mudah2an orang2 yg ngeFANS berat kpd Kaum LIberal menjadi sadar dan 
kembali ke jalan yg lurus...

----- Forwarded by hariss YPMI/YAMAHA on 11/05/2007 01:50 PM -----

"Seri Utami" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [EMAIL PROTECTED]
11/05/2007 12:53 PM

To
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, 
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, "DT" 
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
cc

Subject
[syiar-islam] Ghazwul Fikr: Al-Qiyadah Islamiyah dan Kaum Liberal






Archive update by: aharis, 05 November 2007, 08:43:34 WIB
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=627

Ghazwul Fikr: Al-Qiyadah Islamiyah dan Kaum Liberal

Adian Husaini

Akhir-akhir ini kita disibukkan oleh berita tentang kasus kelompok 
"Al-Qiyadah Islamiyah". MUI, NU, Muhammadiyah, Dewan Da'wah Islamiyah 
Indonesia, dan berbagai organisasi Islam lainnya, dengan tegas menyatakan 
bahwa ajaran kelompok al-Qiyahad Islamiyah adalah sesat dan menyesatkan. 
Kelompok ini mempunyai syahadat yang berbeda dengan umat Islam. Setelah 
bersemedi selama 40 hari di sebuah goa di Bogor, pemimpinnya mengaku 
sebagai nabi dan menerima wahyu dari Tuhan.

Melihat ajaran semacam itu, sebagai Muslim, dengan mudah kita bisa menilai 
bahwa kelompok itu sesat dan menyesatkan. Tidak perlu terlalu cerdas dan 
terlalu serius berpikir untuk membuat penilaian semacam itu. Sepanjang 
sejarah Islam, sudah banyak yang mengaku sebagai nabi, dan selama itu 
pula, umat Islam dengan mudah menyatakan bahwa mereka semua - yang mengaku 
sebagai nabi - adalah pendusta.

Dalam keputusannya, Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah lama mengingatkan, 
bahwa orang yang mengimani adanya nabi lagi, sesudah Nabi Muhammad saw, 
maka kafirlah dia.

Rasulullah saw sudah bersabda: "Di antara umatku akan ada 
pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup 
sekalian nabi." (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).

Juga sabda Rasulullah saw: "Perumpamaanku dengan para nabi lainnya 
sebelumku adalah laksana seorang yang sedang mendirikan bangunan. Maka 
dibaguskan dan dibuat indah bangunan itu, kecuali satu batu bata (yang 
belum dipasang) pada salah satu penjurunya. Maka orang-orang 
mengelilinginya dan merasa heran serta bertanya:

"Mengapakah batu bata ini belum dipasang?" Rasulullah saw bersabda: "Aku 
inilah bata itu dan aku adalah penutup para nabi." (HR Muslim dari Abu 
Hurairah). Dari dua hadits tersebut dan banyak hadits Rasulullah saw 
lainnya, sangatlah jelas dimana posisi Nabi

Muhammad saw. Beliau adalah penutup para nabi. Sesudah beliau tidak ada 
nabi lagi. Karena itu, dunia Islam, misalnya, secara tegas menolak 
penafsiran kelompok Ahmadiyah yang mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai 
nabi. Ketika menjelaskan QS as-Shaf ayat 7, buku Terjemah dan Tafsir 
Singkat al-Quran yang diterbitkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia tahun 1987 
menyebutkan: "Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada 
Rasulullah s.a.w., tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada 
Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah 
dipanggil dengan nama Ahmad dalam wahyu (Brahin Ahmadiyah), dan oleh 
karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang 
kedua kali Rasulullah s.a.w.

Ayat ketiga Surah Jumu'ah tegas mengisyaratkan kepada kedatangan kedua 
Rasulullah s.a.w. telah pula dinyatakan dengan tegas dalam Injil Barnabas, 
yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada pihak lain mereka 
menganggapnya otentik (dapat dipercaya) seotentik setiap dari keempat 
Injil." (hal. 1914).

Seperti pernah kita bahas, Ahmadiyah mewajibkan umat Islam untuk mengimani 
Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Karena itulah, dunia Islam tidak berbeda 
pendapat dalam masalah ini, bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat. Demikian 
juga dengan kelompok al-Qiyadah Islamiyah. Kesesatannya sangat jelas dan 
gamblang. Tidak perlu banyak diskusi tentang masalah ini. 

Di tengah situasi seperti ini, sejumlah televise menampilkan sosok-sosok 
liberal untuk menjadi pembela kelompok Qiyadah Islamiyah. Beberapa kali 
saya mendapat telepon dan SMS agar menonton tayangan debat antara orang 
liberal dengan tokoh-tokoh Islam.

Saya sebenarnya sudah agak malas mendengar argumentasi kaum liberal dalam 
soal seperti ini, karena tidak ada yang baru. Bisa dengan mudah ditebak, 
mereka akan berbicara tentang relativisme tafsir dan posisi negara yang 
harus netral terhadap agama.

Orang-orang liberal itu tak bosan-bosannya mengulang-ulang lagu 
'relativisme tafsir'.

Mereka selalu menyatakan, tafsir mana yang mau diikuti. Kata mereka, semua 
orang berhak memiliki pendapat dan tafsir sendiri. Kalau suatu ajaran atau 
kelompok dinyatakan sesat, maka mereka akan menyatakan, itu sesat menurut 
siapa? Kelompok Qiyadah Islamiyah memang sesat menurut MUI, tetapi tidak 
sesat menurut lainnya, kata mereka. Bahkan ada yang menyatakan, yang sesat 
adalah MUI bukan Qiyadah Islamiyah. 

Kita sudah berulangkali membahas dan mengkritik paham relativisme tafsir 
kaum liberal ini. Tapi, kita sudah paham, bahwa selama ini mereka tidak 
mau mendengar argumentasi pihak lain. Mereka juga merasa benar dengan 
pendapatnya sendiri. Sejauh ini, hampir tidak ada gunanya berargumen 
dengan mereka. Sebab, mereka memang tidak mau mendengar kebenaran dan 
tidak tidak mengakui adanya satu kebenaran untuk semua manusia.

Jadi, bagaimana bisa sampai kepada kebenaran, jika adanya kebenaran itu 
sendiri sudah mereka tolak? Pada akhirnya, mereka menjadikan diri mereka 
sebagai tuhan yang dengan semaunya menafsirkan ayat-ayat Allah sesuai 
dengan hawa nafsu mereka.

Saat menonton sebuah debat di TV yang menampilkan seorang pentolan kaum 
liberal dan ketua Komisi Fatwa MUI pusat, saya berpikir, apakah orang yang 
mengaku liberal ini tidak takut lagi untuk berhadapan dengan Allah SWT di 
akhirat nanti? Ataukah dia masih percaya bahwa nanti dirinya akan 
dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya? Setelah 
perdebatan itu, saya menerima telepon dan sejumlah SMS yang menyayangkan 
penampilan tokoh MUI yang terlalu lunak dalam menghadapi orang liberal 
tersebut.

Dari sinilah kita paham, bahwa liberalisasi Islam memang sudah menjadi 
tantangan yang sangat serius bagi umat Islam. Sebab, mereka bukan hanya 
salah, tetapi juga aktif membela yang salah. Karena itu, tidak salah, jika 
ada yang berujar, bahwa kaum liberal memang spesialis dalam membela yang 
salah-salah.

Ketika umat Islam menyatakan bahwa Ahmadiyah, agama Salamullah, Qiyadah 
Islamiyah, pornografi, dan sebagainya adalah paham sesat dan tindakan 
salah, maka kaum liberal berdiri pada garis depan untuk membela mereka. 
Begitu juga ketika umat Islam menolak shalat dalam dua bahasa, maka kaum 
liberal pun membelanya.

Seperti kita ketahui, paham relativisme tafsir adalah pemikiran yang 
absurd dan konyol. Dengan pemikiran ini, mereka telah menghilangkan 
otoritas dalam penafsiran. Padahal, ini jelas tidak mungkin. Dalam 
kehidupan ini, selalu ada otoritas dan standar dalam penilaian sesuatu. 
Standar itu tentu didasarkan pada penilaian yang umum dan normal. Pada 
umumnya, manusia akan menilai bahwa Presiden SBY lebih tampan dibandingkan 
Thukul Arwana. Pada umumnya manusia akan menilai bahwa Inneke Koesherawati 
lebih cantik jika dibandingkan dengan pelawak Omas atau Rini Bonbon.

Karena manusia adalah makhluk yang satu, maka manusia bisa mempunyai 
standar yang satu. Kita bisa melihat, biasanya yang terpilih sebagai Miss 
Universe adalah wanita yang memang cantik menurut ukuran rata-rata manusia 
normal. Pada umumnya, kaum laki-laki memang lebih kuat secara fisik 
ketimbang kaum wanita, sehingga dibuat kategorisasi olah raga antara 
laki-laki dan wanita.

Dalam logika relativisme ala post-modernist, memang segalanya bisa menjadi 
relatif. Di rumah sakit jiwa, seorang yang sakit jiwa bisa menuduh 
dokternya yang gila, bukan dia yang gila. Standar siapa yang digunakan 
untuk menentukan seseorang itu sakit jiwa atau tidak? Tentulah yang 
dipakai standar dokter jiwa. Bukan standar orang sakit jiwa.

Pada umumnya dan normalnya orang Islam akan mengatakan bahwa kelompok 
Qiyadah Islamiyah adalah salah, karena memang sudah keluar dari 
batas-batas ajaran pokok dalam Islam. Itu umumnya dan normalnya. Tentu 
kita tidak perlu terlalu mendengar ucapan miring dan ganjil yang 
menyatakan bahwa Qiyadah Islamiyah adalah juga benar. Pendapat seperti ini 
adalah pendapat aneh dan syadz. Sepanjang sejarah ada saja pendapat 
nyeleneh seperti itu.

Islam adalah agama wahyu yang memiliki batas-batas yang jelas. Ada rukun 
iman dan rukun Islam. Orang yang menolak kenabian Muhammad saw, pastilah 
sudah berdiri di luar Islam. Agama lain juga memiliki batas-batas atau 
definisi sendiri. Kaum Kristen yang tidak mengakui otoritas Gereja Katolik 
dalam penafsiran Bibel, maka dia sudah berdiri di luar agama Katolik, 
meskipun dia juga mengakui Yesus sebagai Tuhannya.

Karena itu, sangatlah aneh dan absurd dan keliru jika kaum liberal 
menyatakan, penafsiran apapun terhadap Al-Quran bisa dibenarkan.

Kita menyatakan, ada tafsir yang benar dan ada tafsir yang salah. Tidak 
semua tafsir bisa dibenarkan? Kalau mereka bertanya, benar menurut siapa? 
Tentu benar menurut ahli tafsir, orang yang mempunyai otoritas di bidang 
tafsir. Di sinilah, kita saat ini menghadapi persoalan. Sebab, kaum 
liberal juga berusaha keras merebut otoritas dalam penafsiran agama. 
Banyak diantara mereka yang merupakan profesor atau doctor dalam bidang 
studi Islam.

Dengan otoritas keagamaan yang mereka miliki, kemudian mereka melakukan 
penyesatan kepada manusia. Dalam hal ini, mereka masuk kategori ulama su', 
ulama yang jahat. Ulama yang dengan ilmunya justru menyesatkan manusia. Di 
tengah heboh kasus Qiyadah Islamiyah, terbetik berita, Sabtu (27/10/2007), 
di sebuah vila di Anyer, dilangsungkan sebuah perkawinan antara seorang 
Muslimah berinisial DA dengan seorang pria Kristen berinisial BM. Menurut 
saksi mata, prosesi perkawinan itu diawali dengan pembacaan ayat suci 
Al-Quran, dilanjutkan dengan Ijab qabul yang dilakukan oleh Dr. Zainun 
Kamal, dosen UIN Jakarta. Acara berikutnya adalah votum dan salam oleh Pdt 
Samuel B. Hananto, pembacaan ayat-ayat Bibel, khutbah pendeta dan nyanyian 
jemaat.

Perkawinan semacam ini tentulah sangat ganjil, baik bagi Islam maupun bagi 
Kristen. Dalam Islam, perkawinan itu jelas tidak sah. Kalau ditanya, tidak 
sah menurut siapa? Tentu menurut Al-Quran, hadits, dan pendapat 
ulama-ulama yang mu'tabarah, yang punya otoritas. Bukan menurut pendapat 
yang ganjil seperti Dr. Zainun Kamal tersebut. Meskipun dia doktor dan 
dosen di Faktultas Ushuluddin Universitas Islam, pendapat dan tindakannya 
tetap salah dan merusak.

Kita tahu, aktivitas Zainun Kamal dan kawan-kawannya dalam mengawinkan 
pasangan beda agama, sudah sangat keterlaluan. Mereka sudah secara terbuka 
dalam mengadakan berbagai aktivitas perkawinan beda agama.
Dan anehnya lagi, tidak ada tindakan apa-apa dari pimpinan kampusnya dan 
juga pemerintah. MUI juga diam saja. Padahal, perilaku dan tindakan Dr. 
Zainun Kamal dan kawan-kawannya dalam merusak Islam tidak kalah jahatnya 
dibandingkan dengan kelompok Qiyadah Islamiyah. Sebab, dia menyandang 
otoritas sebagai doktor dan dosen bidang agama Islam. Wallahu a'lam. 
[Depok, 2 November 2007/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara 
Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

[Non-text portions of this message have been removed]

 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke