----- Original Message -----
From: Sunny
To: Undisclosed-Recipient:;
Sent: Saturday, January 05, 2008 5:47 AM
Subject: [mediacare] Hidup Sederhana Gaya Kuba
KOMPAS
Sabtu, 05 Januari 2008
Hidup Sederhana Gaya Kuba
Haridadi Sudjono
Kuba atau Republica de Cuba, negara di kawasan Laut Karibia yang lebih kecil
dari luas Pulau Jawa ini, memperingati Hari Kemenangan Nasional-nya pada 1
Januari 2008. Tepat 49 tahun yang lalu, hanya didukung 82 pejuang yang dilatih
oleh Alberto Bayo (bekas kolonel tentara Spanyol), Fidel Castro menggulingkan
diktator Fulgencio Batista yang berkuasa di negeri itu sejak tahun 1956 dan
Batista kemudian melarikan diri pada 1 Januari 1959.
Saat Batista melarikan diri itulah Fidel Castro dan pendukungnya menduduki
Havana dan membentuk pemerintahan baru. Castro menjadi kepala negara dan
membangun Republik Kuba menjadi negara sosialis berhaluan sosialis-komunis
(Marxis-Leninis) di bawah kepemimpinan partai tunggal Partai Komunis Kuba.
Itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Kemenangan Nasional Kuba yang
biasa- nya dilaksanakan dengan sangat sederhana.
Nama Kuba berasal dari bahasa Taino, Cubanacan, yang berarti "tempat yang
sentral". Kini negeri itu memiliki 14 provinsi yang membentang sepanjang 1.200
kilometer dan merupakan pulau terbesar ke-16 di dunia. Negara bekas jajahan
Spanyol (karena itu bahasa resminya juga bahasa Spanyol) yang dikenal sebagai
penghasil gula, kapas, beras, kopi, nikel, bauksit, emas, dan perak ini juga
dikenal gigih "melawan" Amerika Serikat (AS) selama Fidel Castro berkuasa.
Kesehatan dan pendidikan
Di bawah pemerintahan Castro, pembangunan nasionalnya dititikberatkan pada
pemeliharaan kesehatan dan pendidikan. Dua hal yang merupakan kebutuhan
mendasar rakyat di negeri itu. Hasilnya, penyediaan dan peningkatan fasilitas
kesehatan dan pendidikan terus maju sehingga keduanya merupakan fasilitas
gratis bagi semua rakyat Kuba (hanya orang asing yang dikenai pembayaran).
Namun, rakyat Kuba yang tak dikenai pembayaran mendapat perlakuan yang sama
baiknya dengan orang asing yang membayar mahal.
Biaya hidup di sana serba murah. Sukses pembangunan di dua sektor yang sangat
menonjol tersebut membuat negeri kecil ini mendapat "nama besar" di dunia.
Banyak penderita sakit dari berbagai negara (bahkan yang dikenal lebih maju)
berobat ke Kuba karena teknologi kedokteran dan terutama kualitas dokter serta
pelayanannya sangat baik dan maju.
Dengan adanya fasilitas istimewa di bidang kesehatan dan pendidikan ini
mengakibatkan kondisi sosial rakyat Kuba terus meningkat. Tahun 2005, penduduk
Kuba mencapai 11,4 juta jiwa, dengan PDB 33,92 miliar dollar AS atau rata-rata
pendapatan per kapita 3.000 dollar AS. Tingkat kelahiran penduduknya rendah
sehingga tak ada masalah kependudukan di negeri itu. Rendahnya tingkat
kelahiran ini juga didukung tingginya tingkat aborsi (ke-3 tertinggi di dunia).
Tingkat kriminalitas juga sangat rendah. Karena semua orang berstatus pegawai
negeri (mulai dari presiden sampai tukang cukur dan pelayan toko), tingkat
produktivitasnya rendah.
Dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah dan rakyat Kuba memiliki prinsip
serba apa adanya. Tidak mau mengada-ada. Mereka makan apa yang ada di
negerinya, bukan makanan impor. Kalau punya uang hanya sekian, ya itulah yang
dipakai. Tidak perlu ngutang ke luar negeri atau lembaga-lembaga donor
internasional yang ujung-ujungnya menjerat leher sendiri. Kuba hanya menerima
bantuan yang sebagian besar dalam bentuk hibah dari negara sekutunya (misalnya
Rusia).
Karena rakyat dan para pemimpinnya dibiasakan untuk menempuh pola hidup
sederhana, praktik KKN tidak menonjol meskipun mungkin ada juga. Kalau Kuba
merasa tidak memiliki minyak untuk menopang kegiatan industrinya, negeri itu
"menjual" dokternya ke Venezuela dan negara Amerika Latin lainnya untuk ditukar
dengan minyak dan kebutuhan hidup lainnya. Kuba juga menghasilkan banyak
pelatih olahraga, misalnya untuk tinju dan voli, yang "dijual" ke negara lain,
termasuk Indonesia. Honor yang mereka terima sebagian diserahkan kepada
kedutaan negaranya sebagai sumbangan wajib bagi negaranya. Kini Kuba "menjual"
tenaga ahlinya di lebih dari 100 negara di dunia. Barangkali ini dapat
dijadikan salah satu masukan bagi kita di Indonesia.
Dulu di masa pemerintahan Presiden Soekarno, kita juga memiliki prinsip
seperti itu yang kita kenal dengan politik berdikari (berdiri di atas kaki
sendiri). Karena itu pula, Kuba tak banyak tersentuh oleh ingar-bingarnya arus
negatif akibat globalisasi ekonomi yang didominasi kapitalis Barat. Kuba juga
tidak mengalami guncangan ketika krisis moneter melanda banyak negara di dunia
pada tahun 1997-1998.
Duri di mata AS
Meskipun merupakan negara kecil, Kuba tetap dipandang sebagai duri bagi AS,
dan duri itu sulit untuk dicabut begitu saja. Hubungan dan kerja sama ekonomi
serta politik negeri itu dengan Uni Soviet yang berlangsung sejak Fidel Castro
berkuasa membuat AS tidak menyukainya dan berusaha mengisolasi Kuba dengan
embargo ekonomi dan melakukan blokade di perairan internasional. Akibat hal
itu, setidaknya Kuba telah menderita kerugian sebesar 222 miliar dollar AS.
Sejak Uni Soviet runtuh tahun 1991, Kuba mengalami pukulan ekonomi di dalam
negeri yang sangat hebat. Meskipun demikian, negeri kecil ini tak pernah
menyerah terhadap segala upaya pengucilan yang dilakukan AS. Menteri Luar
Negerinya, Felipe Perez Roque, menuduh AS masih tetap ingin "membungkam" Kuba
dan menuding Presiden Bush telah mendorong kekerasan agar terjadi perubahan
politik di pulau yang diperintah dengan sistem sosialis-komunis itu. Bush juga
dituding oleh Perez Rouqe telah memprovokasi tentara Kuba untuk tidak menekan
rakyat yang menghendaki perubahan. Namun, Perez Rouqe menanggapinya dengan
menegaskan bahwa "di Kuba tentara adalah penduduk yang berseragam".
Dunia mengenal Castro sebagai pemimpin yang paling lama berkuasa di dunia.
Sebagai negara otoriter, di samping hanya ada partai tunggal, juga hanya ada
serikat buruh tunggal, yakni Sentral Buruh Kuba (Central de Trabajadores de
Cuba-CTC). Fidel Castro, yang oleh rakyatnya dipanggil Comandante, mulai tidak
tampil di muka umum sejak Juli 2006. Dalam keadaan tidak dapat menjalankan
pemerintahannya, dia diwakili oleh adiknya, Raul Castro, yang menjabat sebagai
menteri pertahanan dan pejabat Presiden Dewan Negara setelah resmi menerima
penyerahan kekuasaan dari kakaknya tanggal 31 Juli 2006.
Melangkah ke depan
Bagaimana Kuba mencoba terus melangkah ke depan ketika partai-partai
sosialis-komunis di seluruh dunia runtuh? Seperti dikemukakan oleh Raul Castro,
negerinya tertarik untuk memilih jalan sosialis seperti yang dilakukan di
Tiongkok. Bukan tidak mungkin kalau di Tiongkok ada istilah "sosialisme khas
Tiongkok", ma- ka kelak juga akan lahir "sosialisme khas Kuba". Kalau Tiongkok
bisa maju, kenapa Kuba tidak? Apalagi, di beberapa negara Amerika Latin sedang
terjadi fenomena seperti yang sedang berlangsung di Tiongkok, seperti yang
terjadi di Venezuela, Bolivia, Peru, Brasil, dan Argentina.
Meskipun AS tak jemu-jemunya terus berusaha mengisolasi Kuba, terutama
melalui sanksi perdagangan, perjuangan penguasa dan rakyat negeri ini terus
mendapat angin. Majelis Umum PBB dengan resolusinya yang ke-16 secara mutlak
(didukung 184 negara) malah mendesak agar AS mengakhiri embargo perdagangannya
yang sudah berusia 45 tahun itu terhadap Kuba. Felipe Perez Roque, seorang
insinyur dan menteri yang masih sangat muda usianya, menilai itu sebagai
"kemenangan yang sangat indah" bagi negerinya. "Kuba tidak akan pernah menyerah
dan akan terus melawan politik AS sampai kapan pun," katanya.
Haridadi Sudjono Mantan Dubes RI untuk Kuba (1999-2003)
------------------------------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.13/1208 - Release Date: 03/01/2008
15:52
[Non-text portions of this message have been removed]