Sang Raden Mas ini agaknya punya sikap paradoks. Kalau memang mau bicara 
tentang pergaulan antar manusia berkaitan dengan agama, harusnya kita menyentuh 
juga soal pluralisme. Dan kalau berhadapan dengan pluralitas beragama, sikap 
toleran sangat diperlukan. Bukan sikap konfrontatif dan provokatif yang lebih 
banyak didasari oleh purba sangka dan kedengkian.
Disinilah perlunya upaya untuk lebih memahami agama lain supaya tidak 
memberikan presumption yang miring terhadap sikap maupun perilaku pemeluk agama 
tersebut. 
Perlu diketahui Den Mas, di Islam kami tidak mengenal dogma sebagai barang mati 
yang haram untuk dibahas. Setahu saya pengakuan Yesus Kristus sebagai Tuhan di 
dalam agama Kristen berdasarkan konsili gereja, yang kemudian dijadikan dogma, 
bukan berdasarkan Firman Tuhan. Dan setelah itu pintu pembahasan ditutup dengan 
segel dogma. Bahkan ketika Martin Luther melakukan reformasi gereja yang 
kemudian memunculkan Protestan, soal ketuhanan Yesus juga ditutup rapat-rapat. 
Sangat berbeda sekali dengan pengakuan Islam terhadap Isa Al-Masih sebagai Nabi 
dan Rasul yang didasarkan kepada Al-Quran, demikian pula dengan penegasan bahwa 
dia hanya manusia biasa dan bukan Tuhan. 
Anda benar, kita tidak perlu mendalami ajaran Sidharta. Tetapi rasanya anda 
perlu paham dulu mengapa penetapan Muhammad sebagai Rasul penutup bagi umat 
Islam menjadi sangat penting, kalau anda ingin menanggapi isu yang sebenarnya 
juga tidak terlalu penting dan relevan buat anda yang Kristen. Kalau memang mau 
mengedepankan sikap anti kekerasan, ya harus dengan sikap toleran dong Mas, 
bukannya sikap arogan.
Soal penggunaan "K" dan bukan "Q" dalam Quran, dalam bahasa Indonesia juga 
perlu penegasan Mas, Al Kitab atau El Kitab; Al Shadai atau El Shadai; Bethel, 
Beit El, atau Baitul?
Mengapa pula mempelajari ajaran kristen bagi umat lain harus lewat proses 
katekisasi? Toh iman setiap orang berbeda-beda mas. Jangankan iman terhadap 
ajaran Islam maupun Kristen, wong iman terhadap Tuhan saja belum tentu ada alat 
ukurnya. Gak usah saling memaksa dan saling memprovokasi lah, apalagi 
menggunakan kata-kata kasar yang kesannya jadi kampungan.


--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, sFe <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:
 >
 > masalahnya yesus mbah dono tidak pernah mengatakan "tak ada nabi 
 sesudahku" jadi mbah dono cs jangan mengada2 donk. Kalau islam memang 
 ada dalilnya, jadi wajarlah kalau as ummat Muhammad kami perlu 
 menyebarkan dalil ini, untuk diketahui seluruh dunia, sehingga orang2 
 yang kecerdasannya under below jangan pula suka2 mengaku sebagai Nabi 
 penutup.
 >    
 >   yesus Nabi? Nabi or Tuhan sih? jangan maksain kehendak deh hanya 
 karena ingin menjawab. Ngasal banget.
 >    
 >   dan satuhal yang perlu mbah dono cari tau, buktikan ada dalil 
 yang datangnya dari Allah entah siapapun, bahwa yesus itu putera 
 Allah.
 >    
 >   yang setau Salma, yesus diangkat menjadi putera Allah dilakukan 
 oleh manusia. cmiiw.
 >    
 >   salam,
 >    
 >   sFe
 >   (santai meeenn)
 
 Kita disini tidak membahas dogma agama, karena ini bukan milis agama. 
 TAK ada yang harus buktikan kebenaran agama masing masing, karena 
 agama bukan mathematica.
 
 Yang kita harus sadar disini, dalam pergaulan antar manusia didunia, 
 ialah, bahwa kebenaran satu agama HANYA berlaku dalam agama itu. Tak 
 ada satu orang Yahudi, Kristen, Hindu Bali, Buddha Mahayana, Buddha 
 Hinayana, Konghucu dan Tao, yang perlu tahu mengenai nabi Muhammad. 
 Orang Muslim tak perlu tahu ajaran Sidharta, kecuali ingin 
 mendalaminya sesuai ajaran Dharma. Dan seterusnya dan seterusnya.
 
 Mereka harus mendalami dan tahu ajaran agama masing masing.
 
 Mbak Salma, kalau mau memahami Yesus harus melalui ajaran Kristiani, 
 dan ini mbak bisa jalankan, dengan memohon kursus Injil di keuskupan 
 atau kelompok Injili terdekat.
 
 Gitu aja kok repot?
 
 Salam santai
 
 Danardono
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke