Bung Nug dan Mbak Rulita,

 

Seinget saya, meski awalnya sebagai budak tapi akhirnya Maria Al Qibtiyah
dinikahi oleh Nabi dan akhirnya memberikan Nabi seorang anak laki-laki  yang
bernama Ibrahim, tapi dalam keterangan lain disebutkan bahwa nama anak
laki-laki Nabi itu bernama Qosim karena itu Nabi juga kerap disapa Abu
al-Qosim (ayah Qosim). Tapi sayangnya, putra semata wayang ini meninggal
dunia tidak lama setelah dilahirkan (tidak disebutkan berapa lama bayi
laki-laki itu sempat hidup), keterangan ini salah satunya bisa dilacak dalam
kitab hadis yang sangat populer yaitu Shoheh Muslim jilid dua pada bab
"Meratapi Kuburan."

 

Jika keterangan dalam kitab hadis shoheh muslim itu benar bahwa Maria Al
Qibtiyah yg awalnya budak itu dibebaskan lalu dinikahi Nabi,  Maka fatwa
MUI, UU perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang melarang pernikahan beda
agama perlu dikaji ulang, karena nyatanya Nabi Muhammad menikahi Maria yg
beragama Kristen Koptik. seharusnya hal ini menjadi bukti sejarah yang cukup
kuat untuk mengembangkan fikih yang pluralis dan moderat. Seharusnya MUI
juga tidak hanya berpihak kepada mazhab pemikiran dan fikih yang dipegang
MUI. Dari kasus ini juga, semakin menguatkan dugaan  saya bahwa MUI belum
bisa obyektif dalam proses istinbath hukum (fatwa).

 

Soal keterangan yang mengatakan bahwa Nabi pernah memiliki menantu non
muslim dan mertua Yahudi, saya belum mendapatkan sumber yang kuat. Jadi saya
tunggu  tulisan mas Nugroho setelah mengikuti diskusi JIL. 

 

Salam,

Asnawi Ihsan

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Nugroho Dewanto
Sent: Monday, December 17, 2007 11:44 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [ppiindia] Fwd: Diskusi tentang Pluralisme dalam Keluarga Nabi

 


iya saya juga paham teori verifikasi sejarah.

sumber dan apa referensi mereka saya belum tahu karena
diskusinya baru besok. jadi belum baca makalah mereka.

kalaupun sumbernya berbeda dengan sejarah versi mainstream, ya, tidak
apa-apa. tidak perlu penyeragaman sejarah. mari kita biasakan
membaca sejarah (dan segala sesuatu) dari berbagai versi.

di jawa, babad-babad resmi ditulis oleh pujangga keraton yang tentu
tak berani menulis kritis tentang junjungan yang membiayai hidup
mereka.

beruntung masih ada versi tandingan, biasanya lisan, sedikit
sekali yang tertulis. sumber-sumber alternatif itu yang mengilhami
pramudya ananta toer menulis "arus balik." dengan memukau
ia mendapatkan tokoh seorang anak petani, yang aslinya bernama
galeng saja. setelah menjadi prajurit istana majapahit ia memperoleh
gelar wira. dari situ namanya kemudian menjadi wiranggaleng.

At 01:37 PM 12/17/2007 +0000, you wrote:

>Mas nug, mereka dapat sumber sejarah dari mana? Karena responbilitas dari 
>sebuah historiografi selalu berkaitan dengan sumber! Bicara tentang 
>sejarah, jujur atau tidak, subyektivitas penulis selalu terbawa dalam 
>tulisan, apalagi kalau sudah menyangkut sebuah kepentingan, tidak mustahil 
>akan juga bersifat tendensius!
>
>Karena factor subyektuivitas inilah biasanya validitas tulisan sejarah 
>selalu menggunakan parameter "majority narrator", yaitu berdasarkan 
>mayoritas narrator yang mengkisahkan suatu peristiwa sejarah tsb, Apakah 
>kisah tentang "X" dikisahkan dengan pola yang sama oleh mayoritas 
>narrator, disamping juga validitas sumber, dokumen, kepribadian periwayat, 
>dsbnya. Dan, biasanya dalam tradisi islam sejarah rasullullah selalu 
>ditarik ke arah sumber rujukan (sanad) yaitu hadist. Nah, apakah ada 
>hadist pendukung yang mengkisahkan keluarga rasulullah semacam itu?
>
>Penulis sejarah itu juga bisa digolongkan 2 macam: penulis yang mengalami 
>sejarah itu sendiri (insider) atau penulis yang berada di luar peristiwa 
>sejarah (outsider). Yang di luar sejarah juga bermacam-macam kategorinya 
>berdasarkan kurun waktu generasi. Generasi ke berapa? Ibarat lingkaran 
>cambium (lapisan kayu), maka penulis yang dekat dengan lingkaran (walau 
>tidak mengalami peristiwa sejarah) dianggap menerima kisah yang lebih 
>valid, ketimbang yang jauh dari lingkaran, karena semakin jauh umumnya 
>akan mengalami "pembiasan" (distorsi) dan "penyisipan" (interpolasi).
>
>Sekedar mohon konfirmasi!
>
>Salam
>RDM
>
>Nugroho Dewanto 
><<mailto:ndewanto%40mail.tempo.co.id>[EMAIL PROTECTED]
<mailto:ndewanto%40mail.tempo.co.id> tempo.co.id> wrote:
>
> >From: "Abdul Moqsith Ghazali" 
> <<mailto:moqsith%40gmail.com>[EMAIL PROTECTED] <mailto:moqsith%40gmail.com>
com>
> >
> >Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal
> >
> >"Nabi Muhammad dan Keluarganya"
> >
> >
> >Narasumber Lies Marcoes Natsir, Mohamad Guntur Romli, Dr. Jalaluddin
> >Rakhmat Moderator Anick HT. Selasa, 18 Desember 2007,
> >Jam 19.00-21.30 WIB, di Teater Utan Kayu Jakarta.
> >
> >
> >Nabi Muhammad lahir dari lingkungan yang pluralis. Keluarga besarnya tak
> >seluruhnya Muslim. Dia pernah punya menantu non-Muslim, Abul `Ash yang
> >menikah dengan Zainab puteri Nabi. Salah seorang mertuanya ada yang
> >beragama Yahudi. Bahkan, budak perempuannya bernama Maria al-Qibtiyah
> >menganut Kristen Koptik. Dari Maria ini, Muhammad memiliki seorang anak
> >laki-laki bernama Ibrahim. Nabi Muhammad juga dikenal sebagai pembela
> >perempuan. Ketika Fathimah puteri Nabi hendak di"dua"kan oleh suaminya,
> >Ali ibn Thalib, Nabi Muhammad marah besar. Ia meminta Ali untuk
> >menceraikan puterinya jika tetap bersikukuh untuk berpoligami. Muhammad
> >SAW adalah satu-satunya tokoh agama yang berani membatasi praktek
poligami
> >di tanah Arab. Namun, belakangan sejumlah pertanyaan diajukan; Jika
> >Muhammad SAW adalah seorang pluralis kenapa ia kerap bersikap ketus
bahkan
> >berperang melawan orang-orang non-Muslim? Dan jika ia memang pembela
> >perempuan, kenapa ia beristeri dengan sembilan bahkan tiga belas
> >perempuan? Inilah yang menjadi fokus diskusi bulanan Jaringan Islam
> >Liberal.
> >
>
>---------------------------------
>Sent from Yahoo! &#45; a smarter inbox.
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke