Kanselir Jerman: Menara Masjid Tidak Boleh Lebih Tinggi dari Menara Gereja  
Sabtu, 8 Des 07 14:33 WIB
    Kirim teman
   
  Kanselir Jerman Angela Merkel lagi-lagi melontarkan pernyataan provokatif 
yang menyinggung warga Muslim. Merkel, yang juga puteri seorang pastor 
beraliran Lutheran ini, di hadapan anggota Kongres dari kelompok Kristen 
Demokrat mengatakan, "Kita harus mengawasi agar kubah-kubah masjid tidak 
dibangun lebih tinggi daripada menara gereja" sehingga terlihat lebih menonjol.
   
  Pernyataan Merkel memicu reaksi dari tokoh-tokoh Muslim di negeri itu. Juru 
bicara Coordination Council of Muslim-organisasi yang mewadahi warga Muslim 
Jerman-Bekir Alboga menilai pernyataan Merkel itu bermotifkan politik. Dan ia 
mengungkapkan kekhawatirannya, jika masjid menjadi isu sentral kampanye para 
politisi menjelang pemilu di Jerman.
   
  "Kita harus hati-hati terhadap perdebatan-perdebatan semu dengan tujuan 
politik, yang tidak ada kaitannya dengan kenyataan di lapangan, " Alboga 
mengingatkan.
   
  "Komentar-komentar seperti yang dilontarkan Kanselir Merkel tentang masjid... 
Kembali pada pendapat dari otoritas yang berwenang memberikan izin mendirikan 
bangunan berdasarkan pada keputusan mereka terkait dengan kondisi lokal dan 
konsensus antara warga setempat dan komunitas masjid, " paparnya.
   
  Pembangunan masjid memang menjadi isu yang sensitif di Jerman. Kalangan 
konservatif di wilayah Bavaria sudah sejak lama menyatakan bahwa menara-menara 
masjid tidak boleh menghalangi menara-menara gereja. Sementara itu, warga lokal 
di Berlin, Munich dan Cologne menentang keras rencana pembangunan masjid di 
wilayah mereka.
   
  Alboga sangat menyayangkan perdebatan masalah masjid ini terjadi. Menurutnya, 
warga Muslim dan Kristen punya persoalan lain yang lebih penting yang harus 
didialogkan ketimbang berdebat masalah menara masjid dan menara gereja.
   
  Sejak kelompok konservatif yang diwakili Merkel naik ke tampuk kekuasaan di 
Jerman pada bulan November 2005, Islamofobia makin merebak di Jerman. Pada 
bulan Juni kemarin misalnya, Merkel menandatangani pernyataan yang dibuat oleh 
seorang Kardinal Jerman yang isinya menyatakan bahwa Jerman tidak kritis dalam 
sikap toleransinya pada warga Muslim, sehingga warga Muslim menikmati posisi 
yang sama dengan umat Kristiani di negeri itu.
   
  Kardinal Karl Lehman, ketua Konferensi Keuskupan Jerman mengaku prihatin 
melihat kebebasan beragama yang mengarah pada persamaan perlakukan pada semua 
agama tanpa melihat jumlah penganut agama mana yang lebih besar dan latar 
belakang sejarahnya.
   
  Di Jerman saat ini diperkirakan ada 3, 2 juta warga Muslim yang mayoritas 
berasal dari keturunan Turki. Jerman merupakan negara kedua di Eropa setelah 
Prancis, yang jumlah warga muslimnya paling besar. (ln/iol)


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke