He he he, apakah Iman dan Taqwa umat Muslim di Indonesia ini hanya 
segitu cetek ???. Sama Tayangan TV aja dah Takut apalagi sama 
Indomie ???

Kalau saya melihat fenomena ini, bearti Umat Islam di Indonesia 
hanya secara Kwantitas saja yang OK, tapi Kwalitas masih Nol. itu 
adalah suatu kegagalan. 

Para Alim ulama, Cendikiwan, Ustaz dll, dari pada sibuk mengurusin 
agama orang lain, rumah ibadah orang lain, lebih baik tenaganya di 
pergunakan untuk meningkatkan Iman dan Taqwa dari Muslim itu 
sendiri, agar Islam KTP bisa berkurang ( Peningkatan Kwalitas ). 
Jangan2 Mereka juga tidak punya kemampuan itu. 

Mustinya Umat Muslim malu sama No-Muslim, wong tiap hari di cekokin 
suara Toa nya Mesjid, Musholah. ngak ada tuh yang paranoid kayak 
gitu.

--- In [email protected], Freedom Of Mind 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> kepanikan kayak gini jadi tertawaan non-muslim...
> 
> contoh aja, bertahun2 menjelang lebaran di smua stasiun TV pada 
banyak acara tentang islam, dari talk show islam yang dihadiri 
ustad2 terkenal sampe film dan sinetron islami..., gak da tuh 
kepanikan dari pihak non-muslim, mereka santai2 aja tuh, klo pun 
mereka nonton gak ada yang terpengaruh ato jadi pindah agama....
> 
> pada dasarnya non muslim (kristen, budha dan hindu), mereka PD dan 
PA (percaya agamanya) jadi mereka gak panik dan gak heboh parno 
gitu. 
> 
> kalo orang gak takut, yang gak usah heboh parno donk, kalo takut 
berarti lemah, dalam kasus ini takut pindah ke seberang..., yang 
jadi pertanyaan saya..kenapa takut? kenapa takut kalo yakin sama 
agamanya? mo seribu tayangan acara didepan mata sih kalo udah yakin 
bener sama agamanya gak mungkin lah takut..
> 
> hal2 seperti ini yang menjadikan islam jadi tertawaan...., yang 
lucunya islam mayoritas di indonesia, kok malah takut sih..., udah 
gede masaq takut sama yang kecil? 
> 
> yang lebih bingung lagi, ketakutan sampe heboh begini bukan karena 
misalnya non muslim bikin acara bom bunuh diri, menghasut orang2 non-
muslim untuk membenci sama orang2 muslim..., tapi umat takut cuma 
sama satu tayangan acara natal di TV..., masuk akal gak sih?
> 
> kenapa takut sama non-muslim yang jumlahnya kecil? 
> 
> untung artikel peringatan kyk gini, gak nyasar di milis2 non 
muslim, kalo ada yang nyasar, bisa ketawa ngakak deh tuh orang2 non-
muslim. (kristen, budha, hindu, atheis)
> 
> malu ah..., mending belajar PD (percaya diri) dan PA(percaya 
agamanya) mulai sekarang...., jadi gak usah takut dn heboh parno 
lagi...
> 
> kan malu jadi tertawaan....
> 
> 
> salam tertawa ngenes...
> 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
> To: mediacare yahoogroups <[EMAIL PROTECTED]>; zamanku 
<[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; pantau-
[EMAIL PROTECTED]
> Cc: wartawan <[EMAIL PROTECTED]>; wartawan indonesia 
<[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, December 13, 2007 8:20:58 AM
> Subject: [ppiindia] Tanya jawab dengan ustadz: Apakah menonton TV 
haram?
> 
> Catatan: 
> Tanya jawab di bawah ini dijumput dari milis PKS
> 
> From: Pardomuan Ritonga
> E-mail: pardomuan.ritonga@ yahoo.co. id 
> Date: Tue, 11 Dec 2007 17:28:33 -0800 (PST)
> Subject: [PKS] Film FTV Natal Kristenisasi
> 
> Film FTV Natal Kristenisasi
> Rabu, 12 Des 07 07:56 WIB
> 
> Assalamualaikum,
> 
> Ustad yang terhormat, saat ini di eramuslim ada berita dengan 
judul "Matikan TV Pada Sabtu, 15 Desember 2007 Sore!", isinya 
mengajak umat Islam untuk tidak melihat film ini. Untuk masalah 
ajakannya saya sendiri tidak mempermasalahkan dan mendukungnya, 
tetapi ada sesuatu yang mengganjal karena penulis menambahkan 
kalimat "Atau bagi yang tetap penasaran menonton, sebaiknya jangan 
lepas dari wudhu selama menonton film ini agar terhindar dari "Kuasa 
Gelap dan dilindungi oleh Allah SWT". Kalimat tersebut menyiratkan 
ada "kekuatan gelap" yang akan menggoyahkan hati orang-orang Islam. 
Bukankan kita sebagai orang Islam tidak perlu takut, karena Allah 
SWT yang akan melindungi orang-orang yang beriman.
> 
> Apakah mungkin ritual khusus yang dilakukan untuk film tersebut 
bisa mempan? Menurut saya, sekarang mungkin malah banyak orang Islam 
yang penasaran ingin melihat Film tersebut, karena sudah diberitakan 
di eramuslim bahwa ada sejenis Film di India seperti yang akan 
diputar di stasiun tv di Indonesia telah berhasil memurtadkan jutaan 
orang-orang Hindu. Menurut ustadz sendiri bagaimana sebaiknya? 
Terima Kasih.
> 
> Faiz
> 
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> 
> JAWABAN
> 
> Assalamu 'alaaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> 
> Inilah problematika berat yang selalu saja dihadapi umat Islam. 
Maju kena dan mundur pun kena juga. Jadi serba salah. Diperingatkan 
salah tidak diperingatkan juga bisa salah. Kalau memang benar 
informasi yang ditulis oleh entah siapa sumbernya dan kini beredar 
banyak di milis dan email termasuk di eramuslim, maka kita memang 
harus tanggap untuk menghindarinya. Tapi kalau kurang cermat 
menanggapinya, dan bahkan terkesan panik, justru 'kepanikan' kita 
malah bisa menjadi iklan murahan sekaligus 'iklan gratisan' buat 
film tersebut. Maka setiap orang justru penasaran untuk melihatnya.
> 
> Cobalah renungkan, bukakah selama ini tidak ada sebuah film di TV 
yang belum lagi diputar tapi sudah bikin heboh? Dan khususnya 
menghebohkan jagad dunia maya muslim Indonesia.
> 
> Kami sendiri sudah menerima peringatan ini dalam bentuk email, 
entah siapa yang mengirimnya, sejak lama. Saat membuka isi email 
itu, terus terang kami sama sekali tidak tertarik untuk membacanya, 
apalagi untuk melihat filmnya. Kesan yang muncul pertama, email ini 
memang sebuah iklan gratis..
> 
> Apalagi kami tidak pernah tertarik untuk menonton acara begituan 
di layar TV. Dan menurut hemat kami, umat Islam yang melek agama, 
pastilah tidak akan menontonnya. Ngapain nonton film begituan?
> 
> Efek Psikologis Peringatan
> 
> Satu hal yang jadi pertimbangan kita adalah kenyataan bahwa otak 
kita tidak bisa diperintah dengan terbalik, bisanya lurus. Kita bisa 
melarang orang untuk tidak memakan suatu makanan. Tapi kita tidak 
bisa melarang orang untuk membayangkan makanan itu. Kita bisa bilang 
jangan minum khamar, tapi kita tidak bisa melarang orang 
membayangkan khamar.
> 
> Contoh lain, kalau kita larang seseorang untuk membayangkan gajah 
di dalam benaknya, apalagi dengan bombastis, maka orang itu justru 
malah akan membayangkan gajah di benaknya. Padahal kita sudah teriak-
teriak, "Jangan bayangkan gajah, jangan bayangkan gajah." Eh, 
ternyata orang itu malah membayangkan gajah di benaknya.
> 
> Kalau ada film heboh, lalu kita teriak-teriak, "Jangan tonton, 
jangan tonton." Maka yang terjadi orang malah antri mau nonton. 
Itulah aspek psikologis karakter penonton kita. Dan kita tidak mau 
orang malah jadi menonton film itu justru karena peringatan dari 
kita.
> 
> Unsur Magis
> 
> Terus terang kami 100% tidak percaya kalau dikatakan film itu 
mengandung unsur magis atau sudah dirasuki setan, sehingga yang 
melihatnya akan kemasukan setan dan jadi tersesat. Dan kalau kita 
cermati, tanpa harus dilakukan penyusupan setan secara ghaib di film 
itu pun, sebenarnya nyaris semua acara TV di negeri kita sudah 
berisi 'setan' yang sesat dan menyesatkan.
> 
> Cobalah bayangkan, bukankah infotainment yang isinya zina, cerai, 
selingkuh, mabuk, ditangkap karena narkoba atau pejabat yang 
ketahuan berzina di hotel merupakan acara yang sesat dan 
menyesatkan? Tapi kok malah tetap ditonton? Ini kan namanya sihir 
yang nyata. Bukankah acara film dan sinetron yang isinya remaja SMP 
dan SMU berzina, pacaran, selingkuh merupakan acara yang sesat dan 
menyesatkan? Tapi yang nonton semakin hari semakin banyak. Bukankah 
ini juga merupakan bentuk sihir abad 21? Bukankah film setan, horor, 
hantu dan ilmu-ilmu ghaib bukan program yang sesat dan menyesatkan? 
Bukankah semua itu berisi
> nilai-nilai yang penuh madharat serta merusak fikrah dan aqidah? 
Tapi kenapa orang-orang tetap setia menontonnya sampai subuh? 
Bukankah ini juga bentuk sihir? Bagaimana tidak sesat kalau pogram 
sampah seperti itu setiap hari diputar, sejak adzan shubuh 
berkumandang sampai terbit matahari lagi, isinya cuma urusan syirik, 
fitnah dan maksiat?
> 
> Sebuah sinetron sebenarnya sudah dianggap merasuki setan dan 
mengadung 'sihir', ketika para pemirsanya bisa dibuat tidak mau 
beranjak dan merasakan ketergantungan untuk selalu terus menonton. 
Padahal isinya cuma berputar-putar tidak jelas, apalagi sepanjang 
sinetron itu tidak pernah sepi dari maksiat, pacaran, zina, hamil di 
luar nikah, fitnah, perpecahan keluarga, anak yang memaki ayah dan 
ibunya dan segudang kesesatan parah lainnya. Jelaslah sinetron 
seperti itu merupakan sihir abad 21, yang sebenarnya jauh lebih 
parah dan lebih berat dari pada sekedar menonton film misionaris.
> 
> Peringatan Tetap Dibutuhkan, Tetapi....
> 
> Tapi lepas dari semua itu, kita ucapkan terima kasih atas 
peringatan yang diberikan. Sebenarnya sebagai muslim yang baik, 
tanpa harus diberi peringatan pun pasti kita sudah tidak akan 
menonton acara yang isinya hanya kegiatan dan ajakan misionaris. 
Apalagi kalau isinya sesat dan menyesatkan. Hanya yang perlu kita 
cermati adalah efek heboh yang sebenarnya malah menjadi kampanye 
terselubung. Dan agaknya sisi ini tidak salah kalau kita 
pertimbangkan. Mengingat karakteristik para masyarakat pemirsa dan 
konsumen kita suka latah dan penasaran kepingin tahu.
> 
> Misalnya, ada berita di suatu kampung ada kucing berkaki tiga. 
Lalu tiba-tiba orang berduyun- duyun datang untuk sekedar menonton. 
Maka si kucing berkaki tiga pun ngetop di seantero jagad raya. 
Bahkan masuk TV segala. Terus, kemarin Indonesia dihebohkan dengan 
terbitnya majalah Playboy Indonesia. Beragam caci maki dilontarkan 
kepada penerbitnya. Tapi di sisi lain, penjualan majalah ini pun 
sukses besar karena langsung ludes dibeli orang. Padahal sebelumnya 
sudah banyak majalah yang lebih porno dari Playboy beredar di 
pinggir jalan dan dijual bebas. Tidak ada yang beli. Tapi begitu 
pakai nama Playboy, langsung balik modal dan untung besar. Jadi yang 
harus kita waspadai adalah efek domino dari peringatan ini. Jangan 
semakin kita hebohkan, yang nonton malah semakin banyak. Akibatnya, 
peringatan yang kita buat malah menjadi iklan gratis atas film ini. 
Padahal mimbar agama Islam yang diputar subuh di beberapa TV kita, 
nyaris sepi dan tidak ada yang nonton.
>  Sungguh sangat ironis bukan?
> 
> Apakah TV haram?
> 
> Mungkin nanti ada yang bertanya, kenapa tidak kita haramkan saja 
televisi? Kan isinya kemungkaran semua. Kita masih perlu diskusi 
lagi untuk masalah ini, dan bukan kita harus mengharamkan total dari 
menonton TV. Hanya saja secara tidak langsung, semakin kita banyak 
menonton TV, kita harus semakin cerdas untuk memilah dan memilih. 
Sebagai muslim kita harus punya filter ganda untuk bisa dengan sehat 
aqidah dan sehat fikrah menonton televisi. Sebab TV kita ini sudah 
kebanyakan racunnya dari pada gizinya. Ibarat orang makan kepiting 
rebus, kebanyakan tulang, kulit dan durinya dari pada dagingnya. 
Untuk memakannya agak merepotkan. Dan mengharamkan TV tidak 
sesederhana itu memang. Sebab semakin diharamkan, maka orang akan 
semakin banyak nonton.
> 
> Kembali kepada teori psikologis konsumen di atas..Terus Apa? Yang 
harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana umat Islam yang konon 
ada 200 juta di negeri ini bisa memproduksi tayangan TV yang 
bermanfaat, bebas syirik dan maksiat. Kalau untuk memiliki stasiun 
TVsendiri masih ilusi, setidaknya kita harus bisa membuat program 
tayangan TV sekaligus pemasang iklannya. Atau setidaknya ada dana 
wakaf umat untuk kita bisa membeli slot di jaringan TV swasta dan 
pemerintah. Jadi bisa tampil tanpa iklan. Tapi biasanya, kalau 
diskusi sudah sampai di sini, maka para tokoh muslim akan terdiam, 
suasana akan hening. Karena dari dulu tidak pernah ada yang 
terealisasi dari program yang masih berupa mimpi itu. Terus terang 
saja, kita selama ini lebih suka bikin ormas atau bikin partai dari 
pada memikirkan sudut yang satu ini.
> 
> Padahal kita semua sudah ber-ijma' bahwa media massa adalah 
wilayah yang mutlak harus dimiliki demi tegaknya dakwah Islam. Tapi 
sekian ormas dan partai Islam yang anggotanya menjejali gedung wakil 
rakyat, tidak satu pun yang sudah merealisasikan program ini. Kalau 
ditanya mengapa, jawabannya klasik sekali, coba kita bertanya pada 
rumput yang bergoyang. Capek deh!
> 
> Hikmah
> 
> Hikmah yang bisa kita petik dari rencana kalangan misionaris 
memutar film itu di TV adalah ini merupakan sebuah cambuk buat kita 
umat Islam. Pertanyaannya sederhana, apa yang sudah kita kerjakan di 
dunia pers, khususnya televisi?
> 
> Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
wabarakatuh,
> 
> Ahmad Sarwat, Lc
> 
> mediacare
> http://www.mediacar e.biz
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
>       
_____________________________________________________________________
_______________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke