Informasi sudah mengarah ke multimedia
   
  Jakarta, Kompas - Industri media massa, khususnya media cetak, saat
ini dihadapkan pada perubahan yang amat kompleks dan terus-menerus.
Untuk menangkap perubahan itu dibutuhkan tenaga yang terampil, cerdas,
dan terutama berkomitmen tinggi.
   
  Demikian disampaikan Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS)
Pusat dan Presiden Komisaris PT Kompas Gramedia Jakob Oetama dalam
pembukaan Kongres SPS XXII, Selasa (13/11) di Jakarta.
   
  Turut hadir dalam pembukaan kongres bertema "Menuju Aplikasi
Konvergensi Media: Upaya Mempertahankan Kelangsungan Media Cetak" ini Menteri 
Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh. Selain membentuk
kepengurusan SPS periode 20072011, kongres yang berlangsung hingga
Rabu itu juga diisi seminar bertema konvergensi media.
   
  Jakob menyebutkan dua peran industri media cetak dalam menghadapi
berbagai perubahan yang tengah terjadi, khususnya di bidang teknologi
informasi. Pertama, menjadikan perubahan itu untuk mengembangkan
eksistensi media cetak. Kedua, memanfaatkan perubahan itu untuk
memberikan informasi yang sekarang bersifat global dan serentak kepada
masyarakat.
   
  Untuk menjawabnya, kata Jakob, dibutuhkan tenaga terampil, cerdas, dan
terutama berkomitmen tinggi. "Setiap pekerjaan membutuhkan komitmen,
tetapi kerja media membutuhkan komitmen yang lebih besar," tuturnya.
Komitmen itu terutama untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat,
menguasai teknologi, dan mengatasi ketertinggalan. Untuk menghadapi berbagai 
perubahan yang tengah terjadi, tutur Jakob, industri media juga harus melakukan 
konvergensi.
   
  Menurut Mohammad Nuh, perkembangan teknologi informasi memang membuat 
konvergensi media tak terhindarkan. Dalam jangka panjang, suara,
gambar, dan data harus jadi satu kesatuan. Informasi kelak tak lagi
mengarah ke single media, tetapi multimedia.
   
  Media cetak tidak perlu terlalu khawatir. Selama mampu mengadopsi
berbagai perubahan, media cetak tetap akan mampu bertahan. "Pemakaian
telepon seluler dan video conference sekarang sudah banyak dan akan
makin banyak, tetapi pertemuan secara fisik tetap dibutuhkan," ucapnya.
  Redaktur Senior Harian Kompas Ninok Leksono menuturkan, multimedia
membuat wartawan tidak hanya menyiapkan berita untuk satu medium,
tetapi beberapa medium, seperti online dan media cetak. Keadaan ini
selanjutnya dapat membuat pola perekrutan wartawan bisa berbeda.
Mereka direkrut untuk bekerja bukan di satu jenis media.
   
  Ia menyatakan, industri media kini juga menghadapi perubahan gaya
hidup. "Saat ini kita disebut generasi digital migran. Namun, generasi
yang lahir setelah tahun 1990-an akan disebut digital native. Mereka
ini sejak semula lebih akrab dengan gadget digital daripada koran,"
katanya. (NWO)
  
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/14/utama/3988336.htm



blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com 
   

       
---------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites.  Make Yahoo! your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke