Para pendukung aliran sesat bersuara sumbang neh, terlihat kecewa 
'teman'nya di BAN oleh RI.

Lulusan Univ Al Azhar hehe..koq ga pernah belajar Sirah ya, Nabi2 palsu pd 
jaman Muhammad SAW pun telah disukabumikan. Apa Guntur Romli brani 
menyalahkan tindakan Nabi SAW ???

Orang yg merasa sesat emang senang kalo byk kawannya dlm bentuk jin (baca 
IBLIS) dan manusia hehehe


Lebih dari itu, tak seorang pun manusia yang berhak menjatuhkan hukuman: 
"sesat dan menyesatkan". Dalam Al-Quran surat Al-Qashash (Kisah-kisah) 
ayat 56 dinyatakan bahwa yang berhak memberi petunjuk (hidayah) hanya 
Allah. Bila keimanan dan petunjuk hanya berasal dari Allah, penyesatan pun 
hanya Dia yang berhak menjatuhkan. Di akhir ayat itu ditegaskan, wahuwa 
a'lamu bil muhtadin--dan Allah lebih mengetahui orang yang menerima 
petunjuk. 

-- mulai ngutip ayat AlQuran neh, kebiasaan deh..
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu 
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, 
dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. QS28:56

Ga nyambung atuh kang..
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan keinginan Nabi saw, akan keimanan 
pamannya yaitu Abu Thalib. Itibarnya, Seberapa hebatnya dan gigihnya kita 
menasehati, memberi peringatan kpd orang2 yg kita kasihi -keluarga- tdk 
akan bisa beriman jika Allah tdk membukakan hati mereka.
Para Nabi hanya diberi tugas sbg penyampai, pemberi peringatan, jd tdk 
perlu bersedih hati jika orang yg didakwahnya tdk jg beriman.

Dalam surat lain, Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan) ayat 21-22, Allah 
menegaskan bahwa tugas Muhammad, rasul-Nya, hanya sebagai "pemberi 
ingatan" (mudzakkir), bukanlah "penguasa" (mushaythir) pada ruang-ruang 
hati umatnya. Dalam surat Yunus ayat 99, Allah menegaskan, bila Dia 
berkenan, tentulah mereka semua yang berada di bumi seluruhnya akan 
beriman. Selanjutnya, Allah melontarkan pertanyaan retoris: "Apakah kau 
hendak memaksa manusia sampai beriman (semuanya)?" Dan Allah menuntaskan 
soal iman dan tidaknya seseorang melalui satu baris dari ayat sesudahnya, 
"Tiada seorang akan beriman, kecuali dengan seizin Allah." 

--belum puas ngutip ayat AlQuran lg neh..
Surat Ghasiyah,
021. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang 
memberi peringatan.
022. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,
023. tetapi orang yang berpaling dan kafir,
024. maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. 

Memangnya mas Guntur Romli sdh memberi peringatan kpd AlQiyadah? :p
Kalau belum, don't said macem2 laah..

ayat 24, Azab yg besar yaitu Azab di dunia dg ditawan atau dibunuh. Dan 
azab di akhirat, wah kalo yg ini sech jgn dibandingin deh dg azab dunia yg 
keciiil.

Tugas Manusia sbg Khalifah di bumi, wakil Allah di bumi sbg pemelihara dan 
membangun bumi. Apakah manusia dibiarkan begitu saja dlm memelihara bumi ? 
Tdk donk..maka Allah menurunkan petunjukNya berupa Nabi2 dan Kitab2Nya. 
Siapa Nabi2Nya? Sbg Penutup ya Rasulullah SAW. Apa kitabNya ya AlQuran! 
maka Nabi SAW & AlQuran adalah pedoman, peringatan, HUKUM sbg 
GUIDE/petunjuk manusia dlm menjalani hidupnya. Manusia hanya mengikuti 
saja, koq susah bgt sech..:p

Jadi manusia berhak menghukum dg ATURAN yg tertera dlm ALQURAN dan 
mengikuti petunjuk Nabi SAW. 

apakah mas Guntur kira AlQuran itu buku pajangan ya..atau mas mengira 
tindakan2 Nabi SAW adalah cuplikan sejarah yg kuno dan usang ya..hehe

Jika penyesat tdk dihukum, mengapa Rasulullah saw menghukum Musailamah 
dkk?







"mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
11/07/2007 09:49 AM
Please respond to
[email protected]


To
<[email protected]>, "zamanku" <[EMAIL PROTECTED]>
cc

Subject
[ppiindia] MGR: Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat






Koran Tempo, Rabu, 07 November 2007

Opini
Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat

a.. Mohamad Guntur Romli
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo

Munculnya beragam aliran dan kepercayaan yang menyita perhatian kita 
akhir-akhir ini seyogianya menuntut kearifan kita untuk memahami 
sebab-musabab kehadiran mereka. Bukan sebaliknya, cepat-cepat menghakimi 
mereka, baik dengan menjatuhkan sederet fatwa bahwa mereka "sesat dan 
menyesatkan" maupun menggelandang para pengikutnya ke sel-sel penjara. 

Pekan-pekan ini jemaah Al-Qiyadah al-Islamiyah menjadi bulan-bulanan fatwa 
Majelis Ulama Indonesia, interograsi polisi, dan penyisiran yang dilakukan 
oleh beberapa kelompok Islam garis keras. Padahal lahirnya kelompok ini 
bukanlah satu-satunya atau yang pertama kali terjadi di Indonesia. Karena 
itu, menurut saya, peristiwa ini merupakan semacam kecenderungan atau 
sebuah pola keberagamaan yang tak bisa dianggap kecil atau sempalan, 
karena kecenderungan tersebut terus tumbuh dalam masyarakat kita.

Sebutlah Komunitas Eden di Jakarta, jemaah Al-Quran Suci di Jawa Barat, 
atau beberapa jemaah lain dengan nama beragam, yang terus lahir di 
sejumlah kawasan di Indonesia. Dalam ranah ini, seharusnya sikap yang 
perlu diambil adalah bagaimana memahami sebab-musabab kelahiran mereka 
dengan keanekaragaman keyakinan, ajaran, dan klaim-klaim.

Bagi saya, lahirnya kelompok-kelompok tersebut merupakan cerminan dari 
krisis agama, ekonomi, dan politik, yang tekanannya semakin meningkat 
dalam masyarakat. Mereka seolah-olah memimpikan kembali sebuah era ketika 
sebuah agama atau keyakinan mampu melahirkan kekuatan dan perubahan 
terhadap malapetaka yang tengah berkecamuk. Manusia yang lemah dipandang 
takkan mampu menyelesaikan bencana itu kecuali dengan meminta pertolongan 
Tuhan, yang juga diyakini menurunkan petaka itu. Dalam konteks ini, sebuah 
agama atau keyakinan adalah jaminan bagi kemaslahatan dunia dan akhirat. 

Dan komunitas-komunitas ini pun tercipta dalam impian tentang kemapanan 
tatanan politik, ekonomi, dan sosial yang tanpa cela dan terhindar dari 
segala malapetaka. Seorang pemimpin yang mereka daulat adalah seorang 
mesias, raja adil, juru selamat, sang imam mahdi, atau seorang nabi, yang 
sekaligus pemimpin akhirat dan politik. Nama Al-Qiyadah al-Islamiyah, yang 
berarti kepemimpinan Islam, mengisyaratkan makna-makna tersebut. Mereka 
ditakutkan oleh sebuah era kehancuran yang akan menyongsong mereka, zaman 
kiamat yang semuanya akan lumat, kecuali mereka yang taat. 

Tanda-tanda ini merupakan pola umum yang dengan mudah kita temukan dalam 
kelompok-kelompok itu dengan beragam istilah, yaitu pemimpin yang 
diangkat, kitab-kitab suci, ajaran-ajaran, dan janji-janji yang mereka 
miliki. Padahal suasana ketakutan dan ketidakpastian itu hanyalah 
bayang-bayang yang berasal dari kondisi-kondisi nyata yang berada di 
sekeliling mereka.

Sumber kelahiran mereka sudah jelas: figur pemimpin politik dan agama yang 
tak lagi bisa diteladani atau lembaga-lembaga agama, politik, sosial, dan 
ekonomi yang tak bisa lagi menyantuni hajat hidup mereka. Karena itu, 
salah satu alasan yang masuk akal mengapa kelompok-kelompok ini bisa 
menyihir banyak pengikut adalah hajat hidup umatnya bisa terpenuhi oleh 
kelompoknya. Dalam masyarakat yang pemimpinnya sudah alpa kepada 
rakyatnya, mereka menemukan seorang pemimpin yang hangat dan hirau. Mereka 
juga sekelompok orang yang kehilangan kehangatan dan solidaritas dari 
masyarakat. Akhirnya, mereka membangun kerja sama dalam bidang ekonomi, 
sosial, dan memperkuat kepedulian antarpengikut dalam komunitas mereka. 
Mereka adalah orang yang kehilangan, kesepian, gelisah, dan merasa 
tersisih. Bagi saya, mereka butuh kata yang menyapa dan tangan-tangan yang 
membantu, bukan fatwa-fatwa atau serangan serta lemparan batu.

Kondisi psikologis mereka jelas-jelas tidak bisa dihadapi dengan 
penghakiman yang semakin menyisihkan mereka dari masyarakat. Dalam konteks 
ini, label "sesat dan menyesatkan" bukan menyelesaikan masalah, tapi 
membuat masalah-masalah baru. Fatwa itu akan semakin menghancurkan harapan 
mereka, menyesatkan mereka yang kehilangan, menteror mereka yang 
ketakutan, dan meminggirkan mereka yang tersisih. Fatwa yang 
kontraproduktif.

Bila mereka disebut "menyimpang" dan "bengkok", itu sebenarnya 
bayang-bayang dari kondisi yang nyata dalam masyarakat. Fatwa itu mencoba 
meluruskan bayang-bayang yang bengkok, tanpa menyentuh keadaan yang 
sebenarnya. Menutup selarik sajak bijak dari seorang sastrawan Arab, kayfa 
yastaqimu al-dzillu wal udu a'waj--bagaimana bayang-bayang akan lurus 
sedangkan tangkainya bengkok?

Lebih dari itu, tak seorang pun manusia yang berhak menjatuhkan hukuman: 
"sesat dan menyesatkan". Dalam Al-Quran surat Al-Qashash (Kisah-kisah) 
ayat 56 dinyatakan bahwa yang berhak memberi petunjuk (hidayah) hanya 
Allah. Bila keimanan dan petunjuk hanya berasal dari Allah, penyesatan pun 
hanya Dia yang berhak menjatuhkan. Di akhir ayat itu ditegaskan, wahuwa 
a'lamu bil muhtadin--dan Allah lebih mengetahui orang yang menerima 
petunjuk. 

Dalam surat lain, Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan) ayat 21-22, Allah 
menegaskan bahwa tugas Muhammad, rasul-Nya, hanya sebagai "pemberi 
ingatan" (mudzakkir), bukanlah "penguasa" (mushaythir) pada ruang-ruang 
hati umatnya. Dalam surat Yunus ayat 99, Allah menegaskan, bila Dia 
berkenan, tentulah mereka semua yang berada di bumi seluruhnya akan 
beriman. Selanjutnya, Allah melontarkan pertanyaan retoris: "Apakah kau 
hendak memaksa manusia sampai beriman (semuanya)?" Dan Allah menuntaskan 
soal iman dan tidaknya seseorang melalui satu baris dari ayat sesudahnya, 
"Tiada seorang akan beriman, kecuali dengan seizin Allah." 

Melalui ayat-ayat tersebut, semuanya telah terang-benderang bahwa 
mengimankan atau menyesatkan adalah hak Allah saja, tak seorang pun yang 
mewarisi hak tersebut, baik rasul-rasul-Nya sekalipun yang Dia sebut hanya 
"pemberi ingatan". Dan "pemberi ingatan" bukan dengan cara "penyesatan", 
yang justru umat akan semakin jauh dari jalan Tuhan. "Pemberi ingatan" 
dengan cara bimbingan dan ajakan, dan itu pun hasilnya tidak juga mutlak, 
karena "pemberi petunjuk" yang final hanyalah Allah.

Bagi saya, sekelompok orang yang dengan lancang menyesatkan kelompok yang 
lain merupakan ketakaburan yang sebenarnya berasal dari keyakinan yang 
kecut. Mereka takabur karena telah mengambil hak Tuhan memberikan kategori 
yang "beriman" dan "sesat", padahal Allah yang memberi dan paling 
mengetahui siapa yang beriman dan sesat. Maka hakikatnya mereka pengecut, 
karena tindakan mereka yang sewenang-wenang itu berlindung di balik nama 
Tuhan. 

mediacare
http://www.mediacare.biz

[Non-text portions of this message have been removed]

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke