! Ratih Ganda Saputra [EMAIL PROTECTED] _____________________________ TANGGAPAN SEBELUMNYA From: Hudan Hidayat E-mail: [EMAIL PROTECTED] Sudah aku cek ulang esai-esaiku di Media Indonesia Minggu, Goenawan Mohamad, tak satu pun yang menyiratkan teks berdiri sendiri, lepas eksistensinya dari sejarah yang melingkupinya, atau menghidupinya. Jadi GM benar: Saut Situmorang (SS) menentang sesuatu yang sebenarnya tak ada. Saya memang berkata, dalam penciptaan, nilai apa pun tak boleh menghalangi proses penciptaan. Dengan demikian, barulah pencapaian tertinggi dimungkinkan. Tapi lihatlah identitas yang disebutkannya sendiri: SS, politisi sastra. Jadi wajarlah: bukankah seorang politisi suka memelintir segala sesuatu untuk keuntungan dirinya sendiri? Jadi, sebenarnya selama ini kita sedang berhadapan dengan politisi sastra, bukan sastrawan apalagi cendekiawan. Pantaslah udara sastra cemar dengan pola-laku politisi Saut Situmorang. Tapi jauh lebih baik SS menulis seperti ini, daripada harus memaki-maki seperti selama ini yang diperagakannya dengan "ha ha hi hi", yang rasanya tidak juga dikerjakan oleh kaum politisi. Aku akan menulis lebih panjang untuk menanggapi Saut. (hudan hidayat) selengkapnya klik blog ACI: http://artculture-indonesia.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

