--- In [email protected], Roelus Hartawan <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Kalau memang mau bicara tentang pergaulan antar manusia berkaitan 
dengan agama, harusnya kita menyentuh juga soal pluralisme. Dan kalau 
berhadapan dengan pluralitas beragama, sikap toleran sangat 
diperlukan. Bukan sikap konfrontatif dan provokatif yang lebih banyak 
didasari oleh purba sangka dan kedengkian.


***** Pluralisme mengkondisikan kemampuan mengakui adanya kebenaran 
lain, selain apa yang dianut. Saya toleran pada mereka yang 
menghormati agama lain, dan tidak secara primitif mengatakan, 
kebenaran ada hanya dalam agama sendiri. Tak perlu prbasangka untuk 
memerangi perilaku primitif macam itu, apalagi kedengkian, mau dengki 
apa? tak ada apa apa yang mau didengki, bukan?


> Disinilah perlunya upaya untuk lebih memahami agama lain supaya 
tidak memberikan presumption yang miring terhadap sikap maupun 
perilaku pemeluk agama tersebut. 

***** Katakanlah ini pada si haris

> Perlu diketahui Den Mas, di Islam kami tidak mengenal dogma sebagai 
barang mati yang haram untuk dibahas. 

**** Ini tak ada yang katakan, dan apa yang diajarkan dalam Islam, 
adalah urusan sampeyan, bagi saya dan bermilyard teman seiman, ini 
adalah EGP, emang gue pikirin



>Setahu saya pengakuan Yesus Kristus sebagai Tuhan di dalam agama 
Kristen berdasarkan konsili gereja, yang kemudian dijadikan dogma, 
bukan berdasarkan Firman Tuhan. Dan setelah itu pintu pembahasan 
ditutup dengan segel dogma. Bahkan ketika Martin Luther melakukan 
reformasi gereja yang kemudian memunculkan Protestan, soal ketuhanan 
Yesus juga ditutup rapat-rapat. Sangat berbeda sekali dengan 
pengakuan Islam terhadap Isa Al-Masih sebagai Nabi dan Rasul yang 
didasarkan kepada Al-Quran, demikian pula dengan penegasan bahwa dia 
hanya manusia biasa dan bukan Tuhan. 

**** Setahu saya? Kamu tahu apa sioh mengenai agama Kristiani? Nol 
besar kan?

> Anda benar, kita tidak perlu mendalami ajaran Sidharta. Tetapi 
rasanya anda perlu paham dulu mengapa penetapan Muhammad sebagai 
Rasul penutup bagi umat Islam menjadi sangat penting, kalau anda 
ingin menanggapi isu yang sebenarnya juga tidak terlalu penting dan 
relevan buat anda yang Kristen. 

**** Mengapa saya tak perlu memahami Sidharta, tetapi harus memahami 
Muhammad? Muhammad bagi SEMUA agama non Islam adalah TAK relevan.


>Kalau memang mau mengedepankan sikap anti kekerasan, ya harus dengan 
sikap toleran dong Mas, bukannya sikap arogan.

**** Siapa kedepankan sikap anti kekerasan? 2000 tahun sejak agama 
agama Ibrahim didirikan, anggauta rumpun suku Semit ini, Yehuda, 
Kristen dan islam sudah selesai berhadapan dengan kekerasan. 
Bagaimana tidak, kalau masing masing meng claim paling benar? 
Kekerasan adalah lazim dalam pertemuan tiga agama ini, misalnya 
perusakan tempat ibadah orang Kristen, pemboman di mana mana.


> Soal penggunaan "K" dan bukan "Q" dalam Quran, dalam bahasa 
Indonesia juga perlu penegasan Mas, Al Kitab atau El Kitab; Al Shadai 
atau El Shadai; Bethel, Beit El, atau Baitul?

***** Ya tegaskanlah. Al Shadai atau El Shadai; Bethel, Beit El, atau 
Baitul ini semua kata kata arab, nggak ada urusan dengan bahasa 
Indonesia. bahasa Indonesia adalah berkah bukan baroqah, dll. Dalam 
bahasa Inggris juga tak dikenal Quran, mereka sebut the Koran. Mau 
protes? silakan!


> Mengapa pula mempelajari ajaran kristen bagi umat lain harus lewat 
proses katekisasi? Toh iman setiap orang berbeda-beda mas. Jangankan 
iman terhadap ajaran Islam maupun Kristen, wong iman terhadap Tuhan 
saja belum tentu ada alat ukurnya. Gak usah saling memaksa dan saling 
memprovokasi lah, apalagi menggunakan kata-kata kasar yang kesannya 
jadi kampungan.

****** Yang memprovokasi, bahwa agama Islam yang paling benar siapa? 
Saya? Yang mengatakan, kalau tak percaya islam, akan masuk neraka 
siapa? saya? Yang kampungan siapa? Bukan teman teman ente?



Kirim email ke