Ini hanya ilustrasi tentang seorang pemahat patung
yang selalu meratapi nasibnya dan berobsesi menjadi
orang besar tanpa berupaya. Tanpa disadari, kita juga
suka berobsesi tanpa mengukur kapasitas diri kita.
-------------------
Konon di pelosok desa yang terpencil, seorang pemahat
patung melakukan aktivitas kesehariannya memahat
batu-batu untuk dijadikan patung. Patung-patung yang
sudah dibuat itu biasanya dibawa istrinya ke pasar
untuk dijual disana. Aktivitas semacam ini berlangsung
bertahun-tahun lamanya, dan itulah keseharian
kehidupan sang pemahat. Seperti biasa di tengah-tengah
aktivitasnya, sang pemahat selalu mengeluh, "mengapa
nasibku tidak pernah berubah sejak dulu, hanya jadi
seorang pemahat, mestinya aku harus menjadi orang
hebat..!", katanya dalam hati dengan nada
pemberontakan. "Teman-teman sepermainanku dulu di
waktu kecil banyak yang hidupnya tidak seperti aku,
mereka lebih kaya dari aku dan punya kekuasaan",
gumannya dengan kesal.
Suatu ketika seorang raja berkunjung ke desa dimana
pemahat tinggal, ini merupakan kunjungan pertama raja
di desa itu, karena tidak pernah terjadi sebelumnya.
Masyarakat berbondong-bondong di sepanjang jalan untuk
menyambut kehadiran sang raja. Berita kunjungan raja
terdengar juga oleh sang pemahat, dan dia pun tergerak
hatinya untuk melihat sang raja dan bergabung dengan
kerumunan orang di sepanjang jalan desa.
Pemahat itu penasaran, "bagaimana sih rupa raja itu,
koq kedatangannya dinanti-nanti orang?, aku ingin
tahu", katanya dalam hati penuh penasaran.
Dan kemudian, lewatlah raja itu, dengan memakai
pakaian kebesarannya yang indah berhiaskan
lencana-lencana emas, mahkota yang juga dilapisi emas
terekat di kepalanya. Sambil duduk di kereta kencana
yang indah sang raja melambai-lambaikan tangannya
kepada rakyat di jalanan itu, disampingnya sang
permasuri yang cantik jelita juga menyungging senyum
manis kepada setiap orang! Barisan pasukan berkuda
mengawal raja baik di depan maupun di belakang kereta!
Tak lama kemudian rombongan raja melewati jalanan
dimana sang pemahat berdiri disitu. Dari dekat sang
pemahat bisa melihat raja itu. Sang pemahat terpesona
melihat sang raja, dia semakin membelalakan mata
mengekspresikan kekagumannya dan berkata dalam
hatinya, "enak ya jadi raja, mestinya aku juga jadi
raja seperti dia, supaya aku dihormati orang, supaya
aku berkuasa dan aku selalu disanjung dan
ditunggu-tunggu banyak orang dimana-mana". Rupanya
sang pemahat berobsesi dan keinginannya kian
meledak-ledak untuk menjadi raja. Dia terus melamun di
tengah-tengah kerumunan orang banyak.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, sang pemahat terus
membayangkan dirinya jadi raja, obsesinya semakin kuat
hingga larut dalam ilusi yang tak disadarinya. Sampai
di rumah, dia terus membayangkan jadi raja sampai
akhirnya tertidur di kursi karena kecapekan.
Karena begitu kuat obsesinya, tanpa disadari,
terjawablah keinginannya itu dalam mimpi. Dalam
tidurnya ia bermimpi menjadi raja besar, yang
dihormati, ditakuti, dipuja-puja, dan bahkan banyak
orang tunduk dan takluk padanya. Katanya; "aku
sekarang adalah raja, aku sekarang punya kekuasaan dan
kaya, tidak ada seorangpun yang berani melawan aku,
tidak ada yang lebih berkuasa di atas aku, aku orang
hebat", demikian raja baru ini sesumbar.
Suatu ketika, dia teringat dengan pengalaman raja yang
pernah berkunjung ke desanya, dia ingin melakukan hal
yang sama untuk mengunjungi suatu desa, lalu dia
perintahkan punggawa dan hulubalang mempersiapkan
segala sesuatunya!
Esok harinya, dengan rombongan yang sangat besar
berkunjunglah raja baru ini ke suatu desa! Kedigdayaan
seorang raja ia tunjukkan dengan pakaian raja yang
lebih mewah dengan emas yang bergelantungan, dan
kereta kencana yang seluruhnya dilapisi emas, tidak
hanya membawa seorang permaisuri, 10 selirnya pun dia
bawa. Dia merasa tampan dan perkasa.
Namun, apa yang terjadi?, di luar dugaan, ternyata
tidak seorang pun terlihat menyambut kedatangannya,
dia tidak melihat segelintir rakyatpun
berbondong-bondong menyambutnya! Dia terheran-heran,
"ada apa ini,,,?" gumannya dengan penuh kekecewaan.
Kemudian dia sadar, kalau cuaca hari itu sangat panas,
terik matahari yang menyengat membuat banyak orang
tidak mau keluar rumah menyambut dia. Orang-orang
takut dengan sengatan panas matahari. Lalu raja itu
berkata; "oh...ternyata ada yang lebih berkuasa dari
saya, yaitu matahari, rakyat lebih takut kepada
matahari daripada kepada saya", katanya. Karena
matahari dianggap lebih hebat dari raja, maka akhirnya
dia berobsesi lagi, dia ingin menjadi matahari....!
Pemahat itu lalu jadi matahari. Tetapi dia semakin
congkak, dia merasa lebih berkuasa dari siapapun.
"Nah, aku sekarang paling berkuasa, tidak ada yang
bisa menandingi aku", katanya. Kemudian dia obral
panas matahari kemana-mana, sehingga banyak orang
ketakutan, dia semakin mabuk dengan kekuasaanya.
Namun, tiba-tiba gumpalan awan lewat di bawahnya,
sehingga menutupi pancaran sinar matahari. Panas
matahari tertahan oleh awan karena sinarnya tidak
sampai ke bumi. Sang matahari kelabakan, karena
kekuasaannya telah ditandingi oleh awan. Lalu
bergumanlah sang matahari, "oh... ternyata ada lebih
berkuasa dari aku, awan..!
Kalau begitu aku jadi awan saja, karena lebih berkuasa
dari matahari", katanya dengan emosi yang terbakar.
Dan jadilah dia awan.
Karena awan bisa menurunkan hujan, maka awan baru ini
semakin congkak, dia turunkan hujan berlebihan,
sehingga banjir dimana-mana, orang-orang ketakutan,
dan sang awan senang melihatnya, dia merasa sangat
berkuasa karena banyak orang ketakutan. Tetapi sang
awan menjadi terdiam, ketika dia melihat sebongkah
batu besar di tengah ladang tidak bergeming sedikitpun
dengan air bah, pahadal banjir dimana-mana sudah
menghanyutkan apa saja. Lalu ia berguman lagi;
"oh...ternyata ada yang berkuasa di atas awan, yaitu
batu, kalau begitu aku ingin jadi sebongkah batu
saja". Maka jadilah ia batu.
Ketika menjadi batu, dia merasa digdaya, air bah tidak
dapat menghanyutkan dia, dan tidak ada seorangpun yang
dapat merobohkan dia. Batu itu merasa kokoh berdiri
dan tidak ada yang mampu mendorongnya, dia merasa
perkasa. "Sekarang tidak ada yang bisa menandingi
aku", katanya. Ditengah-tengah kemabukannya jadi batu,
tiba-tiba tak diduga datanglah seorang pemahat
mendatanginya, dengan cekatan dipahatlah batu itu
menjadi patung. Sang batu shock, dan berguman keras;
"oooooh ternyata ada yang lebih berkuasa di atas aku,
yaitu pemahat, kalau begitu aku jadi pemahat saja
supaya aku lebih berkuasa ketimbang batu". Dan jadilah
dia pemahat patung. Seketika itu juga pemahat itu
terbangun dari tidurnya, perjalanan mimpinya berkelana
kemana-mana telah mengembalikan dia ke posisi semula
sebagai sang pemahat....!
Salam,
Lukas Kristanto
____________________________________________________
Yahoo! Canada Toolbar: Search from anywhere on the web, and bookmark your
favourite sites. Download it now at
http://ca.toolbar.yahoo.com.