Dari Andreas Harsono untuk Praboe

Dear Praboe,

Terima kasih untuk Comment dalam blog saya. Anda mengatakan tertarik pada
"jurnalisme Islam" --mungkin frasa yang lebih bisa dibenarkan secara
linguistik adalah "jurnalisme Islami"-- dan mengacu pada Hamid Mowlana serta
Majid Tehranian.

Saya kurang kenal dengan pikiran Mowlana namun pernah baca karya Tehranian.
Tehranian kini jadi profesor international communication di University of
Hawaii serta direktur Toda Institute for Global Peace and Policy Research.
Dia juga pernah mengajar di Harvard. Hamid Mowlana, sama-sama etnik Persia
atau Iran, kini profesor International Communication Program di American
University, Washington DC.

Kalau bacaan saya tidak salah, Tehranian tidak bicara soal "jurnalisme
Islami." Risetnya, lebih fokus pada masalah politik ekonomi internasional,
komunikasi dan demokrasi. Areanya, Timur Tengah dan Asia Pacific.

Saya sendiri berpendapat tidak ada "jurnalisme Islami, atau setara dengan
itu, juga tidak ada, "jurnalisme Kristiani," atau "jurnalisme Buddhist" atau
kata sifat lainnya: Hindu, Yahudi, Sunda Wiwidan, Parmalin, Kaharingan,
Khong Hu Chu dan masih banyak lagi.

Ini belum lagi kalau kita mau bicara sekte atau aliran dalam suatu agama.
Artinya, kita juga akan bicara soal "jurnalisme Protestan" atau "jurnalisme
Katolik" maupun Shiah, Sunni dan seterusnya.

Agama dan jurnalisme berdiri pada ranah yang berbeda. Jurnalisme melayani
publik dengan informasi yang benar agar mereka bisa mengatur dirinya sendiri
dengan baik. Agama adalah seperangkat nilai untuk mengatur kehidupan
seseorang maupun kehidupan bersama-sama dalam masyarakat.

Ada unsur keimanan dalam agama. Jurnalisme hanya berdiri pada ranah fakta.
Esensi jurnalisme adalah verifikasi. Esensi agama adalah iman. Saya kira
agak janggal kalau dua ranah yang berbeda ini dijadikan dalam satu frasa.

Kalau demikian bagaimana menerangkan Al Jazeera? Apakah Reuters, Associated
Press, Agence France Presse, CNN bukan media Kristen?

Disini kita bicara soal dua isu. Pertama, kita bicara soal audiens dari
media bersangkutan. Kedua, kita bicara soal perspektif dari para pengelola
media tersebut.

Setiap media, bahkan setiap penulis, kebanyakan bekerja dengan khayalan
tentang suatu audiens, yang mereka layani. Kebanyakan media di Jawa, tentu
saja, berpikir dengan memasukkan unsur warga Muslim dalam khayalan tentang
audiens itu. Di Kupang atau Jayapura, audiensnya dikhayalkan sebagai orang
Kristen.

Associated Press bikin laporan dengan khayalan soal audiens yang isinya
warga Amerika, bisa bicara bahasa Inggris, pendidikan sekuler dan
seterusnya. 

Kedua, banyak juga media didirikan dengan tujuan agar perspektif soal
tertentu ikut mewarnai editorial mereka. Al Jazeera misalnya, didirikan
dengan perspektif tentang keragaman dan kekayaan dalam Islam.

Ketika Al Jazeera hendak didirikan, kebetulan saya bertemu dengan seorang
calon pemimpinnya, seorang mantan wartawan BBC, ketika dia hendak bertemu
dengan guru saya, Bill Kovach di Cambridge. Kovach mengatakan sangat penting
bagi dunia --bukan hanya warga Muslim-- untuk memiliki sebuah televisi
internasional yang mengerti dan dekat dengan Islam.

Kovach bicara soal dua CNN. Ini sebuah stasiun televisi yang berpusat di
Atlanta. Kovach pernah tinggal lama di Atlanta. Pertama adalah CNN yang
khusus dipancarkan di Amerika Serikat. Satunya lagi disebut CNN
International, yang dipancarkan ke seluruh dunia. CNN International, menurut
Kovach, jauh lebih bermutu daripada "CNN Nasional."

CNN International punya khayalan tentang audiens yang lebih beragam daripada
CNN Nasional. Al Jazeera, kalau Anda perhatikan, juga dikerjakan oleh
wartawan-wartawan yang background agamanya macam-macam. Banyak warga Kristen
bekerja di Al Jazeera. Namun juga banyak warga Muslim. BBC juga
memperkerjakan wartawan dengan background berasal dari berbagai macam agama.

Keragaman dalam ruang redaksi adalah suatu kekayaan. Ini akan membuat ruang
redaksi lebih mampu memahami situasi dunia, yang memang beragam. Makin
beragam suatu ruang redaksi, secara agama, etnik, kewarganegaraan, orientasi
seksual dan sebagainya, maka makin kaya pula ruang redaksi bersangkutan.

Perspektif, audiens dan keragaman inilah yang sering kurang dimengerti
orang. Kalau agama dijadikan label baru untuk jurnalisme, saya kira,
jurnalisme bakal membingungkan orang. Saya kok jadi ingin tahu siapa "pakar
nasional" yang memberitahu Anda soal "jurnalisme Islam" itu.

Terima kasih.

--
Andreas Harsono
Pantau
Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Tel. +62 21 7221031 Fax. +62 21 7221055
Website www.pantau.or.id

Weblog http://andreasharsono.blogspot.com



------ Forwarded Message
From: Praboe
[EMAIL PROTECTED]
Date: Wed, 24 Oct 2007 10:37:22 -0700 (PDT)
To: <[EMAIL PROTECTED]

Subject: [Andreas Harsono] New comment on Bagaimana Cara Rekrut Wartawan?

Praboe <http://www.blogger.com/profile/12373504879760320978> has left a
new comment on your post "Bagaimana Cara Rekrut Wartawan?
<http://andreasharsono.blogspot.com/2005/08/bagaimana-cara-rekrut-wartawan.h
tml> ":

Mas, saya mahasiswa jurusan komunikasi yang tertarik dengan jurnalisme,
terutama jurnalisme Islam. Mohon bantuannya jika punya tulisan konsepsi
jurnalisme Islam versi Hamid Mowlana, Majid Tehranian, atau versi Mas
sendiri. Saya pernah mengetahui konsep tersebut hanya dari pakar nasional
saja, sebagai wawasan dan perbandingan, saya tertarik dengan pakar
komunikasi internasional di atas. Semoga Mas berkenan mengirimkannya ke mail
saya di [EMAIL PROTECTED]



Terima kasih sebelumnya.





mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke