Mas nug, mereka dapat sumber sejarah dari mana? Karena responbilitas dari 
sebuah historiografi selalu berkaitan dengan sumber! Bicara tentang sejarah, 
jujur atau tidak, subyektivitas penulis selalu terbawa dalam tulisan, apalagi 
kalau sudah menyangkut sebuah kepentingan, tidak mustahil akan juga bersifat 
tendensius!
   
  Karena factor subyektuivitas inilah biasanya validitas tulisan sejarah selalu 
menggunakan parameter “majority narrator”, yaitu  berdasarkan mayoritas 
narrator yang mengkisahkan suatu peristiwa sejarah tsb, Apakah kisah tentang 
“X” dikisahkan dengan pola yang sama oleh mayoritas narrator, disamping juga 
validitas sumber, dokumen, kepribadian periwayat, dsbnya. Dan, biasanya dalam 
tradisi islam sejarah rasullullah selalu ditarik ke arah sumber rujukan (sanad) 
yaitu hadist. Nah, apakah ada hadist pendukung yang mengkisahkan keluarga 
rasulullah semacam itu?
   
  Penulis sejarah itu juga bisa digolongkan 2 macam: penulis yang mengalami 
sejarah itu sendiri (insider) atau penulis yang berada di luar peristiwa 
sejarah (outsider). Yang di luar sejarah juga bermacam-macam kategorinya 
berdasarkan kurun waktu generasi. Generasi ke berapa? Ibarat lingkaran cambium 
(lapisan kayu), maka penulis yang dekat dengan lingkaran (walau tidak mengalami 
peristiwa sejarah) dianggap menerima kisah yang lebih valid, ketimbang yang 
jauh dari lingkaran, karena semakin jauh umumnya akan mengalami “pembiasan” 
(distorsi) dan “penyisipan” (interpolasi).
   
  Sekedar mohon konfirmasi!
   
  Salam
  RDM


Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          

>From: "Abdul Moqsith Ghazali" <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal
>
>"Nabi Muhammad dan Keluarganya"
>
>
>Narasumber Lies Marcoes Natsir, Mohamad Guntur Romli, Dr. Jalaluddin
>Rakhmat Moderator Anick HT. Selasa, 18 Desember 2007,
>Jam 19.00-21.30 WIB, di Teater Utan Kayu Jakarta.
>
>
>Nabi Muhammad lahir dari lingkungan yang pluralis. Keluarga besarnya tak
>seluruhnya Muslim. Dia pernah punya menantu non-Muslim, Abul `Ash yang
>menikah dengan Zainab puteri Nabi. Salah seorang mertuanya ada yang
>beragama Yahudi. Bahkan, budak perempuannya bernama Maria al-Qibtiyah
>menganut Kristen Koptik. Dari Maria ini, Muhammad memiliki seorang anak
>laki-laki bernama Ibrahim. Nabi Muhammad juga dikenal sebagai pembela
>perempuan. Ketika Fathimah puteri Nabi hendak di"dua"kan oleh suaminya,
>Ali ibn Thalib, Nabi Muhammad marah besar. Ia meminta Ali untuk
>menceraikan puterinya jika tetap bersikukuh untuk berpoligami. Muhammad
>SAW adalah satu-satunya tokoh agama yang berani membatasi praktek poligami
>di tanah Arab. Namun, belakangan sejumlah pertanyaan diajukan; Jika
>Muhammad SAW adalah seorang pluralis kenapa ia kerap bersikap ketus bahkan
>berperang melawan orang-orang non-Muslim? Dan jika ia memang pembela
>perempuan, kenapa ia beristeri dengan sembilan bahkan tiga belas
>perempuan? Inilah yang menjadi fokus diskusi bulanan Jaringan Islam
>Liberal.
>



                         

       
---------------------------------
 Sent from Yahoo! &#45; a smarter inbox.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke