----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: mediacare yahoogroups ; media sumut ; media sumatera ; media sumbar ; 
media jakarta ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Saturday, November 10, 2007 7:50 AM
  Subject: [media-sumbar] Imam Bonjol, Dikenang Sekaligus Digugat



  Imam Bonjol, Dikenang Sekaligus Digugat 

  Oleh Suryadi 

  Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang 
publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di 
lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. 

  Tuanku Imam Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional 
berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973, adalah 
pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan 
Belanda. 

  Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. TIB 
dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) 
yang menewaskan "jutaan" orang di daerah itu (http://www.petitiononline. 
com/bonjol/petition.html). 

  Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya buku MO Parlindungan, 
Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab 
Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (2006) (Edisi pertama terbit 1964, yang telah 
dikritisi Hamka, 1974), kemudian menyusul karya Basyral Hamidy Harahap, Greget 
Tuanku Rao (2007). 

  Kedua penulisnya, kebetulan dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek 
moyangnya dan orang Batak umumnya selama serangan tentara Paderi 1816-1833 di 
daerah Mandailing, Bakkara, dan sekitarnya (Tempo, Oktober 2007). 

  Mitos kepahlawanan 

  Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini mencuatkan 
kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional. Kaum intelektual dan akademis, 
khususnya sejarawan, adalah pihak yang paling bertanggung jawab jika evaluasi 
wacana historis itu hanya mengakibatkan munculnya friksi di tingkat dasar yang 
berpotensi memecah belah bangsa ini. 

  Ujung pena kaum akademis harus tajam, tetapi teks-teks hasil torehannya 
seyogianya tidak mengandung "hawa panas". Itu sebabnya dalam tradisi akademis, 
kata-kata bernuansa subyektif dalam teks ilmiah harus disingkirkan si penulis. 

  Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah (bangsa)-nya sendiri. Namun, 
generasi baru bangsa ini-yang hidup dalam imaji globalisme-harus menyadari, 
negara-bangsa apa pun di dunia memerlukan mitos-mitos pengukuhan. Mitos 
pengukuhan itu tidak buruk. Ia adalah unsur penting yang di-ada-kan sebagai 
"perekat" bangsa. Sosok pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan 
Hasanuddin, Sisingamangaraja XII, juga TIB, dan lainnya adalah bagian dari 
mitos pengukuhan bangsa Indonesia. 

  Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in Indonesia: 
Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam Journal of Asian 
Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah dibentuk sejak awal 
kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, setidaknya terkait tiga kepentingan. 

  Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda sebagai 
bagian wacana historis pemersatu bangsa. 

  Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan 
negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya. 

  Ketiga, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang telah 
mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa PRRI. 

  Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman perjuangan TIB 
dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang kini dikenal sebagai 
pahlawan nasional. 

  Kita juga tahu pada zaman itu perbudakan adalah bagian sistem sosial dan 
beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan ekspansi teritorial dengan 
menyerang beberapa kerajaan tetangga. Para pemimpin lokal berperang melawan 
Belanda karena didorong semangat kedaerahan, bahkan mungkin dilatarbelakangi 
keinginan untuk mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan 
akibat kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan 
nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu. 

  Bukan manusia sempurna 

  Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik sekaligus 
traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu 
(1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minangkabau dan 
Mandailing atau Batak umumnya. 

  Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang 
dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 
atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni melibatkan diri dalam 
perang itu karena "diundang" kaum Adat. 

  Pada 21 Februari 1821 mereka resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman 
Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken di Padang, sebagai 
kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Ikut 
"mengundang" sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan 
Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin 
Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 
seperti disebut Parlindungan, 2007:136-41). 

  Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan 
kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)- transliterasinya 
oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah sumber pribumi yang penting 
tentang Perang Paderi yang cenderung diabaikan sejarawan selama ini-mencatat, 
bagaimana kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda. 

  Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Di 
ujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru 
menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri. 

  Dalam MTIB, terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan kaum Paderi atas 
sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar, perjuangannya sudah melenceng 
dari ajaran agama. "Adapun hukum Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh 
kita. Bagaimana pikiran kita?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah 
terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), tulis TIB dalam MTIB (hal 
39). 

  Penyesalan dan perjuangan heroik TIB bersama pengikutnya melawan Belanda yang 
mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 
Agustus 1837)-seperti rinci dilaporkan De Salis dalam Het einde Padri Oorlog: 
Het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie 
[Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah 
Publikasi Sumber] (2004): 59-183-mungkin dapat dijadikan pertimbangan untuk 
memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat TIB. 

  Kini bangsa inilah yang harus menentukan, apakah TIB akan tetap ditempatkan 
atau diturunkan dari "tandu kepahlawanan nasional" yang telah "diarak" oleh 
generasi terdahulu bangsa ini dalam kolektif memori mereka. 

  Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Aziƫ 
en Oceaniƫ, Universiteit Leiden, Belanda 

  Kompas - 10 November 2007

  www.kompas.com





  mediacare
  http://www.mediacare.biz


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.26/1119 - Release Date: 08/11/2007 
17:55


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke