(Tulisan ini juga disajikan di website
http://kontak.club.fr/index.htm)

Catatan A. Umar Said

                                Suara keras Gus Dur

 Ketika negeri dan rakyat kita  sekarang sedang menghadapi berbagai masalah
politik, ekonomi, sosial, moral dan agama yang parah, maka suara keras dan
berani yang dikeluarkan oleh Gus Dur seperti yang berikut ini patut mendapat
perhatian yang besar dari kita semua. Suara keras dan berani ini tercermin
dalam berita yang disiarkan Tempo Alternatif tanggal 30 Desember 2007, yang
berbuyi sebagai berikut :

 “Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Abdurrahman Wahid menyatakan
Indonesia kehilangan orientasi pembangunan nasional. Akibatnya, rakyat tidak
percaya pada pemerintah yang berkuasa saat ini.

"Orientasi pembangunan kita nggak jelas. Kita harus mampu membuat orientasi
pembangunan nasional secara tepat," katanya dalam orasi catatan akhir tahun
di Hotel Santika, Minggu (30/12).

Orasi akhir tahun Gus Dur tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh nasional dan
politik. Di antaranya Franz Magnis-Suseno, H.S. Dillon, Agum Gumelar,
Soetrisno Bachir, dan Mohammad Sobari.

Selama ini, pembangunan ditujukan untuk kalangan atas. Akibatnya, jumlah
rakyat miskin bertambah dan pengangguran tetap tinggi. "Pemerintahan SBY
didikte oleh super power. Sama seperti pemerintahan orde baru yaitu
pembangunan untuk kalangan atas saja," katanya.

Pemerintahan Yudhoyono-Kalla mengukur hasil pembangunan berdasarkan
pertumbuhan atau growth. Sehingga, pembangunan selama ini dinilai sukses.
Angka kemiskinan pun tinggal 16 persen. Sedangkan, angka pengangguran 49
persen. Seharusnya, dia menambahkan, pembangunan diukur berdasarkan
pemerataan. "Yang kaya, tambah kaya. Yang melarat, tambah melarat," ujarnya.

Hilangnya orientasi pembangunan, katanya, tak lepas dari pengaruh Bank
Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia. Selama
ini, dia melanjutkan, tiga organisasi dunia itu memaksa Indonesia berutang.
Sehingga, nilai utang luar negeri saat ini mencapai US$ 600 miliar. Bahkan,
ujarnya, ada pihak yang berpendapat nilai utang luar negeri Indonesia
mencapai US$ 1,3 triliun. "Pemerintah lupa bahwa yang harus membayar utang
adalah anak cucu kita," ujarnya.

Utang luar negeri itu, ujarnya, dibiayai dengan penjualan komoditas ke luar
negeri. Padahal, komoditas Indonesia dibeli dengan harga murah.
Ketidakseimbangan itu, dia menambahkan, akibat dari globalisasi perdagangan.
"Nilai-nilai dasar yang kita anut pun berubah," katanya. Dampak susulan dari
perubahan itu adalah lahirnya golongan fundamental atau radikal yang ingin
mempertahankan nilai-nilai Islam.

Gus Dur punmenyoroti soal kekerasan yang masih digunakan untuk menyelesaikan
masalah. Tindak kekerasan itu diterapkan dengan mengatasnamakan agama. "Ini
harus dibongkar habis-habisan," ujarnya.

Menurut dia, konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat warga
negara Indonesia. Aturan itu seharusnya menjadi landasan kehidupan
berbangsa. Majelis Ulama Indonesia pun berkontribusi atas tindak kekerasan
yang mengatasnamakan agama. Selama ini, ujarnya, MUI mengeluarkan fatwa yang
dijadikan landasan bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. "MUI jangan
sembarangan berpendapat tentang Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Saya minta
MUI tidak menggunakan kata sesat," ujarnya.

Persoalan Ahmadiyah, katanya, sebaiknya ditangani oleh PAKEM (penganut
aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Alasannya, dalam PAKEM
terdapat unsur kepolisian dan kejaksaan agung. Selain Ahmadiyah, orang-orang
yang tergabung dalam gerakan shalawatan Wahidiyah di Tasikmalaya Jawa Barat
pun dinyatakan sesat oleh pengurus MUI setempat. "Orang sudah melupakan
Republik Indonesia bukan negara Islam tapi nasional," katanya.

Dia meminta MUI dibubarkan karena mengeluarkan fatwa sembarangan. Apalagi,
ujarnya, MUI bukan satu-satunya organisasi massa Islam yang ada di
Indonesia. "Bubarin ajalah MUI kalau begini. MUI bukan satu-satunya ormas
Islam karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat yang bisa membuat
kesalahpahaman," ujarnya. (kutipan dari Tempo Interaktif selesai).

Pukulan keras bagi pemerintah SBY

Dari berita tersebut di atas dapat kiranya diangkat berbagai hal penting,
karena justru diungkapkan oleh seorang tokoh politik nasional dan sekaligus
juga agamawan Islam yang besar. Karena itu, ketika ia mengatakan bahwa
“Indonesia sudah kehilangan orientasi dalam pembangunan nasional, dan
karenanya rakyat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa saat ini” maka
bisa diartikan bahwa ucapannya ini merupakan pukulan yang berat sekali
terhadap pemerintah SBY-JK.

Pukulan keras yang diucapkan Gus Dur terasa lebih keras lagi ketika ia juga
mengatakan : “Selama ini, pembangunan ditujukan untuk kalangan atas.
Akibatnya, jumlah rakyat miskin bertambah dan pengangguran tetap tinggi.
Pemerintahan SBY didikte oleh super power. Sama seperti pemerintahan Orde
Baru yaitu pembangunan untuk kalangan atas saja," katanya.

Sebab, dengan mengatakan yang demikian itu Gus Dur menunjukkan degan
jelas-jelas bahwa pembangunan  yang digembar-gemborkan selama ini hanya
menguntungkan kalangan atas. Dan pembangunan yang menguntungkan kalangan
atas itu sudah berlangsung sejak pemerintahan Orde Baru, seperti yang kita
saksikan dewasa ini. Banyaknya korupsi dan  penyalahgunaan kekuasaan, yang
dilakukan kalangan atas, merupakan bagian dari pembangunan yang salah
orientasi, yang membikin rakyat miskin bertambah miskin dan jumlah
pengangguran sangat tinggi.

Pernyataan Gus Dur yang  lain yang sangat penting sebagai tokoh politik
nasional dan tokoh terkemuka ummat Islam ialah ketika ia mengatakan bahwa
pemerintahan SBY didikte oleh super power dan bahwa hilangnya orientasi
pembangunan  tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional,
dan Organisasi Perdagangan Dunia. Selama ini tiga organisasi dunia itu
memaksa Indonesia berutang, sehingga ada yang mengatakan bahwa utang luar
negeri Indonesia  mencapai US$ 1,3 triliun. “Pemerintah lupa bahwa yang
harus membayar utang adalah anak cucu kita”, ujarnya

Adalah juga sangat penting (dan menarik sekali ! ) yang dikatakan Gus Dur
bahwa pemerintahan SBY didikte oleh superpower dan bahwa hilangnya orientasi
pembangunan  tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional
dan Organisasi Perdagangan Dunia, Ini menunjukkan bahwa pandangannya
mengenai hal-hal ini adalah sejalan dengan pandangan berbagai tokoh negeri
kita, dan seiring dengan kegiatan-kegiatan atau aksi-aksi bermacam-macam
gerakan yang menentang neo-liberalisme dan globalisasi, baik yang di
Indonesia maupun yang ada di banyak negeri di dunia. Patutlah diingat
bersama bahwa kesadaran umum terhadap akibat-akibat buruk dari banyaknya
operasi modal besar asing di Indonesia akhir-akhir ini makin membesar,
terutama di kalangan generasi muda.

Bubarkan saja Majlis Ulama Indonesia

Di samping hal-hal penting itu semua, ucapannya mengenai berbagai masalah
yang berkaitan dengan ummat atau agama Islam di Indonesia mempunyai arti
yang amat besar bagi situasi negeri kita dewasa ini. Gus Dur menyoroti soal
kekerasan yang masih digunakan (oleh kalangan Islam) untuk menyelesaikan
masalah. Tindak kekerasan itu diterapkan dengan mengatasnamakan agama. "Ini
harus dibongkar habis-habisan," ujarnya.

Kecaman yang tajam sekali telah dilontarkan oleh Gus Dur terhadap Majlis
Ulama Indonesia (MUI) yang telah mengeluarkan fatwa yang dijadikan landasan
bagi sebagian ummat Islam Indonesia, antara lain bahwa Ahmadiyah sebagai
aliran sesat. Dia meminta MUI dibubarkan karena mengeluarkan fatwa
sembarangan. Apalagi, ujarnya, MUI bukan satu-satunya organisasi massa Islam
yang ada di Indonesia. "Bubarin ajalah MUI kalau begini. MUI bukan
satu-satunya ormas Islam, karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat
yang bisa membuat kesalahpahaman," ujarnya.

Sebagai tokoh besar  golongan Islam, ucapan Gus Dur yang seperti itu
mempunyai bobot dan arti penting tersendiri. Ketika banyak tokoh-tokoh Islam
lainnya hanya diam (atau takut-takut) saja terhadap aksi-aksi kekerasan yang
dilakukan oleh sebagian kalangan Islam, maka apa yang dikatakan oleh Gus Dur
mengenai hal ini merupakan keberanian yang menyejukkan hati bagi sebagian
besar kalangan  masyarakat.

Sebagai tokoh nasional yang terkemuka, pandangan Gus Dur mengenai negara,
konstitusi, kebebasan berfikir dan kehidupan berbangsa juga amat penting
untuk dicermati oleh kita semua, dan terutama oleh golongan Islam. Menurut
dia, konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat warga negara
Indonesia. Aturan itu seharusnya menjadi landasan kehidupan berbangsa. .
"Orang sudah melupakan Republik Indonesia bukan negara Islam tapi nasional,"
katanya.



Gus Dur dihormati kalangan internasional

Dari apa yang diucapkan oleh Gus Dur  seperti tersebut di atas nyatalah
bahwa pandangannya mengenai berbagai masalah penting  negara kita
mencerminkan ketidakpuasan atau kekecewaan, dan menghendaki perubahan besar
demi kepentingan rakyat banyak. Dan berlainan dengan para pejabat atau
“tokoh-tokoh” kita yang kebanyakan masih berilusi tentang “kebaikan” sistem
yang dianut oleh neo-liberalisme, maka ia menyatakan bahwa justru karena
ulah Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan
Dunia yang membkin rakyat kita yang miskin  tambah miskin dan yang kaya
makin kaya.

Berbagai pandangan Gus Dur yang positif tersebut di atas perlu sekali
diketahui dan disebar-luaskan sebanyak mungkin di kalangan rakyat, dan
terutama di kalangan Islam. Memang, pandangan yang hampir serupa atau searah
dengan pandangan Gus Dur sudah juga muncul di sana-sini, terutama di
kalangan muda Islam, umpamanya di kalangan Ikatan Pelajar NU (IPNU), Kaum
Muda NU (KMNU), Jaringan Islam Liberal (JIL), Syarikat Indonesia, Santri
Kiri, PMII dll dll. Dengan kadar berbeda-beda, dan pendekatan yang tidak
sama, pada umumnya kelompok-kelompok atau kalangan tersebut di atas
menyuarakan hal-hal yang berbeda (bahkan bertentangan sama sekali)  dengan
kalangan Islam lainnya yang dekat dengan FPI, Majlis Mujahidin, Komando
Jihad, Jamaah Islamiah dan lain-lain kelompok atau organisasi yang sehaluan
dan searah.

Berbagai pandangan Gus Dur mengenai persatuan nasional dan persaudaraan
Islam digolongkan oleh banyak orang sebagai pandangan yang mengutamakan
kebebasan dan toleransi antara berbagai golongan, termasuk golongan
minoritas. Itu sebabnya, ketokohan Gus Dir juga diakui dan dihormati di
dalam negeri dan di kalangan internasional.

Kita perlu banyak tokoh seperti Gus Dur

Banyak peristiwa-peristiwa dalam masyarakat yang disebabkan tindakan atau
kegiatan sebagian kalangan Islam (semacam FPI, Komando Jihad dll), yang
dibantu oleh kekuatan-kekuatan gelap dari sisa-sisa Orde Baru, telah
menimbulkan citra yang jelek bahwa kalangan-kalangan itu umumnya bersikap
tidak toleran terhadap adanya perbedaan keyakinan, mempunyai pandangan picik
dan menyukai kekerasan.

Menghadapi kekisruhan atau kekacauan yang ditimbulkan oleh anasir-anasir
yang tidak toleran seperti tersebut di atas itu semunya, terasalah
pentingnya bagi negeri kita mempunyai banyak tokoh seperti Gus Dur. Kita
butuhkan tokoh-tokoh yang mempunyai gagasan-gagasan besar untuk memajukan
bangsa, dan bukannya orang-orang yang menggiring bangsa kita ke arah
kemunduran.

Dan kalau kita lihat bahwa bangsa-bangsa lain di berbagai bagian dunia sudah
mengalami perubahan-perubahan besar demi kemajuan rakyatnya (contohnya :
Tiongkok, Vietnam, India, Kuba, Venezuela, Bolivia, Argentina, bahkan juga
akhir-akhir ini negara-negara di Eropa Timur) maka keterpurukan negara kita
Indonesia kelihatan makin sangat menyedihkan.

Bukan hanya karena korupsi yang merajalela di seluruh negeri saja, tetapi
juga karena kemiskinan dan  pengangguran yang menimpa sebagian besar sekali
rakyat kita. Pembusukan moral terjadi dimana-mana, termasuk di kalangan
agama. Penderitaan rakyat yang sudah sangat berat itu ditambah lagi dengan
adanya bencana alam, gempa bumi, dan banjir.

Dengan latar belakang itu semuanya maka nyatalah bahwa suara Gus Dur yang
dilontarkan dalam orasi akhir tahunnya itu mempunyai arti dan bobot yang
perlu mendapat perhatian dari kita semuanya, termasuk (bahkan, terutama ! )
dari kalangan Islam.

Paris, 31 Desember

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.12/1203 - Release Date: 30/12/2007
11:27


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke