Ibu listy.. 

saya juga mau lanjut nih.... tariiiiiiiik maaaaaaaang......:):):) 

 

Saya mungkin akan memulai bahwa tasawuf  merupakan praktik spiritual dalam
tradisi islam. Tasawuf memandang ruh sebagai puncak dari segala realitas.
Sementara jasad tidak lebih sebagai "kendaraan" saja. Maka, jalan
spiritualitas lebih banyak menekankan pada aspek ruhani, bersifat personal
dan berangkat dari pengalaman yang juga bersifat personal. Berbeda dengan
"agama" yang bersifat umum (dalam islam kita kenal dengan istilah
sya'riah/syari'at),  jalan tasawuf kemudian kita kenal dengan istilah
tarekat (dekat dengan istilah tirakat). Dalam jalan ini setiap pendaki akan
melewati level dan kondisi (maqomat dan ahwal) di bawah bimbingan guru
spiritual (dalam islam dikenal dengan istilah mursyid). Dimana antara satu
guru dengan guru yang lain sangat dimungkinkan menggunakan metode yang
berbeda. Sang murid diajarkan untuk berlatih membuka mata batinnya (ainul
qolb). Ada yang meyebut istilah ini dengan Mukasyafah (menyingkap) atau
hudhuri (menghadirkan) atau tawajjuh (berhadap-hadapan). Murid dilatih
membersihkan diri melalui tarekat tadi dengan menempuh dari level tertentu
ke level yang lebih tinggi, dari kondisi tertentu ke kondisi yang lebih yang
lain. Hingga sang murid mampu mencapai tingkatan fana (kosong/hampa) tidak
ada lagi ego dalam diri sang murid sehingga murid sampai pada sebuah kondisi
"tersingkap", "menghadirkan", atau "berhadap-hadapan".  

 

Sebatas apa yang saya ketahui, disinilah antara tasawuf moral dan tasawuf
falsafi berbeda jalan. Tasawuf moral -setelah melewati fase tadi- mengajak
"kembali" sang murid untuk hidup dalam dunia "nyata" dan kembali masuk dalam
aturan syariat. Namun syariat yang telah diisi dengan pengalaman dan
pengetahuan bertuhan. Sehingga syariat yang dijalankan akan lebih mantap dan
bermakna dari sebelum ia melakukan perjalanan. Misalnya, sang murid sudah
mengerti apa hakikat sholat, puasa dan zakat lalu bisa mempraktikannya
dengan lebih baik dan penuh makna. Sang murid sudah mengerti bahwa pada sisi
yang paling esoterik semua agama memiliki tujuan yang sama sehingga mampu
untuk hidup toleran serta tidak memperbesar perbedaan sisi eksoterik satu
agama dengan agama yang lain. Sang murid sudah mengerti bagaimana cara
bergaul dan menghargai antara sesama manusia bahkan seluruh makhluk hidup.
Sang murid sudah mengerti dari mana ia berasal dan kemana ia akan kembali.

 

Berbeda dengan tasawuf falsafi. Setelah sampai pada fase tersebut, sang
murid atau bahkan sang guru, tidak mau "pulang". Tapi mau tetap Menikmati
ekstase keindahan dan kenikmatan "bersatu" dengan Tuhan. Terucaplah
perkataan yang tidak terkontrol tadi (syathohat) dalam kondisi ekstase.
Berujar mengaku sebagai Sang Kebenaran atau memuji dirinya sendiri sebagai
Tuhan. Atau menuangkan pengalaman bertuhannya dalam karya/tulisan. Di level
sesama praktisi spiritualitas (kalangan khas atau khawasul khawas) mungkin
tidak menjadi persoalan. Tapi bagaimana di kalangan awam yang memang hanya
menjalankan syariat tanpa dibarengi dengan praktek tasawuf? Disinilah
problem selanjutnya muncul. Mau tidak mau, atas nama menjaga kemaslahatan
umum, menjaga keimanan dari kalangan umum, dan alasan-alasan yang sejenis,
maka para praktisi tasawuf falsafi ini menyandang predikat sesat atau yang
berakhir dengan hukuman mati. Syihabuddin Syuhrawardi yang bergelar
al-maqtul (terbunuh), Abu Mansyur Al-Hallaj dan Ainul qudhat Hamadani adalah
sufi falsafi yang hidupnya berakhir dengan hukuman mati. Bahkan syuhrawardi
dan ainul qudhat dihukum mati dalam usia yang cukup muda. Apa yang terjadi
dengan Syekh siti djenar (jika kisah ini juga memang benar dan bukan sebagai
mitos serta terlepas dari persoalan politik) adalah termasuk dalam kategori
ini. 

 

Bertemu dan bersatu dengan Tuhan ini merupakan klaim kaum sufi yang juga
diperdebatkan dikalangan teologis dan ahli fikih. Bahkan bagi sebagian
kalangan islam yang agak keras, praktik tasawuf dianggap bid'ah. Disinilah
perlunya kita bisa memahami islam (dari sisi kajian dan praktik) baik dari
sisi teologi, tasawuf, fikih dan filsafat. Agar tidak mudah terjebak dalam
absulutisme dan arogansi fikih misalnya atau tasawuf, teologi maupun
filsafat sehingga saling menyalahkan satu sama lain karena ketidakmengertian
kita terhadap metodologi yang digunakan. 

 

Apa  yang contohkan Al-Ghazali & rumi yaitu untuk segera pulang setelah
bertemu Tuhan, seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi para praktisi
tasawuf hari ini. Al-Ghazali menghiasi syariat dengan yang kaku dengan
nilai-nilai hakikat. Atau rumi yang mengekspresikan kebahagian dan rasa
cinta serta rindu kepada Tuhan melalui simbol-simbol (cinta, mawar, cawan
dll) yang terlukiskan dalam karya sastra.. 

 

Mungkin tidak mudah untuk serta merta diterima oleh rasio karena memang
tasawuf tidak menggunakan "alat ukur" rasionalitas. Tasawuf menggunakan alat
ukur yang berbeda yang bernama "ainul qolb" (mata batin) yang diyakini juga
ada dalam diri setiap manusia. Yang kadang sepintas ia "muncul" dan kita
tidak mengenalinya lalu "tertutup" lagi oleh potensi lain dalam diri kita.

 

Setidaknya itu apa yang saya pahami. Sangat terbatas... Dan dengan
keterbatasan saya,  apa yang saya tulis masih sangat jauh mendekati dari apa
yang sebenarnya sehingga besar sekali ruang kritik saya buka disini.
Bertukar pengalaman dan bacaan nampaknya selalu menjadi keharusan. 

 

Salam,

Asnawi Ihsan     

  _____  

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Listy
Sent: Thursday, December 06, 2007 5:11 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [ppiindia] motivastory: power of giving

 

Terimakasih Pak Asnawi Ihsan.. lanjut ya.. :-)

Jadi istilahnya bukan sufi liberal tapi tasawuf falsafi.. waduh
sepertinya aku salah dalam menempatkan kata nih.. ini akibat kurang
'ngeh'.. :-)

Sejalan dengan waktu saat kaki melata di muka bumi, telah terbaca
nasehat untuk tidak menyikapi secara berlebihan atas segala sesuatu, dan
telah terbaca, bahwa diri-diri yang tercantum sebagai utusan-utusan pun
tak ada perkenan untuk bertutur sapa, sapa menyapa dan dan bahkan protes
memprotes.. walau dalam selintas ingat, memang ada diri-diri yang
diberikan kelebihan lain.. kelebihan yang tidak dimiliki oleh
orang-orang biasa.. itu adalah sebuah rahasia.. kemudian jika ada
diri-diri.. mudah2an diri ini gak salah lagi kalo kemudian berlebihan
dalam keingin-tahuan, dan kemudian terpikirkan -ini pemikiran pribadi-
dari para tasawuf falsafi yang menimbulkan banyak kontroversi, adakah
karena disebabkan diri-diri tersebut telah menyikapi secara berlebihan
dalam mengenali diri dan mengenali Tuhan-nya.. sehingga ada yang
menyatakan diri dan Tuhan adalah satu.. apakah keadaan dan kondisi yang
menyebabkan hal tersebut bisa terjadi, misal karena mempunyai banyak
pengikut dan menjadi idola untuk diikuti cara yang telah dijalaninya..
yaitu jalan untuk mengenali diri dan Tuhan-nya..

Kira-kira, apakah sudah ada cara atau ikhtiar apa yang harus dijalani..
agar diri tidak berlebihan dalam upayanya untuk lebih mengenali diri dan
mengenali Tuhan-nya sebagaimana adanya.. tidak berlebihan merasa terlalu
dekat -bahkan menjadi satu- dan tidak juga menjadikan diri jauh hingga
tak mengenal.. pada akhirnya nanti toh, akan tiba saatnya, cepat atau
lambat akan ada waktu untuk 'bertemu' dengan sang pemilik.. walau sifat
atau keadaan dari kata 'bertemu' tersebut masih menjadi rahasia bagi
diri-diri.. jika saja boleh diibaratkan dengan angka dari seratus angka,
baru satu angka yang kita kenal di muka bumi ini, sedangkan
sembilanpuluhsembilan angka yang tersisa masih menjadi rahasia..

Wallahu'alam..

_____ 

From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
[mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com] On
Behalf Of Asnawi Ihsan
Sent: Thursday, December 06, 2007 2:59 PM
To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
Subject: RE: [ppiindia] motivastory: power of giving

Dalam tradisi sufistik, Kaum sufi itu secara sederhana dapat
dikelompokkan
menjadi 2. 

Pertama tasawuf akhlaqi (moral) dan satunya lagi tasawuf falsafi. 

Pada tasawuf model pertama, lebih memfokuskan pada pembinaan
moral/akhlak.
Sufi besar Al-Ghazali lebih memfokuskan ajarannya dalam model yang
pertama
ini meskipun secara pribadi beliau juga mempraktikan model tasawuf
falsafi..

Sementara Tasawuf falsafi lebih menekankan pada "pendakian" jalan menuju
Tuhan. Mengasah potensi batin hingga pada tingkat tertinggi bertemu
bahkan
bersatu dengan Tuhan. Apa yang terjadi dengan Al-Hallaj yang terkenal
dengan pernyataan "ana al-haqq" (Aku adalah Sang Kebenaran), Bayazid
Bistami
dengan pernyataan "Subhanii la ilaha ila ana" (Maha suci aku tiada tuhan
selain Aku) hingga Ibnu Arabi dengan konsep wihdatul wujud (kesatuan
wujud)
adalah representasi dari sufi model kedua. Model yang kedua inilah yang
banyak menimbulkan kontroversi.

Demikian,

Asnawi Ihsan

_____ 

From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
<mailto:ppiindia%40yahoogroups.com>
[mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
<mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> ]
On Behalf
Of Listy
Sent: Thursday, December 06, 2007 1:21 PM
To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
<mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> 
Subject: RE: [ppiindia] motivastory: power of giving

Sang Sufi ini kemungkinan adalah Sufi yang liberal.. :-)

Sang Sufi ini merasa sudah sangat dekat dengan Tuhan-nya......[tahu
darimana???]

Sang Sufi ini meng-klaim bisa bercakap-cakap langsung dengan Tuhan, coba
dibaca dengan cermat, ada kalimat Sang Sufi pun berteriak protes, dan
adanya kalimat jawaban: "Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!"..... [huebat
euy..!!]

Permisi.. maaf ketularan ngomong ngasal.. :-)

_____ 

From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
[mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com]
On
Behalf Of Nugroho Dewanto
Sent: Monday, December 03, 2007 5:39 PM
To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
Subject: [ppiindia] motivastory: power of giving

Motivastory

Power of Giving:

Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan
Tuhan-nya. 
Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang
yang 
sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang

dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak
lemas 
di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin
tidak 
mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak 
protes pada Tuhan-nya: "Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu 
untuk orang ini !!". Sesaat kemudian, terdengar jawaban: "Ya! Makanya
Aku 
ciptakan kamu!".

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke