kepanikan kayak gini jadi tertawaan non-muslim...

contoh aja, bertahun2 menjelang lebaran di smua stasiun TV pada banyak acara 
tentang islam, dari talk show islam yang dihadiri ustad2 terkenal sampe film 
dan sinetron islami..., gak da tuh kepanikan dari pihak non-muslim, mereka 
santai2 aja tuh, klo pun mereka nonton gak ada yang terpengaruh ato jadi pindah 
agama....

pada dasarnya non muslim (kristen, budha dan hindu), mereka PD dan PA (percaya 
agamanya) jadi mereka gak panik dan gak heboh parno gitu. 

kalo orang gak takut, yang gak usah heboh parno donk, kalo takut berarti lemah, 
dalam kasus ini takut pindah ke seberang..., yang jadi pertanyaan saya..kenapa 
takut? kenapa takut kalo yakin sama agamanya? mo seribu tayangan acara didepan 
mata sih kalo udah yakin bener sama agamanya gak mungkin lah takut..

hal2 seperti ini yang menjadikan islam jadi tertawaan...., yang lucunya islam 
mayoritas di indonesia, kok malah takut sih..., udah gede masaq takut sama yang 
kecil? 

yang lebih bingung lagi, ketakutan sampe heboh begini bukan karena misalnya non 
muslim bikin acara bom bunuh diri, menghasut orang2 non-muslim untuk membenci 
sama orang2 muslim..., tapi umat takut cuma sama satu tayangan acara natal di 
TV..., masuk akal gak sih?

kenapa takut sama non-muslim yang jumlahnya kecil? 

untung artikel peringatan kyk gini, gak nyasar di milis2 non muslim, kalo ada 
yang nyasar, bisa ketawa ngakak deh tuh orang2 non-muslim. (kristen, budha, 
hindu, atheis)

malu ah..., mending belajar PD (percaya diri) dan PA(percaya agamanya) mulai 
sekarang...., jadi gak usah takut dn heboh parno lagi...

kan malu jadi tertawaan....


salam tertawa ngenes...




----- Original Message ----
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
To: mediacare yahoogroups <[EMAIL PROTECTED]>; zamanku <[EMAIL PROTECTED]>; 
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]
Cc: wartawan <[EMAIL PROTECTED]>; wartawan indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, December 13, 2007 8:20:58 AM
Subject: [ppiindia] Tanya jawab dengan ustadz: Apakah menonton TV haram?

Catatan: 
Tanya jawab di bawah ini dijumput dari milis PKS

From: Pardomuan Ritonga
E-mail: pardomuan.ritonga@ yahoo.co. id 
Date: Tue, 11 Dec 2007 17:28:33 -0800 (PST)
Subject: [PKS] Film FTV Natal Kristenisasi

Film FTV Natal Kristenisasi
Rabu, 12 Des 07 07:56 WIB

Assalamualaikum,

Ustad yang terhormat, saat ini di eramuslim ada berita dengan judul "Matikan TV 
Pada Sabtu, 15 Desember 2007 Sore!", isinya mengajak umat Islam untuk tidak 
melihat film ini. Untuk masalah ajakannya saya sendiri tidak mempermasalahkan 
dan mendukungnya, tetapi ada sesuatu yang mengganjal karena penulis menambahkan 
kalimat "Atau bagi yang tetap penasaran menonton, sebaiknya jangan lepas dari 
wudhu selama menonton film ini agar terhindar dari "Kuasa Gelap dan dilindungi 
oleh Allah SWT". Kalimat tersebut menyiratkan ada "kekuatan gelap" yang akan 
menggoyahkan hati orang-orang Islam. Bukankan kita sebagai orang Islam tidak 
perlu takut, karena Allah SWT yang akan melindungi orang-orang yang beriman.

Apakah mungkin ritual khusus yang dilakukan untuk film tersebut bisa mempan? 
Menurut saya, sekarang mungkin malah banyak orang Islam yang penasaran ingin 
melihat Film tersebut, karena sudah diberitakan di eramuslim bahwa ada sejenis 
Film di India seperti yang akan diputar di stasiun tv di Indonesia telah 
berhasil memurtadkan jutaan orang-orang Hindu. Menurut ustadz sendiri bagaimana 
sebaiknya? Terima Kasih.

Faiz

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

JAWABAN

Assalamu 'alaaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Inilah problematika berat yang selalu saja dihadapi umat Islam. Maju kena dan 
mundur pun kena juga. Jadi serba salah. Diperingatkan salah tidak diperingatkan 
juga bisa salah. Kalau memang benar informasi yang ditulis oleh entah siapa 
sumbernya dan kini beredar banyak di milis dan email termasuk di eramuslim, 
maka kita memang harus tanggap untuk menghindarinya. Tapi kalau kurang cermat 
menanggapinya, dan bahkan terkesan panik, justru 'kepanikan' kita malah bisa 
menjadi iklan murahan sekaligus 'iklan gratisan' buat film tersebut. Maka 
setiap orang justru penasaran untuk melihatnya.

Cobalah renungkan, bukakah selama ini tidak ada sebuah film di TV yang belum 
lagi diputar tapi sudah bikin heboh? Dan khususnya menghebohkan jagad dunia 
maya muslim Indonesia.

Kami sendiri sudah menerima peringatan ini dalam bentuk email, entah siapa yang 
mengirimnya, sejak lama. Saat membuka isi email itu, terus terang kami sama 
sekali tidak tertarik untuk membacanya, apalagi untuk melihat filmnya. Kesan 
yang muncul pertama, email ini memang sebuah iklan gratis..

Apalagi kami tidak pernah tertarik untuk menonton acara begituan di layar TV. 
Dan menurut hemat kami, umat Islam yang melek agama, pastilah tidak akan 
menontonnya. Ngapain nonton film begituan?

Efek Psikologis Peringatan

Satu hal yang jadi pertimbangan kita adalah kenyataan bahwa otak kita tidak 
bisa diperintah dengan terbalik, bisanya lurus. Kita bisa melarang orang untuk 
tidak memakan suatu makanan. Tapi kita tidak bisa melarang orang untuk 
membayangkan makanan itu. Kita bisa bilang jangan minum khamar, tapi kita tidak 
bisa melarang orang membayangkan khamar.

Contoh lain, kalau kita larang seseorang untuk membayangkan gajah di dalam 
benaknya, apalagi dengan bombastis, maka orang itu justru malah akan 
membayangkan gajah di benaknya. Padahal kita sudah teriak-teriak, "Jangan 
bayangkan gajah, jangan bayangkan gajah." Eh, ternyata orang itu malah 
membayangkan gajah di benaknya.

Kalau ada film heboh, lalu kita teriak-teriak, "Jangan tonton, jangan tonton." 
Maka yang terjadi orang malah antri mau nonton. Itulah aspek psikologis 
karakter penonton kita. Dan kita tidak mau orang malah jadi menonton film itu 
justru karena peringatan dari kita.

Unsur Magis

Terus terang kami 100% tidak percaya kalau dikatakan film itu mengandung unsur 
magis atau sudah dirasuki setan, sehingga yang melihatnya akan kemasukan setan 
dan jadi tersesat. Dan kalau kita cermati, tanpa harus dilakukan penyusupan 
setan secara ghaib di film itu pun, sebenarnya nyaris semua acara TV di negeri 
kita sudah berisi 'setan' yang sesat dan menyesatkan.

Cobalah bayangkan, bukankah infotainment yang isinya zina, cerai, selingkuh, 
mabuk, ditangkap karena narkoba atau pejabat yang ketahuan berzina di hotel 
merupakan acara yang sesat dan menyesatkan? Tapi kok malah tetap ditonton? Ini 
kan namanya sihir yang nyata. Bukankah acara film dan sinetron yang isinya 
remaja SMP dan SMU berzina, pacaran, selingkuh merupakan acara yang sesat dan 
menyesatkan? Tapi yang nonton semakin hari semakin banyak. Bukankah ini juga 
merupakan bentuk sihir abad 21? Bukankah film setan, horor, hantu dan ilmu-ilmu 
ghaib bukan program yang sesat dan menyesatkan? Bukankah semua itu berisi
nilai-nilai yang penuh madharat serta merusak fikrah dan aqidah? Tapi kenapa 
orang-orang tetap setia menontonnya sampai subuh? Bukankah ini juga bentuk 
sihir? Bagaimana tidak sesat kalau pogram sampah seperti itu setiap hari 
diputar, sejak adzan shubuh berkumandang sampai terbit matahari lagi, isinya 
cuma urusan syirik, fitnah dan maksiat?

Sebuah sinetron sebenarnya sudah dianggap merasuki setan dan mengadung 'sihir', 
ketika para pemirsanya bisa dibuat tidak mau beranjak dan merasakan 
ketergantungan untuk selalu terus menonton. Padahal isinya cuma berputar-putar 
tidak jelas, apalagi sepanjang sinetron itu tidak pernah sepi dari maksiat, 
pacaran, zina, hamil di luar nikah, fitnah, perpecahan keluarga, anak yang 
memaki ayah dan ibunya dan segudang kesesatan parah lainnya. Jelaslah sinetron 
seperti itu merupakan sihir abad 21, yang sebenarnya jauh lebih parah dan lebih 
berat dari pada sekedar menonton film misionaris.

Peringatan Tetap Dibutuhkan, Tetapi....

Tapi lepas dari semua itu, kita ucapkan terima kasih atas peringatan yang 
diberikan. Sebenarnya sebagai muslim yang baik, tanpa harus diberi peringatan 
pun pasti kita sudah tidak akan menonton acara yang isinya hanya kegiatan dan 
ajakan misionaris. Apalagi kalau isinya sesat dan menyesatkan. Hanya yang perlu 
kita cermati adalah efek heboh yang sebenarnya malah menjadi kampanye 
terselubung. Dan agaknya sisi ini tidak salah kalau kita pertimbangkan. 
Mengingat karakteristik para masyarakat pemirsa dan konsumen kita suka latah 
dan penasaran kepingin tahu.

Misalnya, ada berita di suatu kampung ada kucing berkaki tiga. Lalu tiba-tiba 
orang berduyun- duyun datang untuk sekedar menonton. Maka si kucing berkaki 
tiga pun ngetop di seantero jagad raya. Bahkan masuk TV segala. Terus, kemarin 
Indonesia dihebohkan dengan terbitnya majalah Playboy Indonesia. Beragam caci 
maki dilontarkan kepada penerbitnya. Tapi di sisi lain, penjualan majalah ini 
pun sukses besar karena langsung ludes dibeli orang. Padahal sebelumnya sudah 
banyak majalah yang lebih porno dari Playboy beredar di pinggir jalan dan 
dijual bebas. Tidak ada yang beli. Tapi begitu pakai nama Playboy, langsung 
balik modal dan untung besar. Jadi yang harus kita waspadai adalah efek domino 
dari peringatan ini. Jangan semakin kita hebohkan, yang nonton malah semakin 
banyak. Akibatnya, peringatan yang kita buat malah menjadi iklan gratis atas 
film ini. Padahal mimbar agama Islam yang diputar subuh di beberapa TV kita, 
nyaris sepi dan tidak ada yang nonton.
 Sungguh sangat ironis bukan?

Apakah TV haram?

Mungkin nanti ada yang bertanya, kenapa tidak kita haramkan saja televisi? Kan 
isinya kemungkaran semua. Kita masih perlu diskusi lagi untuk masalah ini, dan 
bukan kita harus mengharamkan total dari menonton TV. Hanya saja secara tidak 
langsung, semakin kita banyak menonton TV, kita harus semakin cerdas untuk 
memilah dan memilih. Sebagai muslim kita harus punya filter ganda untuk bisa 
dengan sehat aqidah dan sehat fikrah menonton televisi. Sebab TV kita ini sudah 
kebanyakan racunnya dari pada gizinya. Ibarat orang makan kepiting rebus, 
kebanyakan tulang, kulit dan durinya dari pada dagingnya. Untuk memakannya agak 
merepotkan. Dan mengharamkan TV tidak sesederhana itu memang. Sebab semakin 
diharamkan, maka orang akan semakin banyak nonton.

Kembali kepada teori psikologis konsumen di atas..Terus Apa? Yang harus kita 
pikirkan sekarang adalah bagaimana umat Islam yang konon ada 200 juta di negeri 
ini bisa memproduksi tayangan TV yang bermanfaat, bebas syirik dan maksiat. 
Kalau untuk memiliki stasiun TVsendiri masih ilusi, setidaknya kita harus bisa 
membuat program tayangan TV sekaligus pemasang iklannya. Atau setidaknya ada 
dana wakaf umat untuk kita bisa membeli slot di jaringan TV swasta dan 
pemerintah. Jadi bisa tampil tanpa iklan. Tapi biasanya, kalau diskusi sudah 
sampai di sini, maka para tokoh muslim akan terdiam, suasana akan hening. 
Karena dari dulu tidak pernah ada yang terealisasi dari program yang masih 
berupa mimpi itu. Terus terang saja, kita selama ini lebih suka bikin ormas 
atau bikin partai dari pada memikirkan sudut yang satu ini.

Padahal kita semua sudah ber-ijma' bahwa media massa adalah wilayah yang mutlak 
harus dimiliki demi tegaknya dakwah Islam. Tapi sekian ormas dan partai Islam 
yang anggotanya menjejali gedung wakil rakyat, tidak satu pun yang sudah 
merealisasikan program ini. Kalau ditanya mengapa, jawabannya klasik sekali, 
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Capek deh!

Hikmah

Hikmah yang bisa kita petik dari rencana kalangan misionaris memutar film itu 
di TV adalah ini merupakan sebuah cambuk buat kita umat Islam. Pertanyaannya 
sederhana, apa yang sudah kita kerjakan di dunia pers, khususnya televisi?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

mediacare
http://www.mediacar e.biz

[Non-text portions of this message have been removed]





      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke