Surat dari Monmartre:
MEMBACA ULANG "SELASAR KENANGAN"
Kumpulan Cerpen Srikandi Apsas
Tebal:95 hlm + xx.
Penerbit:Akoer, Jakarta, Juni 2006
[Turut Menyambut Ulta Ke-3 Milis Apresiasi Sastra]
Dari Kata Pengantar Djodi Budi Sambodo, "Pesona Sastra dan Sihir Tekhnologi",
yang menarik perhatianku dan ingin kugarisbawahi adalah kalimat-kalimat yang
mengutip pendapat Julie Roberson, ahli kepustakaan asal King College, Bristol,
Tennessee bersama Debora Richey dan Mona Kratzert dari Universitas California,
bahwa:
"internet telah mengubah paradigma lama mengenai teori sastra seperti
Strukturalisme, Dekonstruksi, Femininisme, Marxisme, dan Historisme baru.
Sastra yang sebelumnya dianggap sangat kompleks dan sulit disentuh masyarakat
awam, kini semakin mudah digumuli berkat lahirnya sihir tehnologi terhebat
dari rahim akal budi manusia".
Membaca keadaan demikian lalu Djodi Budi Sambodo menyimpulkan bahwa zaman
kita, telah menyaksikan terjadinya "Daya pukau sastra... kini menikah dengan
sihir tekhnologi". "Pernikahan" yang telah "mengubah paradigma lama mengenai
teori sastra", sekaligus membuka rupa-rupa kemungkinan yang tadinya berada di
suatu lingkup sempit bahkan terkucil dikuasai oleh sejumlah para "anak raja"
dan "pangeran", jika menggunakan istilah penyair Perancis, Paul Elouard.
"Pernikahan" ini menjadikan planet kita menjadi satu kampung kecil yang bisa
didatangi dalam beberapa detik saja dari satu ujung ke ujung lain. "Pernikahan"
ini pun meningkatkan taraf mobilitas komunikasi dan interaksi sehingga mampu
menjawab handikap jarak. Tehnologi seakan memang seperti sebuah "sihir" yang
memperlihatkan potensi manusia sebagai "rengan tingang nyanak jata" [anak
enggang putera-puteri naga] dan memberi syarat lebih baik dari masa kapan pun
untuk kiprah memanusiawikan diri serta mengembangkan potensi yang ada di diri
mereka, termasuk di bidang sastra. "Pernikahan" ini seakan menuturkan kepadaku
suatu keadaan bahwa melalui "pernikahan" dan "sihir" ini , sastra mulai
dikembalikan kepada keadaan sejak ia lahir: menyatu dengan kehidupan dan demi
kehidupan dengan seluruh masyarakat menjadi para satrawannya. Oleh "penikahan"
dan "sihir" tehnologi ini, dikeluarkan dari "kurungan" menara gading dan
eksluvisme atau keterasingan. Seluruh masyarakat mungkin dan
bisa menjadi penulis dan penikmat sastra yang berdaulat. Di wilayah yang
diciptakan oleh "pernikahan" dan "sihir" tehnologi ini , para penulis
dibebaskan dari sensor yang kadang berhargakan kepala dan nyawa. Memang ada
sensor moderator, tapi sensor moderator tidak semahal taruhan sensor dari
penyelenggara negara. Sensor moderator, kukira diperlukan agar budaya debat,
silang pendapat dan kritik bisa berada di alur yang berbudaya seperti yang
diharapkan oleh "bhinneka tunggal ika", "biar bunga mekar bersama, seribu
aliran bersaing suara". Politik kebudayaan yang bertentangan dengan wacana
keseragaman atau "pikiran tunggal" [la pensée unique], bentuk dari
otoritarianisme dalam dunia pemikiran, yang antara lain bisa ditimbulkan oleh
"politik sebagai panglima", jika ia dijadikan keniscayaan politik nasional
kebudayaan. Fungsi sensor moderator dalam milis yang dilahirkan oleh "sihir"
tehnologi, kukira tak obah seorang wasit olahraga. Menciptakan kondisi
bagaimana agar
pemainan bisa berjalan sehat dan lancar tanpa melukai, apalagi sampai membuat
cacat para peserta pemain lainnya. Membuat cedera orang lain dengan sengaja,
apakah bisa disebut sikap dan tindak berbudaya dan manusiawi? Aku katakan
demikian, karena moderator atau redaksi suatu koran atau majalah, sebenarnya
bukanlah gantang obyektivitas dan nilai tertinggi. Memandang diri sebagai
gantang nilai, kukira suatu kepongahan tak berdasar.
"Pernikahan" dan "sihir" ini menjurus ke pembebasan sastra dan
keterkucilannya , pembebasan yang hanya akan menjadi kebebasan harapan jika
disertai dengan tanggungjawab penulis.
Adanya "pernikahan " dan "sihir" tehnologi ini juga memberi syarat tempat
untuk menampung ribuan, mungkin jutaan karya yang ada. Jumlah akan melahirkan
mutu. Jumlah akan bertambah oleh kebebasan dan tanggungjawab serta kesadaran
berwacana akan menjanjikan mutu. Milis dan komunitas-komunitas internet akan
berperan besar dalam pengembangan sastra negeri kita, jika [mungkin] ia /mereka
berjalan di alur ini.
Dari segi inilah aku melihat Kata Pengantar Djodi Budi Sambodo untuk koleksi
"Selasar Kenangan" menjadi penting diperhatikan. Sedangkan penerbitannya oleh
Penerbit Akoer Jakarta, memperlihatkan bahwa antara sastra milis dan cetak,
tidak ada pertentangan dan tidak harus dipertentangkan. Keduanya saling isi dan
punya tempat masing-masing. Sastra adalah sastra, tak perduli dengan cara apa
ia disiarkan dan disampaikan kepada publik. Sejarah sastra berbagai negeri itu
sendiri telah menunjukkannya. Milis dan komunitas yang menyertainya adalah
semacam anugerah "sihir" tehnologi, yang diciptakan oleh manusia dengan
perjalanan panjangnya yang tak punya dermaga. Bersyukur pada "sihir" dan
"pernikahan" begini, sama dengan memaksimalkan artinya. Mutu karya adalah iklan
terbaik. "Selasar Kenangan", kukira, sebuah karya sastra yang patut dilirik dan
diindahkan, walau pun ia tidak diterbitkan oleh penerbit besar dan mengaku diri
sebagai patokan sastra negeri ini, jika ada yang merasa
demikian. ***
Paris, Musim Dingin 2008
------------------------------------
JJ.Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris.
[Berlanjut....]
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]