Kata cinta padanan katanya adalah kasih, keduanya dalam bhs inggris diterjemahkan menjadi love. Disini, saya tidak mengotak-atik persoalan kata. Namun melihat makna cinta dalam beberapa kategori.
Orang Yunani menggolongkan cinta menjadi 5 (lima) kategori. Kategori pertama disebut dengan EROS, yaitu bentuk cinta yang mengarah kepada sexual love, cinta pada umumnya seorang pria kepada wanita atau sebaliknya. Kategori kedua disebut dengan STERGO, yaitu bentuk cinta karena faktor keturunan, seperti cintanya ibu kepada anaknya, cinta nenek kepada cucunya, dsbnya Kategori ketiga disebut dengan HETAIROS, yaitu bentuk cinta yang ditentukan karena persahabatan (friendship) atau karena eksklusivitas, seperti perasaan satu almamater, satu komunitas, satu partai, satu aliran, dll. Biasanya cinta semacam ini tidak langgeng. Kategori keempat disebut dengan PHILIA (PHILEO), yaitu bentuk cinta yang bersifat pamrih, cinta itu muncul kalau ada keuntungan yang diperoleh dari sebuah hubungan. Ketika hubungan itu tidak menguntungkan lagi, cinta/kasih itu berakhir, seperti pepatah: ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang. Kategori kelima disebut dengan AGAPE (AGAPAO), inilah yang dalam peradaban yunani disebut cinta yang agung dan tertinggi dalam diri manusia (exalted love). Cinta dalam kategori ini didasari oleh empati dan karena suara hati nurani (conscience, inner voice). Peduli tanpa pamrih dan peka terhadap kesengsaraan orang lain adalah wujud agape.. Mungkin Ibu Theresa adalah figur yang telah mempraktekan bentuk cinta semacam ini. Mestinya semakin kuat keagamaan kita (deep religiousity) pancaran cinta yang muncul dari diri kita adalah cinta yang agape ini. Namun yang seringkali terjadi adalah perilaku keagamaan yang jauh dari rasa cinta.. Kerusuhan, kebiadaban dan konflik-konflik yang muncul justru dari persoalan-persoalan agama dan pelakunya orang beragama yang malah rajin beribadah. Tertiup anginkah cinta itu? Atau memang cinta itu sudah tidak menjadi bagian dari agama lagi....! Salam Lukas Kristanto mediacare wrote: > Oleh Gede Prama > http://www.kompas. com/kompas- cetak/0801/ 05/opini/ 4134998.htm > Cerita manusia adalah cerita derita, demikian bisik seorang kawan. Di > Pakistan, belum lama Benazir Bhutto menginjakkan kaki di tanah > kelahirannya, lehernya sudah ditembus peluru sampai tewas. Di Kamboja, > pendeta Buddha berkelahi dengan polisi. Amerika Serikat yang menjadi > tauladan dunia menjadi penghalang kesepakatan untuk mengurangi dampak > pemanasan global. Gempa, tsunami, kelaparan mengunjungi semua pojokan > Bumi. > Di negeri ini serupa. Banyak pemilihan kepala daerah berakhir rusuh. > Kekerasan di kalangan remaja amat mengkhawatirkan. Di Bali, kadang > kekerasan muncul bahkan ketika upacara dilaksanakan. > Membaca tanda-tanda seperti ini, ada yang mengeluh, bila demikian, > bukankah hidup manusia sama dengan neraka? Entahlah, yang jelas wajah > kehidupan yang terlihat bergantung pada siapa diri kita di dalam. Bila > di dalamnya cinta, manusia berjumpa cinta di mana-mana. Jika di > dalamnya kebencian, manusia menemukan kebencian di mana-mana. > Membangun rumah cinta > Dilihat dari segi bahan, manusia berbahankan cinta. Orangtua > berpelukan penuh cinta ketika manusia dibikin. Disusui ibu penuh > dengan pelukan cinta. Banyak ayah yang tidak jadi memasukkan makanan > ke mulut hanya karena mau berbagi cinta dengan anak. Makanan dan > minuman manusia datang dari alam yang berlimpah cinta. > Ada yang mengandaikan kehidupan sebagai hujan cinta yang tidak pernah > berhenti. Cuma sebagian memayungi dirinya dengan keangkuhan sehingga > badannya kering dari hujan cinta. Dengan bahan seperti itu, bila > output-nya kebencian, mungkin kita perlu merenungkan prosesnya. > Perilaku kehidupan serupa Matahari. Bila sudah waktunya terbit, ia > terbit. Jika saatnya terbenam, ia terbenam. Dan di dalam pikiran yang > dipenuhi rasa cinta, Matahari akan disebut menerangi, memberi energi. > Dalam pikiran yang penuh keluhan, ia diberi judul panas, sumber > kekeringan, awal paceklik. > Berdiri di atas kesadaran seperti inilah kemudian banyak guru sepakat, > fondasi awal membangun rumah cinta adalah pikiran yang terawasi secara > rapi. Ketika senang diawasi, tatkala sedih juga diawasi. Persoalan > dengan banyak manusia, terlalu melekat dengan hal-hal yang > menyenangkan, menolak yang menjengkelkan, bosan dengan hal-hal biasa. > Karena yang menyenangkan berpasangan dengan hal-hal yang menjengkelkan > (seperti malam berpasangan dengan siang), maka berputarlah kehidupan > dalam siklus tanpa akhir: senang, sedih, bosan, dan seterusnya. Inilah > awal dari banyak kelelahan emosi. > Sadar dengan akibat kelelahan inilah, kemudian sejumlah orang > mengakhiri siklus terakhir hanya dengan mengamatinya. Being a > compassionate witness, demikian saran seorang penulis meditasi. Lihat > emosi dan pikiran yang naik turun seperti seorang nenek penuh cinta > sedang melihat cucu-cucunya berlari ke sana kemari. Semuanya sudah, > sedang, dan akan baik-baik saja. Atau lihat keseharian yang digerakkan > senang, sedih, bosan seperti melihat aliran air di sungai. Kesenangan > mengalir berlalu, kesedihan mengalir berlalu. > Di atas siklus yang terawasi rapi ini, kemudian dibangun tiang-tiang > keseharian yang banyak membantu. 'Bila tidak bisa membantu cukup > jangan menyakiti', demikian pesan sejuk seorang Lama. Atap rumah cinta > kemudian bernama kaya karena rasa berkecukupan. > Dalam bahasa seorang bapak yang amat mencintai anaknya: 'dalam rasa > berkecukupanlah letak kekayaan teragung'. Sebagai hasilnya, > terbangunlah rumah- rumah cinta yang sejuk dan teduh. > Agar rumahnya tidak pengap, ia memerlukan pintu dan jendela. Pintunya > bernama deep listening. Jendelanya berupa loving speech. Sebagaimana > sudah menjadi rahasia banyak terapis, kesediaan untuk mendengarkan > adalah sebuah penyegar banyak kepengapan jiwa di zaman ini. Tidak > sedikit pasien yang sudah mendapatkan sebagian penyembuhan hanya > dengan didengarkan. Dan bila harus berbicara, berbicaralah dengan > bahasa-bahasa cinta. > Seorang sahabat dengan kata-kata yang berkarisma pernah ditanya, > kenapa kata-katanya demikian berkarisma. Dengan tangkas ia menjawab, > gunakan kata-kata hanya untuk membantu, bukan untuk menyakiti. > Kombinasi antara kesediaan mendengar dan kata-kata yang penuh cinta > inilah yang membuat rumah cinta dipenuhi udara segar. > Meminjam hasil kontemplasi orang suci, bila ada waktu merenung, > renungkanlah kekurangan-kekurang an Anda. Jika ada waktu berbicara, > bicarakanlah kelebihan-kelebihan orang lain. Mendengar penjelasan > seperti ini, ada yang bertanya, kalau demikian, apa itu cinta? The > Book of Mirdad menulis: 'cintamu adalah dirimu yang sesungguhnya' . > Dengan kata lain, di luar cinta adalah kepalsuan-kepalsuan . Laksanakan > cinta, kemudian lihat bagaimana ia membuka keindahan dirinya. > Kata-kata hanya penghalang pemahaman. > Rumah cinta berjalan > Di Pulau 0kinawa, Jepang, pernah ada guru karate yang disegani. Di > suatu latihan, muridnya bertanya, apakah karate itu? Dengan tersenyum > ia menjawab: 'karate means keep smiling in all situations'. Karate > berarti tersenyum di semua keadaan. Dan tentu muridnya bingung. Hanya > karena segan, kemudian ia diam. > Sepulang latihan, murid ini menemui tentara Amerika mabuk yang mau > membuat keributan di jalan. Murid karate ini panas. Begitu siap > berkelahi, tiba-tiba gurunya muncul dengan penuh senyuman menyambut > tentara-tentara tadi: 'selamat datang di 0kinawa, Anda pasti sudah > menikmati keindahan 0kinawa'. Dan selanjutnya tidak saja perkelahian > bisa dihindarkan, persahabatan dengan tentara Amerika juga berjalan > baik-baik saja. > Ini mungkin yang disebut dengan rumah cinta berjalan. Ia menjadi > contoh nyata cerita di awal: 'bila di dalamnya cinta, maka manusia > berjumpa cinta di mana-mana'. Berkaitan dengan momentum pergantian > tahun, kebanyakan orang bertanya seberapa tua umur sekarang. Jarang > yang mau bertanya, seberapa indah rumah cinta sekarang. > Melalui tatapan mata suami, kesetiaan istri, rasa hormat putra/putri, > perlakuan atasan, senyuman tetangga, jabat tangan bawahan, bantuan > teman atau keluarga, senyuman orang-orang yang pernah menyakiti, kita > sedang melihat rumah cinta kita. Adakah ia lebih baik atau lebih buruk > dari tahun lalu? > Perhatikan apa yang ditulis Thich Nhat Hanh dalam The Diamond that > Cuts through Illusion: 'If you die with compassion in mind, you are a > torch lightening our path.' Ia yang meninggal dengan cinta kasih > menjadi lilin penerang banyak perjalanan. Mungkin ini yang membuat > Yesus Kristus tidak pernah berhenti menerangi banyak sekali > perjalanan. Selamat hari Natal tahun 2007 dan Selamat Tahun Baru 2008. > Gede Prama Bekerja di Jakarta dan Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara > mediacare > http://www.mediacar e.biz > [Non-text portions of this message have been removed] > ____________________________________________________ Yahoo! Canada Toolbar: Search from anywhere on the web, and bookmark your favourite sites. Download it now at http://ca.toolbar.yahoo.com.

