Membaca Judulnya, mungkin bagi sebagian orang akan merasa merinding. 
Apalagi yang merasa alergi sama si Yahudi.

Pernahkan terbayang oleh anda bahwa Amrik itu lebih " Islami " 
dibandingkan dengan Indonesia ( Negeri yang umat Muslimnya terbesar 
di Dunia ) ???

Bagaimana pandangan seoarang Tokoh Muslim di Amerika yang berasal 
dari INDONESIA terhadap Amrik ???, yang mana dalam salah satu 
dakwanya dihadiri oleh mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary 
Clinton, Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota 
New York Rudolph Giuliani, artis Bette Midler. ( Untung tidak ada 
Fatwa Majelis Pendeta Amerika, yang mengharamkan untuk menghadiri 
Dakwa Non-Kristen )

silakan baca tulisan dibawah ini.

Mudah2an tulisan tersebut bisa membuat anda2 keluar dari Tempurung 
batok kelapa.

Bud's

Indonesia harus bangga memiliki Syamsi Ali, imam asal Bulukumba yang 
menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar 
Islam di negara adidaya yang sekarang sedang berperang melawan 
terorisme, yang celakanya sering dikait-kaitkan dengan Islam.Syiar 
Islam dan dakwah Ustadz Syamsi Ali (40), tidak terbatas kepada 
jemaah warga Indonesia saja, melainkan juga Muslim Amerika. 
Khususnya di New York dan Washington DC.

Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New 
York, Syamsi Ali juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim 
Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang 
dikelola komunitas Muslim asal Asia Selatan, seperti Bangladesh, 
Pakistan dan India.

Syamsi berasal dari sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan. 
Kepintarannya berdakwah sudah tampak sejak menjadi santri di pondok 
pesantren Bulukumba. Ia pergi ke Arab Saudi untuk memperdalam ilmu 
agama dan ke Pakistan untuk belajar ilmu dunia, sebelum menjadi 
lokal staf di Perwakilan Tetap RI di New York. Ia mengharumkan citra 
Islam Indonesia yang moderat dengan pandangan dan aktivitasnya di 
berbagai forum internasional.

Misalnya saja ia pernah tampil berdakwah di mimbar "A Prayer for 
America" di Stadion Yankee, kota New York, 23 September 2004. 
Sekitar 50 ribu orang memadati stadion itu. Tua-muda, lelaki dan 
perempuan, kulit putih dan kulit hitam, dan pelbagai ras dan bangsa 
di Amerika "tumplek blek" di situ.

Di panggung, hadir ratu acara bincang-bincang televisi Oprah 
Winfrey, mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, 
Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York 
Rudolph Giuliani, artis Bette Midler dan penyanyi country Lee 
Greenwood. Di New York, statistik menunjukkan terdapat lebih 800.000 
kaum Muslimin.

Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 
yang intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang dijadikan 
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling 
tinggi derajatnya, karena yang termulia adalah yang paling bertakwa.

Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada 
publik Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan 
umat manusia.

"Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat 
derajat semua manusia," kata Syamsi Ali, berusaha mengurangi 
kebencian sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca serangan 
teroris 11 September 2001.

Sejak peristiwa itu, semakin banyak orang di Amerika Serikat yang 
ingin tahu lebih mendalam mengenai Islam. "Inilah tugas kami untuk 
memberi penjelasan sebenarnya tentang Islam yang rahmatan lil 
alamin," katanya.

Amerika negara Islami?

Ustadz Ali juga punya kebiasaan menulis kegiatan dakwahnya 
di "mailinng list".

Tanggal 22 Oktober lalu, misalnya, ia berkisah tentang pengalamannya 
menjadi pembicara bersama Rabbi Marc Shneier dari East New York 
Synagogue dalam acara "Dialog Muslim-Yahudi: Tantangan dan Peluang 
Hubungan di Masa Depan". Acara yang dihadiri lebih dari 400-an 
mahasiswa dan professor Universitas New York (NYU) itu, menurut 
Syamsi Ali, berjalan hangat dan seru.

Moderator diskusi, Joel Cohen, mantan jaksa dan penulis buku "Moses 
and Jesus in Dialogue" bertanya mengenai bagaimana Syamsi Ali 
menyikapi jika suatu ketika ada Muslim, yang dalam bahasa Cohen "a 
Mullah", ingin mendirikan negara Islam di Amerika.

Jawaban Syamsi Ali mengejutkan peserta. Banyak di antara mereka 
geleng-geleng kepala. Syamsi menegaskan bahwa "syariat phobia" yang 
masih menggeluti kebanyakan warga Amerika seharusnya dikurangi.

"Amerika, dalam banyak hal lebih pantas untuk dikatakan negara Islam 
ketimbang banyak negara yang diakui sebagai negara Islam saat ini," 
ujar Syamsi Ali.

Amerika, katanya, telah lebih banyak menegakkan syariat Islam 
ketimbang negara-negara yang mengaku mengusung syariat. Untuk itu, 
seorang Muslim yang paham tentang konsep masyarakat dalam Islam, 
tidak akan pernah mempermasalahkan itu lagi. Sebaliknya, non-Muslim 
juga seharusnya tidak perlu "over worried" mengenai hal tersebut.

Dalam pandangan Syamsi Ali, syariat adalah landasan hidup seorang 
Muslim. Berislam tanpa bersyariat adalah sesuatu yang mustahil. 
Hukum-hukum yang mengatur kehidupan seorang Muslim, mulai dari 
masalah-masalah keimanan, ritual, hingga kepada masalah-masalah 
mu`amalat (hubungan antar makhluk) masuk dalam kategori syariah. 
Untuk itu, memutuskan hubungan antara kehidupan seorang Muslim 
dengan syariat sama dengan memisahkan antara daging dan darahnya.

Amerika yang didirikan di atas asas kebebasan, kesetaraan dan 
keadilan untuk semua, sesungguhnya didirikan di atas asas nilai-
nilai dasar Islam. Islam juga didasarkan kepada nilai-nilai 
kebebasan (al-hurriyah), keadilan (al `adaalah) dan persamaan (al 
musawah).

Atas dasar itu, Syamsi Ali dengan keyakinan penuh menegaskan bahwa 
kehadiran Islam di Amerika adalah ibarat benih subur yang terjatuh 
di atas lahan yang subur. Dia akan tumbuh dengan baik dan subur 
karena memang lahan yang ditempatinya sesuai dengan kebutuhan benih 
tanaman ini.

Kelak, lanjut Syamsi, tanaman ini pasti akan dirasakan karena memang 
manusia yang mendiaminya telah lama marasakan kehausan untuk itu.

Di mana-mana dan dalam acara apapun, seperti dikemukakan sesepuh 
warga Indonesia di New York Achyar Hanif, Syamsi Ali selalu 
mengatakan kehadiran umat Islam di Amerika itu tidak perlu 
dikhawatirkan, tapi sebaliknya harus disyukuri. Umat Islam akan 
memberikan sumbangsih yang besar untuk menampakkan ke seluruh 
penjuru dunia bahwa tanah Amerika memang subur untuk menanamkan 
nilai-nilai Syaria`h yang universal itu.

"Amerika bukan musuh, tapi Amerika adalah lahan subur untuk Islam. 
Inilah pesan yang selalu disampaikan Ustadz Syamsi dalam berbegai 
kesempatan," kata Achyar Hanif yang tahun ini kembali berangkat haji 
dari kota New York.

Pada 5 Nopember 2007 lalu, Syamsi Ali juga tampil dalam acara talk 
show televisi "Face to Face, Faith to Faith". Acara yang 
dimoderatori oleh Ketie Couric, pembawa acara televisi AS yang 
masyhur itu, menampilkan tiga panelis, Rabbi Rubin Stein, Senior 
Rabbi pada Central Synagogue, Rev. Michael Lindvall, Senior Pastor 
The Brick Church dan Syamsi Ali.

Lebih 500 tamu yang hadir memenuhi ruangan Gotham building di 
Broadway yang terkenal rela membayar mahal. Meja utama dijual dengan 
harga 50.000 dolar AS per meja dengan kapasitas delapan orang.

Ketie Couric sebelum memulai acara dialogu malam itu mengatakan 
dirinya sudah mempelajari semua agama, seperti Kristen, Yahudi dan 
Islam. Makin dalam ia mempelajari agama-agama itu, makin dalam pula 
penyesalan dirinya karena telah salah persepsi terhadap agama, 
khususnya Islam. Mulai saat itu, Ketie bersumpah untuk lebih 
menghargai dan menghormati Islam dan kaum Muslimin.

Syamsi sendiri mengaku acara itu sangat membanggakannya. Selain 
karena pujian terhadap agama Islam begitu besar di saat media kurang 
bersahabat dan masih luasnya salah paham terhadapnya, juga karena Ia 
telah menyampaikan agama ini secara lugas dan apa adanya.

Banyak di antara warga AS yang pernah mendengarkan syiar Islam 
Syamsi Ali berkunjung ke Islamic Center yang dipimpinnya. Sebagian 
ingin mempelajari lebih dalam lagi masalah Islam, sebagian lagi 
malah langsung ingin di-Islam-kan.

Penulis: Akhmad Kusaeni
Antara

http://www.oyr79.com/news/amerika-negeri/

Kirim email ke