Komentar Teguh (Rakyat Merdeka) tentang FPI, MUI dan MMI (dalam kasus kartun Nabi) sangat menarik. Sebuah info baru bagi saya.... Artinya (berdasarkan cerita Teguh itu) MMI, FPI, dan MUI tidaklah sekaku yang dibayangkan banyak orang.
Terutama ketika dikaitkan dengan kasus cover majalah Tempo, yang belum lama ini menuai protes dari sejumlah kalangan Katolik.... (Semua di bawah ini saya kutip dari milis jurnalisme). Satrio =============================================== Posted by: "teguh timur" [EMAIL PROTECTED] teguh_timur Wed Feb 6, 2008 2:29 am (PST) Maaf, saya jadi ingin berbagi pengalaman. Dalam kasus saya (dianggap menodai agama pasal 156A KUHP, pemuatan kartun Jylland Posten yang sudah diedit), kelompok Islam fundamental seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Mujahiddin Islam (MMI) justru membela. Awalnya mereka memang sempat bereaksi negatif. Fauzan al Anshari, misalnya, sempat mengatakan fatwa mati adalah sanksi yang sepadan. Tetapi setelah kami bertemu dan membicarakan masalah ini, dia balik mendukung. Saat bertemu Abu Bakar Baasyir pun begitu. Dia mendukung. FPI sempat ke kantor, demonstrasi. Tapi begitu keluar dari ruang pertemuan, massa FPI malah teriak "Hidup Rakyat Merdeka". Beberapa minggu setelahnya saya bertemu Habib Rizieq, "Dia bilang nanti kalau dibutuhkan saya akan hadir di persidangan membela Antum." Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat memberatkan saya dalam BAP di kantor polisi. Tapi setelah didekati dan diajak diskusi lagi, akhirnya dua petinggi MUI dapat memahami, dan balik mendukung. Din Syamsuddin (Muhammadiyah) juga bisa menerima dan memahami. Begitu juga dengan "pihak" NU. Adik Gus Dur, Lily Wahid, ikut datang ke sidang keempat, ketika putusan sela dibacakan. Saya berterima kasih kepada Tempo yang membantu saya dalam editorialnya. Menggambarkan suasana tak biasa, karena polisi dan jaksa kini jadi "fundamentalis Islam". Saya rasa siapapun memang punya hak untuk tersinggung atas apapun. Tidak harus menunggu ketularan. Toh kita, jurnalis dan karya jurnalistik kita memang lebih sering tidak bisa memuaskan semua pihak. Jadi wajar-wajar saja kalau ada protes dari kanan kiri. Apalagi kita tahu, setelah dilepas teks akan bebas untuk diartikan apapun. Kita, si penutur, tak bisa lagi mengontrol maknanya. Dialog dan dialog memang dibutuhkan untuk memberi pemahaman. Saya yakin, teman-teman Tempo lebih memahami duduk persoalan yang beginian. Saya juga belajar dari teman-teman di Tempo. Saya menghabiskan waktu bersama BHM di Velbak, misalnya, untuk berdiskusi tentang masalah ini. Sekarang kasus saya itu masih mengendap di MA. Si jaksa mengajukan banding ke PT DKI. Lalu PT DKI memperkuat keputusan PN Jaksel. Beberapa bulan lalu si jaksa mengajukan kasasi. Kita lihat saja nanti. Selebihnya, saya ikut bersimpati pada Tempo atas kejadian ini. Semoga email saya ini ada manfaatnya. Salam dari Hawaii. Sirikit Syah <sirikitsyah@ yahoo.com> wrote: --- ging ginanjar wrote: > Protes yang ngawur. > Harusnya Tempo tidak meminta maaf, dan tidak > mengganti sampul versi Inggrisnya. > Itu karya Leonardo da Vinci. Suatu karya yang > duniawi, profan, tidak suci. Tidak pernah jadi benda > suci gereja. Seandainya kita junjung tinggi falsafah nenek moyang kita "tepa selira" (toleran), hak asasi manusia yang mana yang akan terlanggar? kebebasan berekspresi? sampai sebatas apa? orang bisa marah/tersinggung karena nabinya digambar, orang juga boleh saja marah/tersinggung karena gambar yesus diganti Soeharto, meskipun itu cuma lukisan. ya, sebatas apa orang boleh marah atau harus diam saja? seandainya kita toleran ..... hak apa yang terlanggar? > Para pemrotes dari Forum Alumni PMKRI itu ketularan > MMI-HTI-FPI- FBR-FUI, bahkan MUI. Yang luar biasa > sensitif, bahkan untuk hal-hal yang tidak > signifikan. duh, kok orang tersinggung dibilang ketularan sih? yang bener aja. sirikit > > > ----- Original Message ---- > From: nc > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Sent: Tuesday, February 5, 2008 10:27:10 AM > Subject: [jurnalisme] Tempo minta maaf > > 05/02/2008 14:42 WIB > > Majalah Tempo Minta Maaf Soal Cover Edisi Soeharto > > Arifin Asydhad - detikcom > > Cover majalah Tempo (atas), The Last Supper karya Da > Vinci (bawah) > > Jakarta - Pimpinan Majalah Berita Mingguan (BMB) > Tempo meminta maaf atas > sampul majalah Tempo edisi 4-10 Februari 2008. Tempo > tidak memiliki maksud > untuk menimbulkan ketersinggungan dan > ketidaknyamanan, terutama terhadap > umat kristiani. > > "Saya sebagai Pemimpin Redaksi Tempo meminta maaf > atas segala hal yang > ditimbulkan oleh pemuatan sampul edisi khusus > Soeharto yang beredar sejak > Senin kemarin," kata Pemimpin Redaksi MBM Tempo > Toriq Hadad kepada detikcom, > Selasa (5/2/2008). > > Menurut Toriq, sampul majalah itu dibuat sebagai > interpretasi dari lukisan > Leonardo Da Vinci. "Jadi, bukan sebagai interpretasi > dari kitab suci umat > Kristiani," jelas Toriq. > > Toriq menjelaskan bahwa Tempo sama sekali tidak > melakukan kesengajaan untuk > menciderai umat Kristiani dalam pembuatan sampul > ini. "Untuk segala hal yang > menimbulkan ketersinggungan, menimbulkan rasa tidak > nyaman, menimbulkan > sakit hati, saya sebagai pemimpin redaksi Tempo, > memohon maaf," ujar Toriq. > > Rencananya, selain menyampaikan secara lisan, Toriq > juga akan menampilkan > permintaan maaf tersebut di edisi Tempo selanjutnya. > > > Toriq yang baru saja selesai menghadiri seminar > langsung menuju kantor Tempo > di Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat. Dia akan menemui > para perwakilan umat > Katolik yang telah datang ke kantor Tempo sejak > pukul 14.00 WIB. Perwakilan > umat Katolik memprotes dan mempertanyakan cover > Tempo. ( asy / nrl ) > > Source : > http://www.detiknew s.com/index. php/detik. > read/tahun/ 2008/bulan/ 02/tgl/05/ tim > e/144235/idnews/ 889495/idkanal/ 10 > > 05/02/2008 14:23 WIB > > Perwakilan Katolik dan Tempo Berdialog Soal Cover > Majalah > > Ramdhan Muhaimin - detikcom > > Jakarta - Sejumlah perwakilan organisasi Katolik > berdialog dengan jajaran > redaksi Majalah Tempo. Mereka ingin meminta > penjelasan soal cover Majalah > Tempo edisi 4 yang terbit 10 Februari 2008. > > "Kita tidak demo, hanya ingin berdialog," kata Ketua > Forum Komunikasi Alumni > PMKRI Hermawi Taslim kepada detikcom di Kantor > Majalah Tempo, Jl Proklamasi, > Jakarta Pusat, Selasa (5/2/2008). > > Sekitar 8 orang dari sejumlah organisasi Katolik > telah datang ke Kantor > Majalah Tempo sejak pukul 13.20 WIB. Selain Hermawi > ada perwakilan dari > Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik > Republik Indonesia (PMKRI). > Mereka didampingi tim pembela kebebasan beragama > Paskalis Pieter. > > Ada sekitar 8 orang yang masuk ke dalam kantor > Majalah Tempo. Penjagaan > polisi pun santai saja, hanya 4 polisi berseragam > yang tampak berjaga-jaga. > Para wartawan media cetak dan elektronik pun > menunggu di luar. > > Cover Majalah Tempo edisi terbaru itu bergambar > Soeharto dan anak-anaknya. > Sekilas gambar itu mirip lukisan The Last Supper > karya Leonardo da Vinci. > Dalam lukisan aslinya itu adalah gambar Yesus dan > murid-muridnya. ( fay / > umi ) > > Source : > http://www.detiknew s.com/index. php/detik. > read/tahun/ 2008/bulan/ 02/tgl/05/ tim > e/142341/idnews/ 889484/idkanal/ 10 > ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs

