--- In [email protected], Lukas Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >> > 3,5 tahun saya di Frankfurt, tidak merasa dipinggirkan oleh komunitas kristen lainnya. Demikian juga kehidupan yang saya nikmati di Lousiana beberapa tahun yang lalu. Masyarakat barat bukan fixed in enchantment, tidak terpaku dengan eksklusivitas agama. Tetapi kalau marginalisasi itu harus menimpa juga, tidak perlu dipersepsikan sebagai nasib buruk, inilah sebenarnya makna lain dari struggle for life agar kita semakin gigih melakukan fight for freedom. > > Terima kasih komentarnya, membangun semangat.....! > > Salam, > Lukas Kristanto
Shalom aleychem, Anda benar. Masyarakat barat bukan fixed in enchantment, tidak terpaku dengan eksklusivitas agama. Juga selama saya di Hamburg, dan kini di Vienna puluhan tahun, kami lakukan dialog antar religi, juga dengan umat Buddha, dimana kita mencari kesamaan, bukan perbedaan. Perbedaan liturgi antar gereja Kristiani, dari Katholik Roma, Kopt, Kristen Orthodox, Kristen Syria sampai kelompok kelompok yang berkembang di US, seperti Baptist, Advent, Bethany, dst, menyeberang ke kelompok Mormon dan saksi Yehova, sangat besar. namun, tak ada upaya saling memojokkan, merusak gereja ataupun merampas harta komunitas yang dinilai melenceng alias sesat. Disinilah perbedaan antara masyarakat di Barat yang telah matang dalam kehidupan sekular dan multibudaya, dengan masyarakat agraris yang baru mulai berdemokrasi, dimana ujung ujungnya terjadi dikte minoritas oleh mayoritas. Gereja Kristiani, aliran APAPUN, adalah kepercayaan. Intinya percaya, jadi tak perlu pembuktian benar tidaknya. Seperti juga agama lain, tak perlu pembuktian, seperti physica atau mathematica. Yang penting jangan menjarah dan membakar. Per omniam ad maiorem Dei gloriam! Shalom

