Dari milis tetangga
http://indonesiasiesta.blogspot.com






  
  
    

    Episode UGD: Bukan Urusan Saya...
    





22.28
Bulan 
sedang menuju tepat ke jantung malam...
sayup suara orang berbincang di jalan 
terdengar riang dalam gelut malam minggu
untuk beberapa puluh menit mata 
terfokus ke arah monitor setelah melirik jam
dan peluh mulai mengharuskan 
badan dibersihkan untuk memulai ritual istirahat
baru saja resluiting 
terperancah dan jaket di kebas untuk digantung
ketika diluar sana terdengar 
kegaduhan, sekitar 15 meter dari pusat syaraf
bunyi roda motor berdecit 
dengan rem, beradu dengan aspal...
seketika dalam sepersekian detik otak 
langsung mengirim sinyal ramalan
bahwa yang terjadi selanjutnya adalah 
seperti biasa, tumbukan besar...
entah antara motor dengan aspal, motor 
dengan tiang listrik, atau...
kemungkinan terburuk adalah daging dengan 
sesuatu...

dan ketika suara tumbukan terakhir dengan efek suara dramatis,
berhasil menghentikan untuk sesaat seluruh jalan 
darah,
menyedot semua kesadaran reflek untuk bergerak,
akhirnya datang 
juga imajinasi itu...
gambaran terburuk di luar sana...

Tolong jangan sampai sesuatu terburuk yang 
terjadi, 
hanya itu pinta dalam batin, sambil bergegas kembali menyambar 
jaket,
dan kotak 
P3K.

============ ========= ========= =======

Tulisan 
ini ditulis sebelum tulisan ini, dan 
akhirnya gue posting untuk everyone, setelah menimbang-nimbang baik dan buruk 
resiko-nya. Mudah-mudahan resiko negatif lebih kecil daripada resiko 
positif-nya. Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan 
kita, terutama bagaimana menghadapi peristiwa serupa kelak.

Emang paling 
enak 'tuh 'numpahin uneg-uneg di blog, daripada media massa. Dan uneg-uneg ini 
'udah terpendam ratusan tahun eh maksud gue... pokoknya 'udah terpendam sejak 
lama, jaman gue masih bocah cilik gitu 'lah. Yang gue maksud dengan uneg-uneg 
disini adalah kekesalan gue terhadap sikap dokter yang tindakan-nya tidak 
mencerminkan profesi yang dipilih mereka sendiri. Sorry... tulisan ini sama 
sekali tidak 
ditujukan untuk mendiskreditkan profesi tertentu, atau untuk tujuan mencemarkan 
nama baik, atau untuk tujuan cari popularitas *kalo dokter yang gue maksud baca 
blog gue ini 
yah*, atau untuk menebar kebencian terhadap profesi tertentu. 
Enggak.

Tulisan 
ini semata murni UNEG-UNEG.
Kalau ada 
yang sampai protes terhadap tulisan curhat gue ini, mohon disampaikan melalui 
jalur pribadi, dan mohon maaf juga nih, gue pasti baca tapi 'gak janji akan gue 
layani.

============ ========= ========= =======

Setelah 
dulu waktu kecil pernah mengalami tindakan dari dokter yang menyebabkan 
surutnya 
kepercayaan gue terhadap profesi satu ini, beberapa kali situasi yang sama 
terjadi dan terlewatkan begitu aja dalam hidup gue, termasuk kejadian yang 
menurut gue termasuk malpraktek yang dilakukan dokter RS ***tuuuttt** ** 
terhadap rekan gue satu rumah yang mengalami luka bakar hebat sehingga harus 
segera dilakukan tindakan operasi. Berhubung aja temen gue orang-nya pasrah-an 
dan mohon2 ke gue untuk 'gak cari gara-gara sama dokter-nya, maka gue 'gak 
tulis 
deh kisah-nya di sini.

Dan episode terakhir berhubungan dengan dokter 
yang bikin gue naik darah ini terjadi malam ini, 
Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan di depan rumah yang 
mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan sempat 'gak sadar beberapa 
saat setelah kejadian.

+/- 22.50
Begitu terbiasa dengan suara-suara 
motor di depan rumah yang jatuh terguling entah karena jalanan licin dan kurang 
hati-hati pengendara-nya, atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat 
gue 
sedikit hapal dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara yang 
ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue 'gak yakin sendiri apakah kotak 
P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke jalanan depan rumah akan 
berguna.

Wulan masih tergeletak di tepi jalan ketika orang-orang mulai 
mengerumuni. Gue segera minta tolong ke orang-orang yang ada entah itu siapa, 
untuk segera 'mindahin Wulan ke dalam rumah, paling enggak membaringkan di sofa 
ruang tamu akan membuat dia sedikit lebih nyaman. Walaupun gue sendiri khawatir 
karena Wulan 'nggak merespon cubitan di tangan dan tepukan di pipi, akhirnya 
gue 
sedikit lega waktu akhirnya beberapa menit kemudian Wulan mulai membuka mata. 
Waktu ditanya bagaimana rasanya, Wulan diam aja 'gak ada reaksi, hanya bola 
mata 
yang berputar dan juga kepala terkulai. 

Heran dengan cukup banyak noda 
darah di lengan baju, akhirnya gue dan rekan mulai memeriksa sekujur tubuh 
Wulan 
yang 'gak ada luka sama sekali kecuali lecet bekas kena aspal yang mengeluarkan 
darah di kaki. Segera gue semprot spray anti infeksi itu luka, dan cukup lega 
mendengar Wulan merintih "sakiiiiiittttt", waktu luka-nya disemprot. 
Tapi tetap aja kami heran dari mana noda-noda darah di lengan 
itu...

Setelah sibuk meneliti dan memastikan 'gak ada masalah dengan 
patah tulang, akhirnya kami memberanikan diri untuk membalikkan badan Wulan, 
dan 
dari situ baru kami menyadari... luka di kepala Wulan cukup besar. Dan genangan 
darah beku di rambut panjang-nya mendukung perkiraan kami. Gunting rambut dan 
handuk basah segera melakukan tugasnya, rambut panjang-nya sangat lebat. Namun 
kejadian selanjutnya sungguh membuat kami takut... Wulan mulai muntah-muntah 
dengan hebat-nya...

+/- 23.20
Berbekal seadanya tanpa persiapan 
memadai kami langsung menuju rumah sakit yang terletak sekitar 400 meter dari 
rumah. Dan Wulan masih muntah-muntah di dalam mobil. Sampai di UGD RS Permata 
Bunda yang letaknya di perempatan jalan, perawat jaga yang ditemui menyatakan 
tidak sanggup menangani, membuat kami harus bergegas menuju RS berikutnya di 
daerah menuju Depok Timur. RS Hermina yang cukup besar sempat menerima Wulan di 
dalam UGD, dan dokter jaga di dalamnya menyarankan untuk segera dilakukan CT 
Scan, melihat luka yang besar di kepala dan tonjolan hitam di mata Wulan. Kami 
oke saja mengangguk menyetujui. Dan ternyata... di RS inipun alat CT Scan tidak 
ada... *sigh*... Terpaksa Wulan kami 
pindah lagi dari bed ke dalam mobil 
untuk mencari rumah sakit yang cukup besar dan mempunyai alat CT 
Scan.

+/- 00.00
RS Sentra Medika,Jl. Raya Bogor Km. 33, Cisalak, 
Depok.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang 
ada juga 
kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami 
sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan 
perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue 
masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala 
Wulan berkata, "ini 
luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..." 

"Iya dokter, mohon segera diambil 
tindakan aja" , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya 
ulang, "Mau 
langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?"

Lho... menurut gue aneh 
pertanyaan-nya sih, tapi... ya sudahlah berhubung lagi panik dan khawatir 
keadaan Wulan, kami langsung menjawab ulang, "langsung 
CT Scan aja dok". Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah 
sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan 
untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang 
lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah sakit 
menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan 
bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan ambil 
tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... akhirnya menurut gue ya 
cukup wajar, ketika gue menyampaikan kehendak keluarga ke pihak rumah sakit. 
Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu 
aja.

Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD - 
Radiologi, mengisi formulir, dan 'agak mengganggu perawat di ruang Radiologi 
yang entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan 
biaya CT Scan... Rp. 600.000,-

Gue agak berperang dalam batin ketika 
menerima tagihan itu, antara menyesal 'nggak well prepared pergi ke rumah sakit 
*ya begimana lagi namanya juga buru-buru yah... masih 
bisa bawa mobil menuju rumah sakit dan sampai dengan selamat aja 'udah untung 
alhamdulillah*, dan membayangkan kalau 'nggak cepet dilakukan CT Scan 
'emang seberapa parah sih, keadaan Wulan? 

Akhirnya gue berinisiatip 
langsung tanya lagi ke dokter jaga di UGD:
"dokter, pasien apa harus segera 
di CT Scan sekarang atau 'nunggu keluarga dahulu?" 
Dokter menjawab, 
"sebaik-nya 
segera" ...
Gue bilang lagi, "kalau gitu bisa 'ngga dokter, 
kalau pembayaran dilakukan sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, 
karena uang sedang dibawa keluarga dalam perjalanan?"... 
"Wah itu 
terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya melaksanakan CT 
Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang menentukan ada di bagian 
radiologi langsung", 
kata dokter itu lagi sambil 'nulis2 sesuatu di 
meja tanpa melihat ke gue.
"Oh, oke dokter, saya ke sana 
lagi", gue bilang sambil melirik ke Wulan yang 'teronggok' di bed dan agak 
bingung... *kog belum diapa-apain dokter yah*... 
sementara itu gue lihat ada beberapa dokter dan perawat yang sedang 
santai-santai sms dan 'ngobrol dalam ruang UGD ini, yang pasien-nya hanya 
Wulan seorang.

Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue 'nggak cepet 
ke bagian Radiologi lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah 
dan 
tanya suster di Radiologi:
"mbak, mmm... kalau pembayaran-nya 
nanti setelah keluarga dateng atau sebagian dulu bisa 'nggak? Jadi pasien di CT 
Scan dulu sekarang..."

"Wah kalau 
itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan aja 
disini...", kata suster bikin jantung gue mak nyossssss... dan langsung 
menyadari cepat... gila ada apa ini kog gue dilempar-lempar begini. Dengan 
wajah 
agak memelas dan mohon supaya suster mengerti akhirnya gue bilang:
"mbak, mmm tadi saya baru dari UGD 
dan dokter di sana minta supaya saya ke sini minta persetujuan mbak, apa mbak 
bisa konfirmasi telepon ke UGD aja daripada saya bolak-balik 
lagi?"
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon 
bagian UGD, dan kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang 
begitu, bahwa gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan. 
"Walaupun saya bayar sebagian 
dahulu apa 'gak bisa juga mbak?", tanya gue lagi.
"Wah kalau 
itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir...", yang mana ketika gue ke 
sana juga 
dibilang gue harus minta persetujuan dokter jaga 
dahulu.

Weks...
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan... loh kog belum 
diapa-apain juga nih Wulan, masih teronggok aja di bed?*:
"Dokter, saya benar-benar 
bingung... sebaiknya Wulan harus cepat di CT Scan atau tidak, saya dan keluarga 
berharap cepat ada tindakan, tapi terus terang uang yang ada belum cukup. Saat 
ini keluarga sedang menuju kemari bawa uang. Bagaimana dokter?"
"Ya kami 
hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu...", kata dokter 
itu lagi.
"Saya mengerti 
dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak untuk 
Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau membayar sebagian dahulu, tapi tetap 
katanya harus persetujuan dokter. Saya sendiri khawatir tadi dia muntah-muntah 
begitu hebat", dengan nada agak mulai naik dikiiitttt.. . *gimana 'gak naik 
suara dikit, dilempar kesana kemari 
kayak pingpong gitu... tengah malem pulak*
Dan dokter itu mulai 
membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN SEJAWAT-nya: 
"Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya 
belum berhenti!!! Ibu mengerti !!!??!!!"

Kesadaran langsung 
terhempas. 
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
"Kalau pendarahan-nya harus 
dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin 
tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, tapi saya lihat terhadap pasien ini 
masih 
belum diambil tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke 
Radiologi?", 
dengan suara 
mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang hampir tumpah. Dan 
gue 
berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi:
"Maksud saya, apakah dokter tega, 
kalau misalnya 
nanti pasien ini mati tanpa penanganan di 
sini?", 
suara gue makin lirih...
"ITU BUKAN URUSAN 
SAYA!!!!!"

Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas 
gue ke pojokan yang betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue 
sulit 
bernafas, mencoba mencerna dengan kerongkongan tercekat dan pandangan nanar ke 
arah dokter itu. Mencoba meraba untuk mengenali jenis spesies apa yang 
bersembunyi di balik jubah putih itu. Tumpahan emosi semua orang yang 
bercampur-aduk di ruangan itu sangat terasa aroma-nya dalam diam. Kenyataan 
memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu mencoba menerima 
kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun, untuk percaya bahwa 
profesi dokter, yang selama ini dipuja-puji, adalah penolong sesama MANUSIA, 
hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu masih ada kog, tapi 
lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk menghapus noda-noda yang 
melekat dalam kenangan itu.

+/- 00.40
Detik-detik selanjutnya adalah episode 
drama ketika:
"Bukan... urusan... 
dokter...", gue mengucap lirih terbata dalam perih yang tersendat pahit 
menguar, mengulang kata-kata dokter yang terdengar jumawa di telinga. Lalu, 
bagai tersengat lebah dokter-dokter 
lain dalam ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang 
teronggok bagai daging tanpa harga di bed 
UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai menyadari, ada sekuntum bunga elok di 
balik semak berduri, yang wajib dikerumuni. Bagai para penambang emas yang 
tiba-tiba menemukan sebongkah emas dalam tambang. Well, daging sapi yang masih 
berdarah-darah 
aja di supermarket masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA. 
Dan manusia bernama Wulan ini 
sama sekali tidak ada harga-nya di mata dokter yang 'udah membentak 
gue.



dr. 
Abraham, dr. Sanny, dr. Della & perawat Fauziah,
serta 
dokter yang membentak gue, membelakangi kamera.


Sementara 
gue masih tersendat di pojokan UGD, berusaha menghimpun kepercayaan yang 
terserak atas apa yang telah terjadi, mencoba mencari pondasi kekuatan lewat 
pandangan menghujam lantai. Entah... mungkin para dokter yang tadi asyik 
nongkrong tidak mempedulikan Wulan, mulai sadar bahwa mereka adalah dokter, 
yang 
harus menolong sesama, yang kesulitan dalam fisik yang terluka. Tapi gue 'udah 
'nggak peduli kenyataan itu. Kenyataan-nya yang ada sekarang adalah... dokter 
jaga yang satu itu entah siapa namanya... yang seperti-nya berwenang disitu... 
dalam kata-kata yang diucapkan dengan jelas... 'nggak peduli sama nasib Wulan, 
sebagai sesama MANUSIA. 

Dan 
episode selanjutnya, adalah ketika luka di kepala Wulan yang sudah mencapai 
tahap pembengkakan hampir sebesar bola tenis, akhirnya dijahit.



gambar 
ini gue ambil disela proses penjahitan yang belum selesai, 
ketika 
ada dokter yang menyingkir sebentar dan akhirnya menyelesaikan jahitan.
Luka 
pertama ini cukup besar dibanding luka kedua di belakang telinga 
kanan.


Dan 
gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati... apakah harus 
melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD dilakukan? Apakah harus ada 
pembuktian jumawa seorang dokter di balik jubah putih-nya, dengan kata-kata 
yang 
dikeluarkan? Apa yang hendak dibuktikan dari semua ucapan dokter itu? Dan 
berapa 
banyak sudah pasien yang mungkin mati infeksi karena telat ditangani dokter 
yang 
belum 
mengumbar jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan 
kami?

Kematian atau cacat mungkin adalah 
takdir, tapi 'nggak perlu campur tangan kita untuk mempercepat kematian itu 
atau 
memperburuk keadaan. Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu 
yang penting.





Gue 
bukan hendak sok pahlawan atau sok tahu dengan semua teori kedokteran bahwa ini 
dan itu, yang jelas dalam pikiran gue sebagai MANUSIA, ketika ada seseorang 
terlihat terluka 
di depan elo, entah elo dokter atau bukan, entah manusia itu hampir mati atau 
hanya merintih, entah manusia itu musuh atau sahabat kita, harus segera diambil 
tindakan untuk mencegah supaya manusia itu tidak tambah menderita. Itu aja. Gak 
perlu teori harus CT Scan-lah, rontgen-lah, MRI-lah...

Sedangkan kucing 
aja disayang-sayang & ditangisi kalau luka dikit... manusia bernama Wulan 
ini, hanya teronggok di UGD sementara kepala bocor-nya mulai membengkak dan 
terus mengeluarkan darah dan cairan yang entah apa lagi...

Untuk sesaat 
memejam mata, gue berharap ini semua cuma mimpi. Perlahan gue keluar ruang UGD 
dan agak terduduk bersandar di pagar taman. Masih seperti mimpi, gue mulai 
tersadar ketika bed Wulan didorong 
melewati 
gue, oleh 
suster dan satpam *mungkin untuk memastikan 
kita 'gak kabur kali... gapapa deh yang penting langsung ada 
tindakan*  dan menuju... Ruang 
Radiologi. Yes.... thanks God... 
batin gue sambil mengusap muka.






+/- 
01.15
Begitu keluarga datang, gue 
langsung menuju tempat parkir dan segera pulang untuk melupakan episode mimpi 
ini. Menurut kerabat yang gue telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan 
sampai sekarang, kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa 
yang terbaik untuk Wulan...


==========







.... sekali lagi, tulisan ini murni curhat, 
uneg-uneg.
.... kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, 
namun demikian bila ada reply, mohon untuk tidak bernada membela dokter yang 
sudah membentak gue di depan Wulan. Karena itu sangat menyakitkan dan belum 
bisa 
gue lupakan, apapun alasan-nya,. ..
.... semata hanya 
agar tidak terulang kembali episode ini, maka gue tulis di sini.
.... semoga 
dari tulisan ini kita bisa memetik hikmah pentingnya kesehatan & keselamatan 
dalam perjalanan, dimanapun berada.
.... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi sebagai 
dokter dan membaca, tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
.... 
gue yakin, masih banyak rekan-rekan dokter di luar sana yang baik dan 
berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan. Paling tidak, untuk semua dokter dan 
tenaga paramedis lain yang telah gue sebut nama-nya dan gue pajang foto-nya di 
jurnal ini, gue mengucapkan terima kasih atas penanganan awal yang akhirnya 
diusahakan 
cepat kepada saudari Wulan, walaupun harus 
melalui episode yang kacau ini. Semoga amal ibadah anda semua dibalas berlipat 
ganda oleh Yang Maha Kuasa. Trims...

============ ========= ==
*Detil jam pada catatan ini disesuaikan dengan log 
pada hp ketika ada percakapan & pemotretan. 
Berdasarkan catatan ini 
dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan medis setelah kira-kira 30 menit 
dibiarkan. Tidak lama memang, tapi siapa yang bisa memperkirakan 
dampak-nya?
Mohon maaf bila salah. 

*Berhubung ada perkembangan tak 
terduga bahwa jurnal ini di-link oleh banyak rekan, bila ada yang merasa 
dirugikan dengan adanya catatan dalam jurnal ini, dapat langsung menghubungi 
gue 
di: 0818-848499 atau srisariningdiyah@ yahoo.com, tanpa melibatkan pihak 
lain terutama pasien. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya 
ada pada gue pribadi.
Terima kasih.



 

http://indonesiasiesta.blogspot.com











      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke