Kalau menurut saya, biarkan saja orang mau mengaku-ngaku dapat wangsit atau 
apalah namanya.
Kalau memang kita tidak percaya apa yang diomongkan ya abaikan saja. Tak perlu 
dicap gila, sesat dan cap-cap lainnya.

Kecuali kalau dia ngamuk kemudian memukul, meludahi muka kita atau menggigit 
leher kita sampai berdarah-darah karena kita tidak percaya omongan dia, baru 
deh urusannya sama hamba wet. 

Dalam sidang kan nanti tinggal dites kejiwaannya. Kalau dia gila artinya dia 
tidak perlu dibui, tapi dimasukkan ke RSJ. Kalau dia normal, ya dihukum yang 
setimpal karena mencederai orang lain, bukan karena sesat.





  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, November 08, 2007 4:25 PM
  Subject: Re: [ppiindia] MGR: Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat


  Supaya nggak bertele-tele, sekarang begini saja. Ada orang di siang hari 
bolong, zaman komputer tahun 2007, mengaku menerima wahyu dari Tuhan sesudah 
bertapa di Gunung Bunder, terus ngaku jadi "Nabi baru". Inilah yang dilakukan 
Ahmad Mushaddeq.

  Saya berpendapat, ada sejumlah kemungkinan: dia gila, gangguan mental, hilang 
ingatan, mimpi, ngelindur, sekadar berkhayal, atau memang sengaja cari 
"gara-gara" untuk motif yang tak saya ketahui. (Saya tidak pakai bahasa MUI 
yang mengatakan "sesat", supaya tidak melebar). Tapi yang jelas, klaimnya itu 
saya anggap omong kosong.

  Nah, sekarang kalau ada yang punya anggapan berbeda, atau mau percaya pada 
Mushaddeq, ya silahkan saja. Saya malas berdebat berpanjang-panjang..... Waktu 
akan membuktikan, siapa yang lebih benar.

  ----- Original Message ----
  From: Asnawi Ihsan <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Thursday, November 8, 2007 2:56:38 PM
  Subject: RE: [ppiindia] MGR: Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat

  Juga tanpa perlu berpikir panjang..... .........

  Bukankah sejarah mencatat, bahwa para rasul itu dianggap gila, sesat, atau
  penyihir pada masanya oleh masyarakat yang telah memegang teguh ajaran/nilai
  tertentu yang telah mapan atau menjadi kepercayaan penguasa? Apakah kita
  lupa atas apa yang menimpa musa, isa dan muhammad misalnya? 

  _____ 

  From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf
  Of Satrio Arismunandar
  Sent: 07 Nopember 2007 13:31
  To: [EMAIL PROTECTED] s.com
  Subject: Re: [ppiindia] MGR: Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat

  Dari segi keprihatinan kita kepada kondisi yang
  melatarbelakangi munculnya aliran sesat, tulisan Sdr.
  M. Guntur Romli bisa dipahami.

  Analoginya, kalau ada orang jadi gila atau menderita
  gangguan mental (depresi, dsb), tentu kita patut
  prihatin dan berusaha memahami kondisi
  ekonomi-sosial- psikologis masyarakat yang
  melatarbelakanginya . Entah dia gila karena stress
  di-PHK, nganggur, istrinya selingkuh, dsb....

  Tetapi kalau kita tak boleh mengatakan orang itu
  "gila", apakah kita harus menyebutnya "waras"? Lalu
  apa bedanya dokter dan pasien di RS jiwa?

  Kadang-kadang pusing deh kalau membaca tulisan para
  "pakar" seperti ini. 

  Saya ini bukan ahli agama. Tetapi kalau hari gini saya
  ketemu orang yang mengaku "Nabi" atau "malekat" atau
  mengaku bertemu malaekat Jibril, saya nggak akan pikir
  panjang mengatakan: orang itu gila, atau minimal
  menderita "gangguan mental." 

  Untuk hal yang menurut saya sudah terang benderang,
  saya tidak butuh pendapat ahli atau pakar. Tetapi
  kalau mereka tetap ngotot mengatakan orang seperti itu
  tak boleh disebut "sesat" atau "gila", ya silahkan
  saja. Itu hak mereka.

  --- mediacare <[EMAIL PROTECTED] <mailto:mediacare% 40cbn.net. id> net.id> 
wrote:

  > Koran Tempo, Rabu, 07 November 2007
  > 
  > Opini
  > Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Cap Sesat
  > 
  > 
  > 
  > a.. Mohamad Guntur Romli
  > Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo
  > 
  > Munculnya beragam aliran dan kepercayaan yang
  > menyita perhatian kita akhir-akhir ini seyogianya
  > menuntut kearifan kita untuk memahami sebab-musabab
  > kehadiran mereka. Bukan sebaliknya, cepat-cepat
  > menghakimi mereka, baik dengan menjatuhkan sederet
  > fatwa bahwa mereka "sesat dan menyesatkan" maupun
  > menggelandang para pengikutnya ke sel-sel penjara. 
  > 
  > 
  > Pekan-pekan ini jemaah Al-Qiyadah al-Islamiyah
  > menjadi bulan-bulanan fatwa Majelis Ulama Indonesia,
  > interograsi polisi, dan penyisiran yang dilakukan
  > oleh beberapa kelompok Islam garis keras. Padahal
  > lahirnya kelompok ini bukanlah satu-satunya atau
  > yang pertama kali terjadi di Indonesia. Karena itu,
  > menurut saya, peristiwa ini merupakan semacam
  > kecenderungan atau sebuah pola keberagamaan yang tak
  > bisa dianggap kecil atau sempalan, karena
  > kecenderungan tersebut terus tumbuh dalam masyarakat
  > kita.
  > 
  > 
  > Sebutlah Komunitas Eden di Jakarta, jemaah Al-Quran
  > Suci di Jawa Barat, atau beberapa jemaah lain dengan
  > nama beragam, yang terus lahir di sejumlah kawasan
  > di Indonesia. Dalam ranah ini, seharusnya sikap yang
  > perlu diambil adalah bagaimana memahami
  > sebab-musabab kelahiran mereka dengan keanekaragaman
  > keyakinan, ajaran, dan klaim-klaim.
  > 
  > 
  > Bagi saya, lahirnya kelompok-kelompok tersebut
  > merupakan cerminan dari krisis agama, ekonomi, dan
  > politik, yang tekanannya semakin meningkat dalam
  > masyarakat. Mereka seolah-olah memimpikan kembali
  > sebuah era ketika sebuah agama atau keyakinan mampu
  > melahirkan kekuatan dan perubahan terhadap
  > malapetaka yang tengah berkecamuk. Manusia yang
  > lemah dipandang takkan mampu menyelesaikan bencana
  > itu kecuali dengan meminta pertolongan Tuhan, yang
  > juga diyakini menurunkan petaka itu. Dalam konteks
  > ini, sebuah agama atau keyakinan adalah jaminan bagi
  > kemaslahatan dunia dan akhirat. 
  > 
  > 
  > Dan komunitas-komunitas ini pun tercipta dalam
  > impian tentang kemapanan tatanan politik, ekonomi,
  > dan sosial yang tanpa cela dan terhindar dari segala
  > malapetaka. Seorang pemimpin yang mereka daulat
  > adalah seorang mesias, raja adil, juru selamat, sang
  > imam mahdi, atau seorang nabi, yang sekaligus
  > pemimpin akhirat dan politik. Nama Al-Qiyadah
  > al-Islamiyah, yang berarti kepemimpinan Islam,
  > mengisyaratkan makna-makna tersebut. Mereka
  > ditakutkan oleh sebuah era kehancuran yang akan
  > menyongsong mereka, zaman kiamat yang semuanya akan
  > lumat, kecuali mereka yang taat. 
  > 
  > 
  > Tanda-tanda ini merupakan pola umum yang dengan
  > mudah kita temukan dalam kelompok-kelompok itu
  > dengan beragam istilah, yaitu pemimpin yang
  > diangkat, kitab-kitab suci, ajaran-ajaran, dan
  > janji-janji yang mereka miliki. Padahal suasana
  > ketakutan dan ketidakpastian itu hanyalah
  > bayang-bayang yang berasal dari kondisi-kondisi
  > nyata yang berada di sekeliling mereka.
  > 
  > 
  > Sumber kelahiran mereka sudah jelas: figur pemimpin
  > politik dan agama yang tak lagi bisa diteladani atau
  > lembaga-lembaga agama, politik, sosial, dan ekonomi
  > yang tak bisa lagi menyantuni hajat hidup mereka.
  > Karena itu, salah satu alasan yang masuk akal
  > mengapa kelompok-kelompok ini bisa menyihir banyak
  > pengikut adalah hajat hidup umatnya bisa terpenuhi
  > oleh kelompoknya. Dalam masyarakat yang pemimpinnya
  > sudah alpa kepada rakyatnya, mereka menemukan
  > seorang pemimpin yang hangat dan hirau. Mereka juga
  > sekelompok orang yang kehilangan kehangatan dan
  > solidaritas dari masyarakat. Akhirnya, mereka
  > membangun kerja sama dalam bidang ekonomi, sosial,
  > dan memperkuat kepedulian antarpengikut dalam
  > komunitas mereka. Mereka adalah orang yang
  > kehilangan, kesepian, gelisah, dan merasa tersisih.
  > Bagi saya, mereka butuh kata yang menyapa dan
  > tangan-tangan yang membantu, bukan fatwa-fatwa atau
  > serangan serta lemparan batu.
  > 
  > 
  > Kondisi psikologis mereka jelas-jelas tidak bisa
  > dihadapi dengan penghakiman yang semakin menyisihkan
  > mereka dari masyarakat. Dalam konteks ini, label
  > "sesat dan menyesatkan" bukan menyelesaikan masalah,
  > tapi membuat masalah-masalah baru. Fatwa itu akan
  > semakin menghancurkan harapan mereka, menyesatkan
  > mereka yang kehilangan, menteror mereka yang
  > ketakutan, dan meminggirkan mereka yang tersisih.
  > Fatwa yang kontraproduktif.
  > 
  > 
  > Bila mereka disebut "menyimpang" dan "bengkok", itu
  > sebenarnya bayang-bayang dari kondisi yang nyata
  > dalam masyarakat. Fatwa itu mencoba meluruskan
  > bayang-bayang yang bengkok, tanpa menyentuh keadaan
  > yang sebenarnya. Menutup selarik sajak bijak dari
  > seorang sastrawan Arab, kayfa yastaqimu al-dzillu
  > wal udu a'waj--bagaimana bayang-bayang akan lurus
  > sedangkan tangkainya bengkok?
  > 
  > 
  > Lebih dari itu, tak seorang pun manusia yang berhak
  > menjatuhkan hukuman: "sesat dan menyesatkan" . Dalam
  > Al-Quran surat Al-Qashash (Kisah-kisah) ayat 56
  > dinyatakan bahwa yang berhak memberi petunjuk
  > (hidayah) hanya Allah. Bila keimanan dan petunjuk
  > hanya berasal dari Allah, penyesatan pun hanya Dia
  > yang berhak menjatuhkan. Di akhir ayat itu
  > ditegaskan, wahuwa a'lamu bil muhtadin--dan Allah
  > lebih mengetahui orang yang menerima petunjuk. 
  > 
  > 
  > Dalam surat lain, Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan) ayat
  > 21-22, Allah menegaskan bahwa tugas Muhammad,
  > rasul-Nya, hanya sebagai "pemberi ingatan"
  > (mudzakkir), bukanlah "penguasa" (mushaythir) pada
  > ruang-ruang hati umatnya. Dalam surat Yunus ayat 99,
  > Allah menegaskan, bila Dia berkenan, tentulah mereka
  > semua yang berada di bumi seluruhnya akan beriman.
  > Selanjutnya, Allah melontarkan pertanyaan retoris:
  > "Apakah kau hendak memaksa manusia sampai beriman
  > (semuanya)?" Dan Allah menuntaskan soal iman dan
  > tidaknya seseorang melalui satu baris dari ayat
  > sesudahnya, "Tiada seorang akan beriman, kecuali
  > dengan seizin Allah." 
  > 
  > 
  > Melalui ayat-ayat tersebut, semuanya telah
  > terang-benderang bahwa mengimankan atau menyesatkan
  > adalah hak Allah saja, tak seorang pun yang mewarisi
  > hak tersebut, baik rasul-rasul- Nya sekalipun yang
  > Dia sebut hanya "pemberi ingatan". Dan "pemberi
  > ingatan" bukan dengan cara "penyesatan" , yang justru
  > umat akan semakin jauh dari jalan Tuhan. "Pemberi
  > ingatan" dengan cara bimbingan dan ajakan, dan itu
  > pun hasilnya tidak juga mutlak, karena "pemberi
  > petunjuk" yang final hanyalah Allah.
  > 
  > 
  > Bagi saya, sekelompok orang yang dengan lancang
  > menyesatkan kelompok yang lain merupakan ketakaburan
  > yang sebenarnya berasal dari keyakinan yang kecut.
  > Mereka takabur karena telah mengambil hak Tuhan
  > memberikan kategori yang "beriman" dan "sesat",
  > padahal Allah yang memberi dan paling mengetahui
  > siapa yang beriman dan sesat. Maka hakikatnya mereka
  > pengecut, karena tindakan mereka yang
  > sewenang-wenang itu berlindung di balik nama Tuhan. 
  > 
  > 
  > mediacare
  > http://www.mediacar <http://www.mediacar e.biz> e.biz
  > 
  > 
  > [Non-text portions of this message have been
  > removed]
  > 
  > 

  Satrio Arismunandar 
  Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
  Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
  Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627

  http://satrioarismu <http://satrioarismu nandar6.blogspot .com>
  nandar6.blogspot. com
  http://satrioarismu <http://satrioarismu nandar.multiply. com>
  nandar.multiply. com 

  "If you know how to die, you know how to live..."

  ____________ _________ _________ _________ _________ __
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail. <http://mail. yahoo.com> yahoo.com 

  [Non-text portions of this message have been removed]

  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.24/1117 - Release Date: 07/11/2007 
22:52


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke