Koran Tempo, Rabu, 07 November 2007

Opini
Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat



a.. Mohamad Guntur Romli
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo

Munculnya beragam aliran dan kepercayaan yang menyita perhatian kita 
akhir-akhir ini seyogianya menuntut kearifan kita untuk memahami sebab-musabab 
kehadiran mereka. Bukan sebaliknya, cepat-cepat menghakimi mereka, baik dengan 
menjatuhkan sederet fatwa bahwa mereka "sesat dan menyesatkan" maupun 
menggelandang para pengikutnya ke sel-sel penjara. 


Pekan-pekan ini jemaah Al-Qiyadah al-Islamiyah menjadi bulan-bulanan fatwa 
Majelis Ulama Indonesia, interograsi polisi, dan penyisiran yang dilakukan oleh 
beberapa kelompok Islam garis keras. Padahal lahirnya kelompok ini bukanlah 
satu-satunya atau yang pertama kali terjadi di Indonesia. Karena itu, menurut 
saya, peristiwa ini merupakan semacam kecenderungan atau sebuah pola 
keberagamaan yang tak bisa dianggap kecil atau sempalan, karena kecenderungan 
tersebut terus tumbuh dalam masyarakat kita.


Sebutlah Komunitas Eden di Jakarta, jemaah Al-Quran Suci di Jawa Barat, atau 
beberapa jemaah lain dengan nama beragam, yang terus lahir di sejumlah kawasan 
di Indonesia. Dalam ranah ini, seharusnya sikap yang perlu diambil adalah 
bagaimana memahami sebab-musabab kelahiran mereka dengan keanekaragaman 
keyakinan, ajaran, dan klaim-klaim.


Bagi saya, lahirnya kelompok-kelompok tersebut merupakan cerminan dari krisis 
agama, ekonomi, dan politik, yang tekanannya semakin meningkat dalam 
masyarakat. Mereka seolah-olah memimpikan kembali sebuah era ketika sebuah 
agama atau keyakinan mampu melahirkan kekuatan dan perubahan terhadap 
malapetaka yang tengah berkecamuk. Manusia yang lemah dipandang takkan mampu 
menyelesaikan bencana itu kecuali dengan meminta pertolongan Tuhan, yang juga 
diyakini menurunkan petaka itu. Dalam konteks ini, sebuah agama atau keyakinan 
adalah jaminan bagi kemaslahatan dunia dan akhirat. 


Dan komunitas-komunitas ini pun tercipta dalam impian tentang kemapanan tatanan 
politik, ekonomi, dan sosial yang tanpa cela dan terhindar dari segala 
malapetaka. Seorang pemimpin yang mereka daulat adalah seorang mesias, raja 
adil, juru selamat, sang imam mahdi, atau seorang nabi, yang sekaligus pemimpin 
akhirat dan politik. Nama Al-Qiyadah al-Islamiyah, yang berarti kepemimpinan 
Islam, mengisyaratkan makna-makna tersebut. Mereka ditakutkan oleh sebuah era 
kehancuran yang akan menyongsong mereka, zaman kiamat yang semuanya akan lumat, 
kecuali mereka yang taat. 


Tanda-tanda ini merupakan pola umum yang dengan mudah kita temukan dalam 
kelompok-kelompok itu dengan beragam istilah, yaitu pemimpin yang diangkat, 
kitab-kitab suci, ajaran-ajaran, dan janji-janji yang mereka miliki. Padahal 
suasana ketakutan dan ketidakpastian itu hanyalah bayang-bayang yang berasal 
dari kondisi-kondisi nyata yang berada di sekeliling mereka.


Sumber kelahiran mereka sudah jelas: figur pemimpin politik dan agama yang tak 
lagi bisa diteladani atau lembaga-lembaga agama, politik, sosial, dan ekonomi 
yang tak bisa lagi menyantuni hajat hidup mereka. Karena itu, salah satu alasan 
yang masuk akal mengapa kelompok-kelompok ini bisa menyihir banyak pengikut 
adalah hajat hidup umatnya bisa terpenuhi oleh kelompoknya. Dalam masyarakat 
yang pemimpinnya sudah alpa kepada rakyatnya, mereka menemukan seorang pemimpin 
yang hangat dan hirau. Mereka juga sekelompok orang yang kehilangan kehangatan 
dan solidaritas dari masyarakat. Akhirnya, mereka membangun kerja sama dalam 
bidang ekonomi, sosial, dan memperkuat kepedulian antarpengikut dalam komunitas 
mereka. Mereka adalah orang yang kehilangan, kesepian, gelisah, dan merasa 
tersisih. Bagi saya, mereka butuh kata yang menyapa dan tangan-tangan yang 
membantu, bukan fatwa-fatwa atau serangan serta lemparan batu.


Kondisi psikologis mereka jelas-jelas tidak bisa dihadapi dengan penghakiman 
yang semakin menyisihkan mereka dari masyarakat. Dalam konteks ini, label 
"sesat dan menyesatkan" bukan menyelesaikan masalah, tapi membuat 
masalah-masalah baru. Fatwa itu akan semakin menghancurkan harapan mereka, 
menyesatkan mereka yang kehilangan, menteror mereka yang ketakutan, dan 
meminggirkan mereka yang tersisih. Fatwa yang kontraproduktif.


Bila mereka disebut "menyimpang" dan "bengkok", itu sebenarnya bayang-bayang 
dari kondisi yang nyata dalam masyarakat. Fatwa itu mencoba meluruskan 
bayang-bayang yang bengkok, tanpa menyentuh keadaan yang sebenarnya. Menutup 
selarik sajak bijak dari seorang sastrawan Arab, kayfa yastaqimu al-dzillu wal 
udu a'waj--bagaimana bayang-bayang akan lurus sedangkan tangkainya bengkok?


Lebih dari itu, tak seorang pun manusia yang berhak menjatuhkan hukuman: "sesat 
dan menyesatkan". Dalam Al-Quran surat Al-Qashash (Kisah-kisah) ayat 56 
dinyatakan bahwa yang berhak memberi petunjuk (hidayah) hanya Allah. Bila 
keimanan dan petunjuk hanya berasal dari Allah, penyesatan pun hanya Dia yang 
berhak menjatuhkan. Di akhir ayat itu ditegaskan, wahuwa a'lamu bil 
muhtadin--dan Allah lebih mengetahui orang yang menerima petunjuk. 


Dalam surat lain, Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan) ayat 21-22, Allah menegaskan 
bahwa tugas Muhammad, rasul-Nya, hanya sebagai "pemberi ingatan" (mudzakkir), 
bukanlah "penguasa" (mushaythir) pada ruang-ruang hati umatnya. Dalam surat 
Yunus ayat 99, Allah menegaskan, bila Dia berkenan, tentulah mereka semua yang 
berada di bumi seluruhnya akan beriman. Selanjutnya, Allah melontarkan 
pertanyaan retoris: "Apakah kau hendak memaksa manusia sampai beriman 
(semuanya)?" Dan Allah menuntaskan soal iman dan tidaknya seseorang melalui 
satu baris dari ayat sesudahnya, "Tiada seorang akan beriman, kecuali dengan 
seizin Allah." 


Melalui ayat-ayat tersebut, semuanya telah terang-benderang bahwa mengimankan 
atau menyesatkan adalah hak Allah saja, tak seorang pun yang mewarisi hak 
tersebut, baik rasul-rasul-Nya sekalipun yang Dia sebut hanya "pemberi 
ingatan". Dan "pemberi ingatan" bukan dengan cara "penyesatan", yang justru 
umat akan semakin jauh dari jalan Tuhan. "Pemberi ingatan" dengan cara 
bimbingan dan ajakan, dan itu pun hasilnya tidak juga mutlak, karena "pemberi 
petunjuk" yang final hanyalah Allah.


Bagi saya, sekelompok orang yang dengan lancang menyesatkan kelompok yang lain 
merupakan ketakaburan yang sebenarnya berasal dari keyakinan yang kecut. Mereka 
takabur karena telah mengambil hak Tuhan memberikan kategori yang "beriman" dan 
"sesat", padahal Allah yang memberi dan paling mengetahui siapa yang beriman 
dan sesat. Maka hakikatnya mereka pengecut, karena tindakan mereka yang 
sewenang-wenang itu berlindung di balik nama Tuhan. 


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke