Betul, bung, karena saya akhirnya memutuskan untuk melupakan semua 
filsafat dan pandangan hidup macam apa pun ketika bertanya siapa 
manusia di dalam hidupnya sekarang, masa lampau dan masa depan, maka 
saya menemukan Biologi memberikan jawaban yang mencerahkan, terutama 
peranan tiga-otak di dalam batok kepala kita itu, yang dua dari yang 
tiga itu bernama Otak Reptelia dan Otak Mammalia.

Maka kalau saya sekarang membaca puisi Chairil Anwar "Aku" itu, 
kata "binatang jalang" itu adalah berdasarkan prilaku yang bersumber 
dari Otak Reptelia dengan prinsip kerjanya "fight or flight" (lawan 
atau lari) dan digerakkan oleh insting "survival of the fitest" yang 
tidak pernah rasional bahkan menolaknya untuk dirasionalkan oleh 
Otak Neo-cortex. Ya, prilaku manusia yang bersumber dari Otak 
Reptelia, yang secara urut kacang dalam perjalanan evolusi adalah 
otak tertua, itu bisa dinilai berakibat "positif dan benar" bisa 
juga "negatif dan salah" tergantung kepada dipandang dari sudut mana 
dan oleh siapa.

"Saya makhluk biologis," inilah kesadaran awal yang memberikan 
pencerahan kepada saya dalam memandang hidup masa kini, masa lampau 
dan masa depan manusia. Selain "evolusi masih terus berjalan" bahkan 
terhadap diri manusia, terutama evolusi atas otaknya itu. 

Minggu depan saya akan membahas hal ini dalam makalah 
saya "Kenikmatan Estetis dll sebagai produk dan kebutuhan biologis" 
di Universitas Trisakti dalam rangka "pertemuan Kesasteraan: Jumpa 
Sasterawan dengan Mahasiswa" di Bulan Bahasa dan Sastra 2007 ini.

Ikra.-
====== 


--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Ikra suka sekali ya menggunakan kata Reptilia dan Mamalia...
> 
> Jadi inget pelajaran Biologi dan Teori Evolusi... hehehehehe
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Ikranagara 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Sunday, October 21, 2007 4:15 AM
>   Subject: [ppiindia] Puisi Ikranagara: SIHIR MATAHARI JAKARTA
> 
> 
>   Ikranagara:
>   MATAHARI JAKARTA
> 
>   ketika matahari di ubun-ubun langit jakarta menyilaukan pandang 
>   menyihir gedung jangkung 
>   bim salabim! 
>   maka berjajarlah reptelia raksasa 
>   dynosaurus abad 21 
>   otot beton tulang besi
>   sambil mengunyah permen karet langkah baris mereka berat berdebam
>   menggusur menghimpit ludas kampung-kampung tua
> 
>   suara jerit rintih tangis penghuninya 
> 
>   tapi telinga siapa mampu mendengar
>   ketika matahari di ubun-ubun langit jakarta menyilaukan pandang 
>   menyihir jalan-jalan jadi sungai banjir bergemuruh 
>   arus airnya arus kendaraan menderu-deru deras setelah lampu 
hijau 
>   mampat dan macet berdesakan dihadang lampu merah menyala
> 
>   juga merah warna darah membasahi jalan beraspal mulus
>   korban kecelakaan di kala siang hari
> 
>   tapi mata siapa mampu menangkap warna 
>   ketika matahari di ubun-ubun langit jakarta menyilaukan pandang
>   menyihir kita semua para pendatang dari seantero pelosok negeri
>   bim salabim!
>   maka jadilah kita laron-laron melarikan diri 
>   dari cengkeraman musim paceklik tak berkesudahan di desa-desa 
>   berhamburan terbang dengan sayap-sayap lemah 
>   harapkan 
>   cahaya ramah matahari Jakarta
> 
>   JKT-2007
> 
> 
> 
>    
> 
> 
> -------------------------------------------------------------------
-----------
> 
> 
>   No virus found in this incoming message.
>   Checked by AVG Free Edition. 
>   Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.3/1081 - Release Date: 
19/10/2007 17:41
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke